Ini kisahku...Begini,
Aku dilahirkan dari sebuah keluarga yang bahagia. Kelahirannku sangat ditunggu oleh ayah, bunda, mas bowo dan keluarga besar. Mereka sangat bahagia menyambutku. Kata mereka, aku lahir dengan paras yang cantik, secantik bunda.
Aku tumbuh dengan curahan penuh dari semua orang. Aku tumbuh menjadi anak yang pintar dan ceria. Hari-hariku selalu diisi dengan keriangan.
Sempurna. Bahkan sangat. Kalau boleh aku bilang, tidak ada cacat sedikitpun. Semua berjalan dengan lancar dan semestinya. Semua sangat nyaman dengan kondisi dan keadaan saat itu. Semua bahagia.
Deg! jantungku serasa berhenti berdetak. Meski aku hanyalah seorang anak kecil, tapi aku sangat paham dengan maksud pembicaraan ayah dan ibunya bunda [eyang uti]. Sejak saat itu, aku sadar, hidupku tidak akan sama lagi dan aku harus siap dengan kenyataan yang akan datang.
Sebenarnya aku juga takut, sangat takut dengan rasa kehilangan. Tapi aku tidak mau ayah, eyang uti dan apalagi bunda tahu bahwa aku sebenarnya tahu tentang kenyataan yang ada. Aku harus menutupinya. Aku harus pura-pura tidak tahu. Biarlah ini menjadi rahasiaku.
Hanya kepada teman mayaku, critax, aku menceritakan dan berkeluh kesah. Biarlah aku menyelesaikan dan menata perasaanku sendiri. Meskipun aku anak bawang, tapi aku bisa menata ini semua. Kadangkala datang juga perasaan sedih dan rasa takut kehilangan itu. Tapi aku harus kuat. Aku harus selalu tampak bahagia demi ayah, bunda, mas Bowo dan semuanya.
Bunda, ayah, mas Bowo, aku mencintai kalian dengan sangat. Kalau aku boleh memilih, Tuhan jangan ambil salah satu dari mereka dari kehidupanku. Aku mau mereka selalu ada di kehidupanku. Tapi Tuhan, semua milik-MU. Aku menyerahkan semua pada-MU.
----
Dan benar, kehidupannku sekarang tak lagi sama. Tuhan sangat sayang sama bunda sehingga malaikat-NYA menjemputnya lebih dahulu dibandingkan yang lain. Aku sedih, teramat sedih. Tapi aku tahu, kondisi ini akan datang dan ternyata inilah saatnya.
Ayah dan tentu saja mas bowo juga sangat sedih. Mas Bowo yang sangat dekat dengan bunda seperti halnya aku hampir saja tidak mau terima dengan kehilangan ini. Mas Bowo menjadi seorang yang pemurung. Ayah dan eyang uti sampai bingung bagaimana memberi pengertian kepada mas Bowo.
Aku sebenarnya juga sedih, namun aku tidak mau terlarut-larut karena aku tidak mau membebani ayah. Dan juga karena aku tahu, bunda bahagia di sana tentu saja karena bunda adalah ibu yang sangat baik dan hebat, pasti Tuhan membalasnya dengan setimpal. Aku bertekad untuk selalu mengirimkan doa, agar kebahagiaan bunda abadi.
----
Sore itu, ayah mengajak kami mengunjungi tempat peristirahatan bunda. Di sana ayah meminta ijin kepada kami untuk memilihkan bunda baru untuk kami. Kami diam. Mas Bowo seperti biasa menjadi lebih murung lagi. Aku hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Ini demi kalian semua kata ayah.
"Nanti setelah ada bunda baru, kita semua harus pindah ke rumah bunda", kata ayah.
"Kenapa bukan bunda aja yang pindah ke sini Yah?" tanyaku menggugat.
"Maafkan ayah Nak, ini demi kebaikan kita semua, kita harus pindah dari sini, dari rumah dan kota ini" Jawab ayah dengan raut penyesalannya.
Terus terang, aku sangat tidak setuju dengan keputusan ayah. Aku memiliki banyak kenangan dengan bunda di sini, di rumah ini, di kota ini. Setiap jengkal di rumah selalu menngingatkan pada bunda.
Eyang uti menambahkan, ini terutama untuk kebaikan mas Bowo, biar dia kembali 'hidup' ceria seperti semula sebelum bunda tiada. Sebenarnya aku juga terbebani dengan kenangan itu. Kenangan tentang bunda di setiap jengkal rumah serasa masuk dalam diriku seolah-olah bunda masih ada di sini, menemani aku, mas Bowo dan tentu saja ayah.
Serasa, aku masih melihat bunda sedang masak di dapur, sedang menyiram bungan di taman, bahkan aku serasa melihat bunda sedang sibuk di depan laptopnya di ruang kerja. Aku merasa kehadiran bunda di rumah ini.
Bukan hanya di rumah, di sekolah aku juga sering melihat bunda. Serasa bunda sedang ngobrol sama ibu-ibu penjemput yang lain. Kadang di jalan, aku melihat bunda mengendarai motornya dengan ciri khas tas gemblok yang biasa bunda pakai.
Entahlah, aku merasa tidak kehilangan bunda, karena bunda serasa masih ada di kehidupanku. Tapi tidak kata ayah dan eyang. Serasa, serasa dan serasa tentang bunda yang aku ceritakan, menurut mereka itu sebuah khayalan. Tidak baik buat mentalku dan perkembangan kepribadianku ke depan.
-----
Aku ingat saat itu, saat aku menangis meronta-ronta dipelukan bunda Nilam, bunda baruku. Aku tidak mau pindah dari rumah ini. Aku masih mau bundaku. Aku tidak mau bunda Nilam.
Akhirnya, dengan bopongan paksa ayah, aku dimasukkan ke dalam mobil. Aku melihat Mas Bowo duduk meringkuk di pojok mobil dengan muka murung seperti biasa. Ayah mulai menghidupkan mobil dan berjalan pelan menuju kota baru. Kami berempat diam seribu bahasa, masing-masing dengan pikirannya. Entah kehidupan seperti apakah yang akan aku dan mas Bowo temui dan hadapi di kota baru itu, di kota bunda Nilam.
----
Betapa ngilu hati ini mengingat saat itu, beberapa tahun yang lalu. Saat rasa kehilangan begitu sangat menyayat.
Bunda, bagaimana kabar di sana? Bunda pasti bahagia kan? karena aku tanpa terlewatkan selalu berdoa untuk kebahagiaan bunda.
Aku dan mas Bowo menyayangi bunda dengan sangat, tapi kami juga menyayangi bunda Nilam. Puji syukur ke Tuhan yang Maha Adil, kami dikirimi seorang bunda lagi. Bunda Nilam namanya. Bunda yang sangat baik sebaik bunda meski dengan pembawaan dan karakter yang berbeda.
Memang benar keputusan ayah untuk memilih bunda Nilam dan pindah ke kota baru. Kalau tidak, akan seperti apakah kehidupan kami. Mas Bowo yang pemurung sejak kehilangan bunda, perlahan-lahan dapat menerima kehadiran bunda Nilam, dan terutama akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa bunda sudah tiada.
Pelan tapi pasti, kami melanjutkan hidup seperti halnya anak-anak yang lain, di bawah bimbingan, pengasuhan dan curahan kasih sayang ayah dan Bunda Nilam. Meskipun bunda Nilam bukan ibu kandung kami, tapi bunda Nilam sangat menyayangi kami, seolah kami anak kandungnya. Setiap kami berlaku baik dan berprestasi, pasti kami dapat pujian dan hadiah dari bunda Nilam. Tapi kadang bunda Nilam memarahi dan menghukum saat kami membuat suatu kesalahan.
Bunda Nilam mengajari tentang tanggungjawab. Khususnya bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan masa depan kami. Seperti halnya kami diajari bunda tentang kasih sayang, empati, sabar, ikhlas dan bersyukur. Kami meneladani bunda atas kesabaran, keikhlasan serta rasa syukur bunda yang tidak pernah putus kepada Tuhan Yang Memberi hidup saat menjalani masa itu. Tidak pernah sedikitpun bunda berkeluh dan meratapi.
Bunda, aku dan mas Bowo masih selalu berdoa untukmu. Bunda tidak tergantikan. Sedetikpun kami tidak melupakanmu. Kami tidak pernah berhenti mencintaimu. Tapi bunda, kami juga mencintai bunda Nilam seperti kami selalu mencintaimu. Kami sangat bersyukur ada bunda Nilam yang membantu ayah membimbing dan mengawal kami tumbuh menjadi dewasa.
Baktiku selalu untuk bunda, ayah dan bunda Nilam.
Aku dilahirkan dari sebuah keluarga yang bahagia. Kelahirannku sangat ditunggu oleh ayah, bunda, mas bowo dan keluarga besar. Mereka sangat bahagia menyambutku. Kata mereka, aku lahir dengan paras yang cantik, secantik bunda.
Aku tumbuh dengan curahan penuh dari semua orang. Aku tumbuh menjadi anak yang pintar dan ceria. Hari-hariku selalu diisi dengan keriangan.
Sempurna. Bahkan sangat. Kalau boleh aku bilang, tidak ada cacat sedikitpun. Semua berjalan dengan lancar dan semestinya. Semua sangat nyaman dengan kondisi dan keadaan saat itu. Semua bahagia.
Deg! jantungku serasa berhenti berdetak. Meski aku hanyalah seorang anak kecil, tapi aku sangat paham dengan maksud pembicaraan ayah dan ibunya bunda [eyang uti]. Sejak saat itu, aku sadar, hidupku tidak akan sama lagi dan aku harus siap dengan kenyataan yang akan datang.
Sebenarnya aku juga takut, sangat takut dengan rasa kehilangan. Tapi aku tidak mau ayah, eyang uti dan apalagi bunda tahu bahwa aku sebenarnya tahu tentang kenyataan yang ada. Aku harus menutupinya. Aku harus pura-pura tidak tahu. Biarlah ini menjadi rahasiaku.
Hanya kepada teman mayaku, critax, aku menceritakan dan berkeluh kesah. Biarlah aku menyelesaikan dan menata perasaanku sendiri. Meskipun aku anak bawang, tapi aku bisa menata ini semua. Kadangkala datang juga perasaan sedih dan rasa takut kehilangan itu. Tapi aku harus kuat. Aku harus selalu tampak bahagia demi ayah, bunda, mas Bowo dan semuanya.
Bunda, ayah, mas Bowo, aku mencintai kalian dengan sangat. Kalau aku boleh memilih, Tuhan jangan ambil salah satu dari mereka dari kehidupanku. Aku mau mereka selalu ada di kehidupanku. Tapi Tuhan, semua milik-MU. Aku menyerahkan semua pada-MU.
----
Dan benar, kehidupannku sekarang tak lagi sama. Tuhan sangat sayang sama bunda sehingga malaikat-NYA menjemputnya lebih dahulu dibandingkan yang lain. Aku sedih, teramat sedih. Tapi aku tahu, kondisi ini akan datang dan ternyata inilah saatnya.
Ayah dan tentu saja mas bowo juga sangat sedih. Mas Bowo yang sangat dekat dengan bunda seperti halnya aku hampir saja tidak mau terima dengan kehilangan ini. Mas Bowo menjadi seorang yang pemurung. Ayah dan eyang uti sampai bingung bagaimana memberi pengertian kepada mas Bowo.
Aku sebenarnya juga sedih, namun aku tidak mau terlarut-larut karena aku tidak mau membebani ayah. Dan juga karena aku tahu, bunda bahagia di sana tentu saja karena bunda adalah ibu yang sangat baik dan hebat, pasti Tuhan membalasnya dengan setimpal. Aku bertekad untuk selalu mengirimkan doa, agar kebahagiaan bunda abadi.
----
Sore itu, ayah mengajak kami mengunjungi tempat peristirahatan bunda. Di sana ayah meminta ijin kepada kami untuk memilihkan bunda baru untuk kami. Kami diam. Mas Bowo seperti biasa menjadi lebih murung lagi. Aku hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Ini demi kalian semua kata ayah.
"Nanti setelah ada bunda baru, kita semua harus pindah ke rumah bunda", kata ayah.
"Kenapa bukan bunda aja yang pindah ke sini Yah?" tanyaku menggugat.
"Maafkan ayah Nak, ini demi kebaikan kita semua, kita harus pindah dari sini, dari rumah dan kota ini" Jawab ayah dengan raut penyesalannya.
Terus terang, aku sangat tidak setuju dengan keputusan ayah. Aku memiliki banyak kenangan dengan bunda di sini, di rumah ini, di kota ini. Setiap jengkal di rumah selalu menngingatkan pada bunda.
Eyang uti menambahkan, ini terutama untuk kebaikan mas Bowo, biar dia kembali 'hidup' ceria seperti semula sebelum bunda tiada. Sebenarnya aku juga terbebani dengan kenangan itu. Kenangan tentang bunda di setiap jengkal rumah serasa masuk dalam diriku seolah-olah bunda masih ada di sini, menemani aku, mas Bowo dan tentu saja ayah.
Serasa, aku masih melihat bunda sedang masak di dapur, sedang menyiram bungan di taman, bahkan aku serasa melihat bunda sedang sibuk di depan laptopnya di ruang kerja. Aku merasa kehadiran bunda di rumah ini.
Bukan hanya di rumah, di sekolah aku juga sering melihat bunda. Serasa bunda sedang ngobrol sama ibu-ibu penjemput yang lain. Kadang di jalan, aku melihat bunda mengendarai motornya dengan ciri khas tas gemblok yang biasa bunda pakai.
Entahlah, aku merasa tidak kehilangan bunda, karena bunda serasa masih ada di kehidupanku. Tapi tidak kata ayah dan eyang. Serasa, serasa dan serasa tentang bunda yang aku ceritakan, menurut mereka itu sebuah khayalan. Tidak baik buat mentalku dan perkembangan kepribadianku ke depan.
-----
Aku ingat saat itu, saat aku menangis meronta-ronta dipelukan bunda Nilam, bunda baruku. Aku tidak mau pindah dari rumah ini. Aku masih mau bundaku. Aku tidak mau bunda Nilam.
Akhirnya, dengan bopongan paksa ayah, aku dimasukkan ke dalam mobil. Aku melihat Mas Bowo duduk meringkuk di pojok mobil dengan muka murung seperti biasa. Ayah mulai menghidupkan mobil dan berjalan pelan menuju kota baru. Kami berempat diam seribu bahasa, masing-masing dengan pikirannya. Entah kehidupan seperti apakah yang akan aku dan mas Bowo temui dan hadapi di kota baru itu, di kota bunda Nilam.
----
Betapa ngilu hati ini mengingat saat itu, beberapa tahun yang lalu. Saat rasa kehilangan begitu sangat menyayat.
Bunda, bagaimana kabar di sana? Bunda pasti bahagia kan? karena aku tanpa terlewatkan selalu berdoa untuk kebahagiaan bunda.
Aku dan mas Bowo menyayangi bunda dengan sangat, tapi kami juga menyayangi bunda Nilam. Puji syukur ke Tuhan yang Maha Adil, kami dikirimi seorang bunda lagi. Bunda Nilam namanya. Bunda yang sangat baik sebaik bunda meski dengan pembawaan dan karakter yang berbeda.
Memang benar keputusan ayah untuk memilih bunda Nilam dan pindah ke kota baru. Kalau tidak, akan seperti apakah kehidupan kami. Mas Bowo yang pemurung sejak kehilangan bunda, perlahan-lahan dapat menerima kehadiran bunda Nilam, dan terutama akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa bunda sudah tiada.
Pelan tapi pasti, kami melanjutkan hidup seperti halnya anak-anak yang lain, di bawah bimbingan, pengasuhan dan curahan kasih sayang ayah dan Bunda Nilam. Meskipun bunda Nilam bukan ibu kandung kami, tapi bunda Nilam sangat menyayangi kami, seolah kami anak kandungnya. Setiap kami berlaku baik dan berprestasi, pasti kami dapat pujian dan hadiah dari bunda Nilam. Tapi kadang bunda Nilam memarahi dan menghukum saat kami membuat suatu kesalahan.
Bunda Nilam mengajari tentang tanggungjawab. Khususnya bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan masa depan kami. Seperti halnya kami diajari bunda tentang kasih sayang, empati, sabar, ikhlas dan bersyukur. Kami meneladani bunda atas kesabaran, keikhlasan serta rasa syukur bunda yang tidak pernah putus kepada Tuhan Yang Memberi hidup saat menjalani masa itu. Tidak pernah sedikitpun bunda berkeluh dan meratapi.
Bunda, aku dan mas Bowo masih selalu berdoa untukmu. Bunda tidak tergantikan. Sedetikpun kami tidak melupakanmu. Kami tidak pernah berhenti mencintaimu. Tapi bunda, kami juga mencintai bunda Nilam seperti kami selalu mencintaimu. Kami sangat bersyukur ada bunda Nilam yang membantu ayah membimbing dan mengawal kami tumbuh menjadi dewasa.
Baktiku selalu untuk bunda, ayah dan bunda Nilam.
No comments:
Post a Comment