11.2.13

Cerita tak sama

Petang menjelang senja di sebuah kafe. 

Di pojok kafe, ada tiga perempuan yang sedang asyik bercengkrama. Umur mereka memang tak lagi muda, namun juga belum terlalu tua. Aku menebak mereka berusia sekitar menjelang 40 tahunan. 

Dari dandanan dan stylenya sudah sangat kentara, mereka sosialita dengan kehidupan yang mapan, mapan secara ekonomi tentu saja, karena itu yang kasat mata.

Perempuan satu, rambutnya panjang ikal dan dibiarkan terurai. Dandanannya super rapi dan sangat feminim. Pilihan busananya menunjukkan bahwa perenpuan itu punya cita rasa yang tinggi. Bukan hanya bermerek, namun sangat pas dengan sosok perempuan itu: lembut dan anggun. Make up yang dipakainya tak terlalu kentara, membuat wajahnya semakin mempesona.

Perempuan kedua, rambutnya lurus sebahu berpotongan bob. Agak tomboy. Mamakai busana kasual: blue jeans dipandankan dengan kemeja bergaris yang semakin menunjukkan sisi maskulinnya. Meski tanpa make up namun perempuan ini tetap terlihat cantik, karena pembawaannya yang ceria. Ya, perempuan kedua ini selalu terlihat ceria cenderung ramai. Obrolan mereka kadang diselingi dengan suara perempuan ini yang tertawa lepas, seolah tanpa beban, tanpa sungkan dan malu dengan pengnjung lain di kafe ini. "Biar saja mereka melihat kita, aku memang begini adanya" begitu katanya saat perempuan berambut ikal mengingatkan untuk tak terlalu keras tertawa.

Perempuan ketiga berambut hitam lurus dan panjang, namun digelung rapi. Terlihat sangat berwibawa. Busananya sangat formal. Seperti busana perempuan kantoran di hari kerja. Apakah memang di hari sabtu perempuan ini tetap bekerja? Sepertinya.

Ketiganya asyik bercengkrama, berebutan untuk bercerita tentang kehidupannya masing-masing dan membandingkan dengan kehidupan sahabatnya itu seolah tiada hari lagi buat mereka tuk bertemu.

"Hidupmu sangat bebas, dan kamu sungguh terlihat sangat menikmatinya. Aku iri padamu" Kata perempuan berambut ikal kepada perempuan tomboy.

Seperti biasa, perempuan tomboy itu tertawa keras,
"Bagaimana bisa Kamu iri padaku, pada perempuan yang karena pekerjaannya sampai tak sempat untuk mencari pasangan hidup. Kalian ini justru bersyukur memiliki keluarga harmonis dan anak-anak yang sehat dan lucu. Tapi inilah pilihan hidup, aku sangat menikmati pilihan ini. Lihatlat aku masih bisa tertawa ceria"

"Justru itu, hidupmu sangat ringan terasa tanpa beban. Apalagi film yang baru kamu sutradai berada di puncak box office beberapa minggu ini, sungguh pencapaian yang hebat, selamat untukmu, untuk kehidupan yang dipilih" Lanjut perempuan berambut ikal.

"Ah, yang penting aku sangat menikmati profesiku ini, profesi sebagai seorang sutradara, meski sangat menyita waktu karena harus syuting berbulan-bulan, namun aku menikmatinya. Bagaimana denganmu? Hidupmu seperti seorang puteri, menjadi istri pengusaha sukses dan menantu dari seorang politisi tersohor di negeri ini. Apa lagi yang kurang? Satu yang kurang tentu saja, Kamu yang cerdas, mahasiswa teladan namun tak mengaplikasikannya. Sungguh aku agak sedikit menyanyangkannya. Ah, sudahlah jangan terlalu dipikirkan" kata perempuan berambut bob panjang lebar sambil mengibaskan tangannya.

Perempuan berambut ikal menyikut perempuan berambut bob,
"Aku tak hanya iri denganmu, namun aku juga iri dengannya" Sambil menunjuk ke perempuan bergelung.

Perempuan bergelung menghentikan aktivitasnya yang sejak tadi sibuk dengan smartphonenya.
"Heh, ada apa dengan kalian?" tanyanya

"Yah..beginilah seorang wanita karir, meski weekend tetap saja sibuk dengan pekerjaan" Lanjut perempuan berambut ikal 

"Maafkan aku, proyek yang sedang aku kerjakan sangat-sangat menyita waktu. Ini pertaruhan karir, kalau aku gagal, habislah karirku" Perempuan bergelung beralasan.

"Maafkan kalau undanganku untuk bertemu di kafe ini menyita waktumu" Perempuan berambut ikal merasa bersalah.

Perempuan berambut bob menyela,
"Kamu itu selalu perasa. Justru kita menyelematkannya agar tak gila, sejenak refreshing dari hiruk pikuk pekerjaannya"

Perempuan bergelung meletakkan smartphonenya dan mengambil tangan perempuan berambut ikal, mengelusnya pelan.
"Jangan diambil hati Dear. Memang begini resiko pekerjaan. Aku harus pintar membagi waktuku, waktu untuk kehidupan profesional dan kehidupan sosial. Banyak terimakasih atas undangan ini" Kata perempuan bergelung sambil tersenyum

"Iya, aku jadi merasa iri denganmu" kata perempuan berambut bob kepada perempuan bergelung tiba-tiba.
"Karirmu sangat bagus. Suami yang baik dan romantis. Aku ingat, dulu Reno sering mengirimimu puisi-puisi cinta. Apakah dia masih seromatis dulu?"

Perempuan bergelung menghela nafas,
"Yah...kadang-kadang, tidak sesering dulu, maklum saja sudah tua malu sama anak-anak"

"Hidup kalian pasti sangat menyenangkan?" Kata perempuan berambut ikal tiba-tiba.

"Justru aku melihat hidupmu yang sangat menyenangkan. Bak dongeng, indah tak terperi. Kamu yang cantik dan sangat cerdas sangat pantas menjadi menantu politisi itu. Pasti keluarga besar suamimu sudah memperhitungkan matang, istri yang cerdas akan menurunkan kecerdasan ke anak-anaknya.

Obrolan berlanjut dari cerita satu ke cerita yang lain. Cerita tentang masa lalu, cerita tentang kehidupan sekarang dari teman sebaya dulu, dan tentu saja cerita tentang kehidupan masing-masing.

Ada kalanya obrolan berubah menjadi serius. Kadang juga diselingi tawa yang berderai. 

Tek terasa segera saja waktu beranjak malam. Saatnya ketiga sahabat itu berpisah, kembali ke kehidupannya masing-masing dan sepakat untuk bertemu lagi di tiga bulan berikutnya.

Pertemuan pertama itu baru terlaksana setelah arrange waktu yang lama. Maklum, dengan kesibukan yang ada ketiga perempuan itu sulit untuk berjumpa. Selama ini mereka hanya bersua melalui social media.

-----
Windy,
Perempuan berambut ikal, beranjak menuju lobi. Seorang sopir sudah menunggunya di sana. Segera Ia masuk ke mobilnya. Pikirannya masih menerawang, mengingat kembali percakapan dengan kedua  sahabatnya. 

Sungguh mereka tidak tahu dengan apa yang terjadi dengan dirinya. Meski hidup bagai puteri dengan limpahan materi, namun hatinya sungguh tak berseri. Lebih tepat disebut puteri dalam sangkar emas. 

Bagaimana tidak, suaminya sangat posesif, apapun hal beda yang dilakukan akan membuat suaminya marah. Seperti pertemuan ini. Andai suaminya tahu, habislah ia. Tak jarang suaminya menampar atau memukulnya kala ia melakukan hal yang tak berkenan. 

Saat keluar rumah, ia harus menjaga diri atas citranya, terutama citra keluarga besar mertuanya. Maklum sebagai politisi, seluruh kehidupan mertuanya disorot media. Tak boleh ada cela sedikitpun. Ia harus mampu berakting bargaul dan bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya meski ia tahu betul itu penuh dengan kepalsuan.

Seringkali ia merasa lelah. Sering ia menghabiskan waktunya dengan minuman alkohol dan yang berujung pada marahnya suami, yang kemudian meneriakinya dengan makian-makian kasar tiada guna. 

Airmata tiba-tiba mengalir deras dari pipinya, segera saja melunturkan blush on tipisnya. 

---
Romy
Perempuan berambut bob. Sangat energik seolah tiada habis energi yang dimilikinya. Dia berjalan pelan menuju mobilnya, memasukinya namun tak segera menghidupkannya. Terbesit percakapan dengan kedua sahabatnya. Betapa mereka beruntung dengan kehidupannya. Keluarga harmonis dengan anak-anak yang manis.

Dia memang sangat menikmati sebagai seorang sutradara. Padahal sebenarnya itu merupakan pelarian dari masa lalunya yang kelam. Atas ketergesaan keputusan yang diambil yang berakibat pada suramnya kehidupan. masa lalu yang terpendam.

Hidupnya semakin suram, ia merasa. Meski sudah menjadi sutradara terkenal, namun ia masih terjebak dengan permainan percintaan produsernya. Ya, produsernya yang telah beristri yang selama ini membiayai film-filmnya menjadikannya istri simpanan. Tiada seorangpun tahu, hanya mereka bedua dan Tuhan tentu saja. 

Seolah terjerat dalam pusaran air, serasa tak sanggup untuk keluar darinya. Seolah tiada kekuatan yang dimilikinya untuk keluar puasaran. Membayangkan perasaan keluarga produser dan juga keluarganya terutama ibunya kalau mengetahui bahwa selama ini statusnya sebagai istri simpanan, istri yang tak terkehendaki, istri yang tak terestui, dan istri yang tak terumumkan. Ada rasa bersalah yang sangat. Tak sanggup ia membayangkannya.

Sekuat tenaga ia menahan agar airmatanya tak turun, menyebakan nafasnya sesak tersenggal. 

---
Demy,
Perempuan berambut hitam panjang yang selalu digelung rapi ke atas. Membuatnya wajahnya berwibawa meski keanggunan terlihat nyata. Berlalu dari pertemuan dengan kedua sahabatnya untuk segera berlanjut dengan pertemuan berikutnya dengan kliennya. Meski weekend yang seharusnya bisa berlibur, menikmati kebahagiaan kebersamaan dengan keluarganya, namun ia masih tetap harus bekerja. Hidupnya berputar dengan pekerjaan yang tiada habisnya. Demi suatu kata yang namanya profesionalisme.

Pekerjaan yang seolah tiada berujung itu menjadi pelariannya. Dia sangat menyayangi keluarganya namun ada komunikasi yang tak tersampaikan. Suaminya semakin terpuruk dengan kondisinya, yang berakibat pada tumpulnya kreatifitas. Sebagai seorang seniman, kratifitas menjadi hal yang mutlak. 

Reno, seorang suami yang romantis, tapi itu dulu. Sekarang berubah menjadi seorang penyendiri, seolah meratapi nasibnya yang tak mampu membawa kebahagiaan bagi keluarganya.

Karir Demy yang semakin menanjak mengungguli pencapainnya dalam dunia seni, membuat harga dirinya terlukai, membuatnya semakin frustasi.

Demy sudah menyakinkan bahwa ini garis Tuhan yang harus dilalui. Berkali Demy menyakinkan Reno bahwa itu tak mengurangi kebahagiaannya. Namun Reno tetap pada pendiriannya. Rasa bersalahnya semakin lama membuat jurang pemisah yang lebar diantara mereka. Terbentang begitu nyata. Tak terkomunikasikan. Masing-masing dengan kehidupannya: Demy yang semakin sibuk, Reno yang semakin terpuruk, menyendiri dengan frustasinya.

---
Rumput tetangga memang terasa selalu lebih hijau. Ada rasa kecewa saat nasib baik tak sama. Berharap ada teman bernasib sama.

Tak ada kehidupan yang sempurna. Semua membawa cerita masing-masing. Mensyukuri atas anugerah yang termiliki. 

No comments: