Diantara berita politik, ekonomi maupun hiburan, berita tentang perang siber adalah berita yang paling menarik untuk diikuti di penghujung tahun ini.
Psy war atau perang siber ini bukan hanya masalah Sony Pictures yg menjadi korban peratasan yg diciptakan oleh hacker yang menamakan diri Guardians of Peace (GOP), namun juga menjadi urusan antar negara. Ya, antara USA dan Korea Utara. Tak tanggung-tanggung, terkait insiden ini Washington bahkan berkonsultasi dan bersekutu dengan Tiongkok, Jepang, Korsel dan Rusia.
Secara militer dan ekonomi, Korut memang sulit menandingi AS. Namun, mereka menemukan cara ampuh dan murah untuk membuat AS kalang kabut.
Tak terlalu mengagetkan memang, karena beberapa tahun terakhir ini, Korut melatih ribuan peretas melalui program militer dan pemerintah secara rahasia. Diyakini, mereka punya 6.000 peretas di mana 1.000 diantaranya bekerja di Tiongkok.
Kembali ke insiden Sony, menurut perusahaan keamanan internet Kaspersky, insiden ini merupakan yang pertama kalinya ancaman siber bisa dikatakan berhasil. Peretasan ini merupakan contoh nyata situasi dimana hacker benar-benar dianggap sangat serius atau bagaimana ancaman online dapat meningkat ke dunia nyata.
Penyelidikan FBI mengungkap, malware itu mampu menembus sistem keamanan sangat canggih sekalipun. Untuk diketahui, (GOP) berhasil mengangkut sekitar 100 terabytes data milik Sony Pictures.
Data tersebut beberapa dibocorkan ke publik. Seperti film-film yang belum dirilis, email internal yang beberapa isinya sensitif sampai dokumen gaji petinggi Sony Pictures.
"Malware yang digunakan mungkin akan mampu menembus 90% pertahanan internet yang ada sekarang ini di industri swasta dan juga bahkan pemerintahan," kata Joseph Demarest, Assistant Director divisi cyber FBI yang dikutip detikINET dari Guardian, Minggu (14/12/2014).
Peretasan ini berakibat pada batalnya peluncuran film 'Interview' pada 25 Desember mendatang. Film berbiaya Rp 546,7 M ini menceritakan tentang seorang wartawan yang ditugasi CIA untuk membunuh pemimpin Korut, Kim Jong Un.
Jaringan bioskop di AS menolak menayangkan film ini setelah mendapat ancaman dari peretas.
Dalam wawancara dengan CNN, direktur Sony memutuskan untuk tidak menayangkan 'Interview', karena tak satupun platform yang tertarik untuk menayangkannya.
Sangat disayangkan memang, bahkan sastrawan Brazil Paulo Coelho menawarkan Rp 1,2M ke Sony agar diijinkan menggugah 'Interview' di blog pribadinya. Namun Sony tidak bergeming, hal ini tentu saja karena ancaman yang diterimanya.
Peretasan ini dianggap yang paling dahsyat. Segudang rahasia dibobol dan disebarluaskan termasuk film yang baru akan rilis seperti Annie, Still Alice, dan To Write Love Her Arms. Film-film itu sudah beredar diinternet dan bisa diunduh gratis.
Berita terakhir menyebutkan bahwa Pyongyang membantah tudingan Washington. Film kontroversial 'The Interview' memang diakui telah membuat Korea Utara terluka dan sakit hati. Tapi meski demikian, negara komunis ini menyanggah jadi aktor di balok aksi peretasan.
"(Film) itu telah memfitnah citra negara kami. Mengejek kedaulatan kami. Kami menolaknya, tapi kami benar-benar tidak ada hubungannya dengan itu, buktikan kalau memang kami terlibat" tegas diplomat Korea Utara untuk PBB, Kim Song, seperti detikINET kutip The Associated Press, Minggu (21/12/2014).
Makin seru bukan? Mari kita tunggu berita selanjutnya.
*Tulisan diolah dari dua sumber: Kompas dan DetikNet
No comments:
Post a Comment