Hujan. Pagi ini aku mulai dengan menulis cerita. Di sini, dengan lusinan cerita yang seolah tak akan pernah ada habisnya.
Memandang keluar, melalui dua petak jendela, hujan masih saja menunaikan tugasnya, membasahi semuanya: pohon, jalanan, genteng, lampu dan apapun yang tak terlindungi.
Hujan, dingin, sedingin yang dirasa. Secangkir kopi tidak berhasil menghalaunya. Mencoba mengaduk memori indah di hari kemarin, berharap menemukan sebuah patronus yang selalu berhasil membuat hati hangat.
Kembali memandang keluar, sambil berpikir, peran apa yang dimaui. Mencoba mengenal manusia sebagai manusia seutuhnya. Manusia yang otentik, sejajar dan riil, yang mencoba saling bertransisi dan berhasil. Keberhasilan yang menjadi hadiah terbaik. Meski secercah, meski tak selamanya berakhir atau berakibat indah, otentitas dan kejujuran sebagai manusia adalah satu-satunya jabat tangan yang riil antar hati, antar jiwa. Hanya demikian menjadi tahu rasanya terhubung, yang sungguh, itu pengalaman istimewa yang nyaris punah, di sini saat ini.
Selama ini mungkin tersembunyi dan terperangkap diantara peran-peran yang dimaui atau dimiliki. Selama itu pulalah interaksi hanya sebatas pada tameng. Sebatas pengkondisian ini itu. Padahal ada sesuatu yang lebih, lebih dari hubungan baik, respek, persahabatan, atau hal-hal positif lainnya, rasa yang mungkin tak terdefinisikan. Menjadi abstrak? utopis? atau cenderung teoritis dan filosofis? entahlah, terserah untuk memaknainya, memang begitu adanya.
Memandang tanpa perlu menatap, mendengar tanpa perlu alat, menemui tanpa perlu hadir. Melukiskannya saat senja. Memanggil nama ke ujung dunia. Tiada yang lebih pilu. Tiada yang menjawab selain hati, ombak yang berderu atau desir angin yang sayup-sayup terdengar. Dan berakhir pada: kadang-kadang pilihan yang terbaik adalah menerima.
*Terinspirasi hujan sepanjang hari
No comments:
Post a Comment