7.6.11

Antara Jakarta, Cibinong dan CSC




Lihat gambar di atas. Perasaan apa lagi yang dapat menceritakan keadaan itu: sedih, sumpek, kesel, marah, kejam, sadis dll. Status teman-teman di social network yang bekerja di ibukota dan tinggal di pinggiran Jakarta menceritakan hal yang sama: macet!. Acara news dan koran-koran memberitakan hal yang tidak berbeda, betapa lumpuhnya kota Jakarta apalagi saat diguyur hujan deras. Hujan dan banjir menyebabkan macet di mana-mana.

“Mbak, aku datang telat ya, masih terjebak macet di Jagorawi nih” bunyi sms Martin, temanku. Kasihan teman-teman yang melewati tol Jagorawi harus menjadi langganan macet tiap hari.

Arus lalu lintas di tol ini semakin hari semakin parah. Di samping karena volume kendaraan yang meningkat juga karena adanya proyek pelebaran jalan dari tiga ruas menjadi empat ruas. Proyek pelebaran ini dimulai dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sampai dengan Cibinong, sehingga terjadi penyempitan jalan hampir sepanjang 20km.

Dari pantauan Tempo, 500 meter keluar dari pintu tol Cibinong, laju kendaraan rata-rata hanya 10-20 kilometer per jam. Pemandangan ini sudah terlihat sejak pukul 05.00 WIB. Namun, kemacetan parah juga dialami teman-teman dari ruas tol Cimanggis sampai Universitas Kristen Indonesia (UKI).

Masih dari pantauan Tempo, beberapa pengemudi mobil pribadi yang tak sabar nekat menerobos bahu jalan yang ditutup di ruas Cibubur. Dari catatan sebelumnya, jalur Cibinong-UKI bisa ditempuh dalam waktu sekitar satu jam, tapi sekarang dibutuhkan waktu lebih dari dua jam untuk sampai di UKI.

Saat jam pulang kerja, dari pukul 17.00 sampai 23.00 WIB, kemacetan kembali terjadi di arah sebaliknya. Mulai keluar pintu tol UKI sampai Cibubur.

Direktur Utama PT Jasa Marga Frans Satyaki Sunito, mengatakan pelebaran jalan tol jalur tol TMII-Cibubur-Cibinong ini akan berlangsung selama lima bulan. