23.5.14

Kenangan

Masa lalu mengarahkan saat ini dan saat ini mengarahkan masa depan, sehingga sangat mustahil untuk membangun masa depan tanpa mengetahui masa lalu
-unknown

Jika kau tanya, "Bagaimana masa laluku, kenangan seperti apa yang aku miliki?" Aku akan menjawab dengan sangat mantap, aku memiliki kenangan yang indah, aku memiliki masa lalu yang menyenangkan. Ya, betul sekali. Aku tidak perlu membeli kenangan indah dari penjual kenangan, karena aku memiliki kenangan yang menyenangkan, normal selazimnya.

Kadang terlintas, akan seperti apakah aku ketika hidup di belahan dunia lain dengan keluarga yang lain. Ya, tiap manusia memiliki takdirnya sendiri-sendiri. Sangat bersyukur atas takdir yang diberikan kepadaku. Alhamdulillah. Atas segala kehidupan yang dilalui, menyenangkan di sanubari: keluarga, saudara, teman dan lingkungan sekitar.

Foto hanyalah sebuah foto, namun jangan menganggap remeh sebuah foto yang ternyata melaluinya tersimpan banyak cerita. Aku ingin membagi sedikit masa kecil, kenangan yang dilalui selama 30 tahun yang lalu. Betapa aku sangat berterimakasih kepada Bapak dan Ibu yang memberikan kenangan yang indah di masa kecil.

1996 - Sawah. Sawah bapak saat itu lumayan luas, meski sekarang menyempit karena sebagian tergerus aliran sungai dan dibuat jalan untuk lalu lalang warga. Yang paling menyenangkan adalah sore-sore jalan-jalan ke sawah: damai. 

Saat itu bapak dan ibu masih menanam tembakau. Aku dan para sepupu sering sekali mengambil daun tembakau yang telah kering yang biasa disebut dendeng. Kami bergiliran mengambil dendeng dari sawah bapak kemudia ke sawah pakde, sawah paklik dan seterusnya. Sangat menyenangkan, karena kami mendapatkan banyak uang atas penjualan dendeng itu. Satu hal yang paling mengganggu adalah kami harus berani dan tabah bertemu dengan ulat-ulat hijau sebesar jempol, berkulit mulus, yang kami temui di tiap pohon tembakau.
1984 - Saat itu ada tukang foto keliling, maklum di jaman itu belum lazim bagi kami yang tinggal di sebuah kota kecil untuk memiliki kamera sendiri. Aku dan mbak Is didandanin oleh ibu dengan make up lengkap: eye shadow, pensil alis, bedak tebal dan lipstik. Tidak pas sebenarnya untuk anak seusia kami waktu itu, namun ibu mungkin sedang bersemangat berdandan dan mendadani anak-anak perempuannya agar terlihat cantik. 

Saat itu, Ibu melalui kegiatan PKK menjadi peserta kursus kecantikan yang diselenggarakn oleh Mustika Ratu. Selalu takjub melihat perlengkapan make up Ibu yang diperolehnya saat kursus. Seringkali aku dan mbak Is mencoba berbagai alat make up tersebut dan berakhir dengan ketidakberkenannya ibu karena alat-alat make menjadi tidak sebagus yang seharusnya atau habis sia-sia karena untuk mainan kami berdua.

Kembali ke tukang foto. Yang akhirnya kami sadari, saat berpose di depan tukang foto, kenapa ibu tidak menyuruh kami untuk tersenyum, sekedarnya saja, agar kami terlihat lebih manis. Karena hasilnya, kami terlihat jutek dan tegang. 

Foto itu diambil di ruang tamu. Secara keseluruhan, rumah yang kami tempati termasuk besar untuk ukuran di kota kami. Namun Bapak ibuku menempati rumah bagian belakang yang meski kecil tapi asri. Rumah dengan dua kamar tidur, dapur dan taman bunga yang cantik. Ibu merawat segala tanaman dan bunga itu dengan telaten. 

Nah, saat aku SD, bapak membangun rumah bagian depan, sehingga akhirnya kami sekeluarga pindah ke depan, rumah mungil di bagian belakang akhirnya menjadi transit atau tempat mengumpulkan hasil panen, taman yang semula terawat menjadi terbengkalai.

Oya, tentang baju, mungkin karena hanya kami, anak-anak perempuan ini yang dimiki oleh bapak dan ibu, kami selalu dibelikan baju yang sama, seringkali seragam hanya berbeda ukuran, mulai dari topi, sepatu bahkan meja belajar. Yang aku ingat, saat kecil, kami dibelikan baju setahun hanya dua kali, saat mau lebaran dan musim tembakau berakhir. Pernah suatu kali aku, mbak Is, bapak dan ibu mencari baju untuk lebaran mulai dari Wonosobo sampai Magelang, tapi aku dan mbak Is tidak menemukan apa yang kami maui. Akhirnya kami malah menemukannya di dekat rumah, di parakan, di toko beras namanya, karena toko itu selain menjual baju juga menjual beras.

1983 - Ngadirejo. Aku memakai baju yang sama saat pernikahan Bulik Dyah dan Pak Zaenuri. Yang paling menyenangkan saat saudara (dekat) menikah adalah kita diberikan tugas untuk menjadi pengipas penganten. Meski capek dan merepotkan karena harus memakai kebaya, namun menjadi pengipas itu seru karena kita didandani super cantik yang berbeda dari hari-hari biasa. 


1982 - Pantai Ancol. Saat itu umurku baru sekitar tiga tahunan. Ingatan yang tersisa tentang acara piknik bersama keluarga sekolah bapak adalah: 
  • Aku dan mbak Is selalu memakai baju, sepatu, kaos kaki, topi dan kipas yang sama. Selalu.
  • Entah kami menginap di mana, di sebuah hotel di sekitar Pondok Gede kalau tidak salah, aku tidak bisa mengingatnya. Yang pasti selalu merasa bau saat melewati tangga hotel untuk menuju ke kamar. Sampai sekarang aku masih ingat bau itu, seperti bau muntahan orang.
  • Pertama kali melihat atraksi ikan lumba-lumba yang melewati lingkaran api. Takjub dan senang sekali melihat kebolehan lumba-lumba itu melakukan banyak hal yang diinstruksikan oleh pelatihnya.
  • Nah, saat orang-orang berkunjung ke Lubang Buaya, aku ditinggal di bus karena tidur, saat terbangun tidak ada satupun orang kecuali bapak-bapak kru bus. Selang sebentar orang-orang sudah kembali ke bus dari lubang buaya dengan beragam cerita. Untung dunia saat itu masih begitu ramah, bapak ibuku merasa aman untuk meninggalkan anak tiga tahun tidur sendiri di bus hanya dengan para awak bus, saling percaya.
  • Keseruan cerita orang-orang tentang sumur dengan cermin yang ada di atasnya, menyebabkan aku menangis, dan akhirnya merengek minta diantar untuk melihat sumur itu [sampai sekarang, aku belum pernah melihat sumur itu lagi].
1982 - Monas. Sat pertama kali merasakan naik lift, di umur tiga tahunan. Menuju puncak Monas untuk melihat pemandangan Jakarta dari atas. Saat itu Masjid Istiqlal sedang dibangun. 


1980 - Rumah baru. Aku yang digendong ibu mungkin baru berumur satu tahunan. Rumah baru, untuk memulai hidup baru bapak dan keluarga kecilnya.  

1970 - Menikah. Memulai babak kehidupan baru

We're just ordinary family
Teruntuk (alm) bapak dan ibu, terimakasih banyak telah memberikan kesempatan kepada kami untuk memiliki kenangan yang indah

No comments: