26.7.10

dokter di mata pasien

tulisan ini tidak mempunyai maksud apa-apa seperti men judge seorang dokter atau yang lainnya. apalagi berharap seperti kasus prita...hohoho...tidak sama sekali...
hanya sekedar pandangan atau pendapat seorang pasien terhadap pelayanan jasa profesi seorang dokter.

profesi dokter tidak ada bedanya dengan profesi-profesi yang lainnya: peneliti, perencana, praktisi hukum, pengusaha, guru/dosen, konsultan dan sebagainya. masing-masing profesi berhubungan langsung dan/atau tidak langsung dengan klien atau stakholders yang menggunakan atau memanfaatkan jasa atau produk dari suatu profesi tersebut. masing-masing klien juga berhak menilai atas manfaat yang didapat dari penggunaaan jasa profesi tersebut.

aku hanya akan bercerita tantang pengalaman selama ini dalam mendapatkan pelayanan dari jasa profesi seorang dokter. ada suka maupun duka, ada yang menyenangkan dan ada yang sangat tidak menyenangkan bahkan cenderung menyakitkan.

pengalaman menyenangkan
oke, aku mulai dari yang menyenangkan dulu. sejak hamil raya dan kemudian izza, aku setia menggunakan jasa seorang dokter kebidanan dan kandungan terkenal di cibinong., dr. har begitu biasa kita memanggilnya. meskipun dokter itu terkenal dan pasiennya banyak, tapi beliau tidak pelit dalam memberikan informasi tentang hal-hal yang kita tidak tahu. dengan sabarnya beliau menjawab dan menjelaskan pertanyaan kita secara gamblang dengan bahasa awam non medis, bahkan kadang disertai dengan ilustrasi gambar, grafik dll.
saat melahirkan izza, mendadak karena ketuban pecah dini, operasi caesar tidak sesuai dengan jadwal yang direncanakan. saat itu juga aku harus melahirkan dan sayangnya dr. har tidak sedang piket di rumkit tersebut. demi menghormati dokter kebidanan yang piket hari itu, aku harus dicaesar oleh dokter lain [kebetulan aku punya pengalaman buruk dengan dokter ini]. perasaanku tentu saja sangat tidak enak [meskpun aku pernah mengalami operasi caesar saat raya lahir dulu] dengan dokter yang tidak sesuai dengan rencana. tetapi tanpa dinyana dan disangka, dr. har datang ke ruanganku dan menghibur serta menguatkan bahwa dokter itu tidak kalah hebat dan pintarnya, sudah senior dengan jam terbang tinggi, sudah pasti berpengalaman menangani berbagai kasus. legalah hatiku, tenanglah aku melangkah ke meja operasi dan alhamdulillah izza lahir dengan selamat.

ada lagi, aku juga juga punya seorang dentist langganan [tentu saja masih disekitar kota cibinong]. dentist itu sangat ramah dan berempati saat menangani gigi dan mulut :)
sampai-sampai tidak merasa ternyata proses penanganan gigi tersebut sudah selesai. aku yang sangat phobi dengan rasa sakit dan jarum suntik, menjadi terhibur dan teralihkan karena karamahan si dentist.

satu lagi, tahun 2007 aku pernah operasi di RSCM, ceritanya disini. karena menggunakan jasa askes, aku mendapatkan jatah kelas II sesuai dengan golongan dan ruang. terus terang, sangat marginal, kalau tidak dibilang menyedihkan. dengan fasilitas seadanya. tetapi ini bukan tentang fasilitas yang didapat namun tentang pelayanan dokter-dokternya. saat aku dioperasi melibatkan berbagai dokter spesialis dan tentu saja beberapa dokter residen. pasca operasi, aku dirawat oleh dokter-dokter residen tersebut. mereka dengan sangat telaten dan penuh empati tiap pagi dan sore mengganti dan mebersihkan luka operasi. alhamdulillah, meskipun dengan fasilitas yang seadanya tetapi hati dan mental sangat terhibur dengan pelayanan dokter-dokter residen tersebut.

