19.1.11

Sajak Kecil Tentang Cinta.flv



Sepagian ini sangat menikmati alunan musikalisasi puisi oleh duet Ari Malibu dan Reda Gaudiamo di YouTube. Meskipun musikalisasi puisi ini dibuat puluhan tahun silam tepatnya pada tahun 1989 saat mereka masih menjadi mahasiswa FIB UI, namun suara emas Reda Linda Gaudiamo tetap masih belum terkalahkan.

Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono [SDD] yang indah itu makin indah saat dinyanyikan oleh Reda dan diiringi petikan gitar Ari. Tetap indah namun terasa ringan, merasuk langsung ke relung jiwa untuk direnungkan dan dihayati kemudian dimaknai. Tak heran karena puisi-puisi SDD sederhana namun sarat makna, klasik namun senantiasa lestari.

Ada beberapa puisi SDD yang menjadi favorit: "Aku Ingin", Gadis Kecil dan tentu saja "Hujan di Bulan Juni", dll. Tapi entah, pagi ini sedang sangat menikmati musikalisasi Sajak Kecil tentang Cinta. Berikut liriknya:

mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat

mencintai cakrawala harus menebas jarak
mecintaiMu[mu] harus menjadi aku

Menurut Maman S. Marhayaman, seorang kritikus Sastra dan juga dosen FIB UI mengatakan bahwa puisi merupakan karya sastra yang multi tafsir, artinya setiap orang memiliki hak penuh untuk menafsirkannya sesuai dengan penghayatan dan pendapatnya masing-masing.

Jadi, boleh dong aku menafsirkan Sajak Kecil tentang Cinta itu menurut pemahamanku :)

Menurutku itu wujud cinta kita kepada Tuhan melalui alam: angin, air, gunung, api dan cakrawala. Saat mencintai alam kita [seharusnya] berusaha mencocokkan diri kita dengan alam dengan menjadi siut, ricik, terjal, jilat bahkan dengan menebas jarak. Apabila kita bersahabat dengan alam dan menjadi bagian darinya, maka alampun akan dengan senang hati membagi berbagai keindahan dan manfaatnya. Symbiotic mutualism.

Pun dengan Tuhan. Betapa Tuhan sangat mencintai dan menyayangi kita dengan semua anugerah dan nikmat-NYA. Sudah seharusnya kita juga melakukan hal yang serupa dengan mentaati aturan-NYA. Symbiotic mutualism.

Namun, bagaimana kalau kita memaknainya dengan cinta seseorang? Dia sudah seperti angin, air, gunung, meskipun kadang seperti api, bahkan menjadi cakrawala buat kita. Seharusnya juga mencocokkan diri kita dengannya, agar sejalan, serasi dan selaras sesuai dengan cita-cita. Lagi-lagi Symbiotic mutualism bukan?.

So, kira-kira kapan ya bisa menonton Ari-Reda secara live? *dreaming*

1 comment:

Anggiearanidipta Suma M. said...

Aku suka puisi ini, mba :)