29.11.10

Tips memilih dokter keluarga

Seperti yang pernah aku tulis di sini, profesi dokter tidak ada bedanya dengan profesi-profesi yang lainnya: peneliti, perencana, praktisi hukum, pengusaha, guru/dosen, konsultan dan sebagainya. Masing-masing profesi berhubungan langsung dan/atau tidak langsung dengan klien atau stakholders yang menggunakan atau memanfaatkan jasa atau produk dari suatu profesi tersebut. Masing-masing klien juga berhak menilai atas manfaat yang didapat dari jasa profesi tersebut.

Tulisan yang lalu menceritakan tentang pendapat dan pengalaman pribadi atas jasa profesi dokter baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan serta harapan-harapan atas jasa profesi tersebut. Sedangkan dalam tulisan berikut bercerita tentang bagaimana memilih dokter keluarga yang pas untuk kita.

Kebetulan dalam rubrik Kesehatan di Harian Kompas Minggu yang diampu oleh Prof. Samsuridjal Djauzi membahas hal yang sama. Aku menyenangi rubrik ini karena Prof. Samsu dapat menerangkan berbagai pertanyaan yang diajukan dengan bahasa yang sederhana, lugas dan jelas. Tidak hanya terkait hal medis namun juga berbagai kebijakan pemerintah terhadap penanganan suatu penyakit di Indonesia.

Balik lagi ke bahasan semula. Dalam rubrik kesehatan hari minggu kemarin, (18 Nop 2010) sebutlah Ibu N bercerita kepada Prof Samsu. Keluarga Ibu N baru tiga bulan ini pindah ke Jakarta. Sebelumnya mereka tinggal di kota kecil dan memiliki dokter keluarga/langganan dekat rumah. Dijelaskan bahwa dokter tersebut telah mengenal kesehatan seluruh anggota keluarga Ibu N. Hubungan mereka sangat akrab dan saling percaya. Mereka sekeluarga merasa mendapatkan penasihat kesehatan dan sekaligus sahabat dalam memelihara kesehatannya.

Berbeda halnya ketika Ibu N pindah ke Jakarta. Ibu N mengamati bahwa Ibu-ibu di Jakarta cenderung membawa anaknya yang sakit untuk berkonsultasi ke dokter terkenal meskipun harus mendaftar jauh hari sebelumnya dan membayar lebih. Ibu N mempertanyakan, kenapa harus bersusah payah ke dokter terkenal hanya untuk mengobati sakit pilek dan demam misalnya. Kenapa bukan ke dokter umum dekat rumah saja, selain hemat biaya namun juga hemat waktu.

Di Jakarta, Ibu N ini tetap berkeinginan untuk memiliki dokter keluarga sebagai penasehat untuk memelihara kesehatan keluarganya seperti dulu waktu tinggal di daerah.

Aku juga setuju dengan Ibu N. Untuk penanganan penyakit pilek dan demam misalnya, tidak harus langsung ke dokter spesialis. Cukup ke dokter keluarga atau dokter umum dekat rumah.

Seperti yang dijelaskan oleh Prof. Samsu di rubrik itu. Karena kita sebagian besar membayar biaya berobat dari kantong sendiri, maka kita juga bebas untuk memilih dan menentukan dokter mana yang akan kita pakai. Pemerintah sebenarnya juga menganjurkan untuk menggunakan layanan kesehatan berjenjang yaitu layanan kesehatan primer dimulai dari Puskesmas dan praktik dokter umum atau dokter keluarga. Jika penyakitnya cukup sulit, baru dirujuk ke dokter konsultan.

Layanan dokter keluarga memiliki kelebihan karena dapat melakukan pemeliharaan kesehatan secara berkesinambungan. Dokter ini mengenal keadaan kesehatan anggota keluarga secara lebih menyeluruh. Pasien yang berpindah-pindah dokter akan menghadapi kenyataan dokternya yang baru akan berusaha mengenalnya beserta penyakitnya dalam waktu yang singkat.

Setiap dokter diajarkan untuk mengenal kemampuannya. Jika dia menghadapi masalah di luar kemampuannya di wajib mengirim pasien ke dokter yang memiliki kemampuan yang diperlukan. Dokter umum mempunyai kemampuan bidang yang melebar, tetapi tidak mendalam sehingga cocok untuk mengatasi berbagai penyakit yang sering dijumpai di masyarakat. Sedangkan penyakit yang lebih sulit dirujuk ke dokter spesialis atau kalau amat khusus ke dokter konsultan. Sehingga, sebenarnya jika sakit batuk pilek tidaklah perlu langsung berobat ke dokter spesialis.

Bahkan pengalaman di Thailand yang menggunakan sistem pembiayaan jaminan kesehatan nasional, tenyata 80 persen masalah kesehatan masyarakat dapat ditolong dan diselesaikan di layanan kesehatan primer.

See...? Bagaimana pendapat Anda?

Anda bingung untuk memilih dan menentukan dokter keluarga Anda? Berikut aku sitasikan dari harian Kompas Online tentang Tips memilih dokter ideal.

"Perbedaan antara dokter yang baik dan yang buruk makin samar dan sifatnya personal. Meski lebih sulit mengenalinya, tetap penting untuk mencari perbedaannya," kata George LeMaitre, seorang dokter bedah dan penulis buku How to Choose a Good Doctor.

Dokter yang "buruk" tak selalu memiliki kepribadian yang buruk pula. "Biasanya mereka terlihat buruk karena jam kerja yang panjang, stres, atau bosan dengan pekerjaannya," kata Laurel Schultz, seorang dokter anak.

Bila Anda tidak bisa mengetahui reputasi calon dokter untuk keluarga Anda, tak ada salahnya mengikuti insting. "Ikuti reaksi hati Anda. Jika Anda merasa kurang sreg, gantilah dokter lain. Ingatlah bahwa dokter pilihan sahabat Anda belum tentu cocok dengan Anda atau anak Anda," saran Jennifer Shu, juru bicara American Academy of Pediatrics.

Secara umum, ada beberapa kriteria dokter ideal:
- Kemampuan komunikasi
Bila Anda mencari dokter andal untuk anak, perhatikan cara si dokter berinteraksi dengan anak. Berkunjung ke dokter mungkin menakutkan bagi anak-anak. Namun, dokter anak yang mengerti, mengenal, dan bisa berkomunikasi dengan anak-anak akan berusaha membuat pasiennya merasa nyaman.

Dokter yang ideal seharusnya juga selalu memberikan informasi secara jujur tentang kondisi kesehatan anak. Seorang dokter yang paling berpengalaman pun seharusnya mau mendengarkan keluhan pasiennya dan siap memberikan saran atau masukan.

- Waktu fleksibel
Kebanyakan dokter memang sibuk. Namun, dokter yang baik akan selalu meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan pasiennya. Dokter juga seharusnya menghargai waktu pasien dan tidak membiarkan pasien terlalu lama menunggu, kecuali dalam kondisi darurat.

- Pengetahuan terkini
Ilmu kedokteran dan pengobatan terus berkembang setiap saat, dan dokter yang baik akan selalu membekali dirinya dengan informasi terkini mengenai penyakit, pengobatan, dan pencegahan. Mengedukasi pasien mengenai kesehatan adalah bagian dari tugas dokter.

- Tidak memaksa tes
Ada kalanya dokter akan meminta Anda melakukan tes penunjang sebagai penguat diagnosis. Namun, Anda perlu curiga jika dokter Anda terlalu sering meminta Anda melakukan tes. "Hal itu bisa menjadi tanda si dokter tidak percaya pada diagnosisnya. Bila Anda tidak yakin dengan prosedurnya, carilah opini kedua," kata Schultz.

- Terjangkau
Usahakan agar tempat praktik dokter pilihan Anda tidak terlalu jauh dari rumah. Dengan demikian, Anda tidak membutuhkan waktu lama jika memerlukan bantuan segera, terutama untuk anak-anak. Selain masalah lokasi, pilihlah juga dokter yang terjangkau dari segi biaya. Ingatlah bahwa selain biaya konsultasi, Anda masih harus mengeluarkan biaya untuk obat-obatan dan pemeriksaan penunjang manakala diperlukan.

Gambar diambil dari sini

No comments: