17.7.14

Perbedaan

Pada suatu ketika.

"Ana sangat senang dengan kedatangan Antum. Jazakallah sudah hadir ya", katanya sambil menyalami aku. Sudah ada beberapa orang yang hadir, aku menyalami mereka satu per satu. Ada beberapa orang -tidak semuanya- yang melihatku dengan pandangan aneh, dari ujung kepala sampai ujung kaki: kerudung, baju, celana dan tanpa kaos kaki.

Sebuah acara yang sangat bagus. Aku harus sering-sering mengikuti acara semacam itu, materi yang sangat menarik untuk membuat kotak kehidupan lebih berwarna dan berkualitas. 

Namun ada satu hal yang menggelitik dari acara itu.  Beberapa orang mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Arab ketika melakukan percakapan, seperti Cinta Laura mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris.

Mungkin Cinta Laura memang memiliki keterbatasan kosakata bahasa mengingat dia lama tinggal di luar negeri. Nah kalau orang-orang ini mencampuradukkan bahasa Indonesia dan bahasa Arab seolah untuk menunjukkan semangat keislamannya, menjadi lebih islami lebih tepatnya. *maaf

Padahal kalau dipikir-pikir ungkapan dalam bahasa Arab yang digunakan tersebut kadangkala tidak mengikuti kaidah Nahwu Sorof sebagaimana tercantum dalam kitab Jurumiyah. Lihat saja, aku datang seorang diri tapi dipanggil "Antum", untuk orang kedua jamak, ya meskipun kadang Antum digunakan untuk sapaan formal, seperti di bahasa: saya diganti kami. Aku seorang perempuan tapi disalami dengan Jazakallah bahkan kadang Jazaakumullahu :)

Dulu saat kuliah di Jogja, seringkali menemui hal seperti ini saat mengikuti acara di daerah Sendowo, menyaksikan teman-teman mengadopsi bahasa dan budaya Arab secara mentah, seolah dengan semakin Arab maka menjadi semakin Islami.

Namun malah tidak menemui saat mengikuti posonan/pasaran di Pandanaran atau Krapyak. Mungkin karena di kedua tempat itu sudah berjam-jam dihabiskan untuk sorogan. Percakapan sehari-hari tetap menggunakan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa Jawa.

Benar kata kanjeng Nabi SAW: "Berbicaralah kepada masnusia sesuai dengan bahasa kaumnya". 

Baik, itu adalah pilihan, sah-sah saja, tidak menjadi masalah -seperti halnya dalam pemilihan presiden- setiap orang berhak dengan pilihannya. Pilihan yang dilatarbelakangi banyak hal atau hanya sekedar ikut-ikutan. 

Mari menghormati pilihan orang lain. Siapapun berhak dengan pilihannya masing-masing. Jangan merasa paling benar sampai mengganggu sesama apalagi disertai dengan kata-kata yang tak elok.

Berbeda itu suatu hal yang sangat lazim, yang penting harmoni tetap terjalin.

Merasa risih saat ketidakmampuan menerima perbedaan ini muncul di publik secara terang-terangan. Beberapa kali menyaksikan dan mendengarkan ceramah "ustadz" dengan penuh kebencian luar biasa menghujat pihak-pihak tertentu yang tidak sealiran atau sepaham.

"Orang Pintar Baru (OPB)" -meminjam istilah Gus Mus-. Nuansa nafsu dan keangkuhan OPB ini lebih kental terasa daripada semangat ruh nasehat keagamaan dan ishlah.

Apalagi akhir-akhir ini -saat bangsa Indonesia merasakan euphoria pemilihan presiden- kegenitan OPB ini "mengajarkan" kegemaran dan pilihannya atas nama amar makruf nahi munkar, demi agama katanya. Tapi sikap dan perilakunya sangat tidak agamis.

Para OPB ini boleh jadi akibat terlalu tinggi menghargai diri sendiri dan terlalu kagum dengan "pengetahuan baru" nya. Lalu menganggap apa yang dikemukakannya merupakan suatu kebenaran satu-satunya. Pendapat yang berbeda dianggap salah, dan yang salah pasti jahanam.

Jika cara berpikir masih seperti itu, artinya kelas berishlahnya masih setingkat label/teks, belum pada substansi apalagi ruh. Mari terus belajar.

Ya Allah, jauhkanlah kami dari mereka yang merasa bisa menggantikan-Mu, mampu mengetahui persis dan menilai iman dan islam orang lain.

Semoga Allah SWT selalu memberikan taufiq dan hidayah serta menjaga kita dari fitnah dan topeng kata-kata manis namun khakikatnya rancu.

Hidayah adalah hal terbesar yang turun dari langit menuju bumi. Sebagaimana ikhlas yang merupakan hal terbesar yang naik dari bumi menuju langit. 

Wallahu A'lam Bishawab.

---
Mohon maaf atas segala salah dan khilaf: saat ucapan tidak sesuai dengan tindakan dan/atau sebaliknya; saat ucapan dan tindakan tidak berkenan di hati teman-teman. Maaf, maaf, beribu maaf. Semoga niat khusus melebur kesalahan dan mencapai kehalalan tanggungan ini dapat terpenuhi dan kita kembali menjadi fitri, amin.

No comments: