13.10.11

I am Sam - Ayah Autis


Usai kelas adalah saatnya me time. Menonton tv dari movie ke movie. Nah, semalam aku nonton I am Sam di HBO. Film drama yang menarik, mengisahkan tentang seorang autis yang menjadi seorang ayah dari seorang gadis kecil. Tak heran, film ini menuai banyak award. (Daftar award terlampir di akhir tulisan ini).

Sam Dawson -yang diperankan sangat apik oleh Sean Penn- adalah seorang pria dengan cacat mental, autis lebih tepatnya. Entah bagaimana ceritanya (aku tidak sempat menonton sejak awal) dia bisa membuat hamil seorang tunawisma. Setelah melahirkan (yang ditunggui oleh Sam Dawson) serta merta si tunawisma itu pergi dan hilang jejak.

Bayangkan, seorang autis dengan bayi merah. Pernah suatu malam si bayi itu menangis tiada henti, sampai tetangganya menelpon menanyakan kenapa bayinya menangis terus. Ternayata bayi itu tidak pernah diberi susu atau minum, pantas saja. Annie (Dianne Wiest) si tetangga mengajari Sam untuk member minum bayinya tiap dua jam sekali.

Bayi itu tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik, dan dinamai Lucy Diamonds on The Sky dan dipanggil Lucy.
Lucy tumbuh besar dengan curahan kasih sayang ayahnya dan teman-teman ayahnya sesama penyandang autis. Ada sesi menarik saat Sam dan teman-temannya mengantar lucy membeli sepatu baru. Uang Sam tidak cukup untuk sepatu yang dipilih Lucy, teman-teman Sam yang autis sepakat untuk patungan agar Lucy dapat mebeli sepatu itu. Namanya autis, mereka tetap meminta bonus balon atas pembelian sepatu itu.

Meskipun Sam menyediakan lingkungan yang penuh kasih dan merawat Lucy dengan baik, namun tidak menurut dinas social. Intelengensi Sam yang setara dengan anak berusia tujuh tahun dianggap oleh dinas social tidak layak untuk mengasuh Lucy. Nah, disinilah permasalahan ini muncul. Lucy diambil paksa oleh dinas social. Terpisahkanlah mereka.

Atas saran teman-teman austisnya, Sam berusaha merebut kembali pengasuhan Lucy dari dinas social dengan menyewa pengacara. Temannya menunjukkan iklan seorang pengacara terkenal yang ada di yellow page. Terang aja sebenarnya Sam – yang hanya sebagai tukang bersh-bersih di starbuck- tidak akan mampu membayar pengacara terkenal itu.

Pengacara Rita Harrison (Michelle Pfeiffer) akhirnya (dengan terpaksa) menerima Sam sebagai kliennya untuk membuktikan kepada teman-temannya bahwa dia pro bono.

Dan dimulailah proses dari satu sidang ke sidang  yang lain. Pengadilan memutuskan untuk tetap menyerahkan Lucy di bawah pengasuhan dinas social. Pengadilan juga mengganggap bahwa Sam tidak cukup mampu untuk mengasuh Lucy, bagaimana ketika Lucy berumur delapan tahun melampui kecerdasan Sam yang setara anak umur tujuh tahun, bagaimana saat Lucy beranjak remaja, dan berbagai pertanyaan lainnya.

Lucy diputuskan diasuh oleh sebuah keluarga yang belum memiliki anak dan Sam diijinkan untuk mengunjunginya seminggu dua kali. Namun begitu, tiap malam Lucy menyelinap mengunjungi apartemen Sam untuk sekedar mendengarkan bacaan sebelum tidur -Sam sengaja menyewa apartemen dekat rumah orangtua asuh Lucy agar waktu dia tidak habis di jalan saat mengunjungi lucy yang hanya dapat jatah dua jam-Selalu begitu, tiap malam Lucy baru bisa tertidur setelah dibacakan cerita dan didekap oleh Sam. Mengharu biru.

Oya, selain kehidupan Sam yang mengharu biru, perlu juga diceritakan tentang pengacara Rita Harrison terutama tentang kehidupan pribadinya. Rita adalah seorang pengacara terkenal dan kaya, sukses dengan karirnya. Namun tidak dengan kehidupan pribadinya. Suaminya selingkuh dengan perempuan lain dan anak lelakinya tidak mau hanya sekedar bermain dengan Rita Ibunya, tipikal anak dari perempuan berkarir yang selalu ditinggal lembur. Tekanan dari persoalan kantor dan keluaraga membuat Rita menjadi pasien tetap seorang psikiater.

Dengan menangani kasus Sam ini membuka mata Rita bahwa Sam harus bekerja ekstra keras, berjuang untuk mendapatkan hak asuh atau pun hanya sekedar bertemu Lucy setiap saat, sementara dia tidak selalu dapat menemani anaknya bermain dan belajar karena tuntutan dan load pekerjaan.

Pointer yang aku dapat dari film ini adalah:
  • Aku sangat setuju dengan putusan pengadilan. Bukan aku tidak menghargai seorang difable. Bagaimanapun Sam akan menemui berbagai kesulitan dalam mengasuh Lucy. Kita, sebegai seorang dengan intelegensi rata-rata saja harus bertanya sana-sini (dari teman, literature, dll) saat kita menemui pemasalahan dalam pengasuhan anak.
  • Kita tidak boleh menyia-nyiakan amanah yang namanya anak yang telah dititipkan ke kita.
  • Anak tidak hanya membutuhkan berbagai fasilitas, namun yang terpenting adalah kasih sayang yang tulus dari orang tuanya.
  • Quality time vs Quantitas time intensitas pertemuan orang tua dan anak. Bagaimapun dua-duanya sangat dibutuhkan , tidak bisa salah satunya.
  • Sebagai perempuan bekerja, aku harus sangat komit untuk membagi waktu dengan cedas dan cermat untuk keluarga terutama anak-anak.

Dan, yang tidak boleh dilupakaan. Film ini juga dipenuhi dengan soundtrack-soundtrack yang pas yang mengiringi setiap adegannya. Pantas saja, film ini juga mendapatkan award untul album kompilasi soundtrack terbaik. Yes, here they are:
  • Two of Us by Aimee Mann and Michael Penn
  • Blackbird  by Sarah McLachlan
  • Across the Universe  performed by Rufus Wainwright
  • I’m Looking Through You by The Wallflowers
  • You’ve Got to Hide Your Love Away by Eddie Vedder
  • Strawberry Fields Forever by Ben Harper
  • Mother Nature’s Son by Sheryl Crow
  • Golden Slumbers by Ben Folds
  • I’m Only Sleeping by The Vines
  • Don’t Let Me Dow by Stereophonics
  • Lucy in the Sky with Diamonds by The Black Crowes
  • Julia by Chocolate Genius
  • We Can Work It Out by Heather Nova
  • Help! by Howie Day
  • Nowhere Man by Paul Westerberg
  • Revolution by Grandaddy
  • Let It Be by Nick Cave

Daftar Soundtracks diambil dari sini
Gambar dari sini
Referensi dari sini



No comments: