-Randolph Henry
Ash-
Kata-kata
romantis diatas terpatri penuh rapi dalam surat cinta seorang pujangga era
Victoria, Randolph Henry Ash yang dialamatkan untuk seorang penggemar sekaligus
cinta terlarangnya, Christabel La Motte. Benarkah Randolph Henry Ash adalah
salah satu penyair kenamaan Inggris? Tentunya bagi penonton yang buta akan
sejarah kesusastraan Inggris pasti menelan bulat-bulat karakter Ash dalam
Possession ini sebagai tokoh nonfiksi. Padahal Randolph Henry Ash hanyalah
karakter rekaan A. S. Byatt dalam novel fiksinya yang berjudul Possession: A
Romance.
Sang sutradara,
Neil LaBute (Death At a Funeral, The Wicker Man, Your Friends & amp; Neighbors)
mengadaptasi novel terlaris di UK tahun 1990 ini penuh dengan keruwetan yang
dihantar oleh kata-kata romantis sang karakter pujangga sentral kedalam misteri
yang memberi kejutan diantara dua hubungan di masa silam.
Ya, Possession
adalah misteri dari skandal cinta sejati antara Randolph Henry Ash dan
Christabel La Motte yang ingin dipecahkan oleh Roland Michell seorang asisten peneliti
sastra berkebangsaan Amerika. Rolland pun mulai mengumpulkan petunjuk tentang
kemana sesungguhnya hubungan Ash dan Christabel akan bermuara.
Hanya lewat
surat-surat cinta Ash yang penuh diksi romantis itulah teka-teki skandal yang
ditutupinya dari sejarah dan istrinya sedikit demi sedikit mulai terungkap.
Bumbu-bumbu cinta tak hanya menghiasi flashback kisah Ash dan Christabel
lewat interpretasi surat cinta mereka, Rolland tak pelak merasakan
letupan-letupan cinta antara dirinya dengan Maud -partner penelitinya yang ahli
tentang riwayat Christabel.
Possession seakan
memberikan konektifitas cinta antara dua masa yang berbeda yaitu kisah
cinta historik Ash-Christabel dan romantisme kekinian Rolland-Maud. Penonton
benar-benar diajak untuk memecahkan misteri percintaan sekaligus napak tilas ke
tempat-tempat bersejarah dimana kenangan indah Ash dan Christabel tertanam
disana.
Possession
menawarkan formula sederhana dalam drama percintaan yang dibungkus elemen
sejarah meskipun secara keseluruhan cerita yang ditawarkan hanya fiksi belaka.
Kemampuan kemasan cerita yang menampilkan teka-teki yang harus dipecahkan
melalui surat-surat cinta sang pujangga, dimana tokoh Rolland dan Maud
diharapkan mampu menganalisanya dengan tepat mampu membuat atmosfer film ini
begitu romantis.
Memang lebih
mengarah ke misteri dan investigasi, namun Possession memiliki plot yang dengan
ampuhnya menelanjangi hati setiap penonton dengan puisi cinta khususnya untuk
para penonton wanita. Penampilan Aaron Eckhart dan Gwyneth Paltrow barangkali
tidaklah terlalu istimewa sebagai dua peneliti yang terjebak oleh obsesi kisah
Ash – Christabel serta kehadiran cinta yang penuh dilema diantara mereka
berdua.
Begitu pula
dengan kilasan karakter Ash-Christabel yang dimainkan oleh Jeremy Northam serta
Jennifer Ehle sudahlah sangat pas dan tak berlebihan. Meski begitu mereka
berempat; baik antara Northam – Ehle serta Eckhart – Paltrow mampu menciptakan chemistry
yang romantis antara hubungan mereka masing-masing.
Sinematografi yang
mengesankan melalui pemandangan Inggris dimasa silam dengan perbandingan
arsitektur kekiniannya begitu menawan dihadirkan. Sinema ini dinominasikan dan
mendapatlan penghargaan dari Man Booker Prize dan Irish Times-Aer Lingus
International Fiction Prize
Bumbu-bumbu
sejarah yang ingin diwakilkan juga tampil penuh meyakinkan sehingga menutupi
kesan fiksi dalam film ini. Ilustrasi musik yang membungkus cerita mungkin
tidak terlalu fantastis, namun kehadiran plot yang dieksekusi begitu romantis
inilah yang mampu menahan mata penonton untuk menanti-nanti endingnya.
Sinopsis dan
gambar seluruhnya aku ambil dari http://delupher.wordpress.com/2010/08/27/possession-2002-menemukan-riwayat-skandal-cinta-sang-pujangga/
No comments:
Post a Comment