17.10.12

Ketika Rindu Tiba-tiba Menyelinap Datang

Menjelang Keabadian

Betapa lebat hutan, menjelang keabadian
Rimbanya kegelapan, pepohonan menghadang
Sulur-sulur menghisap darah
Tanah-tanah becek, RRanjau duri beracun
Bayangan demi bayangan menjebak
Suara nyanyian membawa kami ke pengasingan
Betapa berat

Wahai betapa bosan untuk terus bermusuhan
Membenar-benarkan peperangan
Mengairi sawah prasangka
Mengurusi maniak kalah menang

Kawan lawan
Sukses dan kegagalan kujaga ubun-ubun
Kunyalakan jiwa ngungu
Sunyi riuh rendah
Hari malam tanpa istirah
Perih bagai tak lagi
Pingsan dalam sadar diri
Mati berulangkali
Betapa lebat hutan

O betapa lebat hutan, menjelang keabadian

Cahaya Maha Cahaya, Emha Ainun Nadjib, Pustaka Firdaus, Jakarta 1996, Cet. 8
 

Perjalanan panjang manusia dimulai saat Allah SWT menciptakan manusia di alam ruh: Bukanlah Aku Tuhanmu? Ruh menjawab, betul kami bersaksi (QS: Al A'raaf 172). 
Selanjutnya Allah meniupkan ruh itu ke janin di dalam rahim ibu. Setelah 9 bulan, lahirlah manusia: seorang bayi, kemudian menjadi anak, tumbuh dewasa kemudian meninggal. 
Namun, yang meninggal hanyalah jasad manusia, karena manusia sebagai makhluk ruh tetap hidup melanjutkan perjalanannya ke alam barzakh (QS: Al Baqarah 153, Ali Imran 169). Kelak di hari kiamat akan dibangkitkan kembali ke tubuh yang baru (QS: Yasin 51-52) untuk melanjutkan perjalanan hidup di padang mahsyar dan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatan selama di dunia. Setelah dihisab, kekal abadi di surga dan atau neraka sesuai amal ibadah masing-masing (QS: Al Baqarah 39 dan 82).

Begitulah jalan hidup manusia: bayi, remaja, dewasa, tua kemudian meninggal. Kita selau memohon dipanjangkan umur dengan hidup penuh barakah. Tetapi tiap manusia memiliki dan memegang penghidupannya masing-masing. Takdir kita sudah digariskan.
Hidup ini memang takdir, sudah digariskan segala sesuatunya, terutama untuk tiga hal: rezeki, jodoh, dan maut. Namun aku beranggapan, Tuhan memberikan kebebasan penuh kepada kita untuk memilih jalan hidup sendiri dengan dibekali oleh-NYA hati nurani dan akal pikiran.
Kita, manusia tidak tahu kapan ajal akan menjemput. Hanya menunggu giliran kapan takdir dipanggil oleh Dzat Pemilik Takdir sembari terus berusaha mengumpulkan dan menghimpun bekal yang akan dibawa.

Kematian, ajal, sangat 'normal' dalam kehidupan ini seperti normalnya kelahiran. Namun ketika kematian itu datang memisahkan kita (secara raga) dengan orang-orang terdekat, betapa itu menjadi sangat menyesakkan meski harus diikhlaskan bahwa ini takdir yang digariskan oleh-NYA.

Aku masih merasakan bekas cukuran kumis dan janggutmu saat kau menciumku
Aku masih merasakan hangatnya genggamanmu saat kau menggandengku
Aku masih merasakan kemarahanmu saat kau melihatku asyik nonton teve dan tidak belajar
Aku masih merasakan kebahagiaanmu saat kau tahu kelulusannku
Aku masih merasakan kewibawaanmu saat kau menghukumku di depan kelas karena aku lalai
Aku masih merasakan kerinduanmu saat kau selalu menanyakan kapan aku akan pulang
Aku juga sangat merasakan kesepianmu saat kau sendirian
dan....... sekarang, betapa aku sangat merindukannya :'(
Rabbi firlii waliwalidayya warhamhuma kamaa robbaya nii soghira, amin..

---
Menulisnya sambil mewek :'(

No comments: