Pada suatu hari di suatu tempat dan masa.
Saat itu aku baru saja selesai sholat isya, berniat untuk tadarus. Belum sempat niat itu terlaksana, tiba-tiba pintu kamar kos diketuk, ada yang mengucapkan salam.
Aku membuka pintu. Oh, ternyata seorang sahabat. Sahabat yang baru saja kembali ke tanah air setelah menyelesaikan sekolah Master Veterinary di negeri kincir angin. Sahabat itu berasal dari Indonesia bagian Timur dengan wajah, bentuk tubuh dan karakter sama persis dengan Detective James Carter yang diperankan Chris Tucker temannya Chinese Chief Inspector Lee [Jackie Chan] dalam film Rush Hour.
Ada apakah? apakah hanya karena dia mau setor muka bahwa dia sudah kembali ke tanah air?
Oh ternyata tidak. Laki-laki Indonesia Timur itu menceritakan keadaaan dan kegalauannya. Dia sedang dilema. Tiba-tiba dia mengatakan mencintaiku dan ingin melamarku.
Aku kaget bukan kepalang, bukannya dia sudah bertunangan dengan mbak Indah? Mbak Indah ini juga seorang sahabat, satu kos denganku. Sama-sama tinggal di rumah kos Bu Mudji. Bu Mudji yang sudah sepuh dengan karakter dan wajah serta bentuk tubuh Eyang Sardjono.
Tidak mungkin. Aku tidak mungkin menelingkung sahabatku sendiri. Mbak Indah, memiliki karakter perempuan 'Jawa banget', mungkin [mendekati] seperti Bu Tjipto DDN waktu muda: tinggi, langsing, kulit kuning langsat, rambut ikal bergelombang dan selalu diikat atau digelung dengan rapi, lemah lembut namun tegas. Mbak Indah kuliah di Fakultas Pertanian Jurusan Agronomi. Prestasi akademisnya rata-rata -seperti halnya aku- tidak kurang dan juga tidak lebih daripada yang lain. Standar. Menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu namun tidak sampai summa cumlaude.
Aku bertanya kepada Pria Indonesia Timur, apakah dia sudah mengatakannya kepada mbak Indah? Dia hanya menggelengkan kepala dan duduk lemah nglemprak di lantai depan kamar kos.
Ya, aku mengaku, aku menyukainya, sangat. Mungkin aku tidak mencintainya. Seperti biasa, Cinta Hasil Hitungan: Membayangkan aku menjadi pasangan Pria Indonesia Timur ini, apa kata dunia? Pria Indonesia Timur ini memiliki karakter hampir sama dengan Detective James Carter yang diperankan Chris Tucker dalam Rush Hour: Semaunya, urakan, sok tahu, sok ngatur dan seringnya menyebalkan. Dia hanya beruntung saja mendapatkan beasiswa Master Veterinary di negeri kincir angin dan lulus dengan baik. Nilai akademisnya di bawah rata-rata kalau tidak dibilang buruk. Beruntung akhirnya dia bisa lolos di seleksi Program penyelesaian skripsi dan melanjutkan ke Master Veterinary di Negeri Kincir Angin.
Teman-teman di BEM dan Senat banyak yang mencibir, mereka menduga Pria Indonesia Timur ini sekolah bukan karena beasiswa tetapi karena dibiayai oleh ortunya yang pengusaha timah.
Namun aku tahu persis Pria Indonesia Timur ini. Dia mencoba membuktikan dan berhasil bahwa di memang lolos dalam seleksi itu. Dia bukan hanya seorang Pria Indonesia Timur yang berduit, yang hobinya hanya main ke sana kemari.
Aku mengenal betul dirinya. Dia memang urakan tetapi hatinya sangat lembut dan gampang tersentuh dengan nasib orang yang tidak seberuntung dia. Dia sebenarnya cerdas, asalkan dia memaksimalkan kemampuannya dengan belajar lebih giat dan itu dibuktikan dengan kelulusannya di Program Master Veterinary.
Sekali lagi, aku menjawab dengan tegas, Tidak. Lagi-lagi cinta hasil hitungan. Aku dengan karakter aktivis kampus dengan latar belakang keluarga pesantren salafi, tidak mungkin menerimanya, Apa kata dunia?
Keluargaku pasti tidak akan menerimanya, dan aku sama sekali tidak berminat untuk berseteru dengan keluargaku demi Pria Indonesia Timur ini. Mungkin aku akan dijodohkan dengan seorang Pria berkarakter santun, lembut, tawadlu kepada orangtua, pintar baca kitab kuning, lulusan sekolah negeri agama dan juga alumni pesantren di kota yang sama, yang kemana-mana selalu mengenakan sarung dan kopiah atau peci hitam :)
Reflek kami menoleh. Tiba-tiba kami melihat Anies Baswedan [dengan wajah anies Baswedan waktu muda, agak gemuk] tersenyum melambaikan tangannya ke arah kami sambil memutar tubuhnya dari bangku panjang warung mie rebus depan kos ku. Aku menduga, Anis Baswedan baru saja menyelesaikan sholat isya berjamaah di masjid IKIP [Mujahidin?] karena kostumnya masih lengkap: baju koko putih, sarung biru kotak-kotak dan kopiah putih model pak haji.
Kami masih melihat, Anies Baswedan membayar mie rebus makan malamnya dan beranjak mengunjungi kami. Dia mengangsurkan tangganya ke Pria Indonesia Timur dan menyalaminya,
"Selamat, kami bangga padamu"
Seperti biasa, Pria Indonesia Timur ini hanya tersenyum urakan.
--------------
hehehe...hahaha...
Benar-benar mimpi yang aneh. loncat kesana-kemari melintasi batas waktu dan tempat, dengan berbagai karakter orang.
Kenapa ya tiba-tiba muncul di mimpiku semalam:
- Master Veteriner--> Ini dikarenakan, kemarin sore aku memilih daftar Pemimpin Redaksi Jurnal Ilmiah terakreditasi yang akan diundang dalam rapat bidangku. PemRed Jurnal Viteriner aku pilih sebagai wakil dari Kementerian Pertanian.
- Agronomi --> Juga salah satu nama jurnal di Kementan, namun aku tidak memilihnya karena sudah ada perwakilan dari Prof. Pantjar yang memiliki kepakaran yang sama.
- Negeri Kincir Angin --> sebelum tidur sempat membuka FB dan membaca status teman yang sedang sekolah di Belanda.
Tetapi kenapa muncul karakter aku yang aktivis? Karakter pria Indonesia timur yang mirip Detective James Carter? karakter Eyang sardjono dengan nama bu Mudji? karakter bu Tjip waktu muda dengan nama mbak Indah? karakter pria santun selalu bersarung dan berpeci hitam? dan kenapa juga tiba-tiba muncul Anies Basweda [dengan wajah gemuk dan masih muda]? ah, entahlah..............namanya juga mimpi alias bunga tidur.........!
Saat itu aku baru saja selesai sholat isya, berniat untuk tadarus. Belum sempat niat itu terlaksana, tiba-tiba pintu kamar kos diketuk, ada yang mengucapkan salam.
Aku membuka pintu. Oh, ternyata seorang sahabat. Sahabat yang baru saja kembali ke tanah air setelah menyelesaikan sekolah Master Veterinary di negeri kincir angin. Sahabat itu berasal dari Indonesia bagian Timur dengan wajah, bentuk tubuh dan karakter sama persis dengan Detective James Carter yang diperankan Chris Tucker temannya Chinese Chief Inspector Lee [Jackie Chan] dalam film Rush Hour.
Ada apakah? apakah hanya karena dia mau setor muka bahwa dia sudah kembali ke tanah air?
Oh ternyata tidak. Laki-laki Indonesia Timur itu menceritakan keadaaan dan kegalauannya. Dia sedang dilema. Tiba-tiba dia mengatakan mencintaiku dan ingin melamarku.
Aku kaget bukan kepalang, bukannya dia sudah bertunangan dengan mbak Indah? Mbak Indah ini juga seorang sahabat, satu kos denganku. Sama-sama tinggal di rumah kos Bu Mudji. Bu Mudji yang sudah sepuh dengan karakter dan wajah serta bentuk tubuh Eyang Sardjono.
Tidak mungkin. Aku tidak mungkin menelingkung sahabatku sendiri. Mbak Indah, memiliki karakter perempuan 'Jawa banget', mungkin [mendekati] seperti Bu Tjipto DDN waktu muda: tinggi, langsing, kulit kuning langsat, rambut ikal bergelombang dan selalu diikat atau digelung dengan rapi, lemah lembut namun tegas. Mbak Indah kuliah di Fakultas Pertanian Jurusan Agronomi. Prestasi akademisnya rata-rata -seperti halnya aku- tidak kurang dan juga tidak lebih daripada yang lain. Standar. Menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu namun tidak sampai summa cumlaude.
Aku bertanya kepada Pria Indonesia Timur, apakah dia sudah mengatakannya kepada mbak Indah? Dia hanya menggelengkan kepala dan duduk lemah nglemprak di lantai depan kamar kos.
Ya, aku mengaku, aku menyukainya, sangat. Mungkin aku tidak mencintainya. Seperti biasa, Cinta Hasil Hitungan: Membayangkan aku menjadi pasangan Pria Indonesia Timur ini, apa kata dunia? Pria Indonesia Timur ini memiliki karakter hampir sama dengan Detective James Carter yang diperankan Chris Tucker dalam Rush Hour: Semaunya, urakan, sok tahu, sok ngatur dan seringnya menyebalkan. Dia hanya beruntung saja mendapatkan beasiswa Master Veterinary di negeri kincir angin dan lulus dengan baik. Nilai akademisnya di bawah rata-rata kalau tidak dibilang buruk. Beruntung akhirnya dia bisa lolos di seleksi Program penyelesaian skripsi dan melanjutkan ke Master Veterinary di Negeri Kincir Angin.
Teman-teman di BEM dan Senat banyak yang mencibir, mereka menduga Pria Indonesia Timur ini sekolah bukan karena beasiswa tetapi karena dibiayai oleh ortunya yang pengusaha timah.
Namun aku tahu persis Pria Indonesia Timur ini. Dia mencoba membuktikan dan berhasil bahwa di memang lolos dalam seleksi itu. Dia bukan hanya seorang Pria Indonesia Timur yang berduit, yang hobinya hanya main ke sana kemari.
Aku mengenal betul dirinya. Dia memang urakan tetapi hatinya sangat lembut dan gampang tersentuh dengan nasib orang yang tidak seberuntung dia. Dia sebenarnya cerdas, asalkan dia memaksimalkan kemampuannya dengan belajar lebih giat dan itu dibuktikan dengan kelulusannya di Program Master Veterinary.
Sekali lagi, aku menjawab dengan tegas, Tidak. Lagi-lagi cinta hasil hitungan. Aku dengan karakter aktivis kampus dengan latar belakang keluarga pesantren salafi, tidak mungkin menerimanya, Apa kata dunia?
Keluargaku pasti tidak akan menerimanya, dan aku sama sekali tidak berminat untuk berseteru dengan keluargaku demi Pria Indonesia Timur ini. Mungkin aku akan dijodohkan dengan seorang Pria berkarakter santun, lembut, tawadlu kepada orangtua, pintar baca kitab kuning, lulusan sekolah negeri agama dan juga alumni pesantren di kota yang sama, yang kemana-mana selalu mengenakan sarung dan kopiah atau peci hitam :)
Reflek kami menoleh. Tiba-tiba kami melihat Anies Baswedan [dengan wajah anies Baswedan waktu muda, agak gemuk] tersenyum melambaikan tangannya ke arah kami sambil memutar tubuhnya dari bangku panjang warung mie rebus depan kos ku. Aku menduga, Anis Baswedan baru saja menyelesaikan sholat isya berjamaah di masjid IKIP [Mujahidin?] karena kostumnya masih lengkap: baju koko putih, sarung biru kotak-kotak dan kopiah putih model pak haji.
Kami masih melihat, Anies Baswedan membayar mie rebus makan malamnya dan beranjak mengunjungi kami. Dia mengangsurkan tangganya ke Pria Indonesia Timur dan menyalaminya,
"Selamat, kami bangga padamu"
Seperti biasa, Pria Indonesia Timur ini hanya tersenyum urakan.
--------------
hehehe...hahaha...
Benar-benar mimpi yang aneh. loncat kesana-kemari melintasi batas waktu dan tempat, dengan berbagai karakter orang.
Kenapa ya tiba-tiba muncul di mimpiku semalam:
- Master Veteriner--> Ini dikarenakan, kemarin sore aku memilih daftar Pemimpin Redaksi Jurnal Ilmiah terakreditasi yang akan diundang dalam rapat bidangku. PemRed Jurnal Viteriner aku pilih sebagai wakil dari Kementerian Pertanian.
- Agronomi --> Juga salah satu nama jurnal di Kementan, namun aku tidak memilihnya karena sudah ada perwakilan dari Prof. Pantjar yang memiliki kepakaran yang sama.
- Negeri Kincir Angin --> sebelum tidur sempat membuka FB dan membaca status teman yang sedang sekolah di Belanda.
Tetapi kenapa muncul karakter aku yang aktivis? Karakter pria Indonesia timur yang mirip Detective James Carter? karakter Eyang sardjono dengan nama bu Mudji? karakter bu Tjip waktu muda dengan nama mbak Indah? karakter pria santun selalu bersarung dan berpeci hitam? dan kenapa juga tiba-tiba muncul Anies Basweda [dengan wajah gemuk dan masih muda]? ah, entahlah..............namanya juga mimpi alias bunga tidur.........!
3 comments:
lucu mbak..hehe
lucu mbak..hehe
Hai Hana,
namanya bunga tidur, hehe
Post a Comment