22.4.12

Kartini --> emansipasi --> kompetensi


Hari ini tanggal 22 April, artinya kemarin adalah tanggal 21 April. Di Indonesia tanggal 21 April biasa diperingati sebagai hari Kartini karena pada tanggal itu R.A Kartini, seorang bangsawan Jawa yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi lahir.

Apa yang terlintas dalam pikiran kamu ketika tanggal 21 April memperingati hari Kartini?
Sanggul?
Kebaya?
Lomba memasak?
Emansipasi?
Kesetaraan gender?
Feminisme?

Sangul, kebaya dan lomba memasak sudah sangat jelas. Semua orang dengan mudah memahaminya.

Nah kalau emansipasi? Apa yang dimaksud dengan emansipasi?

Baik, aku ambil definisi emansipasi dari KBBI:
eman·si·pa·si /émansipasi/ n 1 pembebasan dr perbudakan; 2 persamaan hak dl berbagai aspek kehidupan masyarakat (spt persamaan hak kaum wanita dng kaum pria): Kartini adalah tokoh----wanitaIndonesia;
-- wanita proses pelepasan diri para wanita dr kedudukan sosial ekonomi yg rendah atau dr pengekangan hukum yg membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju.


Masih menurut KBBI, fe·mi·nis·me /féminisme/ n gerakan wanita yg menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria

Terus, apa itu yang dimaksud dengan kesetaraan jender?

Berdasarkan definisi yang disunting banyak orang di Wikipedia, Kesetaraan jender atau Pengarusutamaan gender atau disingkat PUG adalah strategi yang dilakukan secara rasional dan sistimatis untuk mencapai dan mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam sejumlah aspek kehidupan manusia (rumah tangga, masyarakat dan negara), melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program diberbagai bidang kehidupan dan pembangunan.

Dari definisi terbatas ketiga istilah di atas, bagaimana pendapat kamu?
Apa yang dimaksud dengan emansipasi, feminism dan keseteraan jender menurut kamu?

Jadi teringat dengan diskusi minggu yang lalu, saat salah seorang teman mendapatkan tugas untuk mengkritisi Rancangan Undang-undang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG). RUU KKG ini sudah mulai dibahas secara terbuka di DPR dan suara pro-kontra mulai bermunculan.

RUU KKG ini muncul  karena adanya “Deklarasi Milenium”. Pada tahun 2000, para pemimpin dunia bertemu di New York dan menandatangani sebuah deklarasi yang berisi komitmen untuk mempercepat pembangunan manusia dan pemberantasan kemiskinan. Hal ini menjadi dasar dari tersusunnya pencapaian tingkat kesejahteraan umat manusia pada seribu tahun yang akan datang. Komitmen tersebut diterjemahkan menjadi beberapa tujuan dan target yang dikenal sebagai Millennium Development Goals (MDGs). 

MDGs atau tujuan pembangunan milenium adalah upaya untuk memenuhi hak-hak dasar kebutuhan manusia melalui komitmen bersama antara 189 negara anggota PBB untuk melaksanakan delapan tujuan pembangunan, yaitu: menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi penyebaran HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya, kelestarian lingkungan hidup, serta membangun kemitraan global dalam pembangunan.

Sebagai salah satu anggota PBB, Indonesia memiliki dan ikut melaksanakan komitmen tersebut dalam upaya untuk mensejahterakan masyarakat, salah satunya dengan merintis terbentuknya UU Keadilan dan Kesetaraan Gender.

Seperti yang aku sebutkan di atas. Banyak pro dan kontra terhadap RUU ini. Yang kontra terutama berasal dari kaum muslim, yang telah memiliki aturan/rule baku yang sangat jauh berbeda dengan RUU ini. Salah satu yang kontra (aku sitasi dari sini) adalah: 
Komunitas Muslimah untuk Kajian Islam (KMKI) menolak secara keseluruhan pasal demi pasal dalam RUU Kesetaraan Gender, karena dinilai sebagai produk sekuler yang bertentangan dengan Islam dan fitrah manusia. KMKI,  menolak seluruh pasal dalam RUU Kesetaraan Gender karena empat alasan:

Pertama, RUU ini bersifat sekular dan tidak berlandaskan nilai-nilai agama sehingga bertentangan dengan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, yakni pengakuan kepada Allah Yang Mahakuasa sebagai penganugerah nikmat kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Padahal Pembukaan UUD 1945 menyatakan, bahwa bangsa Indonesia telah mengakui Allah SWT sebagai Tuhan mereka, dan seharusnya juga mengakui kedaulatan Allah Yang Maha Kuasa untuk mengatur kehidupan mereka.

Kedua, RUU ini terlalu memaksakan nilai-nilai lokal peradaban Barat yang sekular,  liberal, dan materialistik,  tentang konsep dan kedudukan perempuan,  menjadi nilai-nilai universal yang harus dipeluk oleh semua bangsa di dunia. Padahal, berbagai bangsa memiliki nilai-nilai yang khas, termasuk Indonesia.

Ketiga, RUU ini telah menafikan dan mengecilkan arti dan peran perempuan sebagai Ibu Rumah Tangga, sebagai pendamping suami dan pendidik anak-anaknya. Partisipasi perempuan dalam pembangunan hanya diukur berdasarkan keaktifannya di ruang publik.  Sangat ironis, jika pandangan semacam ini diterapkan hanya untuk mengejar peringkat Human Development Index.

Padahal, konsep dan cara pandang seperti ini akan memunculkan ketidakharmonisan dan bahkan penderitaan bagi perempuan itu sendiri, karena peran yang dijalankannya didapat melalui belas kasih dan pemaksaan porsi gender dan bukan karena kapabilitas dan kehormatan pribadinya.

Keempat, RUU ini bertentangan fitrah manusia yang telah dikaruniakan Allah Yang Maha Kuasa,  di mana laki-laki dan perempuan diciptakan dengan potensi masing-masing untuk saling melengkapi dan bekerjasama dalam berbagai aspek kehidupan.  Allah Yang Maha Kuasa telah menempatkan laki-laki sebagai pemimpin dan penganggung jawab keluarga yang wajib berlaku adil, beradab, dan penuh  kasih sayang,  dalam ber-mu’asyarah dengan perempuan.

Untuk menghindari bahaya RUU Kesetaraan Gender itu, KMKI mendesak DPR dan pemerintah agar menganulirnya dan segera menyusun RUU Keluarga Bahagia dan Sejahtera sebagai alternatifnya :)

Dan masih banyak lagi yang kontra terhadap RUU ini. 

Jadi, boleh dong aku berpendapat terhadap apa itu emansipasi atau kesetaraan gender dalam kacamata aku sebagai seorang perempuan, seorang istri, seorang ibu dan seorang perempuan bekerja.

Begini, seperti yang pernah aku bilang, menjadi perempuan itu adalah given, takdir, garis tangan, anugerah dari Yang Maha Kuasa. Sedangkan menjadi istri, ibu dan perempuan bekerja di luar rumah itu adalah pilihan dan hak masing-masing seorang perempuan (tentu saja dalam lingkup terbatas karena aku tinggal di Indonesia dengan segala aturan dan budaya yang melatarbelakanginya, jangan bandingkan kalau aku menjadi WN Arab Saudi misalnya, atau menjadi anggota dari  kelompok tertentu dengan keyakinannya).

Menurutku, menjadi perempuan di Indonesia harus sangat disyukuri. Makanya sangat berterimakasih kepada RA Kartini karena menginisiasi dan membuka budaya untuk membebasakan perempuan dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan keahlian melalui pendidikan saat itu.

Saat ini, perempuan di Indonesia mendapatkan kesempatan yang luas untuk banyak hal, sama luasnya dengan kesempatan yang dimiliki laki-laki. Seorang perempuan bebas melanjutkan jenjang pendidikannya dan memilih pekerjaan yang diinginkannya asalkan mampu serta sesuai dengan kodratnya. Jalan terbentang luas, tinggal perempuan itu menentukan jalan yang dipilihnya.

Perempuan
Menurut Wikipedia, Perempuan adalah salah satu dari dua jenis kelamin manusia; satunya lagi adalah lelaki atau pria. Berbeda dari wanita, istilah "perempuan" dapat merujuk kepada orang yang telah dewasa maupun yang masih anak-anak.

Kedudukan perempuan dan laki-laki di hadapan Tuhan Yang Maha Pencipta adalah sama. Tergantung tingkat ketaatan dan ketaqwaan kepada Tuhannya. 

Lounn Brizendine, M.D. (yang aku baca dari sini), seorang dokter syaraf di University of California, San Francisco, AS, lulusan Fakultas Kedokteran Harvard menulis tentang The Female Brain dan The Male Brain. 

Melalui penelitian dan pengalamannya yang  panjang, selama 25 tahun sebagai dokter,  Brizendine menemukan bahwa sejak awal mula kelahirannya, laki-laki dan perempuan sudah memiliki berbagai perbedaan. Bukan hanya fisik, tetapi juga otak, sifat dan perilakunya.

