Tadi malam Penulis Clara Ng (@clara_ng) membagikan pengetahuannya seputar sastra anak di linimasa Twitter-nya. Fokus pembahasan kali ini tentang identitas gender dalam sastra anak. Novel yang terpilih untuk dijadikan bahan pembahasan adalah Harry Potter, novel anak paling fenomenal karya J.K. Rowling. Clara Ng mengulas tentang heroisme perempuan, feminisme, dan … kamar mandi! Ya, kamar mandi. Sebuah ulasan yang sangat unik.
Aku coba menuliskannya kembali dengan paraphrase sana sini.
Sebagian besar pasti sudah pernah membaca novel sejuta umat, Harry Potter (HP). Buku ini 'cowok banget'. Sastra anak memang tidak bisa lepas dari identitas gender. Namun ada sedikit yang menarik dari identitas feminisme dan itu terkait dengan kamar mandi! ^^
Bicara tentang feminisme di buku/film HP pasti berakhir pada tokoh sentral perempuan, ya betul, Hermione.
Namun sebetulnya ada tokoh perempuan lain yang tak kalah fenomenal, yakni Moaning Myrtle atau terjemahannya Myrtle Merana (MM), seorang hantu yang sepanjang hidupnya merana (bahkan setelah dia meninggal dan menjadi hantu), dengan banyak jerawat di pipi dan kesedihan tiada akhir.
Di Buku 1 dan 2 peran MM ini sangat penting. MM ini adalah parodi tentang gadis remaja, dan bagian penting dari parodi ini adalah tempat tinggal MM yakni...kamar mandi!
Kamar mandi tempat tinggal MM ini isinya dilengkapi dengan pipa, wastafel dan toilet. Banyak sekali adegan menggelikan bersama MM ketika Rowling menunjukkan betapa pentingnya eksistensi toilet untuk para gadis. Salah satu asosiasi penting toilet bagi gadis remaja adalah menstruasi.
Banyak gadis remaja yang mendapatkan mens pertama di sekolah dan itu membuatnya kaget, shock dan terguncang. Para gadis berlari ke kamar mandi dan menangis sendirian.
Dalam novel remaja “Are You There God? It’s Me, Margaret” yang pernah aku baca, juga diceritakan tentang Nancy menangis di toilet karena mendapatkan mens pertama. Saat itu Margareth menenangkan Nancy, lagi-lagi di kamar mandi. Saat kembali ke rumah, ibu Nancy berkata, "Nancy sudah menjadi wanita sekarang.” Namun, Nancy terus saja menangis, menangisi kanak-kanaknya yang hilang.
Trauma atau lebih tepatnya kekagetan mendapatkan menstruasi pertama ini akan selalu diingat oleh setiap anak perempuan, karena itulah jembatan dan gerbang mereka menuju kedewasaan.
Dalam buku buku Blood Stories: Menarche And The Politic of the Female Body, Janet Lee juga mencatat aneka reaksi psikologis para gadis saat menstruasi pertama.
Toilet selalu menjadi tempat yang intim, rahasia dan terlindung. Para gadis, siklus bulanan dan kamar mandi memiliki ikatan ruang yang kuat.
Kembali ke HP, dalam buku 1 diceritakan tentang Hermione yang berlari ke toilet dan menangis sendirian saat Ron mengejek dirinya sebagai "mimpi buruk". Ini seperti adegan saat seorang gadis yang berlari ke kamar mandi untuk mendapatkan perlindungan karena "sesuatu" yang mendadak ada. "Ssstt" yang tidak terduga.
Walau asosiasi ini jauh dari kata mens, seperti seolah Rowling tidak sengaja membuat seperti itu. Coba perhatikan metaforanya. Dengan watak Hermione yang sok pinter bossy, tiba-tiba diejek oleh Ron. Harga dirinya terinjak, malu dengan dirinya sendiri, kemudian dia berlari ke toilet, mengunci dan menangis sendirinya. Tak sadar ada Troll, makhluk buas yang tiba-tiba datang. Harry dan Ron tak sadar kalau Hermione hilang, dan begitu sadar ternyata Hermione siap jadi santapan Troll. Berdua, Harry dan Ron kemudian menyelematkan Hermione.
Inilah salah satu adegan berciri dongeng "seorang putri yang diselamatkan dari naga oleh pangeran", Rowling menggenapinya. Sang putri yang di awal cerita seorang tokoh yang super galak, judes, meskipun pemberani dan pintar, mendadak lemah dan butuh diselamatkan.
Padahal dalam buku HP selanjutnya sampai dengan tamat, Hermione tidak pernah lagi menunjukkan ketidakberdayaan atau kelemahannya. Dia selalu gagah perkasa. Namun dalam situasi krisis, saat berhadapan dengan Troll, Hermione bagai putri yang harus dibela oleh pangeran.
Meskipun dengan kejadian tersebut, Harry dan Ron medapatkan hukuman dari para guru, namun tindakan heroik itu melekat di hati Hermione yang membuat perubahan pada dirinya: yang semula jutek dan bossy berubah menjadi gadis yang bijaksana dan mau berkorban demi kebaikan untuk orang lain.
Hermione berhasil melalui pintu perubahan tersebut. Sepanjang sisa cerita (sampai buku terakhir) mereka menjadi sahabat karib yang saling membantu disamping sisi romantisme antara Hermione dan Ron.
Menurut Clara Ng, perubahan Hermione itu merupakan simbol perubahan keperempuanan, bukan hanya sekedar watak atau karakternya tapi keperempuannya secara utuh. Saat seorang gadis cilik mendapatkan menstruasinya, maka dia mengalami perubahan seluruh keperempuannya. Dan di kamar mandi itulah Hermione keluar dan berubah menjadi "dewasa". Rowling menggambarkan Troll sebagai metafora menstruasi. Troll yang dikalahkan oleh Harry dan Ron adalah simbol tubuh perempuan, gender yg “abnormal”, yg akhirnya mengembalikan sisi feminitas ke titik equalibrium.

Walau asosiasi ini jauh dari kata mens, seperti seolah Rowling tidak sengaja membuat seperti itu. Coba perhatikan metaforanya. Dengan watak Hermione yang sok pinter bossy, tiba-tiba diejek oleh Ron. Harga dirinya terinjak, malu dengan dirinya sendiri, kemudian dia berlari ke toilet, mengunci dan menangis sendirinya. Tak sadar ada Troll, makhluk buas yang tiba-tiba datang. Harry dan Ron tak sadar kalau Hermione hilang, dan begitu sadar ternyata Hermione siap jadi santapan Troll. Berdua, Harry dan Ron kemudian menyelematkan Hermione.
Inilah salah satu adegan berciri dongeng "seorang putri yang diselamatkan dari naga oleh pangeran", Rowling menggenapinya. Sang putri yang di awal cerita seorang tokoh yang super galak, judes, meskipun pemberani dan pintar, mendadak lemah dan butuh diselamatkan.
Padahal dalam buku HP selanjutnya sampai dengan tamat, Hermione tidak pernah lagi menunjukkan ketidakberdayaan atau kelemahannya. Dia selalu gagah perkasa. Namun dalam situasi krisis, saat berhadapan dengan Troll, Hermione bagai putri yang harus dibela oleh pangeran.
Meskipun dengan kejadian tersebut, Harry dan Ron medapatkan hukuman dari para guru, namun tindakan heroik itu melekat di hati Hermione yang membuat perubahan pada dirinya: yang semula jutek dan bossy berubah menjadi gadis yang bijaksana dan mau berkorban demi kebaikan untuk orang lain.
Hermione berhasil melalui pintu perubahan tersebut. Sepanjang sisa cerita (sampai buku terakhir) mereka menjadi sahabat karib yang saling membantu disamping sisi romantisme antara Hermione dan Ron.
Menurut Clara Ng, perubahan Hermione itu merupakan simbol perubahan keperempuanan, bukan hanya sekedar watak atau karakternya tapi keperempuannya secara utuh. Saat seorang gadis cilik mendapatkan menstruasinya, maka dia mengalami perubahan seluruh keperempuannya. Dan di kamar mandi itulah Hermione keluar dan berubah menjadi "dewasa". Rowling menggambarkan Troll sebagai metafora menstruasi. Troll yang dikalahkan oleh Harry dan Ron adalah simbol tubuh perempuan, gender yg “abnormal”, yg akhirnya mengembalikan sisi feminitas ke titik equalibrium.

Hermione keluar dari toilet dengan kemenangan: perubahan pada dirinya menjadi lebih baik. Tapi ada gadis yang tertinggal di sana yakni MM atau Myrtle Merana, seorang gadis yang tidak pernah move on dengan terus-menerus melolong menangis dalam frustasi dan putus asa. Tidak ada lagi masa depan MM, meski dia mengganggap dirinya bertumbuh menjadi tua tapi murid-murid yang lain menganggapnya tidak bertumbuh, tidak pernah puber, bahkan antara ada dan tiada.
Feminisme dan gender dibawa Hermione dan sisi seberang oleh MM. Kita, perempuan hampir semua mengalaminya, ketika akhirnya menjadi Hermione atau MM bisa ditanyakan ke diri masing-masing ^^
Gambar diambil dari sini
Feminisme dan gender dibawa Hermione dan sisi seberang oleh MM. Kita, perempuan hampir semua mengalaminya, ketika akhirnya menjadi Hermione atau MM bisa ditanyakan ke diri masing-masing ^^
Gambar diambil dari sini

No comments:
Post a Comment