pengalaman tidak menyenangkan
ketiga cerita di atas tentang pelayanan jasa profesi dokter yang menyenangkan. ada juga yang tidak menyenangkan. ini terjadi sebulan yang lalu. saat itu raya bisulan dan mendadak badannya bentol-bentol. kita menduganya raya alergi terhadap ayam broiler, karena beberapa hari terakhir maunya makan ayam goreng terus. dibawalah raya ke dokter anak di suatu rumah sakit swasta di cibinong. ternyata tidak ada dokter anak yang piket sesuai jadwal yang tertera. setelah telpon ke beberapa rumah sakit yang lain, pindahlah kita ke rumah sakit swasta yang juga terkenal di cibinong. saat itu yang penting kita ketemu dokter anak, keadaan darurat, si raya jalannya sampai miring-miring karena bisulan dan badannya bentol-bentol.
tetapi sayang seribu sayang, kita ketemu dengan dokter anak senior yang sangat tidak ramah. sangat kasar dalam menangani pasien anak-anak, terkesan buru-buru karena memang pasiennya antri dan banyak. kita bahkan tidak diberi kesempatan untuk bertanya tentang penyebab dan bagaimana menangani keluhan tersebut, cuma dikasih surat pengantar untuk operasi bisul ke dokter bedah dan resep obat untuk dugaan alergi.
aku sampai heran, apa dokter ini dulu pas mengambil spesialis ngga mendapatkan materi tentang psikologi anak ya, harusnya ada materi tersebut secara ini dokter spesialis anak. entahlah...
bagaimana anak-anak akan berani dan bahkan suka denga profesi dokter kalau mereka ketakutan dan trauma saat diperiksa?
saat itu kita benar-benar tidak sreg dengan pelayanan dokter dan juga perawat di ruangan itu. raya menangis kencang, tetapi malah dimarahin dan diperiksa dengan SANGAT kasar. aku bilang sangat, karena kita orang dewasa sesuai hati nurani/hati kecil pasti akan tahu bedanya kasar/tidak dan tingkatannya.
begitu pemeriksaan selesai kita langsung minta form pengaduan ke receptionist. kita tulis keluh kesah tentang pelayananan jasa profesi dokter anak dan perawatnya. saat itu kita berjanji tidak akan menggunakan jasa dokter lagi [kecuali takdir berkata lain: aku pernah berjanji tidak akan menggunakan jasa seorang dokter kandungan, eh..ndilalahnya karena suatu sebab, aku dioperasi caesar sama dia. takdir :D]

harapan
waktu konsultasi boleh saja dibatasi, apalagi kalau pasiennya banyak, kita juga sadar diri harus berbagi dengan pasien yang lain. berapa banyak sih pertanyaan yang kita ajukan saat konsultasi? secara kita orang awam ngga begitu paham juga masalah medis. udah gitu kita juga bisa nanya om google atau teman/saudara yang berprofesi dokter tentang hal-hal yang berkaitan dengan kondisi medis tersebut. jadi, kita menanyakan tentang hal-hal yang pokok saja.

inti dari tulisan ini adalah, kita [aku?], seorang pasien sebenarnya ngga terlalu memikirkan keilmuan/kepakaran/kapasitas dari seorang dokter, kita hanya membutuhkan dokter yang ramah, empati dan welcome dari berbagai pertanyaan atas ketidaktahuan kita terhadap suatu kondisi medis. itu saja! rasanya menyejukkan kalau ketemu dengan dokter seperti ini....

gambar diambil dari sini

2 comments:

Hari-hariku said...

setuju Mba ..coz sbg pasien kita juga punya hak untuk dapat pelayanan yg baik

Anonymous said...

...iya bund, take and give...kewajiban dan hak...