14.6.12

Hujan Bulan Juni



HUJAN BULAN JUNI
Tak ada yang lebih tabah 
dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya 
kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak 
dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu 
di jalan itu
Tak ada yang lebih arif 
dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan 
diserap akar pohon bunga itu
 Sapardi Djoko Damono - SDD (1989)

Kecewa, Berminat hadir di Salihara "Sapardi Membaca Sita" dan pidato Sapardi (masih Salihara) di "Mengenang A Teeuw (1921-1912) namun tidak bisa karena keadaan tidak memungkinkan (tidak ada yang mengantar) *.*

Dan mumpung masih bulan Juni, apalagi didukung dengan suasana hati yang pas dan sesuai - sisa efek euforia saat selesai nonton K-drama yang sangat mengesankan sepanjang ini  ^.^ mencoba untuk mengurai arti dari salah satu puisi SDD yang melegenda yakni Hujan Bulan Juni.

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono adalah  seorang penyair besar yang dimiliki oleh Indonesia. Pernah menjadi dekan Fakultas Satra (saat itu) Universitas Indonesia, mendapatkan penghargaan/anugrah SEA Write Award pada tahun 1986, sebuah anugrah prestisius bagi seorang penulis dan penyair. 

Bukan hanya sajak atau puisi yang diciptakan, namun juga menulis essai, prosa, cerpen, buku, novel maupun kolom di surat kabar.

Hampir semua puisi SDD aku suka. Puisi SDD ini sebenarnya sederhana, menceritakan tentang kehidupan sehari-hari. Namun puisi-puisi ini menjadi terasa sangat indah karena mampu bercerita tentang sesuatu yang menggetarkan dengan kelembutan, apalagi dibarengi dengan imaji dan emosi yang mendukung. Dalam dan sarat makna.
Ketika membacanya (meskipun dalam hati) kemudian meresapinya, menjadikan hati  ini merinding dan bergetar.

SDD  mampu mengolah kata-kata sederhana menjadi sebuah lirik puisi dengan makna yang dalam. Dalam kesederhanaannya, puisi SDD membuka ruang tafsir yang begitu luas. SDD mampu memberikan ruh dalam setiap puisinya sehingga orang yang membacanya akan terbawa dalam suasana hati tertentu, suasana dari maksud puisi itu maupun suasana yang tertangkap oleh pembacanya.

Apalagi kalau mendengarkan muskilasasinya oleh Ari malibu dan Reda Gaudiamo di atas dan apalagi mendengarkannya secara live. Huhuhu...meleleh..speechless :)

Maman S. Marhayaman, seorang kritikus Sastra dan juga dosen FIB UI mengatakan bahwa puisi merupakan karya sastra yang multi tafsir, artinya setiap orang memiliki hak penuh untuk menafsirkannya sesuai dengan penghayatan dan pendapatnya masing-masing.

Aku pernah mencoba menafsirkan puisi SDD yang berjudul Sajak Kecil tentang Cinta, yang terdokumentasikan di sini. Memang hanya penafsiran dangkal, namun itulah yang mampu aku urai dan ambil dari makna puisi Sajak Kecil tentang Cinta.

Baik, sekarang aku mencoba untuk mengurai dan mengambil makna Hujan di Bulan Juni.


Pada saat puisi ini diciptakan tahun 1989, musim di nusantara masih berjalan sebagaimana layaknya, belum terpapar oleh climate change atau apapun namanya.

Saat itu, hujan biasa terjadi di bulan September – Februari, selain bulan itu biasanya dilalui dengan keringnya musim kemarau. Jadi, dipastikan akan sulit menemui hujan yang turun di bulan Juni.

Bila dibaca dan dicermati kata demi kata, larik demi larik, puisi Hujan di Bulan Juni ini memiliki pilihan diksi yang sederhana, bahasa yang akrab dengan kehidupan sehari-hari.

Seperti biasa, SDD seakan memberikan ruh dalam ”hujan”. Hujan bukanlah hanya sekedar air yang turun dari langit, tetapi hujan di sini diberikan sifat tabah, bijak dan arif, bahkan kemudian berperilaku (dirahasikannya, dihapusnya, dibiarkannya).

Hujan seakan menjelma menjadi seorang tokoh yang merindukan cinta yang tidak mungkin digapai maupun diraih seperti halnya hujan yang tidak mungkin turun di bulan Juni saat itu. 

Cinta agung yang ditahan dan dirahasiakan bahkan oleh orang yang dicintainya. Cinta yang berdamai dengan keadaan. Karena keraguan dan ketidakberanian, akhirnya cintai itu tidak tersampaikan. Hanya ditahan dan dirahasiakan. Bahkan kemudian diam-diam dihapus dan disimpan sampai ajal menjemput.

Oh, betapa menyedihkan sekali hujan di bulan juni. Meskipun cinta yang menghormat, namun menjadi cinta yang sangat merana dan sakit. Membayangkan cinta rahasia yang tak tersampaikan itu, membuat hati ini tersayat. Seperti itulan cinta dalam hujan bulan juni.

-----
Siapa yang tidak kenal dengan Agus Noor. Aku menemui dan mengenalnya lewat puisi maupun cerpennya yang sering di muat di harian Kompas edisi hari minggu. Agus Noor pada tahun 2010 menafsirkan puisi Hujan Bulan Juni nya SDD melalui puisinya yang tidak kalah indah dan bermakna yang berjudul Ada yang Lebih Tabah dari Hujan Bulan Juni.

Ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, 
ialah ia, yang terus mencintaimu, 
meski kau tak pernah menyadari, 
dan selalu berjaga dalam kesedihan dan kebahagiaanmu
Ialah yang menggeletar dalam doa-doamu, 
tanpa pernah kau menyadari, 
dan kau pun tentram karena merasa ada yang selalu menjagamu
Tanpa pernah kau menyadari, 
ia diam-diam menjelma bayanganmu, 
hingga bahkan pun dalam sunyi kau tak lagi merasa sendiri.
Ia, yang sungguh lebih tabah dari hujan bulan Juni, 
selalu berbisik lembut di telingamu, 
meski kau tak pernah menyadari, 
dan seluruh kenanganmu menjadi hangat dalam ingatan
Saat kau terisak menahan tangis, 
ia yang lebih bijak dari bulan Juni, 
merasuk ke dalam dadamu yang disesaki duka, 
hingga kau semakin memahami: 
betapa airmata mencintai orang yang paling dicintainya dengan cara menjatuhkan diri
Ia jugalah yang menyelusup ke paru-parumu, 
tanpa sekali pun pernah kau menyadari, 
ketika kau mendadak tersengal oleh entah apa, 
dan segalanya tiba-tiba saja menjadi terasa lega
Ketika senja, 
ia yang lebih arif dari bulan Juni, 
tanpa pernah kau menyadari, 
meruapkan hangat ke dalam teh yang tengah kau nikmati pelan-pelan,
 hinga kau merasakan sore begitu damai dan menentramkan
Ia jualah yang terus duduk di sampingmu, 
tanpa pernah kau menyadari, 
menemanimu dengan sabar memandangi cahaya senja yang perlahan memudar, 
dan kau bersyukur pada segala yang sebentar
Dan ketika kau tidur, 
ia yang lebih arif dari bulan Juni,
tak lelah berjaga: 
dihapusnya debu kecemasan yang berguguran dalam mimpimu
Ada yang jauh lebih tabah dari hujan bulan Juni, 
lebih bijak,
 dan lebih arif, 
tetapi kau tak pernah menyadari, 
meski selalu ada di kesedihan dan kebahagiaanmu, 
karena ia tak henti-henti mencintaimu

Tersayat. Merinding. Meleleh…specchless.... 


----------
@Kelas - Seminar KTI Inter'l

No comments: