4.7.12

Hyun Bin

Ada orang yang merelakan jatah tidurnya untuk nonton bola atau bahkan untuk kerja, menunaikan tugas negara.
Kalau aku merelakan jatah tidur untuk mengisi blog dengan tulisan ini. Karena memang sebuah tulisan (bahkan hanya sekedar tulisan di blog) tidak akan terwujud kalau bayi-bayi masih terjaga.
Nah, disinilah aku sekarang, merelakan jatah tidurku untuk menulis tulisan yang sepertinya akan panjang, karena aku akan menulis tentang aktor Korea favorit sepanjang ini :D
Awal aku berkenalan dengan K-Drama adalah saat mulai menyukai dengan sangat drama Full House yang saat itu ditayangkan serial di stasiun tv Indosiar. Serial Full house adalah drama favorit sepanjang zaman (zaman aku tentu saja). Rasanya tidak pernah membosankan saat mengulang drama ini berkali-kali.
Nah, meski aku penyuka K-drama, hanya Bi Rain dan Song Hyo Kyo yang aku kenal. Aktor dan aktris Korea lainnya hanya sekedar lewat, tidak termemorikan, maklum mungkin karena susah menghapal nama-nama K atau mungkin karena hanya serial Full house yang tetap melekat dalam ingatan.
Jadi apa dong hubungannya dengan judul tulisan di blog ini?

Hmmmnn Hyun Bin. Sengaja banget aku kasih tulisan ini dengan nama aktor Korea terkenal saat ini (ssttt…biar blog ku ini sering tersitasi atau minmal muncul di daftar pencarian google :)
Terus terang, aku baru mengenalnya sejak tahun tahun kemarin. Saat HB ke Jakarta dalam rangka kunjungan militernya. Nah itulah hebatnya peraturan negara Korea. Meski HB aktor terkenal dengan berbagai penghargaan yang diraihnya, namun dia tetap wajib mengikuti military service ketika menginjak usia tertentu, 30 tahun kalau tidak salah (CMIIW). 
Aktor, penyanyi, model atau apapun profesinya, saat menginjak umur 30 tahun wajib mengikuti MS ini, terkecuali  untuk peneliti dan pemain bola  (yang berjasa menjadikan Tim Korea masuk semi final piala dunia tahun 2002 ).
Yup, konon peneliti di sana tidak diwajibkan menjalani MS. Karena diharapkan dengan waktu yang ada dan berbagai fasilitas yang disediakan, para peneliti ini lebih concern menghasilkan karya-karya yang akhirnya menjadi produk unggulan di negaranya maupun pasar dunia. (tengak tengok..tenyata laptopku produk Korea, TV flat di rumah juga, HP ku apalagi selalu merek itu dan ternyata… HP sebagian besar teman di bidangku juga produk Korea, menjadi  korban K-wave kah? Mungkin iya, namun yang pasti karena kami adalah androidsme. Loh..??)
Bandingkan dengan nasib peneliti di Republik ini. Untuk mendapatkan perbaikan tunjangan saja membutuhkan waktu hampir empat tahun (duh..duh…eh, malah curhat, hehe)
Loh, ini sedang membicarakan HB malah sampai ke nasib peneliti di Republik tercinta. Just Intermesso :)
Kembali ke laptop. Jadi, aku mengenalnya saat Indonesia (atau lebih tepatnya abege-abege, emak2 juga kali ya..termasuk syahrini yang didaulat menyanyi satu panggung dengan HB - kalau ingat ini kok bikin eneg ya) yang hiruk pikuk membicarakan kedatangan HB di Cilangkap. 
Sebegitu hiruk pikuknya sampai aku bertanya kesana-kemari (lebbayy mode on) tentang siapa sih HB ini. Apa istimewanya. Keren? Relative sih, akting bagus? Belum pernah nonton dramanya.

Karena penasaran akhirnya aku memutuskan untuk segera menonton drama terakhirnya yang sangat mendunia yang berjudul Secret Garden (SG). Dan Tarraaaaaa…aku tidak mendapatkan kesan apapun saat selesai nonton drama ini. Biasanya aku akan larut dan terbawa euphoria saat menyelesaikan suatu K-drama fenomenal, dan itu biasanya berhari-hari bahkan berminggu-minggu dan berbulan-bulan, karena memang aku pelihara euphoria itu sampai benar-benar rela melepaskannya (lebayy mode on lagi :)
Di SG, HB berperan seperti K-Drama kebanyakan. HB adalah seorang anak orang kaya-raya yang mewarisi usaha ritel orang tuanya namun jatuh cinta dengan perempuan beda status. It’s another Cinderela story, something like that lah…ceritanya sangat gampang tertebak. 
Dan yang paling tidak membuat asyik, di SG ini juga dibumbui dengan cerita imaginative yang tidak masuk akal, perpindahan jiwa antar pemain utamanya. So, di SG aku tidak mendapatkan kesan apapun tentang HB.

Di awal tahun ini, saat nonton acara Showbiz di stasiun tv Arirang, tersebutlah bahwa HB ini menjadi selebrita paling digemari tahun 2011 di Korea, Bi Rain saja tidak masuk dalam kelompok ini apalagi Lee Dong Wook (actor favorit (ku) selama ini :). Daftar itu didominasi oleh penyanyi-penyanyi K-Pop. Hal ini tentu saja membuatku semakin penasaran dengan yang namanya HB.

Kenapa sih actor HB ini bisa sangking terkenalnya. Karena penasaran, aku mencoba mencari fllm maupun drama yang pernah dilakoninya selain SG. Aku menontonya di My Name is Kim Sam Soon (aku memilih ini juga lebih karena ada Kim Sun Ah di drama ini). Dan ternyata…......akting/peran HB di drama ini juga std, standar, biasaaa banget, masih It’s another Cinderela story. Hanya memang akting Kim Sun ah terlihat bagus (maklum jam terbangnya juga lebih lama) sehingga drama ini menuai banyak penghargaan.

Setelah melewati efouria di K-drama dari Scent of Woman (Lee DongWookholic), terlupakanlah itu yang namanya HB sampai aku iseng-iseng mengunduh World Within (That We Live In) di mediumquality.blogspot.com (sebelum blog ini di black list sama google karena konon melanggar hak cipta). Dan ternyata…......disininilah aku menemukan HB, the real HB seperti yang orang-orang hiruk pikukkan. 
Penampakan HB di WW sangat berbeda dengan HB saat ini. WW dibuat pada tahun 2008 saat HB belum terlalu kurus. Dari drama WW inilah aku mulai menyukainya. Bukan hanya karena performancenya, tapi karena karakter  Hyung Ji Oh yang diperankan HB ini di WW. 
It’s not just another Cinderela story.  Pribadi Hyung Ji Oh sangat menarik. Seorang director/sutradara film muda yang meskipun berasal dari keluarga petani sederhana namun sangat berkarakter dan membumi serta baik hati ke orang-orang disekitarnya. 
Meskipun masih bercerita tentang hubungan beda status, namun drama ini mampu menceritakan dengan sederhana bagaimana dan dampaknya ketika suatu hubungan tersebut terlalu berbeda latar belakang. 
Hubungan beda kelas itu memang terselesaikan (soalnya kalau sad ending, penonton bakalan kecewa :), namun dalam drama ini juga menggambarkan hal-hal kecil yang biasa terjadi di kehidupan sehari-hari.  
Orang-orang dengan berbagai karakter dan kepribadian serta permasalahannya masing-masing, World Within That We Live In.  
Di drama WW itulah aku melihat HB sangat apik memerankan Hyung Ji Oh yang sangat berkarakter. Sampai pernah aku bilang, aku lebih menyukai Hyung Ji Oh dibandingkan HB kok J. Let we see…
Nah, karena mulai ngefans Ji OH=HB, dimulailah sesi pencarian film-film HB yang lain. Dipilihlan film HB Come Shine Come Rain dan Late Autumn yang diproduksi tahun 2011, tahun yang sama dengan produksi SG sebelum HB masuk MS.
Kedua film ini berdurasi sekitar 100 an menit. Keduanya dipanggil sebagai nominee Berlin International Festival. Seperti kebanyakan film yang bercirikan festival, kedua film ini berjalan dengan sangat lambat dan butuh perhatian khusus untuk memahami jalan ceritanya.
Baik, aku mulai dengan synopsis dari keduanya, karena terus terang aku sangat terkesan dengan kedua film ini, bukan hanya karena HB nya, namun juga karena alur, jalan cerita dan setting pengambilan gambar film nya.

Cerita yang menarik tidak harus melibatkan banyak pemeran dan karakter. HB dan Lim Soo Jung konon tidak dibayar di film ini. Film yang berbiaya rendah ini juga tidak menampilkan dan menghadapkan peran antagonis dan protagonis.
Ceritanya sangat sederhana, dan berjalan dengan sangat lambat. Kita harus menyediakan waktu dan perhatian lebih untuk menonton drama ini agar lebih memahami makna dan maksud jalan ceritanya. Kesan inilah yang terbangun saat pertama kali menonton CSCR ini.
Cerita dimulai ketika sepasang suami istri yang sudah menikah selama lima tahun sedang bercakap di sebuah mobil yang sedang berjalan. Si istri (Lim Soo Jung) menyatakan isi hatinya dengan ragu kepada suaminya untuk berpisah darinya.
Cerita menjadi menarik saat si suami (HB) menanggapinya dengan datar tanpa ekspresi maupun emosi yang berlebihan. Dia bahkan tidak mau tahu siapa lelaki yang membuat istrinya berpaling darinya.
Setiba di rumahnya, si suami bahkan membantu mengepak barang-barang kesayangan istrinya. Dengan sangat hati-hati si suami mengepak seperangkat alat minum teh yang biasa dipakai istrinya, karena dia merasa tidak akan tega memakai barang kesayangan istrinya itu.
Sebagian besar drama diselesaikan di dalam rumah pasangan ini. Si Suami yang berprofesi seorang arsitektur (awalnya kemudia beralih ke profesi lain) memiliki ruang kerja di underground, sedangkan si istri yang bekerja di bagian penerbitan memiliki ruang kerja di lantai paling atas. Masing-masing dengan kehidupannya.
Lewat setting dalam rumah itulah, kita, para penonton diajak menyusun puzzle untuk memahami cerita secara keseluruhan. Rumah minimalis berpagar tinggi, dengan desain yang sederhana namun multifungsi. Banyak adegan yang menyorot setting ruangan secara mendalam dan detail untuk menggambarkan bagaimana kehidupan pasangan ini. Pasangan suami istri yang mapan secara ekonomi maupun karir. 
Filmnya terkesan sangat membosankan, tapi begitulah film ciri festival. Alur bercerita sangat lambat, namun dapat menceritakan segala maksud dari film ini melalui penampilan detail setting maupun penekanan pada akting pemerannya.
Cerita hanya berpusat di dalam rumah. Meskipun begitu, penonton diberi kesempatan untuk melihat romansa diantara pasangat itu: saat bagaimana si suami mengajari istri menutup pintu, bagaimana si suami membuatkan kopi untuk istrinya dan bagaimana romantisme saat si istri mengobati tangan suaminya yang kegigit kucing. 
Seorang suami yang ”sempurna”, pemaaf, tidak pernah marah, selalu penuh pemakluman atas semua hal yang dilakukan oleh istrinya baik benar maupun salah bahakan sampai si istri selingkuh pun si suami tidak marah. 
Namun, aku melihat justru karena itulah si istri berniat meninggalkannya. Bahkan si istri yang kesal dan  marah (yang ditandai dengan adegan istri memukul dada si suami dua kali) kenapa suami tidak marah atau meluapkan emosinya saat mengetahui istrinya selingkuh.
Aku melihat hidup mereka terlalu datar. So flat. Semua kebutuhan si istri terpenuhi semuanya bahkan untuk hal-hal kecil seperti memasak atau hanya sekedar membuat kopi. Si Suami sangat mencintai si istri dan memanjakannya sedemikian rupa yang pada akhirnya menafikan atau lebih tepatnya tidak memberikan kesempatan kepada istri untuk meduduki perannya. Ada kesenjangan komunikasi diantara keduanya.
Akting kedua tokoh Lim Soo Jung dan Hyun Bin sangat berperan, disamping sound, musik maupun setting yang ditampilkan secara detail. Meski minim dialog, keduanya berperan sangat apik. Akting keduanya dimunculkan lewat mimik dan gesture tubuh yang dapat menggambarkan jalan cerita atau maksud dan misi yang ditampilkan dalam film ini. Dua jempol untuk film ini dan terutama tokoh utamanya.
Hyun Bin yang kurus dengan rambut gondrongnya (kok jadi keingetan ayahnya Izza ya, kurus dan gondrongnya tapi..hihihi) sangat tergambarkan sebagai seorang suami ”sempurna” namun datar dan cenderung"sakit". 
Karena tuntutan peran, HB di sini lebih mature dan terlihat lebih tua dari aslinya, tentu saja
Oke, selesai sudah sinopsis CSCR, kita mulai menceritakan sinopsis dari Late Autum yang aku selesaikan kemarin sore.

Film yang diproduksi bersama antara Korsel, Hongkong, China dan USA ini lebih bagus lagi. Dan yang pasti dialog dalam film ini berbahasa Inggris, setidaknya sedikit-sedikit pahamlah dibandingkan film yang berbahasa Korea, gelap gulita! :D
Film ini menceritakan tentang seorang wanita yang bernama Anna Chan (Tang Wei) yang di penjara karena membunuh suaminya yang kalap saat mengetahui istrinya pergi dengan mantan pacar pertamanyanya. 
Disimpulkan bahwa, karena kalap, si istri ini memukul suaminya dengan sesuatu (terus terang aku tidak ingat sesuatunya itu) untuk membela dirinya sendiri: terbunuh atau membunuh. Tidak ada pilihan lain. Tidak diceritakan tentang bagaimana kehidupan pasangan ini sebelumya.
Setelah melewati lima dari tujuh tahun masa hukumannya, Anna ini mendapatkan cuti tiga hari untuk mengantarkan jenazah ibunya ke tempat peristirahatan terakhir.
Saat cuti itulah Anna bertemu dengan seorang pria (yang diperankan sangat cemerlang oleh Hyun Bin). Seorang yang mendapatkan penghasilan dari pekerjaannya sebagai gigolo. Dengan ritme yang lambat, diceritakan tentang beberapa pertemuan tak tersengaja diantara keduanya, dan akhirnya membuat mereka menjadi semakin dekat.
Akhirnya, saat cinta mulai bersemi di antara keduanya, Anna sudah harus kembali ke penjara dan si pria dibunuh oleh suami dari kliennya. Film diakhiri dengan adegan Anna yang menunggu cukup lama kedatangan dari si pria karena dia tidak mengetahui kalau si pria ini sebetulnya sudah meningggal.Sunggguh akhir yang tragis. Menyedihkan sangat. 
Film ini sangat mampu menampilkan sisi gelap dan muram dari latar belakang masing-masing tokohnya ditandai dengan suramnya gambar dari setiap adegan.
Banyak jempol untuk film ini terutama untuk akting Tang Wei, dia mampu memerankan sosok Anna yang selalu sedih dalam setiap jengkal kehidupannya, seakan dia tidak layak atau berhak untuk tertawa bahkan tersenyum sekalipun.
Akting HB juga tidak kalah bagusnya. Dia juga mampu memerankan seorang Juan, gigolo yang harus siap merayu perempuan agar bersedia besamanya. 
Luar biasa deh untuk film ini. Pantas saja mendapatkan berbagai award salah satunya Best Actress dan Best Music.

Simpulan
- HB memang keren, pantas banyak orang yang menyukainya :)
- Akting HB dari tahun ke tahun semakin oke, semakin ke sini semakin bagus 
- Sepertinya aku masih menyukai Hyung Ji Oh yang diperankan oleh HB dibandingkan HB sendiri
- World Within masuk dalam daftar film favorit sepanjang ini termasuk juga pasangan HB dan Song Hye Kyo
- Sangat menyukai dua film HB terakhir: CSCR dan LA sebelum dia masuk MS


Foto diambil dari sini

Cibi, 04062012 - tengah malam

2 comments:

Anonymous said...

Late Autumn bagus filmnya. Meski sedikit agak membingungkan di akhir. :)

Tapi, Hoon - tokoh yang diperankan HB - tidak dibunuh di akhir film. Tetapi, dia dijadikan kambing hitam terbunuhnya Ja-ok. Kemungkinan besar Ja-ok ini dibunuh sendiri oleh suaminya -pria yang mengejar Hoon dan ingin membunuh Hoon. Di percakapan di taman, si lelaki (suami Ja-ok) bilang, kalau polisi sudah menuju ke tempat itu.

Di scene Anna menuju ke bis dengan membawa dua cangkir kopi, terdengar sirene polisi. Kemungkinan itu ketika polisi membawa Hoon.

Anisah Nur said...

Terimakasih atas tambahan reviewnya ya, salam kenal