8.1.14

Refleksi Diri

Hufft...
Biarkan sejenak aku menghela nafas.
Ada yang menghimpit, ada sesuatu yang seolah membuat berat T.T

Dunia seakan telah berubah dan memang begitu kenyatannya.
Hidup itu indah dan sederhana, itu harapan yang dimaui, namun kadangkala dunia dan semestanya tidak mendukung untuk mewujudkannya. Berusaha mengambil hikmah, pasti ada pelajaran di baliknya, meski kadang teramat susah untuk mencernanya, kenapa begini dan kenapa begitu. 

Nurani
Hal yang paling dekat dengan diri kita adalah nurani. Nurani bagian dari diri kita yang paling jujur menyatakan bahwa yang salah itu salah dan yang benar itu benar tanpa ada kompromi. Saat sesuatu hal entah itu pikiran, keinginan, dan tindakan tidak sesuai, nurani akan berbicara bahkan berteriak.

Namun adakalanya nurani hanya mampu berbicara pelan, bahkan teramat lirih sampai kita tidak mampu mendengar peringatannya. Kenapa begitu? karena kita seringkali mengabaikannya, menganggapnya tidak ada, sehingga nurani menjadi tumpul dan bisu, bosan dengan peringatan-peringatan yang terabaikan. 

Bagaimana dengan kita? bagaimana dengan mereka? kenapa terlalu mudah mengabaikan nurani yang harusnya kita syukuri keberadaanya.

Nilai, value dan etika
Nilai adalah norma dasar yang dianut oleh kita, manusia, siapapun dimanapun di dunia ini. Value adalah nilai yang disepakati dan dianut oleh sekelompok manusia. Manusia berkelompok sesuai fitrahnya sebagai makhluk sosial dan menyusun value untuk menjadi batasan-batasan agar kelompok berjalan sebagaimana semestinya, seharusnya. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan yang tidak baik, tentang hak dan kewajiban moral (akhlak) yang disepakati oleh sekelompok manusia. 

Akhir-akhir ini melihat betapa banyak orang yang tidak berlaku secara etis: tidak sesuai dengan nilai dan value yang disepakati. Begitu mudahnya.

Pun dengan kita, baik sengaja maupun tidak, kadangkala berpikir, berkeinginan maupun bertindak tak beretika. Ada banyak hal yang melatarbelakanginya. Kadang dengan berhitung bahwa kita siap dengan segala resikonya. Meski seringkali kita menabraknya tanpa memikirkan dampaknya, dan terkaget-kaget saat tiba-tiba dihadapkan pada konsekuensinya. Semoga kita semua selalu terhindarkan dari itu semua.

Keteladanan
Hidup itu berproses dari A ke Z dan akhirnya selesai. Harapannya berproses dari hal tidak tahu menjadi tahu kemudian sampai pada tahapan dari tidak baik ke arah lebih baik.

Orang ketika sampai pada huruf P harusnya lebih tahu dan lebih baik dibandingkan dengan orang yang sampai pada huruf K. Bukan sebaliknya, menjadi lebih tidak paham, tidak bijak dan akhirnya menjadi orang yang jahat yang karena dengan levelnya itu mempengaruhi dan mengarahkan level di bawahnya untuk berpikir, berkeinginan dan bertindak sesuai apa yang dimaui.

Padi itu semakin berisi semakin menunduk. Semua orang dewasa tahu bahwa orang yang besar dan pintar akan terlihat nyata, sangat mudah menilainya. Tidak perlu menunjukkan diri hanya untuk meraih pengakuan bahwa dirinya besar, dan apalagi dengan mengabaikan etika yang dianut bersama.

Orang lain yang akan mengakui siapa yang telah berproses dan outputnya, sebagaimana output proses itu seharusnya. Orang akan menilai dari keteladanannya dan perlakukannya terhadap orang lain, dan pada akhirnya orang lain yang akan mengatakan: "Ya, kamu telah mejadi orang besar dan hebat".

Pilihan
Hidup itu pilihan. Semua orang berhak dengan pilihannya. Konsekuensi akan menyertainya. Berharap, selalu dapat menghargai dan menghormati atas pilihan yang diambil orang lain terutama yang tidak sesuai etika seperti saat orang memilih bertindak tidak sesuai dengan yang disampaikan: isuk dele dan sore tempe. 

Belajar memahami orang per orang: jalan pikirannya, mindsettingnya, dan strateginya, untuk kita catat. Kita pun berhak memilih dan memutuskan siapa itu sahabat, teman atau orang lain, karena kita manusia, bukan robot atau patung. Manusia yang punya akal, hati dan nurani, yang memiliki perasaaan senang saat itu memang menyenangkan dan sedih saat itu menyedihkan. Manusia yang menerima kemanusiannya.

Apapun dikendalikan oleh kita, diri sendiri dipandu hati dan nurani. Apapun yang dimiliki hati akan menarik hari esok: bahagia menarik lebih banyak kebahagiaan, damai menarik lebih banyak kedamaian, syukur menarik lebih banyak rasa syukur dan kebaikan menarik lebih banyak kebaikan. Berharap selalu berkeinginan, berpikiran dan bertindak demikian karena masih menganggap bahwa hidup itu indah dan sederhana.

No comments: