13.11.13

Mencintai Diri Sendiri

Sepertinya akhir-akhir ini aku banyak mengeluh. Complaining ini itu. Keadaan sekitar banyak yang tidak sesuai dengan harapan. Ada hal-hal yang tidak sepaham yang berakibat pada ketidaknyaman dan berakhir pada kondisi ketidakpuasan atas apa yang terjadi.

Seperti yang sering aku tulis di blog ini, aku mengindari dengan sangat yang namanya mengeluh. Sepertinya mengeluh itu membuat hidup kita menjadi tak bahagia. Tulisan yang berserak di sini dan sini menandai, berusaha untuk menjadi orang yang tidak suka mengeluh, sebisa mungkin menerima apapun yang terjadi dan berusaha mengambil hikmah dan pelajaran dari apa yang terjadi.

Akan tetapi, mungkin mengeluh juga diperlukan untuk melepaskan energi dan pikiran negatif agar kesehatan mental kita tetap terjaga. Kadangkala kita perlu menyampaikan keluhan kita atas berbagai "keluhan" yang disampaikan oleh orang lain atas hal yang kita lakukan. Ada banyak alasan kenapa kita melakukan hal yang menuai "keluhan" tersebut. Kalau melakukan hal tersebut memang sudah sesuai prosedur/aturan yang baku atau sesuai dengan nilai/norma yang kita anut/pegang, kenapa kita disalahkan? Ada banyak hal yang melatarbelakangi atas tindakan yang kita lakukan: masuk akal dan hal yang memang seharusnya/selayaknya dilakukan. 

Hidup itu indah dan sederhana. Bahagia atau tidak tergantung bagaimana kita mensikapi atas segala kejadian dan keadaan yang ada.

Agar seimbang secara psikologis, kita harus merasa nyaman dengan diri sendiri artinya secara harfiah kita perlu mencintai diri sendiri. Kecintaan diri sendiri itulah yang disebut dengan penghargaan diri. Jika kita tidak hormat pada diri sendiri, maka bisa dianggap tidak mencintai diri sendiri. Saat terjadi suatu kondisi dan keadaaan yang terjadi pada diri kita, padahal kita merasa sudah "on the track" kenapa tidak kita membela diri. Itu adalah salah satu wujud penghargaan terhadap diri sendiri dan satu bukti kita mencintai diri sendiri.

Mengapa begitu? Saat kita disalahkan atas suatu kondisi yang sebenarnya lebih karena nilai/norma/etika yang dianut berbeda maka kita harus teriak. Tapi sebenarnya sebagai orang timur, kita memiliki norma/nilai dasar yang hampir sama. Saat kita memegang norma dan orang lain tidak kenapa kita disalahkan. Kita harus teriak membela apapun yang bisa kita lakukan sampai titik darah penghabisan. Kita boleh sabar dan ikhlas, tapi itu ada batasannya, ada saatnya kita teriak sekalian biar semua orang tahu, semua orang berhak menilainya dan kita tinggal menunggu keadilan yang sesungguhnya. 

Aku pikir, sebagai orang dewasa, segala hal yang terjadi bisa didiskusikan dan bisa diselesaikan secara dewasa pula, mengikuti norma/nilai yang seharusnya. Kalau saat ini masih ada yang menggunakan otoritas (dengan mengabaikan masukan orang lain dan bahkan norma/nilai yang berlaku) atau dengan cara diktator, sepertinya sudah sangat ketinggala zaman ya. 

Tapi entahlah, mungkin memang seperti itu hal yang seharusnya terjadi, kapasitas dan tingkat intelegensi aku mungkin yang tidak sampai pada tahap tersebut sehingga tidak bisa memenuhi hal yang diharapkan. 

Mensitasi dari buku Work Ethos's Jansen Sinamo. Menurutnya, kriteria sukses adalah saat :
- Laugh often and love much
- Win respect of intelligent people and affection of children
- Earn the appreciation of honest critics and endure the betrayal of false friends
- Appreciate beauty
- Find the best in the others
- Leave the world a bit better by healthy children, a garden patch, redeemed social condition or job well done.

I see

Jadi, apapun yang terjadi, kita tidak perlu fokus hanya pada hal tersebut. Hidup kita tidak sempit, masih luas dengan segala dinamikanya. Masih ada kotak-kotak lain dalam hidup yang bisa kita kembangkan dan memerlukan perhatian lebih. 

Dalam hidup kita memiliki banyak kotak: kotak pribadi, profesional, sosial, dll. Kotak-kotak itu terisi melalui kehidupan kita sebagai pribadi, dengan keluarga, kehidupan dalam dunia kerja, komunitas dengan teman, tetangga, dan komunitas-komunitas yang lain.

Banyak cara agar kotak-kotak itu terisi dan menjadi menarik yaitu dengan terus berupaya memupuknya agar berkembang sesuai harapan dalam kendali norma dan etika.

Jadi, kalau dirasa satu kotak tidak menarik, kita bisa membuatnya menjadi menarik, salah satunya dengan melakukan upaya-upaya yang seharusnya dan semaksimalnya kita bisa. Namun jika kotak yang tidak menarik itu susah untuk dibuat menjadi menarik, kita tidak perlu fokus pada kotak itu. Masih banyak kotak-kotak dalam hidup kita yang sangat bisa dan mungkin untuk dibuat menjadi menarik. Segala pilihan hidup memiliki konsekuensi, tinggal bagaimana kita mensikapi dan menghadapinya. 

Apapun dikendalikan oleh kita, diri sendiri oleh hati. Apapun yang dimiliki dalam hati akan menarik hari esok: Bahagia menarik lebih banyak kebahagiaan, damai menarik lebih banyak kedamaian dan syukur menarik lebih banyak rasa syukur.

*Edisicurhatdanmengeluh >.<

No comments: