7.11.13

Orang Asing

Menunggu. Ya..menunggu itu pekerjaan yang sangat membosankan, pekerjaan yang harus diisi dengan hal-hal yang menarik agar lebih bermakna tidak berlalu begitu saja. Ah, sepertinya tidak musti terlalu muluk, yang penting pekerjaan menunggu segera terlalui, menjadi tak terasa lama.

Aku pernah memiliki pengalaman ketinggalan pesawat yang hendak membawa ke suatu tempat. Hanya sepuluh menit terlambat tapi itu telah membuat jalan hidup berubah, rencana masa depan buyar tak sesuai harapan. Wawancara dengan user tak terpenuhi padahal itu pekerjaan yang sangat aku impikan, sesuai passion. Untungnya head hunter yang menghubungkan aku dengan user perusahaan itu memakluminya. Meski akhirnya pekerjaan idaman itu tidak di tangan tapi setelah beberapa waktu head hunter menghubungiku kembali dan menawarkan pekerjaan yang tak kalah menariknya.

Aku belajar dari pengalaman itu, tidak mau terulang kembali cerita tentang ketinggalan pesawat. Dua jam sebelum keberangkatan aku selalu sudah siap di ruang tunggu di bandara. Aku biasa melakukan banyak hal untuk mengisi waktu, tapi yang paling mengasyikkan adalah mengamati orang-orang yang lalu lalang atau yang duduk sepertiku di ruang tunggu. Biasanya kemudian membayangkan kehidupan seperti apa yang dimiliki oleh mereka: bahagia, menyenangkan, atau bahkan tragis. Melalui gesture, wajah, perawakan atau cara berpakaian aku biasa mengandaikan kehidupan apa yang dimiliki oleh orang itu.

Tiba-tiba orang di hadapanku berdiri dan mengulurkan tangannya. Aku terperanggah, kaget tidak menyangka.
"Hai Namaku Fia, daripada kamu membayangkan kehidupan macam apa yang aku lalui, lebih baik kita berkenalan dan masing-masing menceritakan tentang kehidupan ini"
"Aku Aldi" "Bagaimana kamu tahu kalau aku sedang membayangkan kehidupanmu?"
"Aku tahu dengan kemampuanku"

Aku diam, tidak berani bertanya lebih lanjut bahkan tidak berani menatap perempuan itu. Aku menunduk, merasa malu karena kegiatan mengamati orang lain terketahui.

"Tidak perlu sungkan, aku akan menjawab semua pertanyaannmu". "Oh, mungkin aku saja yang cerita, mulai dari mana ya?" Perempuan itu bertanya meski tahu jawaban ada pada dirinya.
"Nama lengkapku Sofia Wulandari, sekarang aku bekerja sebagai Engineer di perusahaan IT ternama di negara tetangga"
"Fia berasal dari mana?" Aku mulai berani bertanya.
"Aku dari kota sini saja, sejak lahir hingga sekarang. Ayah ibu dulu tak menghendaki aku lahir di dunia, tapi tak cukup tega untuk menggugurkannya. So, di sinilah aku sekarang.
"Jadi Kamu tinggal sama siapa?"
"Aku diletakkan begitu saja di taman, depan panti asuhan yayasan Ibu. Mungkin oleh ayah ibuku, atau mungkin oleh siapa saja yang tak mau keberadaaanku terketahui. Untung saja bu Imah segera menemukanku, kalau tidak, bisa saja tubuh mungilku yang masih berlumuran darah menjadi santapan lezat kucing-kucing kota."

Aku menatap Fia takjub. Aku membayangkan hidup Fia begitu tragisnya tapi Fia dapat menceritakan dengan tegar, bahkan kepada orang asing yang baru ditemuinya.

"Bagaimana kehidupanmu sebelum sekarang?" Aku bertanya dengan hati-hati

"Hidupku baik-baik saja. Bu Imah membesarkan dan mendidikku dengan sangat baik. Memberikan nilai-nilai kehidupan yang sampai sekarang aku anut. Tidak perlu malu dari mana asal usul kita, yang penting kita bisa bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan berbuat baik kepada orang lain, begitulah selalu pesan bu Imah"

Aku lihat, mata Fia mulai berkaca-kaca.

"Aku bisa seperti sekarang tak lepas dari peran bu Imah yang sangat besar. Meski sejak kecil aku harus bekerja membantu bu Imah membuat atau  menjajakan kue untuk tambahan biaya operasional yayasan, namun aku sangat bersyukur ditemukan oleh bu Imah. Salah satu hal yang paling aku syukuri dalam hidup ini adalah bertemu dengan bu Imah. Sayang sekali Tuhan berkehendak lain, saat aku dan adik-adik di panti masih sangat butuh kasih sayangnya, Tuhan memanggilnya pulang. Cancer itu terlalu jahat untuk mengerogoti tubuh bu Imah, biarlah beliau bahagia damai di sisi-Nya" Suara Fia tercekat. Dia membuang mukanya ke arah luar ruang tunggu. Fia menarik nafas dalam sambil menahan agar air matanya tidak jatuh.

"Bagaimana dengan panti sekarang sepeninggal bu Imah?" Aku bertanya agak ragu.

"Aku dan beberapa teman seangkatan yang bertanggungjawab atas panti itu. Teman-teman juga tidak terlalu bisa diandalkan. Aku sangat maklum dengan keadaan mereka: tuntutan hidup, himpitan ekonomi yang sulit, dan segala kerepotannya, aku tak mau membebani mereka. Aku mempersilahkann mereka fokus dengan kehidupannya meski sesekali kadang aku minta untuk sekadar menengok panti tempat dulu mereka tumbuh besar"

Kamu mengambil tas ransel hijau lumut dan mengambil buku. Oh ternyata kotak album kecil. Kamu beranjak duduk di sampingku dan memperlihatkan album foto itu.

"Ini bu Imah, orang yang sangat aku sayangi dan hormati. Yang ini aku dan teman-teman saat SD, meski tinggal di panti tapi bu Imah selalu menyekolahkanku di sekolah terbaik. Nah, kalau yang ini kondisi panti sekarang, sudah mulai bagus bukan? Anak-anak juga sehat, semakin ceria" Kamu tersenyum. Ada kebanggaan dan kepuasan di sana.

"Bagaimana kamu bisa seperti sekarang?" aku semakin penasaran dengan kehidupan Fia.

"Seperti yang aku ceritakan tadi, bu Imah selalu menyekolahkanku di sekolah terbaik. Dengan otak yang aku miliki, aku memang tidak terlalu merepotkan bu Imah karena aku selalu mendapatkan beasiswa bukan karena keadaaan tinggal di panti, tapi lebih karena prestasiku di bidang IT. Aku membeli berbagai peralatan IT dari hadiah-hadiah yang aku menangkan saat lomba. Bagaimanapun aku juga berterimakasih kepada ayah ibuku karena mewarisi otak yang encer, coba kalau tidak, akan seperti apa nasibku" Wajahmu mulai ringan kembali tanpa beban seperti awal kamu cerita.

"Aku beberapa kali memenangkan lomba atau olimpiade IT dari berbagai negara. Sampai akhirnya universitas terbaik di USA menawariku beasiswa, seperti sebuah oase di padang pasir. Di saat aku sedang terpuruk karena kehilangan bu Imah, aku mendapatkan tawaran itu, Tuhan memang maha Adil"

"Nah, di sinilah aku sekarang. Seminggu sekali atau tergantung kesibukan aku pulang ke kota ini untuk menengok adik-adik di panti. Sebenarnya aku bisa tinggal di kota ini karena pekerjaannku tidak menuntut aku stay. Tapi aku lebih menyukai kemapanan kota negara tetangga, aku bisa sering pulang dan toh di kota ini tidak ada bu Imah atau keluarga terdekatku" Kamu tersenyum. 

Aku melihat pancaran kebahagiaan di matamu. Sungguh bu Imah telah berhasil mendidikmu, bukan hanya sebagai seorang yang bertanggungjawab terhadap dirinya, namun juga berbagi kasih, berbuat baik untuk orang lain terutama adik-adiknya di panti.

"Hidupmu sungguh luar biasa" Baru aku akan mengucapkannya tiba-tiba terdengar suara pengumuman bahwa pesawat yang akan aku tumpangi segera berangkat.

Terperanjat. Aku kaget bukan kepalang, seolah baru terbangun dari tidur. Aku melihat sekeliling. Pandangnku berhenti. Di depanku, gadis berjaket hijau itu masih serius dengan laptop dan eraphone yang sejak tadi menutup telinganya, seolah tidak ada orang di sekitarnya.

Aku berdiri, memberi kode pada gadis itu bahwa peasawat segara berangkat. Dia melihat tiket dan segera memberesi laptop dan perlengkapannya.

Aku berlalu, berjalan ringan, sambil tersenyum. syukurlah kehidupan gadis berjaket hijau itu sungguh luar biasa. 

@mylovelyroom. 15.20 WIB.

No comments: