11.1.16

Saat (cinta) harus berkompromi

Affandi adalah salah satu pelukis besar yang dimiliki Indonesia selain pelukis besar lainnya seperti Raden Saleh, Basuki Abdullah, dll. Karena berbagai kelebihan dan keistimewaan karyanya, para pengagumnya menjulukinya Maestro. Adalah Koran International Herald Tribune yang menjulukinya sebagai Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia, sementara di Florence, Italia dia telah diberi gelar Grand Maestro.

Terlepas dari berbagai keistimewaan karyanya, ada beberapa cerita menarik –yang terus terang aku barutahu- diantaranya adalah alasan  kenapa Pak Afandi memiliki dua istri: Bu Maryati dan  Bu Rubiyem.

Pak Afandi menikah dengan bu Maryati, pada tahun 1933 di umur 26 tahun. Bu Maryati inilah yang mendampingi Afandi kemanapun Afandi mau, mulai dari keliling Indonesia sesuai mood pak Afandi sampai dengan ke India dan Eropa saat mendapatkan beasiswa.


Pada saat meniti karir sebeagi pelukis, karena tidak mampu bayar model, bu  Maryatilah yang  menjadi model (kebanyakan nude) saat pak Affandi belajar melukis anatomi.

Pak Affandi dan bu Maryati memiliki seorang putri yang bernama Kartika. Karena bu Maryati tidak dimungkinkan untuk hamil lagi, sementara Pak Affandi menginginkan seorang anak laki-laki, maka  bu Maryati mengusulkan pak Affandi untuk menikah lagi. Terang saja pak Affandi menolak mentah-mentah usul Bu Maryati tersebut. Namun, setelah dibujuk terus, akhirnya Pak Affandi bersedia menikah lagi dengan syarat bu Maryati yang mencarikan, dan calon madu tersebut tidak boleh lebih cantik dan lebih pintar dari bu Maryati.

Akhirnya pak Affandi menikah dengan bu Rubiyem pilihan bu Maryati, dan memiliki tiga anak, salah satunya adalah pak Juki yang sekarang juga menjadi pelukis ternama.

Begitulah cinta sejati saat masing-masing harus dan mau berkompromi demi kebahagiaan semuanya

No comments: