Sudahlah, tak usah terlalu ‘ndakik-ndakik’ memikirkan bagaimana bangsa
ini mencari jalan keluar dari segala permasalahannya, menuju bangsa yang lebih
maju dan beradab. Ya, di luar dan di tingkat elit sana sudah banya orang-orang
ahli yang memikirkannya, memikirkan bagaimana bangsa ini jaya dengan
segala dukungan SDA yang melimpah dan SDM yang capable.
Kita (saya lebih
tepatnya) di tingkat paling bawah, biasa disebut rakyat biasa/kecil, dapat
melakukan hal-hal sederhana yang positif tentu saja sehingga dapat bermanfaat
buat kita, keluarga kita, orang-orang disekitar kita dan akhirnya buat bangsa
kita, seperti: membuang sampah pada tempatnya; memberikan contoh perilaku jujur
dan disiplin pada anak-anak; tidak merokok atau mengonsumsi makanan2
yang berefek buruk pada tubuh; olahraga teratur; peduli lingkungan dengan
membuat resapan air sederhana di lingkungan sekitar tempat tinggal; memanfaatkan
lahan yang ada dengan penghijauan; dan kegiatan-kegiatan positif lainnya.
Banyak komunitas sosial (dan biasanya non profit) yang dilakukan
sekelompok orang bertujuan untuk kebaikan sesama sehingga berujung kepada
optimisme, bahwa bangsa ini sebenarnya bisa lebih maju dari sekarang dengan
dukungan SDA dan SDM nya.
Salah satu komunitas itu adalah Indonesia Berkebun,
yaitu sebuah komunitas yang bergerak melalui media jejaring sosial bertujuan
menyebarkan semangat positif untuk lebih peduli kepada lingkungan dan perkotaan
melalui program urban farming, yaitu memanfaatkan lahan tidur di kawasan
perkotaan yang dikonversi menjadi lahan pertanian/perkebunan produktif hijau
yang dilakukan oleh anggota komunitas dibantu oleh peran aktif masyarakat.
Indonesia berkebun memiliki pegiat kebun di kota-kota besar di Indonesia
seperti @bgrberkebun @jktberkebun @batanberkebun @mksrberkebun @soloberkebun
@mlgberkebun @mdnberkebun dsb. Info lebih lanjut mengenai komunitas ini dapat
dlihat di http://www.indonesiaberkebun.org/
Komunitas ini menyebarkan semangat urban farming (kalau di desa, bertani mungkin suatu hal yang lazim), bahwa berkebun itu tidak harus memerlukan lahan yang luas, berkebun bisa melalui media pot, paralon bekas, kaleng bekas dan media-media yang lain.
Komunitas ini menyebarkan semangat urban farming (kalau di desa, bertani mungkin suatu hal yang lazim), bahwa berkebun itu tidak harus memerlukan lahan yang luas, berkebun bisa melalui media pot, paralon bekas, kaleng bekas dan media-media yang lain.
Terus terang banyak mengambil manfaat dari membaca portal yang dimiliki Indonesia Berkebun. Banyak ilmu dan metode yang dapat diambil, terutama untuk
terus mempertahankan nyala semangat berkebun.
Intinya adalah, kita memanfaatkan
sejengkal dua jengkal lahan di rumah kita untuk memenuhi kebutuhan sayur-mayur
maupun buah secara mandiri. Kalau kita menanam sayuran sendiri, kita pasti
turut memastikan bahwa sayuran kelak yang akan dipanen dan kita makan itu bebas
dari paparan pestisida maupun bahan-bahan kimia berbahaya lainnya.
Jadi
bayangkan, semakin banyak orang yang berpikir sama, semakin besar pula efeknya
buat bangsa ini. Lingkungan semakin hijau dan keluarga-keluarga semakin sehat karena mengonsumsi makanan sehat.
Pernah suatu kali mengunjungi rumah
saudara (sayang tidak difoto saaat itu), yang bertanam beraneka rupa sayuran.
Rumah beliau ini berada di suatu perkampungan padat di Jakarta Timur. Tidak ada
lahan kosong, beliau hanya memanfaatkan loteng rumahnya untuk menampung beragam
sayuran yang ditanam melalui media pot, kaleng bekas dan sebaginya. Kebutuhan
sayur mayur sehari-hari keluarga itu terpenuhi darinya. Menyenangkan bukan?
Kebetulan di rumah ada beberapa lahan kosong. Kenapa tidak dimanfaatkan saja
buat berkebun, dan tenyata semua anggota keluarga di rumah setuju. Lahan bekas
tumpukan sampah dikonversi menjadi kebun sayuran. Alhamdulillah, sampai saat
ini sebagian besar kebutuhan sayuran terpenuhi dari kebun ini.
Nah, beberapa
minggu yang lalu, dihubungi mbak Indri melalui akun twitternya (@indriseska)
tentang kegiatan Plant and Play yang diselenggarakan oleh Indonesia Berkebun
bekerjasama dengan PT Ultrajaya Milk Industry Ltd.
Inti dari kegiatan ini
adalah berterimakasih pada alam yang selama ini kita diami dengan semangat
menghijaukan alam melalui berkebun.
Kegiatan tersebut tentu saja sangat
menarik, tawaran mbak Indri langsung diiyakan. Karena tinggal di Cibinong,
Kabupaten Bogor, maka paket Plant and Play ini oleh mbak Indri dititipkan ke
mbak retno (@retnoneo) sebagai koordinator Bogor Berkebun (@bgrberkebun)
Kebetulan karena sedang sering berkegiatan di kampus IPB Baranangsiang, maka
berjanji untuk bertemu dengan mbak Retno di Cafe Koleksi IPB. Tanpa ada
hambatan yang berarti akhirnya mendapatkan paket plat and play dan
berkesempatan mengikuti lomba (masih bisa tidak ya? ^.^ )
Paket ini terdiri
dari benih timun, bayam dan kangkung dilengkapi dengan pupuk cair Agrobost dan
Humagold.
Agak lama paket ini teronggok di dapur, maklum karena berbagai
kesibukan anggota keluarga sampai belum sempat untuk menyemai benih-benih ini.
Akhirnya di sela-sela hari-hari yang berhujan, benih-benih ini disemai di pot.
Biasanya kami memang menyemai dulu benih di pot baru kemudian di pindah ke
kebun.
Berdasarkan pengalaman, benih yang langsung disemai di kebun biasanya
menjadi rebutan santapan burung-burung, entahlah bagaimana burung-burung itu
mengetahui kalau ada benih-benih sayuran.
Kadangkala, Benih yang masih kecil
ini juga menjadi santapan para kelinci yang sedang refresing keluar dari
kandangnya. Meskipun demikian, kami biasanya membiarkan para kelinci turut
menikmati sayuran organik yang mulai siap dipetik/ditanam.
Benih bayam,
kangkung dan timun ini disemai dalam pot yang sudah diisi dengan tanah, kompos
dan pupuk hewan. Secara berkala kami membuat kompos sendiri yang berasal dari
babatan rumput di teras rumah.
Tulisan ini sebenarnya untuk penulisan diary program Plant and Play di sini. Tapi, di diary itu tulisan tidak bisa rapi karena tidak dimungkinkan spasi antar paragraf sehingga seolah tulisan 'uyel-uyelan'. Karena itu, aku rewrite dan di taruh di blog ini biar lebih enak dan mudah dibaca.
Tulisan yang hampir sama pernah juga ditulis di sini



No comments:
Post a Comment