29.11.13

Takdir Hidup

Menjelang Keabadian

Betapa lebat hutan, menjelang keabadian
Rimbanya kegelapan, pepohonan menghadang
Sulur-sulur menghisap darah
Tanah-tanah becek, Ranjau duri beracun
Bayangan demi bayangan menjebak
Suara nyanyian membawa kami ke pengasingan
Betapa berat
Wahai betapa bosan untuk terus bermusuhan
Membenar-benarkan peperangan
Mengairi sawah prasangka
Mengurusi maniak kalah menang
Kawan lawan
Sukses dan kegagalan kujaga ubun-ubun
Kunyalakan jiwa ngungu
Sunyi riuh rendah
Hari malam tanpa istirah
Perih bagai tak lagi
Pingsan dalam sadar diri
Mati berulangkali
Betapa lebat hutan
O betapa lebat hutan, menjelang keabadian

Cahaya Maha Cahaya, Emha Ainun Nadjib, Pustaka Firdaus, Jakarta 1996, Cet. 8 

Perjalanan panjang manusia dimulai saat Allah SWT menciptakan manusia di alam ruh: Bukanlah Aku Tuhanmu? Ruh menjawab, betul kami bersaksi (QS: Al A'raaf 172). 
Selanjutnya Allah meniupkan ruh itu ke janin di dalam rahim ibu. Setelah 9 bulan, lahirlah manusia: seorang bayi, kemudian menjadi anak, tumbuh dewasa kemudian meninggal.
Namun, yang meninggal hanyalah jasad manusia, karena manusia sebagai makhluk ruh tetap hidup melanjutkan perjalanannya ke alam barzakh (QS: Al Baqarah 153, Ali Imran 169). Kelak di hari kiamat akan dibangkitkan kembali ke tubuh yang baru (QS: Yasin 51-52) untuk melanjutkan perjalanan hidup di padang mahsyar dan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatan selama di dunia. Setelah dihisab, kekal abadi di surga dan atau neraka sesuai amal ibadah masing-masing (QS: Al Baqarah 39 dan 82).
Begitulah jalan hidup manusia: bayi, remaja, dewasa, tua kemudian meninggal. Kita selau memohon dipanjangkan umur dengan hidup penuh barakah. Tetapi tiap manusia memiliki dan memegang penghidupannya masing-masing. Takdir kita sudah digariskan.
Hidup ini memang takdir, sudah digariskan segala sesuatunya, terutama untuk tiga hal: rezeki, jodoh, dan maut. Namun aku beranggapan, Tuhan memberikan kebebasan penuh kepada kita untuk memilih jalan hidup sendiri dengan dibekali oleh-NYA hati nurani dan akal pikiran.
Kita, manusia tidak tahu kapan ajal akan menjemput. Hanya menunggu giliran kapan takdir dipanggil oleh Dzat Pemilik Takdir sembari terus berusaha mengumpulkan dan menghimpun bekal yang akan dibawa.
Kematian, ajal, sangat 'normal' dalam kehidupan ini seperti normalnya kelahiran. Namun ketika kematian itu datang memisahkan kita (secara raga) dengan orang-orang terdekat, betapa itu menjadi sangat menyesakkan meski harus diikhlaskan bahwa ini takdir yang digariskan oleh-NYA.
Hari ini satu tahun umur berkurang, tidak tahu berapa banyak umur yang ditakdirkan. Kepala tiga itu menakutkan ketika saat itu berumur kepala dua. Saat ini juga merasakan bahwa kepala empat, kepala lima, kepala enam dan seterusnya itu ternyata lebih menakutkan.
Berharap selalu mengingat lima perkara sebelum lima perkara: Masa muda sebelum tua; Masa luang sebelum masa sibuk; Masa sehat sebelum masa sakit; Masa kaya sebelum masa miskin; dan Masa hidup sebelum masa mati.
Jujur sesungguhnya merasa takut dengan datangnya sakit, tua dan mati. Merasa bahwa bekal yang dimiliki tidak cukup banyak, apakah mencukupi atau tidak. Hanya berbekal keyakinan bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Semoga semua dimudahkan dan dilapangkan segala jalan menuju takdir hidup yang baik.
Mengutip dari nasihat Bapak, ada empat golongan/kelompok manusia:
1. Kelompok bejo - kelompok yang bahagia dunia dan akherat
2. Kelompok slamet - kelompok yang bahagia akherat aja
3. Kelompok ciloko - kelompok yang bahagia hanya saat di dunia
4. Kelompok ciloko mencit - kelompok yang tidak bahagia baik didunia dan akherat.

Mencoba menikmati hari-hari yang dimiliki: kemarin, kini dan nanti, bahwa hidup itu indah. Bersyukur sekali atas segala takdir hidup yang diberikan. Dan nikmat Tuhan manakah yang Engkau dustakan. Dengan ke’normal’an hidup yang kita miliki saat ini rasanya tidak layak bagi kita untuk mengeluhkan hal-hal kecil yang bisa teratasi hanya dengan mengubah mindsettingYou know, you feel, and  you choose atas takdir hidup saat ini dan takdir hidup yang akan datang.
Selalu berharap dan memohon, diberikan takdir hidup yang baik, normal selazimnya jalan hidup orang-orang kabanyakan dan digolongkan dalam kelompok bejo, amin.
---
30-11-2013-edisiultah

No comments: