Sempat menyinggung melalui tulisan di sini, di manakah Agustinus Wibowo Titik Nol berada sekarang? Rasanya aku sudah melahap semua tulisannya di serial Titik Nol di Kompas Online. Penasaran, Sedang melakukan apa saat ini?
Namun, akhirnya aku menemukan jawaban itu di website pribadinya di http://avgustin.net. Senangnya.
Menjadi salah satu penggemar cerita Agus yang ditulis saat melakukan perjalanan darat keliling Asia dimulai dari Cina ke Tibet, Nepal, India, Pakistan, Afganistan, Iran, Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan.
Bukan hanya model perjalanan backpacker yang menarik, namun juga cerita tentang kehidupan masyarakat yang ditemuinya sepanjang perjalanan daratnya.
Gaya penuturnya runut dan deskriptif. Sangat menarik, seolah-olah aku turut serta dalam perjalanan itu. Turut merasakan semua hikmah yang diambil dari setiap kejadian yang terjadi dalam perjalanan itu, menjadikan aku sangat bersyukur dengan semua kenyamanan yang aku miliki sekarang di negeri ini.
"Bagian dari pendewasaan dan perenungan. Kembali ke titik nol adalah sebuah bagian penting, pengempasan manusia yang berusaha meraih cita-cita, Yang lebih penting adalah lika-liku perjalanannya,” kata Agus.
Perjalanan telah banyak mengubah dirinya. Sebelum melakukan travelling, dia merasa dirinya sebagai pusat dunia. “Aku bisa begini, aku ingin begini, aku mau mengubah dunia,” ujarnya. Tapi kini, sesudah aneka perjalanan itu, dia merasa dirinya bukan siapa-siapa lagi. Tak ada lagi “aku”, tapi “kita”. Manusia, katanya, cuma bulir debu kecil di hadapan alam. Yang penting bagaimana sebagai bulir debu kita tetap berarti.
Dalam. Sarat dengan makna.
Namun, akhirnya aku menemukan jawaban itu di website pribadinya di http://avgustin.net. Senangnya.
Menjadi salah satu penggemar cerita Agus yang ditulis saat melakukan perjalanan darat keliling Asia dimulai dari Cina ke Tibet, Nepal, India, Pakistan, Afganistan, Iran, Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan.
Bukan hanya model perjalanan backpacker yang menarik, namun juga cerita tentang kehidupan masyarakat yang ditemuinya sepanjang perjalanan daratnya.
Gaya penuturnya runut dan deskriptif. Sangat menarik, seolah-olah aku turut serta dalam perjalanan itu. Turut merasakan semua hikmah yang diambil dari setiap kejadian yang terjadi dalam perjalanan itu, menjadikan aku sangat bersyukur dengan semua kenyamanan yang aku miliki sekarang di negeri ini.
"Bagian dari pendewasaan dan perenungan. Kembali ke titik nol adalah sebuah bagian penting, pengempasan manusia yang berusaha meraih cita-cita, Yang lebih penting adalah lika-liku perjalanannya,” kata Agus.
Perjalanan telah banyak mengubah dirinya. Sebelum melakukan travelling, dia merasa dirinya sebagai pusat dunia. “Aku bisa begini, aku ingin begini, aku mau mengubah dunia,” ujarnya. Tapi kini, sesudah aneka perjalanan itu, dia merasa dirinya bukan siapa-siapa lagi. Tak ada lagi “aku”, tapi “kita”. Manusia, katanya, cuma bulir debu kecil di hadapan alam. Yang penting bagaimana sebagai bulir debu kita tetap berarti.
Dalam. Sarat dengan makna.
No comments:
Post a Comment