17.12.14

A Downer

Selesai arisan sabtu minggu kemarin, aku menemani Raya ke salon. Sambil menunggu rambut Raya dirapikan, aku mengambil majalah Elle di meja tunggu dan mulai membacanya. Meskipun bukan majalah edisi terbaru, tapi aku menemukan artikel menarik dan sepertinya masih relevan dengan kondisi kemarin atau kini. Berikut aku coba tulisakan kembali tentu saja berdasarkan pemahaman minimal karena membaca sambil lalu.

Artikel tersebut bercerita tentang Downer yaitu seorang yang selalu memiliki mood tidak baik. Sehari-harinya selalu dilingkupi dengan perasaan negatif, baik pada dirinya maupun orang lain. Bahkan tak jarang, mood ini ditularkan kepada orang lain.

Tukang Mengeluh
Seorang Downer jarang sekali bersyukur atas segala kondisi yang terjadi padanya. Falsafah orang Jawa - Saat tertimpa musibah dan mencoba mengambil hikmahnya dengan berkata: "untung saya mendapatkan musibah ini dan bukan musibah yang lain - tidak berlaku padanya. Segala sesuatu sepertinya tidak ada yang membuatnya senang.
"Aduh, mukaku sudah hitam, tembem pula"
"Sial, tadi macet sekali"

Selain mengeluh hal-hal yang terkait dengan dirinya, Downer ini juga tak jarang mengkritik atas kerja keras orang lain dengan sangat mudahnya tanpa berpikir dari sudut pandang yang berbeda, bahkan untuk hal-hal kecil dalam kehidupan bersosial. Mengkritik atau memberi masukan boleh saja saat hal tersebut masih dimungkinkan perbaikan, namun jika kritikan itu tidak bisa mengubah apapun, sepertinya sangat bijak jika ditahan.
"Kenapa pilih warna biru, sepertinya merah marun lebih cantik"
"Seharusnya modelnya bukan begini, tapi yang lain sepertinya lebih bagus"

Yang agak mengherankan karena downer ini sebenernya sudah mendelagasikan kepada orang lain untuk memilih warna atau model misalnya, dan bahkan dimintai pendapat sebelumnya, "Saya ikut saja, terserah bagaimana baiknya", namun ujungnya bukan rasa terimakasih tapi kritikan dan kritika itu tidak mengubah apapun.

Umpatan dan keluhan seringkali keluar dari mulutnya. Ada saja yang membuatnya tidak puas dengan segala kondisi, Memang benar, life is never flat, hidup tidak selalu indah sesuai rencana, tapi Downer ini akan membesar-besarkan kondisi yang dialaminya mekipun mungkin bagi orang lain tidak menjadi masalah. Keluhan tersebut akhirnya malah mengaburkan cerita utama tentang suatu hal, suatu keberhasilan misalnya.
"Puji syukur, aku lulus dengan nilai sangat memuaskan, tapi itu sangat tidak mudah, aku harus menghabiskan waktuku di perpustakaan lebih lama, harus mengorbankan diri untuk tidak jalan-jalan selama setahun, harus mengurangi jatah tidurku, bahkan aku harus putus dari pacar, bla..bla.."

Pesimis
Downer ini juga selalu hopeless dalam memandang hidupnya. Sepertinya tidak ada hal baik yang akan diraih di masa mendatang.

Ada yang tahu dengan Eeyore, karakter keledai keabu-abuan di film animasi Winnie the Pooh. Seorang Downer ini sangat pas jika digambarkan dengan karakter Eeyore. Eeyore ini adalah seorang Downer sejati, selalu murung, selalu memandang hidupnya suram dan tidak seberuntung teman-temannya. Hal baik bagi orang orang lain bisa menjadi hal buruk di mata Eeyore.

Cerita serupa tentang ketidakberuntungan atau kesuraman Downer kadang bisa kita temui di artikel parodinya Samuel Mulia di harian Kompas Minggu.

Oleh karena itu jika Downer sedang bercerita (baca= mengeluh), alihkan saja dengan pembicaraan yang lain karena bisa jadi penyakit ini menular ke kita. Alih-alih dapat memberi masukan atau solusi yang bagus, yang ada malah kita terjebak dalam penyakit yang sama.

[Lagi-lagi] hidup itu tergantung bagaimana kita memandangnya. Jika kita menganggap hidup kita bahagia, bahagialah kita, pun sebaliknya. Jadi ingat dengan blog dan status teman yang isinya hanya keluhan, entah keluhan terhadap dirinya, temannya, hal-hal sekitar atau pemerintah. Memang benar kita boleh menulis apapun di blog [juga fb, path, twitter, ig, G+, dll], tapi ingat, meskipun di-private, media itu online yang bisa dibaca oleh teman dalam jaringan tersebut. 

Sperti yang disampaikan oleh pak Alie di acara TOT kemarin, semua adalah pilihan. Masing-masing berhak menentukan pilihan dan capaiannya, dan itu sangat dimungkinkan berbeda antar satu dengan lainnya. Jika di dunia kerja bisa dibuatkan standar, bagaimana jika di kehidupan nyata secara umum? ada norma dan nilai sebagai batasnya, tapi lagi-lagi itupun tergantung pilihannya masing-masing.

Hidup hanya sebentar, rasanya akan menjadi kurang bermakna kalau setiap saat diisi dengan keluhan. Tulisan ini bukan maksud apa-apa. Lebih tepatnya evaluasi buat diri sendiri. Jangan-jangan saya selama ini seorang Downer sejati. Jika memang iya, mohon dimaafkan dengan sangat, semoga di kemudian hari, sifat ini berkurang atau bahkan menghilang. Mengaminkan untuk selalu belajar lebih baik.

No comments: