Hari
ini tanggal 22 April, artinya kemarin adalah tanggal 21 April. Di Indonesia
tanggal 21 April biasa diperingati sebagai hari Kartini karena pada tanggal itu
R.A Kartini, seorang bangsawan Jawa yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan
perempuan pribumi
lahir.
Apa
yang terlintas dalam pikiran kamu ketika tanggal 21 April memperingati hari Kartini?
Sanggul?
Kebaya?
Lomba
memasak?
Emansipasi?
Kesetaraan
gender?
Feminisme?
Nah
kalau emansipasi? Apa yang dimaksud dengan emansipasi?
Baik,
aku ambil definisi emansipasi dari KBBI:
eman·si·pa·si /émansipasi/ n 1
pembebasan dr perbudakan; 2 persamaan hak dl berbagai aspek kehidupan
masyarakat (spt persamaan hak kaum wanita dng kaum pria): Kartini adalah
tokoh----wanitaIndonesia;
-- wanita proses pelepasan diri para wanita dr kedudukan sosial ekonomi yg rendah atau dr pengekangan hukum yg membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju.
-- wanita proses pelepasan diri para wanita dr kedudukan sosial ekonomi yg rendah atau dr pengekangan hukum yg membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju.
Masih menurut KBBI, fe·mi·nis·me /féminisme/ n gerakan wanita yg menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria
Terus,
apa itu yang dimaksud dengan kesetaraan jender?
Berdasarkan
definisi yang disunting banyak orang di Wikipedia, Kesetaraan jender atau
Pengarusutamaan gender atau disingkat PUG adalah strategi yang
dilakukan secara rasional dan sistimatis untuk mencapai dan mewujudkan
kesetaraan dan keadilan gender dalam sejumlah aspek kehidupan manusia (rumah tangga, masyarakat
dan negara),
melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi,
kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam perencanaan,
pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program
diberbagai bidang kehidupan dan pembangunan.
Dari
definisi terbatas ketiga istilah di atas, bagaimana pendapat kamu?
Apa
yang dimaksud dengan emansipasi, feminism dan keseteraan jender menurut kamu?
Jadi
teringat dengan diskusi minggu yang lalu, saat salah seorang teman mendapatkan
tugas untuk mengkritisi Rancangan Undang-undang Keadilan dan
Kesetaraan Gender (RUU KKG). RUU KKG ini sudah mulai dibahas secara
terbuka di DPR dan suara pro-kontra mulai bermunculan.
RUU
KKG ini muncul karena adanya “Deklarasi Milenium”. Pada tahun 2000, para
pemimpin dunia bertemu di New York dan menandatangani sebuah deklarasi yang
berisi komitmen untuk mempercepat pembangunan manusia dan pemberantasan
kemiskinan. Hal ini menjadi dasar dari tersusunnya pencapaian tingkat
kesejahteraan umat manusia pada seribu tahun yang akan datang. Komitmen
tersebut diterjemahkan menjadi beberapa tujuan dan target yang dikenal sebagai Millennium
Development Goals (MDGs).
MDGs
atau tujuan pembangunan milenium adalah upaya untuk memenuhi hak-hak dasar
kebutuhan manusia melalui komitmen bersama antara 189 negara anggota PBB untuk
melaksanakan delapan tujuan pembangunan, yaitu: menanggulangi kemiskinan dan
kelaparan, mencapai pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan gender
dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan
kesehatan ibu, memerangi penyebaran HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular
lainnya, kelestarian lingkungan hidup, serta membangun kemitraan global dalam pembangunan.
Sebagai
salah satu anggota PBB, Indonesia memiliki dan ikut melaksanakan komitmen
tersebut dalam upaya untuk mensejahterakan masyarakat, salah satunya dengan
merintis terbentuknya UU Keadilan dan Kesetaraan Gender.
Seperti
yang aku sebutkan di atas. Banyak pro dan kontra terhadap RUU ini. Yang kontra
terutama berasal dari kaum muslim, yang telah memiliki aturan/rule baku yang
sangat jauh berbeda dengan RUU ini. Salah satu yang kontra (aku sitasi
dari sini) adalah:
Komunitas
Muslimah untuk Kajian Islam (KMKI) menolak secara keseluruhan pasal demi pasal
dalam RUU Kesetaraan Gender, karena dinilai sebagai produk sekuler yang bertentangan
dengan Islam dan fitrah manusia. KMKI, menolak seluruh pasal dalam RUU
Kesetaraan Gender karena empat alasan:
Pertama, RUU ini bersifat sekular
dan tidak berlandaskan nilai-nilai agama sehingga bertentangan dengan dasar
Ketuhanan Yang Maha Esa, yakni pengakuan kepada Allah Yang Mahakuasa sebagai
penganugerah nikmat kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Padahal
Pembukaan UUD 1945 menyatakan, bahwa bangsa Indonesia telah mengakui Allah SWT
sebagai Tuhan mereka, dan seharusnya juga mengakui kedaulatan Allah Yang Maha
Kuasa untuk mengatur kehidupan mereka.
Kedua, RUU ini terlalu
memaksakan nilai-nilai lokal peradaban Barat yang sekular, liberal, dan
materialistik, tentang konsep dan kedudukan perempuan, menjadi
nilai-nilai universal yang harus dipeluk oleh semua bangsa di dunia. Padahal,
berbagai bangsa memiliki nilai-nilai yang khas, termasuk Indonesia.
Ketiga, RUU ini telah menafikan
dan mengecilkan arti dan peran perempuan sebagai Ibu Rumah Tangga, sebagai
pendamping suami dan pendidik anak-anaknya. Partisipasi perempuan dalam
pembangunan hanya diukur berdasarkan keaktifannya di ruang publik. Sangat
ironis, jika pandangan semacam ini diterapkan hanya untuk mengejar
peringkat Human Development Index.
Padahal,
konsep dan cara pandang seperti ini akan memunculkan ketidakharmonisan dan
bahkan penderitaan bagi perempuan itu sendiri, karena peran yang dijalankannya
didapat melalui belas kasih dan pemaksaan porsi gender dan bukan karena
kapabilitas dan kehormatan pribadinya.
Keempat, RUU ini bertentangan
fitrah manusia yang telah dikaruniakan Allah Yang Maha Kuasa, di mana
laki-laki dan perempuan diciptakan dengan potensi masing-masing untuk saling
melengkapi dan bekerjasama dalam berbagai aspek kehidupan. Allah Yang
Maha Kuasa telah menempatkan laki-laki sebagai pemimpin dan penganggung jawab
keluarga yang wajib berlaku adil, beradab, dan penuh kasih sayang,
dalam ber-mu’asyarah dengan perempuan.
Untuk
menghindari bahaya RUU Kesetaraan Gender itu, KMKI mendesak DPR dan pemerintah
agar menganulirnya dan segera menyusun RUU Keluarga Bahagia dan Sejahtera
sebagai alternatifnya :)
Dan
masih banyak lagi yang kontra terhadap RUU ini.
Jadi,
boleh dong aku berpendapat terhadap apa itu emansipasi atau kesetaraan gender
dalam kacamata aku sebagai seorang perempuan, seorang istri, seorang ibu dan
seorang perempuan bekerja.
Begini,
seperti yang pernah aku bilang, menjadi perempuan itu adalah given,
takdir, garis tangan, anugerah dari Yang Maha Kuasa. Sedangkan menjadi istri,
ibu dan perempuan bekerja di luar rumah itu adalah pilihan dan hak
masing-masing seorang perempuan (tentu saja dalam lingkup terbatas karena aku
tinggal di Indonesia dengan segala aturan dan budaya yang melatarbelakanginya,
jangan bandingkan kalau aku menjadi WN Arab Saudi misalnya, atau menjadi anggota dari kelompok
tertentu dengan keyakinannya).
Menurutku,
menjadi perempuan di Indonesia harus sangat disyukuri. Makanya sangat
berterimakasih kepada RA Kartini karena menginisiasi dan membuka budaya untuk membebasakan perempuan
dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan keahlian melalui pendidikan saat
itu.
Saat
ini, perempuan di Indonesia mendapatkan kesempatan yang luas untuk banyak hal,
sama luasnya dengan kesempatan yang dimiliki laki-laki. Seorang perempuan bebas
melanjutkan jenjang pendidikannya dan memilih pekerjaan yang diinginkannya
asalkan mampu serta sesuai dengan kodratnya. Jalan terbentang luas, tinggal
perempuan itu menentukan jalan yang dipilihnya.
Perempuan
Menurut
Wikipedia, Perempuan adalah salah satu dari dua jenis kelamin manusia; satunya
lagi adalah lelaki
atau pria. Berbeda
dari wanita,
istilah "perempuan" dapat merujuk kepada orang yang telah dewasa maupun yang
masih anak-anak.
Kedudukan
perempuan dan laki-laki di hadapan Tuhan Yang Maha Pencipta adalah sama.
Tergantung tingkat ketaatan dan ketaqwaan kepada Tuhannya.
Lounn Brizendine, M.D. (yang aku baca dari sini), seorang dokter
syaraf di University of California, San Francisco, AS, lulusan Fakultas
Kedokteran Harvard menulis tentang The Female Brain
dan The Male Brain.
Melalui penelitian dan pengalamannya yang panjang,
selama 25 tahun sebagai dokter, Brizendine menemukan bahwa sejak awal
mula kelahirannya, laki-laki dan perempuan sudah memiliki berbagai perbedaan.
Bukan hanya fisik, tetapi juga otak, sifat dan perilakunya.
Louann
Brizendine mengungkapkan: “Di dalam otak perempuan, hormon estrogen,
progresteron, dan oksitonin memengaruhi sirkuit otaknya terhadap perilaku khas
perempuan… Dampak perilaku dari hormon pria dan wanita pada otak sangat
besar.” (hal. 15).
“Laki-laki
juga memiliki pusat otak yang lebih besar untuk tindakan yang memerlukan otot
dan agresi. Area otak untuk melindungi pasangan dan mempertahankan wilayah yang
menjadi tindakan utama dimulai pada masa pubertas. Masalah struktur kekuatan
dan hierarki lebih berpengaruh bagi laki-laki daripada yang disadari
banyak perempuan. Laki-laki juga memiliki pemroses yang lebih besar di inti
bidang otak yang paling primitif, yang menyalakan rasa takut dan memicu agresi
protektif, yaitu amigdala.” (hal. 17).
Dari
situ sudah jelas, bahwa pada dasarnya perempuan dan laki-laki memang berbeda.
Diciptakan memang untuk saling mengisi dan melengkapi.
Perempuan
sebagai istri dan ibu
Menjadi
perempuan adalah given. Namun menjadi seorang istri atau ibu adalah
pilihan. Zaman sekarang pilihan itu sudah semakin terbuka. Ada beberapa orang
yang memilih dan memutuskan untuk hidup sendiri, karena mereka merasa nyaman
dengan kondisi itu, be single and happy. Banyak juga yang melakukan
pernikahan namun memutuskan untuk tidak memiliki anak dengan berbagai alasan
dan pertimbangan tentu saja.
Relasi
antara suami dan istri adalah equal dan sejajar. Sama-sama. Saling mendukung
dan melengkapi. Namun begitu, harus dipahami bahwa laki-laki adalah imam dalam
keluarga itu. Pilot dan co pilot. Masing-masing memilki tugas dan peran yang
tidak kalah pentingnya. Apapun keputusan yang diambil oleh keluarga itu
berdasarkan diskusi antara suami dan istri. Keberlangsungan keluarga itu tidak akan berjalan secara smooth
kalau keputusan diambil sepihak dan mengabaikan pihak yang lain.
Dimana
bumi dipijak di situ langit dijunjung. Sebagai seorang istri dan atau ibu,
perempuan tetap harus menyesuaikan dengan rule, aturan, norma dan tentu saja
nurani. Ketika aturan mengijinkan namun nurani berontak, berarti ada sesuatu yang yang
tidak sesuai.
Perempuan
bekerja di luar rumah
Seperti
yang disebutkan tadi, perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama
luasnya. Saat ini banyak perempuan yang menduduki jabatan tinggi dengan lingkup
pekerjaan yang luas dengan membawahi ribuan pegawai.
Meskipun
berbeda secara fisik dan psikis, namun perempuan juga bisa mendapatkan hal yang
sama yang bisa diraih oleh seorang laki-laki.
Di
lembaga tempat aku bekerja dipimpin oleh seorang profesor riset (jabatan
tertinggi bagi seorang peneliti) yang juga seorang istri dan ibu dari empat
orang anak. Dari empat bidang, tiga bidang substansi diantaranya dipimpin oleh seorang
perempuan. Lingkup pekerjaan di lembaga ini juga bukan hanya tingkat daerah,
namun juga nasional dan internasional. Asal
mengikuti SOP/rule yang berlaku, tidak ada yang membedakan ketika dipimpin oleh seorang
perempuan maupun laki-laki, yang membedakan hanya karakter dan gaya kepemimpinannya.
Makanya,
jadi bingung saat mengisi kuesioner dari sebuah majalah wanita tentang
kesetaraan gender dalam sebuah tempat
bekerja (dalam rangka mengimplementasikan semangat MDGs). Di Lembaga tempat aku bekerja, hampir tidak ada perbedaan antara laki-laki dan
perempuan. Asal mampu dan berkompeten, akan memperoleh kesempatan dan kedudukan
yang sama.
Jadi
intinya adalah kompetensi. Perempuan tidak usah merengek-rengek minta
disamakan kedudukannya dalam segala aspek kehidupan, karena dalam beberapa
aspek perempuan akan mendapatkan hak dan kesempatan seluas dan setara
laki-laki, asal dia mampu dan berkompeten. Namun dalam aspek-aspek tertentu
perempuan juga harus tahu diri dan sadar dengan kodrat atau fitrahnya.
Dimana
bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Perempuan sebagai seorang istri dan atau
ibu, atau sebagai seorang perempuan yang bekerja di luar rumah tetap harus
mengikuti rule yang berlaku, serta tetap harus selalu menanyakannya ke hati
nurani, karena nurani akan menjadi rambu yang tidak pernah berbohong.
Tulisan lain:
http://nisa97.blogspot.com/2010/11/menjadi-ibu.html
*Hari minggu memang selalu menyenangkan :)
Tulisan lain:
http://nisa97.blogspot.com/2010/11/menjadi-ibu.html
*Hari minggu memang selalu menyenangkan :)

No comments:
Post a Comment