12.9.12

Mari berkebun

Sudahlah, tidak usah terlalu ‘ndakik-ndakik’ memikirkan bagaimana bangsa ini mencari jalan keluar dari segala permasalahannya, begitu kata seorang teman, dan aku turut mengamininya.

Ya, di luar dan di tingkat elit sana sudah banya orang-orang yang ahli dibidangnya yang memikirkannya, memikirkan bagaimana bangsa ini bisa jaya dengan segala dukungan SDA yang melimpah dan SDM yang capable.

Nah, kita di tingkat paling bawah, biasa disebut rakyat kecil, bisa melakukan hal-hal sederhana yang positif tentu saja sehingga dapat bermanfaat buat kita, keluarga kita, orang-orang disekitar kita dan akhirnya buat bangsa kita.

Banyak komunitas sosial (dan biasanya non profit) yang dilakukan sekelompok orang bertujuan untuk kebaikan sesama sehingga berujung kepada optimisme, bahwa bangsa ini sebenarnya bisa lebih maju dari sekarang dengan dukungan SDA dan SDM nya.

Contohnya adalah Indonesia Mengajar yang digagas oleh Pak Anies Baswedan, dengan quote ”Berhenti mengecam kegelapan, nyalakan lilin, Ini negeri besar dan akan lebih besar. Sekedar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu”. Indonesia mengajar ini memiliki misi mengisi kekurangan guru berkualitas di daerah yang membutuhkan dan menjadi wahana belajar kepemimpinan bagi anak-anak muda terbaik Indoensia agar tidak semata memiliki kompetensi kelas dunia, namun juga pemahaman akar rumput dimana dia berasal.

Contoh yang lain adalah Akademi Berbagi yaitu gerakan sosial nirlaba yang bertujuan untuk berbagi pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang bisa diaplikasikan langsung sehingga para peserta bisa meningkatkan kompetensi di bidang yang telah dipilihnya. Bentuknya adalah kelas-kelas pendek yang diajar oleh para ahli dan praktisi di bidangnya masing-masing. Kelasnya pun berpindah-pindah sesuai dengan ketersediaan ruang kelas yang disediakan oleh para donatur ruangan.

Dan masih banyak contoh  komunitas-komunitas yang lain yang bisa kita ikuti dengan tujuan yang berujung pada kemajuan dan kebaikan bangsa Indonesia.

Nah, kebetulah, aku ikut (meski tidak aktif) dengan komunitas Indonesia berkebun @IDberkebun. Indonesia Berkebun, adalah komunitas yang bergerak melalui media jejaring sosial yang bertujuan untuk menyebarkan semangat positif untuk lebih peduli kepada lingkungan dan perkotaan dengan program urban farming, yaitu memanfaatkan lahan tidur di kawasan perkotaan yang dikonversi menjadi lahan pertanian/perkebunan produktif hijau yang dilakukan oleh peran masyarakat dan komunitas sekitar serta memberikan manfaat bagi mereka. 

Indonesia berkebun memiliki pegiat kebun di hampir seluruh kota di Indonesia seperti @bgrberkebun @jktberkebun @batanberkebun @mksrberkebun @soloberkebun @mlgberkebun @mdnberkebun dsb. Info lebih lanjut dapat dlihat di http://www.indonesiaberkebun.org/

Komunitas ini menyebarkan semangat urban farming (kalau di desa, bertani mungkin suatu hal yang lazim), bahwa berkebun itu tidak harus memerlukan lahan yang luas, berkebun bisa hanya melalui media pot, paralon bekas, kaleng bekas dan media-media yang lain. Terus terang aku mengambil banyak manfaat dari mengikuti komunitas ini. Banyak ilmu dan metode yang dapat diambil, terutama untuk terus mempertahankan nyala semangat berkebun. 

Intiya adalah, kita memanfaatkan sejengkal dua jengkal lahan di rumah kita untuk memenuhi kebutuhan sayur-mayur maupun buah secara mandiri. Kalau kita menanam sayuran sendiri, kita pasti turut memastikan bahwa sayuran kelak yang akan dipanen dan kita makan itu bebas dari paparan pestisida maupun bahan-bahan kimia lainnya.

Jadi bayangkan, semakin banyak orang yang berpikir sama, semakin besar pula efeknya buat bangsa ini. Lingkungan semakin hijau dan keluarga-keluarga semakin sehat karena mengonsumsi makanan sehat.

Pernah suatu kali mengunjungi rumah saudara (sayang tidak difoto saaat itu), yang bertanam beraneka rupa sayuran. Rumah beliau ini berada di suatu perkampungan padat di Jakarta Timur. Tidak ada lahan kosong, beliau hanya memanfaatkan loteng rumahnya untuk menampung beragam sayuran yang ditanam melalui media pot, kelang bekas dan sebaginya. Kebutuhan sayur mayur sehari-hari keluarga itu terpenuhi darinya. Menyenangkan bukan?

Kebetulan di rumah ada beberapa lahan kosong. Kenapa tidak dimanfaatkan saja buat berkebun? dan tenyata semua anggota keluarga di rumah setuju. Biasanya si ayah dan si pakde yang mencangkul dan menyiapkan lahan untuk berkebun, mereka juga yang menanam berbagai bibit sayuran maupun buah. Kemudian Bude memetik maupun memilah sayuran mana yang siap untuk dipanen kemudian dimasak. Aku hanya bagian membeli bibit dan dokumentasi saja .^^

Meski akhir-akhir ini sedang krisis sayuran, karena musim kemarau maupun karena berbagai kesibukan anggota keluarga sehingga kebun tidak terurus, namun secara umum kebutuhan sayuran sehari-hari telah terpenuhi. Bude tinggal memandang kebun dan berpikir sayuran mana yang siap untuk dimasak. Bahkan beberapa peliharaan: kelinci, lele dan ikan nila juga ikut menikmati berbagai sayuran ini. Kalau sayuran sedang bagus, bisanya juga ditawarkan ke para tetangga atau teman yang berminat.

Nah, ada beberapa hal yang menarik seperti yang aku sebutkan di atas. Banyak hal kecil dan sederhana yang bisa kita lakukan untuk kebaikan bersama. 

Terpikir tidak untuk memanfaatkan nasi sisa? Kebetulan aku dan beberapa anggota keluarga di rumah tidak terlalu suka untuk makan nasi sisa (mentang-mentang beras tidak dibeli karena beras disuplay dari kampung). Daripada nasi sisa terbuat percuma, biasanya nasi sisa kita manfaatkan buat pakan lele. Namun ternyata setelah menghimpun berbagai info yang berserak di dunia maya tentang berkebun, dapatlah suatu info bahwa nasi sisa bisa dimanfaatkan untuk membuat pupuk organik.

Mengusung semangat kembali ke alam, dengan menghindari bahan-bahan kimia berbahaya, sekarang terdapat banyak Pupuk Organik Cair (POC) dengan beragam merek dan kisaran harga, sekitar Rp40.000- Rp170.000 per liter. Cukup mahal bukan? Padahal di sekitar kita, banyak sekali bahan yang bisa dimanfaatkan untuk membuat POC, salah satunya nasi, bisa juga gula pasir, gula merah (kalau ini terlalu sayang, sebab harus impor dari Temanggung ^^), agar-agar atau bahan lain dengan kandungan glukosa yang tinggi. 

Konon Gula merah yang berglukosa tinggi itu akan berfungsi sebagai bahan penyusun tubuh mokroorganisme sehingga berkembang biak. Perkembangbiakan bakteri terjadi melalui pembelahan/pemisahan diri (misalnya dari 1 menjadi 2, kemudian 4, lalu 8, 16, 32, 64, 128, 256 dst) per periode tertentu, biasanya per 15 menit.

Kembali lagi ke nasi sisa. Nasi sisa/basi dapat dimanfaatkan untuk starter pembuatan pupuk. MOL (mikroorganisme Lokal) adalah cairan yang mengandung mikroorganisme yang terdiri dari bahan-bahan alami yang ada di sekitar kita, dan mudah didapat tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Media untuk tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme berupa nasi bekas atau nasi basi, sangat berguna sekali dalam mempercepat hancurnya bahan organik sampah oganik (dekomposer) secara alami.

Larutan MOL mengandung unsur bakteri yang sangat berpotensi untuk perombak (menghancurkan) bahan organik sampah hingga menjadi pupuk kompos. kita ketahui bahwa dipasaran harga MOL produksi luar negeri harganya cukup mahal, seperti merk EM4 (effective microorganism) bokhasi buatan Jepang. MOL sangat berguna untuk memupuk tanaman, dan juga bisa berfungsi sebagai bahan starter pembuatan kompos. MOL tidak merusak lingkungan dan juga tidak berbahaya bagi manusia dan hewan.

Pembuatan larutan MOL sangat sederhana, dengan memanfaatkan limbah makanan (nasi bekas) yang melalui proses fermentasi dan ditambah dengan larutan gula. Proses pembuatan MOL, umumnya hanya dalam kurun waktu 15 hari dan tidak rumit. Dari hitungan pembelahan bakteri per 15 menit di atas, berapa banyak sebuah bakteri berkembang selama 15 hari? Oleh karenanya, jangan heran bila dalam kemasan produk-produk Pupuk Organik Cair disebutkan jutaan bahkan trilyunan bakteri di dalamnya.
Berikut cara membuat POC dari mikro organisme lokal: (dengan kata kunci cara membuat pupuk organik di search engine, akan banyak sekali ditemukan cara atau metode yang tak kalah sederhana dari yang ditulis berikut)

Tahap I
  • Nasi bekas atau nasi basi kita buat bulat sebesar bola pimpong, sebanyak 3-4 bulatan.   
  • Setelah itu, nasi basi yang telah dibentuk bulat sebesar bola pimpong kita simpan di dalam wadah (kaleng/botol plastik) kemudian ditutup rapat.
  • Letakkan botol berisi nasi basi ditempat yang tidak langsung terkena sinar matahari.
  • Setelah 1 minggu, nasi basi akan ditumbuhi jamur (cendawan) yang berwarna merah hingga kekuning-kuningan.

Tahap II
  • Siapkan botol kapasitas  2 ltr air.
  • Masukan nasi basi yang telah ditumbuhi jamur kedalam botol.
  • Buat larutan air bercampur gula pasir atau sirop manis. Perbandingan antara air dan gula pasir atau sirop manis adalah; 1,5 ltr air : 5 sendok gula pasir atau sirop manis. Gula adalah sumber makanan dan hidupnya bakteri yang ada di jamur.
  • Masukkan larutan air gula pasir atau sirop kedalam botol yang berisi nasi basi yang telah ditumbuhi jamur.
  • Botol yang berisi campuran nasi basi dan gula pasir atau sirop lalu ditutup.
  • Setelah 4 hari, botol dibuka sambil dikocok, agar nasi basi dan gula bercampur merata. Perlu diperhatikan dalam mengocok larutan, agar sesekali botol dibuka agar kandungan gas-gas yang ada dalam botol dapat keluar. Tekanan gas yang ada di dalam botol cukup tinggi, hingga cukup mengejutkan bila tutup botol dibuka selesai cairan pupuk dikocok.
  • Tutup kembali botol, dan simpan kembali.
  • MOL sudah dikatakan siap pakai, apabila tercium bau masam manis seperti tapai yang keluar dari dalam botol hasil fermentasi nasi basi dan gula pasir.
  • Saring cairan MOL dengan kain kasa, kemudian masukan kedalam botol, dan MOL siap untuk dipakai atau dipasarkan.
  • Ampas sisa MOL bisa dimanfaatkan kembali yaitu dengan menambahkan cairan gula seperti yang telah tertera di atas.
  • Untuk membuat pupuk cair MOL ukuran 1-2 ltr dibutuhkan 3-4 bulatan nasi basi yang telah difermentasikan dicampur dengan larutan 2 ltr air dan 5 sendok gula pasir. Jika ingin mendapatkan pupuk cair yang lebih banyak, kita tinggal melipatgandakan saja perbandingan antara nasi basi dan larutan gula pasi.
  • Menggunakan MOL (pupuk cair) untuk tanaman, perlu diperhatikan aturan pakainya. Jikalau terlalu banyak pupuk cair yang disiramkan pada tanaman, akan berakibat tanaman akan layu dan mati. Untuk mencegah hal itu, maka diperlukan perbandingan pakai pupuk cair untuk memupuk tanaman. Perbandingan pemakaian pupuk cair untuk tanaman adalah 1 pupuk cair : 5 air.
Cukup gampang bukan untuk membuat POC sendiri? Nasi sisa termanfaatkan dan kebun semakin hijau dan subur ^^

Jadi, mari kita berkebun, manfaatkan sejengkal dua jengkal lahan di rumah kita untuk kebutuhan kita sendiri, untung bisa lebih, sehingga bisa dibagikan ke tetangga/saudara/teman ^^

Jadi ingat bahwa kata TANI yang digagas oleh Presiden Soekarno kala itu, adalah akronim dari Tiang Agung Negara Indonesia. Setuju?



3 comments:

Melly said...

Perlu di coba ni, bu..
aku seneng klo di suruh bertanam begini..hehe
nanti mau nyobain bikin pupuknya ah.

14 November 2006 said...

Gmn Melly, udah mencoba berkebun? :)

Anonymous said...

itu hasil markibun bu Anisah?. Top!