10.5.14

Review buku: Kenali Maaf

Akhir-akhir ini weekend seringkali dihabiskan di rumah, mencoba menciptakan aktivitas menarik bersama para bayi di rumah dan atau sekitarnya. Sabtu ini diisi dengan berbenah, merapikan buku-buku yang berantakan di lemari buku, rak buku, yang berserak di kamar atau bahkan di dapur dan mengumpulkannya menjadi satu tempat yang akhirnya aku dan Raya sebut perpustakaan mini.

Mencoba mengklasifikasi buku sesuai tema. Untuk buku anak ditaruh di lemari bagian bawah, sehingga Raya dan teman-temannya mudah untuk mengambil dan mengembalikannya setelah buku itu dibaca.

Saat merapikan buku-buku itulah aku menemukan buku bersampul gambar seorang perempuan berhijab (seolah) sedang menari, menepukkan kedua tangannya. Kenali Maaf, judul buku itu, sederhana bukan? sesederhana sampul buku yang berwarna ungu dan hijau.

Don’t judge book by cover, meski sampul bukunya sederhana, namun isinya luar biasa. Luar biasa bagi yang ingin mengambil makna dan hikmah dari isinya.

Aku mendapatkan buku ini langsung dari penulisnya. Tak tanggung-tanggung, disertai dengan sebuah pesan lengkap dengan tanda tangannya. Tahun 2012, tertanggal di cover dalam. Karena banyak hal dan berbagai buku lain yang harus dibaca, mau tidak mau, buku ini terabaikan, bahkan terlupakan, mohon maafkan. Ssetelah hampir dua tahun, baru membaca buku ini dengan benar dan mencoba untuk membuat review singkat. Review ini merupakan pandangan pribadi, pembaca lain tentu saja sangat dimungkinkan memiliki pandangan yang berbeda.

Judul     : Kenali Maaf
Penulis   : M. Nurul Furqon
Penerbit : PT Balai Pustaka (Persero)
Tebal     : vi + 124 halaman
Harga     : ? (Gratis soalnya ^_^)

Suka sekali dengan kata pengantarnya, mengawali membaca bagian ini untuk mendapatkan gambaran tentang isi sebenarnya dari buku, Kenali Maaf: Menemukan jalan kedamaian melalui pintu maafkan.

Memaafkan bukanlah melupakan peristiwa yang menyakitkan dalam diri kita. Akan tetapi, memafkan akan memperluas dan mengubah cara pandang hidup kita. Ia akan selalu mempengaruhi sikap, cara berpikir, pengelolaan emosi dan lainnya. Ia akan memberikan kedamaian dan kebahagiaan. Memaafkan juga menjadikan kita pemenang, sebab ia bukanlah pertanda kelemahan, namun justru menjadi bukti atas kekuatan yang kita miliki. Untuk alasan-alasan itulah kita harus belajar sepenuhnya untuk bisa memaafkan dan jawabannya ada pada buku ini.

“As long as you are alive there will be times when you are insulted and feel hurt”

Buku ini dibagi menjadi tujuh pintu, pintu memaafkan. Pintu-pintu ini dimaksudkan untuk membantu pembaca menemukan jejak dan arah kemanakan seharusnya pintu hati dilabuhkan. Pintu-pintu yang merupakan strategi menemukan jalan kedamaian melalui pintu memaafkan.

Pintu satu - A Tiny Door Called Forgiveness
  • I’ll never forgive, what forgiveness really is?
  • The psychology of forgiveness, realize and face it!
  • Look, I’m found the door
Pintu dua – Not to hate only to love
  • Circle of hatred in our memory, the boundless
  • Grudge, The poisonous hatred, smile at anything
  • Hatred that flues the fires
Pintu tiga – Lets face your anger
  • Between anger and feeling hurt, a deadly emotion?
  • How to face it? How to manage it?
Pintu empat – Anger toward God
  • The root of anger, consequences of anger toward
  • God, resolving negative feeling toward God
  • God give us the very best
Pintu lima – Forgiveness and healing process
  • Once again once forgiveness, a wider view about unforgiveness, forgiveness and reducing the risk of health, can’t forgive, won’t forgive
  • To be social is to be forgiving
Pintu enam – Families and forgiveness
  • A very gently cooking, The art of battle, what a kind of conflict?
  • Good battle, healthy conflict, you need to communicate
  • Creating a culture of forgiveness
Pintu tujuh – Learning to Forgive our self
  • When we need to forgive our self? Between “shame and guilt”, how we do know
  • No time to rehearse
  • A new day
Sebagian orang menganggap bahwa hidup ini tidak adil. Penuh dengan hal-hal yang terkadang sama sekali tidak masuk akal dan bahkan tidak beralasan. Perbuatan baik yang dibalas dengan kejahatan, kesetiaan yang menumbuhkan penghianatan, persahabatan yang justru diselimuti kelicikan dan berbagai ketidakadilan lainnya menurut persepsi kita. Cara pandang inilah dasar untuk menyikapi dunia yang terus berubah.

Kemarahan itu adalah suatu kenyataan hidup, bentuk emosi manusia secara umum, panggilan alamiah, wajar dan normal. Namun, wajar dan alamiah, bukan berarti benar untuk kita lakukan. Memaafkan itu sangat tidak mudah. Hati seolah tidak rela jika tidak membayar setimpal kepada orang yang telah melakukan kejahatan kepada kita.

Perbuatan jahat dibalas dengan kejahatan. Nyawa dibayar dengan nyawa, Darah yang tumpah harus diganti sebanyak tumpahannya pula. Betapa mengerikannya orang dengan cara pandang seperti ini, tapi banyak orang yang memilikikya bahkan mungkin kita menjadi bagiannya.

Buku ini sangat berguna, bagi yang akan belajar mengendalikan diri, mengendalikan emosi kemarahan. Pendekatan yang menarik dari penulis. Setiap pintu atau strategi ditambahkan ilustrasi dengan beberapa cerita dan kisah nyata. Setelahnya penulis menguraikan cerita tersebut dengan mengkaitkan tujuan utama: pengendalian emosi kemarahan. Dengan demikian, pembaca lebih mudah memahami teori-teori yang disampaikan sebelumnya.

Meski aku direkomendasikan untuk lebih memperhatikan pintu keenam, namun aku lebih menyukai pintu ketiga, bukan karena pintu keenam tidak lebih bagus, teramat bagus malah, namun lebih complicated dan perlu kejernihan hati, mengesampingkan ego, karena keluarga adalah tempat di mana kita banyak memberi, berharap, meminta, memaklumi dan tentu saja memaafkan, tanpa kompromi, tanpa logika. Dari pintu ketiga tersebut kita dapat mencoba tips untuk menghadapi dan mengendalikan emosi kemarahan, yaitu:

Face it:
  1. Sadari bahwa diri perasaan saat ini sedang terluka. Tidak semudah yang dibayangkan. Pada saat marah, biasanya kita tidak sadar dan bahkan menolak untuk menyadari bahwa sebenarnya sedang terluka.
  2. Telusuri akar permasalahan/kejadian yang telah menyebabkan perasaan terluka dan bandingkan penyebab yang sama di masa lampau dan bagaimana treatmentnya.
  3. Hindari reaksi umum yang biasanya ditunjukkan oleh orang dengan perasaan tersakiti.
  4. Berusaha memaafkan. Akan disebut benar-benar memaafkan jika tidak ada keinginan –-sedikitpun- untuk membalas dendam.
How to manage it:
  1. Pahami bahwa melampiaskan kemarahan itu justru tidak menyelesaikan masalah
  2. Rileks dan tenangkan diri
  3. Ubah pikiran negatif
  4. Tanyakan pada diri sendiri: apa yang sebanarnya dirasakan
  5. Jangan mendobrak rintanga, tapi mengalir bersamanya
  6. Mencoba untuk melihat kejadian tersebut dari sudut pandang orang lain atau bahkan dari sudut pandang orang yang dianggap melukai
  7. Bertanyalah kepada orang yang membuat kita marah atau terluka.
Let’s face your anger. Hadapi kemarahan karena ia adalah sesuatu yang harus dikalahkan, bukan justru sesuatu yang mengalahkan kita. Kemarahan ibarat pohon beracun yang terus tumbuh di taman hati. Pohon itu tumbuh dengan cepat bahkan berbuah lebat dan tampak ranum. Namun ia dapat menelan apa saja karena pohon kebencian itu akhirnya dapat memangsa dan menutup pohon-pohon kebaikan lainnya di taman hati.

Dalam buku ini juga dijelaskan tentang bagaimana memafkan diri sendiri. Seperti kita ketahui bersama, kita seringkali melakukan kesalahan baik kecil maupun besar. Seperti yang sering aku sampaikan bahwa kita kadang melakukan hal bodoh yaitu saat melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan atau tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Inilah yang juga penting dari buku ini: berdamai dan memaafkan diri sendiri.

Memaafkan diri sendiri tidak berarti menghukum dengan melampiaskan kemarahan atau kebencian pada diri sendiri, namun menyadari bahwa kita melakukan kesalahan, menerimanaya sebagai sifat ketidaksempurnaan manusia, dan menyadari sepenuhnya atas segala konsekuensi yang akan kita terima serta mengambil hikmah atau pelajaran darinya untuk tidak melakukan kesalahan serupa di masa mendatang.

Kita sebenarnya adalah produk dari pikiran kita. Pikiran dan persepsi tentang diri kita yang akan membawa sejauh mana dan dimana kita berada. Oleh karena itu keberhasilan kita dalam memaafkan diri sendiri juga sangat dipengaruhi bagaimana kita memandang diri sendiri dan kesalahan yang telah diperbuat.

Akhirnya,
Mari kita berhenti sejenak beristirahat, melapangkan hati, melebarkan dada, mendinginkan kepala dan menjenguk kembali jejak langkah yang telah kita tinggalkan. Apakah sebuah prestasi atau hukuman? Apakah bahagia atau duka? Apakah menyenangkan atau menyedihkan, apakah sepoi atau badai? Sudahkanh menjadi tempat kembali atau menjadi alasan untuk meninggalkan pergi.
Jejak langkah masa lalu, apakah itu patronus atau mimpi buruk?
Mari kita berpikir
Mari kita belajar

---
Banyak terimakasih untuk Mas Furqon, 
Deretan kata, rangkaian kalimat, jejak bertanda untuk warisan jendela dunia.
Persembahan bukan sederhana, namun luar biasa untuk anak cucu kita. Sebuah Amal Jariyah.
Gomawo

No comments: