22.12.10

Babies - the movie

Satu lagi film yang aku tonton di bulan ini [benar-benar lagi menikmati waktu :]
Nobar sama MNF dan YP. Tidak usah disebutin di mana nontonnya, karena ini sangat terkait dengan HKI atau copyright ;)

Sejak membaca resensinya di Kompas minggu, rasanya tidak sabar menonton makhluk-makhluk lucu ini. Akhirnya berhasil menontonnya berkat AAR, terimakasih!

Yup!. Babies. Film dokumenter besutan Thomas Balmès, sutradara asal Perancis ini menggambarkan tumbuh kembang empat orang bayi dari empat negara, dimulai sejak masih dalam perut sampai bayi-bayi itu berumur satu tahun. Fase dimulai dari saat masih dalam kandungan, kelahiran, tengkurap, merangkak kemudian berdiri dan berjalan.

Keempat bayi itu adalah: (lihat gambar searah jarum jam)
Ponijao dari sebuah desa kecil dekat Opuwo, Namibia
Mari dari reriuhan kota megapolitan Tokyo, Japan
Bayarjargal dari tengah sebuah sabana di Mongolia
Hattie dari sebuah keluarga kelas menengah di San Fransisco, USA.

Pasti bukan tanpa sengaja Balmes memilih keempat bayi ini, ada maksud dan motif yang melatarbelakanginya: dua bayi dari negara modern/pertama dan dua bayi dari negara ketiga.

Thomas berhasil merekam pola asuh yang diterapkan oleh orang tua [khususnya ibu] dalam tumbuh kembang bayi. Babies hanya merangkum potongan-potongan potret kehidupan empat bayi. Tidak lebih dan tidak kurang. Tidak ada narasi dan dialog.



Yang pasti, akan terlihat wujud nyata dari suatu kata yang namanya 'kearifan lokal'. Bagaimana tidak, Bayi Ponijao dan Bayarjagal sangat terbiasa bermain dan bergaul dengan hewan atau binatang liar di sekitar rumahnya, bagaimana mereka sangat menyatu dengan binatang-binatang itu. Lihat saja adegan saat Bayarjargal tengah berendam di baskom, sekonyong-konyong datanglah seekor kambing [dengan tanduk yang runcing] dan meminum air mandinya. Belum lagi Ponijao yang berciuman lidah dengan anjingnya [yang tinggi besar]. Trus adegan saat Bayarjagal bermain dan dilalui ayam-ayam jago yang berjalan di sekelilingnya dan hampir saja menginjak dirinya. Dan masih banyak adegan kedua bayi itu bermain dengan binatang-binatang tanpa rasa kekhawatiran atau ketakutan baik olehnya maupun ibunya [kalau aku, pasti sudah parno dan teriak-teriak]

Beda sekali dengan Mari dan Hattie yang dimanjakan dengan berbagai mainan modern. Bayi Hattie, sebagaimana layaknya bayi Amerika bahkan diajak mengikuti baby yoga dan diajarkan antikekerasan dengan membaca buku berjudul No Hittings yang terdapat di rak buku.

Sedangkan Mari yang tinggal dengan orang tua yang masing-masing bekerja, kadang dititipkan di rumah penitipan bayi dengan pengasuh rumah penitipan yang tidak selalu fokus padanya. Ada adegan di mana Mari sangat bosan dan frustrasi dengan kumpulan mainan yang ia miliki. Bandingkan dengan Ponijao yang selalu riang gembira meskipun dengan alat/mainan sederhananya.




Ponijao dan anak-anak suku lainnya saling berbagi di gubug bulat milik keluarganya dimana ibu-ibu dan anak-anak duduk berkerumun dengan santai menikmati hidup. Benar-benar menikmati hidup, [sepertinya] sepanjang hari, waktu mereka hanya dihabisnya dengan ngobrol dan bercengkrama.



Yang lucu adalah adegan dimana Kakaknya Bayarjagal yang sangat iseng dan nakal menuangkan minuman bersoda dengan botol yang besar ke mulut Bayarjagal. Sering sekali Bayarjargal bertengkar dengan saudara laki-lakinya itu tetapi orangtua mereka membiarkan saja sampai mereka berdamai sendiri. Oya, Bayarjagal ini, waktu bayi selalu di bedong sampai dia berumur hampir 3 atau 4 bulan. Bedongnya benar-benar sangat rapi sampai diikat dengan tali. Padahal cuaca di lingkungannya tidak begitu dingin, ini terlihat dengan kakaknya yang hanya memakai kaos singlet. Mungkin ini yang menyebabkan dia terlambat jalan dibanding ketiga bayi lainnya. Meskipun akhirnya di saat umur setahun, Bayarjagal berhasil berdiri, ada rasa puas dan bahagia terpancar dari wajahnya saat itu. Meskipun telat berjalan, namun Bayarjagal ini termasuk yang cepat bicara, bicaranya paling jelas di antara ketiga bayi yang lain.



Ya, sesi mandi. Ada perbedaan yang mencolok untuk pemenuhan kebutuhan basic ini. Secara di Namibia dan Mongolia susah air, sesi ini menjadi sangat jarang. Bayarjagal mandi cuma dengan air setengah baskom itupun berbagi dengan kambing. Sedangkan Ponijao bahkan mandi dengan hanya dijilati oleh mamanya. Bandingkan dengan Hattie yang diajarin mandi memakai shower.



Satu lagi, masalah budaya lokal yang membedakan. Ayah atau papa dari Bayi Mari di Jepang dan hattie di USA selalu terlibat dalam pengasuhan bayi, meskipun porsi terbesarkan tetap ada pada ibu atau mama mereka. Beda dengan bayi Ponijao dan Bayarjagal. Tidak terlihat papa mereka muncul di film, sehari-hari mereka hanya dengan mamanya, mungkin papanya sibuk bekerja atau mencari makanan untuk kebutuhan keluarganya.

Jadi, seutuh film ini hanya berisi tingkah laku para bayi tanpa sang sutradara berusaha menghakimi mana cara membesarkan yang paling baik atau buruk. Kita tidak akan melihat bagaimana cara membesarkan bayi dengan layak atau tidak karena semua disesuaikan dengan keadaan, kondisi dan budaya setempat.

Jadi ingat dengan bayi-bayi kita. Betapa sterilnya mereka, botol minumnya selalu di rebus atau disteam, bajunya dicuci memakai disenfektan dan selalu disetrika agar kuman-kuman yang menempel pada mati, harus cuci tangan dahulu sebelum memegang bayi, tidak boleh bersentuhan atau memegang binatang yang tidak diketahui riwayat kesehatannya, selalu dipayungi saat hujan, tidak boleh bermain tanah dan debu, apalagi sudah mandi :)

Bandingkan dengan Ponijao yang jarang mandi dan selalu hanya memakai cawat, sehari-hari duduk dan bermain di area berdebu, habis bermain dengan binatang langsung makan atau minum, bahkan breast ibunya tidak pernah tertutupi alias selalu terpapar langsung oleh debu dan kotoran yang beterbangan. Namun dengan keadilan Tuhan Yang Maha Kuasa, justru Ponijao, bayi dari Namibia yang terlihat paling sehat, kokoh dan kuat. Sekali lagi, Tuhan Maha Adil bukan?

Daftar bacaan di sini dan sini
Gambar-gambar dari sini

No comments: