1.2.16

Kopi Espresso

Kamu menyibakkan rambut indah yang sedari tadi tak bosan-bosannya turun menutupi kacamata berbingkai tebal itu. sejurus kemudian, entah karena bosan harus menyibakkan rambut terus-menerus, kamu mengambil sesuatu dari tas yang dilampirkan di bahu kursi yang diduduki, ternyata sebuah jepitan rambut berhiaskan dua kupu-kupu kecil. Kamu mengaitkan jepitan itu ke rambut yang sedari tadi mengganggu aktivitasmu membaca. Jepitan kupu warna emas itu sangat kontras dengan rambutmu yang hitam legam. Kamu tampak sangat cantik, semakin menawan begitu rupa.

Kembali kamu terpekur dalam netbook, yang sedari tadi menemani, selain secangkir espresso itu tentu saja. Tangan kirimu masih di atas keyboard netbook, sedangkan jemari lentik tangan kananmu pelan-pelan mengangkat cangkir espreso. Mukamu menunduk, seolah bibir dan mulutmu tak sabar ingin segera merasakan espreso itu. Oh tidak...ternyata kamu hanya mencium dan membaui harum espresso itu. Matamu memejam dan bibirmu terangkat melengkung ke atas, ada rasa puas di sana. Pelan-pelan kamu menyeruput espresso itu, meneguknya sekali kemudian berhenti, kamu tersenyum.

Kamu kembali menekuri netbook. Wajahmu nampak serius. Sebuah pemandangan indah yang aku jumpai sejak hampir seminggu ini di sini, di kedai kopi yang aku diperintahkan untuk datangi. 

Di hari yang kelima dan terakhir ini, aku masih beruntung menyaksikan pemandangan indah itu, karena tak akan ada hari keenam, ketujuh dan seterusnya. Masih dengan formasi yang sama, selang dua meja dari tempat dudukku sekarang. Masih sama, tak berbeda dari hari pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima.

Aku beranjak dari tempat duduk, bergerak pelan menuju wastafel, mencuci tangan yang tak kotor sebenarnya. Aku memang berpura-pura mencuci tangan dengan harapan menemukan wajahmu yang terpantul di cermin besar atas wastafel ini. Ternyata memang benar, noda-noda di cermin ini seolah menghilang tergantikan dengan pemandangan indah mempesona: gadis berambut hitam legam dengan jepitan kupu-kupu emas dan berkaca mata dengan bingkai tebal.

Waktuku tak lama lagi, aku harus segera kembali. apa yang harus aku lakukan demi bersua dengannya sekali saja, mendengarkan suaranya sekali saja, dan menatap mata indahnya sekali saja?

Kamu memandang jam tangan kulit yang melingkar di tangan kirimu. Seolah tak percaya, kamu melihat kembali jam tangan itu. Tiba-tiba kamu mengemasi barang-barang dengan segera, memasukkan buku dan gadgetmu dengan terburu, mengambil dompet, mengeluarkan uang kemudian menaruhnya di dekat cangkir kopi espresso yang tersisa satu tegukan itu, dan meninggalkan meja yang biasa kamu duduki selama lima hari ini dengan tergesa.

Aku terpekur, namun aku harus beranjak, sudah tidak ada waktu lagi, sudah saatnya.

---

Selang beberapa saat kedai kopi itu meledak


Foto diambil dari sini

No comments: