23.11.10

Menjadi Seorang Ibu

Lagi-lagi menulis tentang 'pengorbanan' seorang ibu atau perempuan yang menjadi seorang istri dan ibu. Jadi disini tidak akan menceritakan tentang 'pengorbanan' seorang ayah karena mereka pasti punya sudut pandang tersendiri.

Sempat mengikuti dan memberikan comment di status teman yang menyatakan bahwa seorang ibu memiliki peran yang sangat dan sangat banyak serta komplek. Apalagi kalau ibu tersebut juga sebagai perempuan bekerja.

Dalam diskusi itu disebutkan bahwa ibu bukan hanya seorang perempuan yang hamil, melahirkan maupun menyusui anak-anaknya, namun juga berperan sebagai koki, pengatur gizi keluarga, manajer keuangan keluarga, guru les anak-anak, manajer domestik rumah, perpanjangan keluarga itu dalam sosialisasi dengan tetangga maupun guru-guru anak-anaknya, dan lain-lain. [persis seperti yang diceritakan dalam sebuah iklan multivitamin di TV]. Maka tidaklah heran, ada pepatah yang menyebutkan bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu sehingga ada hari ibu, meskipun di negara-negara lain ada juga hari ayah.


Apakah memang sebenarnya begitu?
Yup, benar sekali. tidak ada yang salah. Sesuai dengan kebiasaan dimanapun ibu itu berada. Memang seperti itulah seorang ibu. Kebutuhan dan kepentingan ibu adalah membuat semua urusan domestik rumahtangganya berjalan dengan baik dan lancar meski dengan mengorbankan kepentingannya [lebay, hihi...]. Ibu tidak akan merasa bahagia saat kepentingan keluarganya tidak terpenuhi dan apalagi si ibu tidak berkorban. Jadi, bukan karena si ibu itu berkorban tapi memang kebahagiaan ibu itu adalah pengorbanan itu :) ;)

Namun, dengan banyaknya peran, apakah ibu itu capek?
Tentu saja iya. Apalagi kalau ibu itu juga perempuan bekerja. Di kantor, kedudukan perempuan itu sama derajatnya dengan laki-laki, artinya perempuan itu sama-sama memiliki job deskripsi dan tanggungjawab yang sama dengan laki-laki, bahkan kadang lebih karena saat ini sering sekali menemukan perempuan dengan pekerjaan dan posisi bagus yang menuntut untuk membawahi beberapa [bahkan ribuan] orang/karyawan termasuk para laki-laki.

Bagaimana saat perempuan itu di rumah?
Mereka langsung switch beralih peran dari perempuan bekerja menjadi seorang ibu atau istri. Mereka mengatur segala sesuatunya dengan baik, untuk segala kebaikan dan keteraturan rumah tangganya. Baik dengan tangannya sendiri atau mendelegasikan ke orang lain yang dipercaya [biasanya ke para asisten rumah tangga]. Meskipun perempuan itu tidak mengerjakan secara langsung pekerjaan domestik rumah tangga, namun perempuan itu tetap memikirkan dan mengatur dengan otaknya agak keberlangsungan rumah tangga [suami dan anak-anak] berjalan dengan baik tanpa ada hambatan dan masalah.

Perempuan itu menjaga profesionalitasnya di kantor dengan bekerja sebaik-baiknya, namun disaat yang sama juga masih menjalankan fungsinya sebagai manajer domestik rumah tangga, memastikan bahwa kehidupan di rumah [yang ditinggalkannya saat bekerja] berjalan dengan semestinya. beruntungya perempuan dianugerahi kemampuan untuk multitasking, coba tidak, akan seperti apakah...

Apakah perempuan itu mengeluh?
Tidak. Menjadi perempuan adalah given. Namun menjadi seorang istri atau ibu adalah pilihan. Zaman sekarang pilihan itu sudah semakin terbuka. Ada beberapa orang yang memilih dan memutuskan untuk hidup sendiri, karena mereka merasa nyaman dengan kondisi itu, be single and happy. Banyak juga yang melakukan pernikahan namun memutuskan untuk tidak memiliki anak dengan berbagai alasan dan pertimbangan tentu saja.

Karena menjadi istri dan ibu adalah suatu pilihan, maka perempuan itu tidak berhak mengeluh [menurut pendapatku lo ya :] Ada beberapa pasangan suami-istri yang sudah menikah bertahun-tahun dan belum juga dikaruniai anak. Mereka mencoba berbagai terapi dan pengobatan agar dapat menimang buah hati. Lagi-lagi pilihan, orang tua yang menginginkan anak, karena merasa bahwa kehidupannya akan lebih komplit dan berwarna dengan kehadiran anak.



So, kembali lagi ke seorang ibu yang memiliki berbagai peran. Segala kerepotan, keribetan dan kekomplekan menjadi seorang ibu adalah pilihan dari perempuan itu. Dan perempuan akan sangat bahagia apabila kehidupan domestik rumahtangganya berjalan dengan baik meski harus mengerahkan segenap kemampuan multitaskingnya.

Sebenarnya perempuan itu bisa acuh dan tidak peduli dengan berbagai urusan domestik ruamhtangganya dan hanya mendelegasikan ke para asisten tanpa tahu apa yang terjadi di rumahtangganya, sebodo teuing!

Tetapi apakah dengan begitu perempuan itu bahagia?
Tidak. Kebahagiaan perempuan adalah mengetahui dengan detail keberlangsungan kehidupan rumahtangganya dan berbagai permasalahan yang timbul serta dapat menyelesaikan dengan baik dan semestinya sesuai dengan kapasitas dan posisinya.

Jadi, memang begitulah seorang perempuan yang menjadi istri dan ibu. Akan tetapi masa-masa kerepotan dan keribetan itu akan berangsur-angsur berkurang seiring dengan tumbuh kembangnya anak-anak. Saat anak-anak tumbuh menjadi besar dan sudah memiliki dunianya sendiri, perempuan itu niscaya akan merasa kangen dengan kondisi dimana perempuan itu sangat dibutuhkan dan menjadi rebutan anak-anaknya, seperti saat: ketika perempuan itu pulang kerja, ketika anak-anak mau tidur, ketika mau makan, ketika mau mandi dan sebagainya.

Sekali lagi [menurut kacamata dan pendapatku] menjadi seorang perempuan sekaligus istri dan ibu adalah pilihan masing-masing perempuan. Kalau sudah memutuskan menjadi seorang istri apalagi kemudian menjadi seorang ibu ya harus siap dengan segala konsekuensinya. Jangan sedikit-sedikit mengeluh, karena itu memang dinamikanya menjadi seorang ibu.


Peringatan Hari Ibu? bukan kita [ibu] yang memintanya bukan? Tetapi orang lain yang memberikan apresiasi atas semua multitasking yang telah dilakukan oleh seorang ibu. Kita [para ibu] berhak menerimanya dan berterimakasih karenanya.

Tulisan yang hampir sama pernah juga aku tulis di sini.

Gambar diambil dari sini.

2 comments:

ika barbiee :P said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Anisah Nur said...
This comment has been removed by the author.