Kamu menyibakkan rambut indah yang sedari tadi tak
bosan-bosannya turun menutupi kacamata berbingkai tebal itu. sejurus kemudian,
entah karena bosan harus menyibakkan rambut terus-menerus, kamu mengambil
sesuatu dari tas yang dilampirkan di bahu kursi yang diduduki, ternyata sebuah
jepitan rambut berhiaskan dua kupu-kupu kecil. Kamu mengaitkan jepitan itu ke
rambut yang sedari tadi mengganggu aktivitasmu membaca. Jepitan kupu warna emas
itu sangat kontras dengan rambutmu yang hitam legam. Kamu tampak sangat cantik,
semakin menawan begitu rupa.
Kembali kamu terpekur dalam netbook, yang sedari
tadi menemani, selain secangkir espresso itu tentu saja. Tangan kirimu masih di
atas keyboard netbook, sedangkan jemari lentik tangan kananmu pelan-pelan
mengangkat cangkir espreso. Mukamu menunduk, seolah bibir dan mulutmu tak sabar
ingin segera merasakan espreso itu. Oh tidak...ternyata kamu hanya mencium dan
membaui harum espresso itu. Matamu memejam dan bibirmu terangkat melengkung ke
atas, ada rasa puas di sana. Pelan-pelan kamu menyeruput espresso itu,
meneguknya sekali kemudian berhenti, kamu tersenyum.
Kamu kembali menekuri netbook. Wajahmu
nampak serius. Sebuah pemandangan indah yang aku jumpai sejak hampir seminggu
ini di sini, di kedai kopi yang aku diperintahkan untuk datangi.
Di hari yang kelima dan terakhir ini, aku
masih beruntung menyaksikan pemandangan indah itu, karena tak akan ada hari
keenam, ketujuh dan seterusnya. Masih dengan formasi yang sama, selang dua meja
dari tempat dudukku sekarang. Masih sama, tak berbeda dari hari pertama, kedua,
ketiga, keempat dan kelima.
Aku beranjak dari tempat duduk, bergerak
pelan menuju wastafel, mencuci tangan yang tak kotor sebenarnya. Aku memang
berpura-pura mencuci tangan dengan harapan menemukan wajahmu yang terpantul di
cermin besar atas wastafel ini. Ternyata memang benar, noda-noda di cermin ini
seolah menghilang tergantikan dengan pemandangan indah mempesona: gadis
berambut hitam legam dengan jepitan kupu-kupu emas dan berkaca mata dengan
bingkai tebal.
Waktuku tak lama lagi, aku harus segera
kembali. apa yang harus aku lakukan demi bersua dengannya sekali saja,
mendengarkan suaranya sekali saja, dan menatap mata indahnya sekali saja?
Kamu memandang jam tangan kulit yang
melingkar di tangan kirimu. Seolah tak percaya, kamu melihat kembali jam tangan
itu. Tiba-tiba kamu mengemasi barang-barang dengan segera, memasukkan buku dan
gadgetmu dengan terburu, mengambil dompet, mengeluarkan uang kemudian
menaruhnya di dekat cangkir kopi espresso yang tersisa satu tegukan itu, dan
meninggalkan meja yang biasa kamu duduki selama lima hari ini dengan tergesa.
Aku terpekur, namun aku harus beranjak,
sudah tidak ada waktu lagi, sudah saatnya.
---
No comments:
Post a Comment