Louann Brizendine mengungkapkan: “Di dalam otak perempuan, hormon estrogen, progresteron, dan oksitonin memengaruhi sirkuit otaknya terhadap perilaku khas perempuan… Dampak perilaku dari hormon pria dan wanita pada otak sangat besar.”  (hal. 15).

“Laki-laki juga memiliki pusat otak yang lebih besar untuk tindakan yang memerlukan otot dan agresi. Area otak untuk melindungi pasangan dan mempertahankan wilayah yang menjadi tindakan utama dimulai pada masa pubertas. Masalah struktur kekuatan dan hierarki  lebih berpengaruh bagi laki-laki daripada yang disadari banyak perempuan. Laki-laki juga memiliki pemroses yang lebih besar di inti bidang otak yang paling primitif, yang menyalakan rasa takut dan memicu agresi protektif, yaitu amigdala.” (hal. 17).

Dari situ sudah jelas, bahwa pada dasarnya perempuan dan laki-laki memang berbeda. Diciptakan memang untuk saling mengisi dan melengkapi.

Perempuan sebagai istri dan ibu
Menjadi perempuan adalah given. Namun menjadi seorang istri atau ibu adalah pilihan. Zaman sekarang pilihan itu sudah semakin terbuka. Ada beberapa orang yang memilih dan memutuskan untuk hidup sendiri, karena mereka merasa nyaman dengan kondisi itu, be single and happy. Banyak juga yang melakukan pernikahan namun memutuskan untuk tidak memiliki anak dengan berbagai alasan dan pertimbangan tentu saja. 

Relasi antara suami dan istri adalah equal dan sejajar. Sama-sama. Saling mendukung dan melengkapi. Namun begitu, harus dipahami bahwa laki-laki adalah imam dalam keluarga itu. Pilot dan co pilot. Masing-masing memilki tugas dan peran yang tidak kalah pentingnya. Apapun keputusan yang diambil oleh keluarga itu berdasarkan diskusi antara suami dan istri. Keberlangsungan keluarga itu tidak akan berjalan secara smooth  kalau keputusan diambil sepihak dan mengabaikan pihak yang lain.

Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Sebagai seorang istri dan atau ibu, perempuan tetap harus menyesuaikan dengan rule, aturan, norma dan tentu saja nurani. Ketika aturan mengijinkan namun nurani berontak, berarti ada sesuatu yang yang tidak sesuai.

Perempuan bekerja di luar rumah
Seperti yang disebutkan tadi, perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama luasnya. Saat ini banyak perempuan yang menduduki jabatan tinggi dengan lingkup pekerjaan yang luas dengan membawahi ribuan pegawai.

Meskipun berbeda secara fisik dan psikis, namun perempuan juga bisa mendapatkan hal yang sama yang bisa diraih oleh seorang laki-laki. 

Di lembaga tempat aku bekerja dipimpin oleh seorang profesor riset (jabatan tertinggi bagi seorang peneliti) yang juga seorang istri dan ibu dari empat orang anak. Dari empat bidang, tiga bidang substansi diantaranya dipimpin oleh seorang perempuan. Lingkup pekerjaan di lembaga ini juga bukan hanya tingkat daerah, namun juga nasional dan internasional. Asal mengikuti SOP/rule yang berlaku, tidak ada yang membedakan ketika dipimpin oleh seorang perempuan maupun laki-laki, yang membedakan hanya karakter dan gaya kepemimpinannya.

Makanya, jadi bingung saat mengisi kuesioner dari sebuah majalah wanita tentang kesetaraan gender dalam sebuah tempat bekerja (dalam rangka mengimplementasikan semangat MDGs). Di Lembaga tempat aku bekerja, hampir tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Asal mampu dan berkompeten, akan memperoleh kesempatan dan kedudukan yang sama.

Jadi intinya adalah kompetensi. Perempuan tidak usah merengek-rengek minta disamakan kedudukannya dalam segala aspek kehidupan, karena dalam beberapa aspek perempuan akan mendapatkan hak dan kesempatan seluas dan setara laki-laki, asal dia mampu dan berkompeten. Namun dalam aspek-aspek tertentu perempuan juga harus tahu diri dan sadar dengan kodrat atau fitrahnya.

Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Perempuan sebagai seorang istri dan atau ibu, atau sebagai seorang perempuan yang bekerja di luar rumah tetap harus mengikuti rule yang berlaku, serta tetap harus selalu menanyakannya ke hati nurani, karena nurani akan menjadi rambu yang tidak pernah berbohong.

Tulisan lain: 
http://nisa97.blogspot.com/2010/11/menjadi-ibu.html

*Hari minggu memang selalu menyenangkan :)

No comments: