7.2.13

Asa

Kafe dengan desain minimalis modern itu mulai ramai. Orang-orang bergerombol dengan kelompoknya, asyik dengan obrolan masing-masing. Seperti biasa, hari kelima di akhir pekan kafe ini selalu ramai, penuh. Mungkin orang-orang sengaja mengulur kepulangannya untuk sejenak me time bersama teman atau rekan. Mungkin juga untuk mengulur waktu agar tidak terjebak dengan kemacetan yang semakin menggila, yang menjadi kebiasaan kota ini.

Aku melihat kamu sudah duduk di sudut. Segelas orange juice masih utuh seolah belum tersentuh olehmu. Pandanganmu menerawang menatap orang-orang yang lalu lalang di depan kafe yang hanya dibatasi dengan kaca tembus pandang. Aku yakin, kamu pasti sedang memikirkan dan berandai-andai dengan kehidupan macam apa yang terjadi pada orang-orang yang kamu lihat di depanmu itu. Saat kamu melihat seorang bapak yang bergegas mengejar bus kota, kamu berpikir, bapak itu pasti buru-buru pulang karena sudah ditunggu istri dan anaknya di rumah. Bapak itu tidak sabar bertemu dengan keluarganya untuk merengkuh manisnya kehidupan setelah berpenat dalam aktivitas kerja. Saat lain, saat kamu melihat seorang pemuda berjalan bersisihan dengan seorang gadis sambil mengandeng tanggannya, kamu melihat kebahagiaan dari mereka. Kebahagiaan dicintai, dilindungi, pun sebaliknya, kebahagiaan mencintai dan melindungi. Tiba-tiba kamu tersenyum. Aku menduga, kamu pasti ingat masa itu. Masa saat seolah dunia hanya milik kita berdua.

Aku tahu persis dengan kebiasaanmu itu, kebiasaaan menduga-duga dengan kehidupan yang terjadi pada orang-orang yang kamu lihat. Aku hapal. Dulu, kadang kamu menceritakan tentang perandainmu itu. Saat itu aku sering melihat kamu mengamati seseorang dengan seksama sambil tersenyum, itu menandakan bahwa orang itu memiliki kehidupan yang bahagia di perandaianmu. Namun, kadang dahimu berkerut, nafasmu menghela, seolah berat nian kehidupan seseorang yang kamu amati itu.

Ternyata aku terlalu asyik mengamatimu, saat tiba-tiba pelayan itu mengagetkanku dengan sapaan. Oh, aku tersenyum dan menjawab dengan sopan tawaran pelayan itu. 

Sambil melambaikan tangan, aku beranjak mendekati kamu yang masih asyik menerawang mengamati orang-orang yang lalu lalang. 

"Hi, maaf, terlalu lama menungguku"

Kamu tersenyum menyambutku. Mempersilahkan aku untuk duduk di kursi di depannya. Sekarang aku benar-benar menghadapmu, menikmati keindahan rona wajahmu. Seolah mengalami dejavu, ingatanku mengembara ke beberapa tahun silam. Situasi seperti saat ini biasa kita alami, dulu. Tiba-tiba muncul perasaan yang sama seperti beberapa tahun lalu. Segera aku menghelanya.

Kamu mengambil orange juice itu dan mulai meneguknya pelan. Tanganmu melambai ke arah pelayan yang berdiri di sudut.

"Kamu pesan apa?  Aku pesan hot moccacinno dan tuna puff saja, kamu mau pesan apalagi?"
"Kamu masih saja memadukan manis dan asin. Aku pesan cappucino dengan vanila latte" kataku kepada pelayan kafe.

Pelayan itu mencatat, mengulang pesanan kami dan segera berlalu.

"Sejak kapan kamu minum kopi. Dulu kamu penggemar teh dan tidak menyukai kopi, apapun jenis kopi itu"
"Sejak aku pindah di kota ini. Sekarang aku peminum kopi juga masih peminum teh. Hi, Apa kabar?"
"Kamu lihat aku. Sehat, tidak kurang suatu apa"
"Bagaimana dengan pekerjaan dan keluargamu?"
"Pekerjaanku baik. Area kerjaku bertambah luas. Sekarang aku menangani wilayah Asia Pasifik. Istriku masih sekolah di kota yang sama, biarlah dia menimba ilmu sebanyak-banyaknya buat bekal mendidik anak-anak kelak. Kehamilannya memasuki minggu ke 20. Mohon doanya semoga dia dan bayinya sehat selalu"

Matamu berbinar mendengar ceritaku. Namun tiba-tiba redup. Kamu mengaduk cappucino yang telah diantarkan seolah menghindari tatapan mataku.

"Bagaimana denganmu?. Aku dengar kamu baru dipromosikan. Selamat ya. Aku sudah menduganya, pasti karirmu akan cemerlang di perusahaan itu. Selangkah lagi, kamu pasti akan menduduki posisi puncak."

Kamu tersenyum kemudian kembali mengaduk cappucino yang belum juga diminum.

"Bagaimana dengan dia?" tanyaku.
"Dia baik dan sehat. Makin sibuk dengan klien-kliennya. Maklum, negeri ini makin butuh jasa penasehat hukum seperti dia"
"Sepertinya dia makin terkenal. Meski tinggal di negara lain, tapi aku sering melihat dia di beberapa media televisi nasional"
"Iya, sekarang dia membantu menangani berbagai kasus yang menimpa orang-orang itu. Kamu tahu sendiri kan, kasus-kasus itu seolah tidak berujung, entah sampai kapan akan berhenti."
"Tapi aku percaya dia. Aku ingat betul bagaimana idealisme dia dulu di kampus. Aku tidak meragukannya"
"Semoga. Aku juga selalu berharap keadaan, kondisi dan lingkungan tidak merubahnya"

Senyap. Aku dan kamu dengan pikiran masing-masing.

"Jadi, kapan hari bahagia itu tiba?"
"Entahlah"
"Kalian jangan terlalu memikirkan orang lain, berkutat dengan pekerjaan yang tiada habisnya. Sudah saatnya kalian memikirkan kehidupan diri sendiri, menggapai kebahagiaan pribadi"
"Aku tidak berani memikirkannya"
"Kenapa? kamu sudah harus memikirkannya"
"Iya, aku selalu memikirkannya. tapi tidak dengan dia"
"Kamu harus selalu mengingatkannya"
"Aku tidak berani"
"kenapa?"
"Dia selalu mengelaknya dengan dalih kesibukannnya yang makin menjadi"
"Sampai kapan?"
"Entahlah"
"Bagaimana dengan keluarganya. Aku tahu, kalian bersama sudah sejak lama. Sejak aku mulai meninggalkan kota ini"
"Ya. Keluarganya juga sudah angkat tangan. Tidak tahu bagaimana lagi menanyakan tentang hal itu kepadanya. Sepertinya mereka sudah menyerah"
"Bagaimana dengan keluargamu?"
"Aku malu untuk pulang. Takut lebih tepatnya. Aku takut dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Orangtuaku sangat menyadarinya tapi tidak dengan keluarga besar"

Kembali hening.

"Sampai kapan kamu akan terus bertahan?"
"Entahlah, aku tidak tahu"
"Aku paham betul dirimu. Kecerdasanmu, ketajaman analisamu, kepiawaianmu bernego, dan kemampuanmu mempengaruhi orang lain. Ada apa dengan dirimu?"

Kamu menghela nafas panjang. Lagi-lagi mengaduk cappucinomu yang mulai mendingin.

"Kenapa kamu tidak bersikap tegas?"
"Aku tidak tidak bisa"
"Bohong. Bagaimana kamu mengelola timmu kalau kamu tidak bisa bersikap tegas"
"Aku tidak bisa tegas terhadapnya"
"Kenapa?"
"Aku takut kehilangannya. Aku takut kesepian"
"Apakah dia selalu menemani di hari-harimu"
"Tidak"
"Jadi, kamu juga sudah terbiasa kesepian, apalagi yang kamu takutkan?"
"Aku takut kehilangan perasaan itu. Perasaan saat dia membutuhkanku"
"Saat kapan?"
"Saat dia mulai kehilangan arah dalam pekerjaannya"
"Apakah itu sering"
"Kadang ya, kadang tidak"
"Apakah dia selalu ada saat kamu membutuhkannya?"
"Tidak"
"Oh Inge.. ada apa dengamu? Seharusnya take and give. Bukan hanya memberi saja.
"Aku tahu. Cinta bukan mencari pasangan yang sempurna. Tetapi menerima pasangan kita dengan sempurna"
"Itu kalau sama-sama. Bukan sepihak"
"Aku anggap sama-sama dengan selalu berharap hari itu akan tiba. Asa itu kelihatannya terlalu mahal buatku. Tapi aku yakin, suatu saat akan tiba"

Aku menatapmu iba.

"Aku berharap kamu dapat bahagia hanya dengan asamu itu"
"Kenapa kamu menjadi sinis?"
"Tidak. Aku hanya menghormati dan salut dengan keteguhannmu"
"Ya, setidaknya aku masih sanggup menjalaninya sampai saat ini. Entah nanti"

Hari semakin larut. Jalanan mulai lenggang. Sudah saatnya aku mengantarkan kamu pulang. Dia yang berjanji akan datang, ternyata tidak juga muncul. Dia sudah benar-benar berubah, tidak sekomitmen dulu, aku mulai meragukannya.

--------------
*Terinspirasi dari salah satu artikel parodinya Samuel Mulia di Kompas minggu.
*@Kelas - ngantuk tiba-tiba

No comments: