HUJAN BULAN JUNI
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik
rindunya
kepada pohon berbunga
itu
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak
kakinya yang ragu-ragu
di jalan itu
dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak
terucapkan
diserap akar pohon
bunga itu
Kecewa, Berminat hadir di Salihara "Sapardi Membaca Sita" dan pidato Sapardi (masih Salihara) di "Mengenang A Teeuw (1921-1912) namun tidak bisa karena keadaan tidak memungkinkan (tidak ada yang mengantar) *.*
Dan mumpung masih bulan Juni, apalagi didukung dengan suasana hati yang pas dan sesuai - sisa efek euforia saat selesai nonton K-drama yang sangat mengesankan sepanjang ini ^.^ mencoba untuk
mengurai arti dari salah satu puisi SDD yang melegenda yakni Hujan Bulan Juni.
Prof. Dr. Sapardi
Djoko Damono adalah
seorang penyair besar yang dimiliki oleh Indonesia. Pernah menjadi dekan
Fakultas Satra (saat itu) Universitas Indonesia, mendapatkan
penghargaan/anugrah SEA
Write Award pada tahun
1986, sebuah anugrah prestisius bagi seorang penulis dan penyair.
Bukan hanya sajak atau puisi yang diciptakan,
namun juga menulis essai, prosa, cerpen, buku, novel maupun kolom di surat
kabar.
Hampir semua puisi SDD aku
suka. Puisi SDD ini sebenarnya sederhana, menceritakan tentang kehidupan
sehari-hari. Namun puisi-puisi ini menjadi terasa sangat indah karena
mampu bercerita tentang sesuatu yang menggetarkan dengan kelembutan, apalagi
dibarengi dengan imaji dan emosi yang mendukung. Dalam dan sarat makna.
Ketika
membacanya (meskipun dalam hati) kemudian meresapinya, menjadikan hati ini merinding dan bergetar.
SDD mampu mengolah kata-kata sederhana
menjadi sebuah lirik puisi dengan makna yang dalam. Dalam kesederhanaannya,
puisi SDD membuka ruang tafsir yang begitu luas. SDD mampu memberikan ruh dalam
setiap puisinya sehingga orang yang membacanya akan terbawa dalam suasana hati
tertentu, suasana dari maksud puisi itu maupun suasana yang tertangkap oleh
pembacanya.
Apalagi kalau mendengarkan
muskilasasinya oleh Ari malibu dan Reda Gaudiamo di atas dan apalagi
mendengarkannya secara live. Huhuhu...meleleh..speechless :)
Maman S. Marhayaman, seorang kritikus Sastra dan
juga dosen FIB UI mengatakan bahwa puisi merupakan karya sastra yang multi
tafsir, artinya setiap orang memiliki hak penuh untuk menafsirkannya sesuai
dengan penghayatan dan pendapatnya masing-masing.
Aku pernah mencoba
menafsirkan puisi SDD yang berjudul Sajak Kecil tentang Cinta, yang
terdokumentasikan di sini.
Memang hanya penafsiran dangkal, namun itulah yang mampu aku urai dan ambil
dari makna puisi Sajak Kecil tentang Cinta.
Baik, sekarang aku mencoba
untuk mengurai dan mengambil makna Hujan di Bulan Juni.
Pada saat puisi ini diciptakan tahun 1989, musim di nusantara masih berjalan sebagaimana layaknya, belum terpapar oleh climate change atau apapun namanya.
Saat itu, hujan biasa terjadi di bulan September
– Februari, selain bulan itu biasanya dilalui dengan keringnya musim kemarau. Jadi, dipastikan akan sulit menemui
hujan yang turun di bulan Juni.
Bila dibaca dan dicermati
kata demi kata, larik demi larik, puisi Hujan di Bulan Juni ini memiliki
pilihan diksi yang sederhana, bahasa yang akrab dengan kehidupan sehari-hari.
Seperti biasa, SDD seakan
memberikan ruh dalam ”hujan”. Hujan bukanlah hanya sekedar air yang turun dari
langit, tetapi hujan di sini diberikan sifat tabah, bijak dan arif, bahkan
kemudian berperilaku (dirahasikannya, dihapusnya, dibiarkannya).
Hujan seakan
menjelma menjadi seorang tokoh yang merindukan cinta yang tidak mungkin digapai
maupun diraih seperti halnya hujan yang tidak mungkin turun di bulan Juni saat
itu.
Cinta agung
yang ditahan dan dirahasiakan bahkan oleh orang yang dicintainya. Cinta yang
berdamai dengan keadaan. Karena keraguan dan ketidakberanian, akhirnya cintai
itu tidak tersampaikan. Hanya ditahan dan dirahasiakan. Bahkan kemudian
diam-diam dihapus dan disimpan sampai ajal menjemput.
Oh, betapa
menyedihkan sekali hujan di bulan juni. Meskipun cinta yang menghormat, namun
menjadi cinta yang sangat merana dan sakit. Membayangkan cinta rahasia
yang tak tersampaikan itu, membuat hati ini tersayat. Seperti itulan cinta
dalam hujan bulan juni.
-----
Siapa yang
tidak kenal dengan Agus Noor. Aku menemui dan
mengenalnya lewat puisi maupun cerpennya yang sering di muat di harian Kompas
edisi hari minggu. Agus Noor pada tahun 2010 menafsirkan puisi Hujan Bulan Juni
nya SDD melalui puisinya yang tidak kalah indah dan bermakna yang berjudul Ada
yang Lebih Tabah dari Hujan Bulan Juni.
Ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni,
ialah ia, yang terus mencintaimu,
meski kau tak pernah menyadari,
dan selalu
berjaga dalam kesedihan dan kebahagiaanmu
Ialah yang menggeletar dalam doa-doamu,
tanpa
pernah kau menyadari,
dan kau pun tentram karena merasa ada yang selalu
menjagamu
Tanpa pernah kau menyadari,
ia diam-diam
menjelma bayanganmu,
hingga bahkan pun dalam sunyi kau tak lagi merasa sendiri.
Ia, yang sungguh lebih tabah dari hujan bulan
Juni,
selalu berbisik lembut di telingamu,
meski kau tak pernah menyadari,
dan
seluruh kenanganmu menjadi hangat dalam ingatan
Saat kau terisak menahan tangis,
ia yang
lebih bijak dari bulan Juni,
merasuk ke dalam dadamu yang disesaki duka,
hingga
kau semakin memahami:
betapa airmata mencintai orang yang paling dicintainya
dengan cara menjatuhkan diri
Ia jugalah yang menyelusup ke paru-parumu,
tanpa sekali pun pernah kau menyadari,
ketika kau mendadak tersengal oleh entah
apa,
dan segalanya tiba-tiba saja menjadi terasa lega
Ketika senja,
ia yang lebih arif dari bulan
Juni,
tanpa pernah kau menyadari,
meruapkan hangat ke dalam teh yang tengah kau
nikmati pelan-pelan,
hinga kau merasakan sore begitu damai dan menentramkan
Ia jualah yang terus duduk di sampingmu,
tanpa pernah kau menyadari,
menemanimu dengan sabar memandangi cahaya senja
yang perlahan memudar,
dan kau bersyukur pada segala yang sebentar
Dan ketika kau tidur,
ia yang lebih arif dari
bulan Juni,
tak lelah berjaga:
dihapusnya debu kecemasan yang berguguran dalam
mimpimu
Ada yang jauh lebih tabah dari hujan bulan
Juni,
lebih bijak,
dan lebih arif,
tetapi kau tak pernah menyadari,
meski
selalu ada di kesedihan dan kebahagiaanmu,
karena ia tak henti-henti
mencintaimu
Tersayat. Merinding. Meleleh…specchless....
----------
@Kelas - Seminar KTI Inter'l
----------
@Kelas - Seminar KTI Inter'l
No comments:
Post a Comment