dua tahun yang lalu tepatnya awal-pertengahan tahun 2008 aku sempat mengalami euforia nggowes, bike to work. bukan hanya saat berangkat dan pulang kerja, namun kemana-mana juga nggowes [dengan jarak dekat tentunya].menyenangkan sekali bike to work secara jarak kantor dan rumah hanyak 4 km. sudah gitu jalannya lurus lempeng dan ada jalur lambatnya. pagi-pagi berangkat kerja sambil menghirup segarnya udara cibinong science center. cerita waktu itu ada di sini
tapi itu dulu, saat raya masih sendiri alias izza belum lahir. baru beberapa bulan menikmati bike to work, ternyata aku hamil. exciting banget. sempat khawatir juga karena ternyata aku nggowesan dalam keadaan hamil. tapi tenyata, alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT, kehamilanku berjalan tanpa masalah dan izza lahir dengan selamat dan sekarang menjadi anak yang ngganteng :D
sejak mengetahui kalau hamil, aku langsung menghentikan segala pernggowesan. sepeda nangkring di pojok rumah tanpa terpakai. melihatnya diam teronggok sangat menggoda untuk mencoba nggowes lagi, namun hal itu tentu saja tidak memungkinkan. akhirnya daripada teronggok tidak terpakai, sepeda aku pinjamkan ke marbot masjid agar beliau leluasa menjalankan aktivitasnya.
alhasil, sejak itulah aku berhenti nggowes. sempat terpikir untuk nggowes lagi setelah izza lahir. tetapi izza lahir berbarengan dengan tahun ajaran baru. saat itu pula raya mulai belajar sekolah di kelompok bermain TKIT Rabbani. kepikiran, bagaimana teknis antar jemput raya dan mbak uci. akhirnya aku mengajukan usul untuk beli motor matic. alhamdulillah langsung disetujui sama si ayah, meskipun awalnya si ayah tidak yakin kalau aku bisa mengendarai motor :D
yup, akhirnya cita-citaku memiliki motor tercapai. kemana-mana aku bisa pergi dengan motorku tanpa bergantung sama si ayah dan bang jaya tukang ojek.
sebenarnya aku sangat ingin memiliki motor sejak SMU. saat itu aku sudah merengek-rengek minta dibelikan motor ke bapak. tapi bapak dan ibu mana mengijinkan aku mengendari motor sendiri. tingkat kekhawatiran bapak dan ibu sangat tinggi [dan akibat/dampak didikan itu terasa sekali sampai sekarang]. aku ijin untuk camping beberapa hari saja dengan teman-teman sekolah tidak pernah dikasih, apalagi naik motor. lebih-lebih saat kuliah. rasannya ngiri banget melihat teman-teman bisa mengendarai motor kesana kemari tanpa tergantung sama orang lain. yang paling menyedihkan adalah saat aku menjadi mahasiswa dan mendaftar ikut menjadi relawan di suatu LSM pendampingan UKM. aku dinyatakan tidak lulus karena aku tidak bisa mengendarai motor, huhu...karena memang untuk menjadi relawan di situ sangat dituntut untuk mobile.
nah, saat membeli motor aku tidak minta ijin ke ibu [bapak sudah almarhum]. ibu mengetahuinya saat berkunjung ke cibinong setelah beberapa bulan aku memakainya. awalnya sih ibu khawatir, apalagi kalau aku pulang malam dan hujan. si ibu akan telpun dan memastikan aku mengendarainya dengan hati-hati. siap Bu! kataku.
sekarang, yang sedang euforia dengan bike to work adalah si ayah. sejak beberapa minggu yang lalu sudah menimbang-nimbang untuk memutuskan bike to work. jadi, si ayah akan berangkat ke kantor memakai moda KRL. sepedanya dipakai dari rumah-stasiun dan sebaliknya serta stasiun-kantor dan sebaliknya.
tidak mungkin kan memakai sepeda seperti yang dulu aku pakai. akhirnya setelah riset beberapa hari tentang sepeda lipat alias seli, si ayah menemukan jodoh seli itu di oki bike cibinong. selamat nggowes ayah...tetap semangat bike to work ya..jangan bosen, hihi....
foto diambil dari sini
No comments:
Post a Comment