Di postingan sebelumnya aku pernah menceritakan tentang mimpi sebuah rumah putih. Aku memimpikannya bahkan sampai dua kali.
Nah, semalam aku memimpikan kembali rumah itu, namun bukan dari sisi luarnya namun dari dalamnya. Dan seperti biasa, aku memimpikannya dengan detail.
Rumah yang "singup", dingin, pun kehidupan penghuninya. Rumah dengan banyak kamar, yang setiap kamarnya memiliki lorong. Kamar mandinya tidak menjadi satu dengan kamar tidur, tapi terpisah dan menghadap lorong. Namun setiap kamar tidur memiliki kamar mandi sendiri-sendiri. Setiap kamar tidur dilengkapi dengan mebelier kayu jati yang dipernis halus baik itu tempat tidur, lemari baju maupun meja rias. Mebeleir yang minim ukiran tapi terlihat sangat elegan, khas priyayi. Bahkan di kamar mandipun juga terdapat lemari tempat handuk yang juga terbuat dari kayu jati halus. Dalam mimpi, sempat berpikir, bagaimana ada lemari kayu di kamar mandi, sekering-keringnya kamar mandi kering pasti akan terasa lembab yang menyebabkan lemari kayu mudah keropos.
Lantai setiap kamar tidur dilapisi dengan karpet tebal. Mungkin penghuninya berpikir bahwa dengan lantai karpet, berharap kamar tidur menjadi lebih hangat. Tapi yang aku rasakan dalam mimpi itu, justru bukan kehangatan tapi kelembaban, padahal jendela yang berwarna putih dibuka lebar-lebar saat pagi menjelang.
Sedangkan di ruang tamu, ruang keluarga dan juga lorong, lantainya berupa marmer coklat muda, masih sama seperti mimpi-mimpiku sebelumnya. Lantai yang akan terasa dingin saat kita menginjaknya. Makanya penghuni rumah itu selalu memakai alas kaki khusus dalam rumah.
Meja tamu kayu yang minim ukiran, meja marmer bulat dan lampu kristal yang menggantung tidak terlalu tinggi, masih sama seperti mimpiku sebelumnya.
Yang paling membedakan adalah, di mimpi ini ada sekelebat kehidupan penghuninya. Seorang suami istri dengan seorang anak laki-laki, seorang ibu dengan seorang anak remaja putri, dan seorang nenek. Nenek inilah pemilik dari rumah itu. Seorang suami itu anaknya si nenek. Sedangkan seorang ibu dengan anak remaja, aku tidak terlalu jelas menangkap siapa mereka sebenarnya. Yang pasti mereka tidak ada pertalian darah dengan si nenek.
Dingin, seolah ada tragedi di sana. Cerita tentang masa lalu yang membuat ketidakhangatan keluarga itu di masa kini. Seorang istri yang lebih banyak diam di rumah tapi lebih banyak bercengkrama dengan teman-teman sosialitanya membicarakan omong kosong tentang tas, berlian dan sebagainya.
Seorang suami yang sibuk menghabiskan waktunya di tempat kerja seolah-olah kerja itu hobi utama, padahal sebenarnya hanya ingin melarikan diri dari rumah, meski pulang kembali ke rumahnya setiap malam.
Seorang ibu dengan anak remajanya, yang selalu merasa bersalah atas semua hal yang terjadi, tapi tidak sanggup berbuat lebih bayak selain tetap tinggal di rumah itu demi tumbuh kembang putrinya.
Seorang nenek yang lebih banyak duduk di kursi goyangnya dalam keheningan, sambil memandang jauh ke luar jendela.
.............................
No comments:
Post a Comment