Jadi ceritanya, selesai arisan RT, mengantarkan Raya ke salon. Sambil menunggu Raya potong rambut, aku mengambil majalah Elle di meja salon dan mulai membacanya. Di majalah itu aku menemukan artikel manarik tentang downer, tapi bukan tentang Alexander Downer yang mantan menlu Aussie itu lo ya...
Meskipun artikel itu ditulis di majalah yang sudah lama terbit (lupa edisi dan tahun terbitnya), tetapi tidak ada salahnya kalau aku coba mengulasnya lagi dengan bahasaku sendiri tentunya.
Ada dua definisi tentang downer di wikipedia, yaitu:
A downer is a slang term, referring to a person who is
- down, or depressed, particularly if their mood brings other people down
- imputed to have Down syndrome, similar to calling someone "retarded
Disini aku akan coba menulis tentang downer dari definisi pertama. Downer adalah seorang yang selalu memiliki mood yang tidak baik. Sehari-harinya selalu dilingkupi dengan perasaan negatif, baik pada dirinya maupun orang lain (psikolog, definisinya pas ngga nih?). tak jarang mood ini bahkan tertularkan ke orang lain.
Tukang mengeluh
Kalau aku bilang, downer ini jarang atau bahkan tidak pernah bersyukur atas kondisi yang terjadi pada dirinya. Pengeluh setiap saat:
"Aduh...bosku galak"
"Mukaku kok kelihatan tembem banget ya, item pula",
"Sial, tadi macet banget",
"Gimana sih OB itu, kerjaan ngga ada yang beres",
"Ih jauh-jauh deh sama warung itu, makanannya kagak ada yang enak",
dll
Umpatan dan keluhan sering sekali keluar dari mulutnya. Ada saja yang membuatnya tidak puas dengan suatu kondisi. Memang benar,life is never flat, hidup tidak selalu indah dan sesuai rencana, tapi si downer ini akan membesar-besarkan kondisi yang membuatnya tidak puas, sampai mengalahkan cerita utama tentang keberhasilan, seperti:
"Alhamdulillah aku bahagia dengan keluarga, tetapi karirku tidak berjalan dengan baik, kondisi finansialku buruk, tagihan membengkak, bla..bla..." atau
Tukang mengeluh
Kalau aku bilang, downer ini jarang atau bahkan tidak pernah bersyukur atas kondisi yang terjadi pada dirinya. Pengeluh setiap saat:
"Aduh...bosku galak"
"Mukaku kok kelihatan tembem banget ya, item pula",
"Sial, tadi macet banget",
"Gimana sih OB itu, kerjaan ngga ada yang beres",
"Ih jauh-jauh deh sama warung itu, makanannya kagak ada yang enak",
dll
Umpatan dan keluhan sering sekali keluar dari mulutnya. Ada saja yang membuatnya tidak puas dengan suatu kondisi. Memang benar,life is never flat, hidup tidak selalu indah dan sesuai rencana, tapi si downer ini akan membesar-besarkan kondisi yang membuatnya tidak puas, sampai mengalahkan cerita utama tentang keberhasilan, seperti:
"Alhamdulillah aku bahagia dengan keluarga, tetapi karirku tidak berjalan dengan baik, kondisi finansialku buruk, tagihan membengkak, bla..bla..." atau
"Puji syukur aku lulus dengan predikat summa cum laude, tapi sayang seribu sayang aku tidak mempunyai hubungan baik dengan teman-teman sekelasku, bla..bla..".
Setiap cerita tentang keberhasilan yang diraih, si downer ini akan selalu menyertakan kata "tapi" diikuti dengan keluhan-keluhan.Oleh karena itu apabila si downer sedang bercerita (baca: mengeluh) bilang saja: "Ntar aja kamu cerita lagi setelah emosimu menurun atau mood kamu membaik" (hihi, tapi kapan?).
Soalnya kalau tidak begitu bisa-bisa penyakit downer itu menular ke kita. Alih-alih dapat memberi masukan atau solusi yang bagus buat si downer, yang ada kita malah ikut-ikutan mengeluh.
Pesimis
Si downer ini juga selalu hopeless dalam memandang hidupnya. Menganggap tidak ada harapan atau keberhasilan yang akan dia raih di masa yang akan datang. Seorang yang pesimis, murung, pemarah, dan berakibat pada kondisi depresi.
Downer ini sangat pas dengan karakter Eeyore, karakter keledai biru keabu-abuan di cartoon Winnie the Pooh. Eeyore yang selalu murung dan suram dalam seluruh kehidupannya. Selalu memandang hidupnya paling tidak beruntung di antara teman-temannya. Selalu pesimis dan hopeless, seolah-olah tidak akan ada suatu kondisi baik atau keberuntungan yang akan terjadi padanya.
Cerita tentang ketidakberuntungan dan kesuraman downer kadang bisa kita temukan di artikel Parodi yang ditulis atau dicontohkan oleh Samuel Mulia di harian Kompas minggu :)
[Lagi-lagi] Hidup itu tergantung kita memandangnya. Kalau kita menganggap hidup kita bahagia, bahagialah kita, pun sebaliknya. Plis, jangan sering-sering mengeluh, capek juga mendengarnya. Jadi inget ada blog atau status teman yang isinya mengeluh melulu. Memang blog [juga fb, fs, mp, bs, ym, twitter, plurk, dan G+] bisa jadi buat ajang curhat, semacam diary. Tapi ingat bo, ini diary online! bukan private diary -bisa dikunci dan disimpan di lemari- jutaan orang di dunia ini bisa melihat dan membacanya.
Hidup hanya sebentar, rasanya kurang bermakna kalau hidup hanya diisi dengan keluhan. Anggap saja hidup itu indah dan sederhana, begitu? :)
So, hati-hati dengan virus downer ini. Jangan-jangan downer ada di karakter teman atau sahabat kita, bos kita, pasangan kita atau bahkan kita sendiri! hi...
Gambar diambil dari sini
So, hati-hati dengan virus downer ini. Jangan-jangan downer ada di karakter teman atau sahabat kita, bos kita, pasangan kita atau bahkan kita sendiri! hi...
Gambar diambil dari sini
No comments:
Post a Comment