Menjelang Keabadian
Betapa lebat hutan, menjelang keabadian
Rimbanya kegelapan, pepohonan menghadang
Rimbanya kegelapan, pepohonan menghadang
Sulur-sulur
menghisap darah
Tanah-tanah becek, Ranjau
duri beracun
Bayangan
demi bayangan menjebak
Suara
nyanyian membawa kami ke pengasingan
Betapa
berat
Wahai betapa bosan untuk terus bermusuhan
Membenar-benarkan peperangan
Membenar-benarkan peperangan
Mengairi
sawah prasangka
Mengurusi
maniak kalah menang
Kawan lawan
Sukses dan kegagalan kujaga ubun-ubun
Sukses dan kegagalan kujaga ubun-ubun
Kunyalakan
jiwa ngungu
Sunyi
riuh rendah
Hari
malam tanpa istirah
Perih
bagai tak lagi
Pingsan
dalam sadar diri
Mati
berulangkali
Betapa
lebat hutan
O betapa lebat hutan, menjelang keabadian
Cahaya Maha Cahaya, Emha Ainun Nadjib, Pustaka Firdaus, Jakarta 1996, Cet. 8
Perjalanan
panjang manusia dimulai saat Allah SWT menciptakan manusia di alam ruh:
Bukanlah Aku Tuhanmu? Ruh menjawab, betul kami bersaksi (QS: Al A'raaf
172).
Selanjutnya
Allah meniupkan ruh itu ke janin di dalam rahim ibu. Setelah 9 bulan, lahirlah
manusia: seorang bayi, kemudian menjadi anak, tumbuh dewasa kemudian meninggal.
Namun,
yang meninggal hanyalah jasad manusia, karena manusia sebagai makhluk ruh tetap
hidup melanjutkan perjalanannya ke alam barzakh (QS: Al Baqarah 153, Ali Imran
169). Kelak di hari kiamat akan dibangkitkan kembali ke tubuh yang baru (QS:
Yasin 51-52) untuk melanjutkan perjalanan hidup di padang mahsyar dan dimintai
pertanggungjawaban atas semua perbuatan selama di dunia. Setelah dihisab, kekal
abadi di surga dan atau neraka sesuai amal ibadah masing-masing (QS: Al Baqarah
39 dan 82).
Begitulah
jalan hidup manusia: bayi, remaja, dewasa, tua kemudian meninggal. Kita selau
memohon dipanjangkan umur dengan hidup penuh barakah. Tetapi tiap manusia
memiliki dan memegang penghidupannya masing-masing. Takdir kita sudah
digariskan.
Hidup
ini memang takdir, sudah digariskan segala sesuatunya, terutama untuk tiga hal:
rezeki, jodoh, dan maut. Namun aku beranggapan, Tuhan memberikan kebebasan
penuh kepada kita untuk memilih jalan hidup sendiri dengan dibekali oleh-NYA
hati nurani dan akal pikiran.
Kita,
manusia tidak tahu kapan ajal akan menjemput. Hanya menunggu giliran kapan
takdir dipanggil oleh Dzat Pemilik Takdir sembari terus berusaha mengumpulkan
dan menghimpun bekal yang akan dibawa.
Kematian, ajal, sangat 'normal' dalam kehidupan ini seperti normalnya
kelahiran. Namun ketika kematian itu datang memisahkan kita (secara raga)
dengan orang-orang terdekat, betapa itu menjadi sangat menyesakkan meski harus
diikhlaskan bahwa ini takdir yang digariskan oleh-NYA.
Hari
ini satu tahun umur berkurang, tidak tahu berapa banyak umur yang ditakdirkan.
Kepala tiga itu menakutkan ketika saat itu berumur kepala dua. Saat ini juga
merasakan bahwa kepala empat, kepala lima, kepala enam dan seterusnya itu ternyata lebih
menakutkan.
Berharap
selalu mengingat lima perkara sebelum lima perkara: Masa muda sebelum tua; Masa
luang sebelum masa sibuk; Masa sehat sebelum masa sakit; Masa kaya sebelum masa
miskin; dan Masa hidup sebelum masa mati.
Jujur
sesungguhnya merasa takut dengan datangnya sakit, tua dan mati. Merasa bahwa
bekal yang dimiliki tidak cukup banyak, apakah mencukupi atau tidak. Hanya
berbekal keyakinan bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari
esok harus lebih baik dari hari ini. Semoga semua dimudahkan dan dilapangkan
segala jalan menuju takdir hidup yang baik.
Mengutip
dari nasihat Bapak, ada empat golongan/kelompok manusia:
1.
Kelompok bejo - kelompok yang bahagia dunia dan akherat
2. Kelompok slamet - kelompok yang bahagia akherat aja
3. Kelompok ciloko - kelompok yang bahagia hanya saat di dunia
4. Kelompok ciloko mencit - kelompok yang tidak bahagia baik didunia dan akherat.
2. Kelompok slamet - kelompok yang bahagia akherat aja
3. Kelompok ciloko - kelompok yang bahagia hanya saat di dunia
4. Kelompok ciloko mencit - kelompok yang tidak bahagia baik didunia dan akherat.
Mencoba
menikmati hari-hari yang dimiliki: kemarin, kini dan nanti, bahwa hidup itu
indah. Bersyukur sekali atas segala takdir hidup yang diberikan. Dan nikmat
Tuhan manakah yang Engkau dustakan. Dengan ke’normal’an hidup yang kita miliki
saat ini rasanya tidak layak bagi kita untuk mengeluhkan hal-hal kecil yang
bisa teratasi hanya dengan mengubah mindsetting: You know,
you feel, and you choose atas takdir hidup saat ini dan takdir
hidup yang akan datang.
Selalu
berharap dan memohon, diberikan takdir hidup yang baik, normal selazimnya jalan
hidup orang-orang kabanyakan dan digolongkan dalam kelompok bejo, amin.
---
30-11-2013-edisiultah

No comments:
Post a Comment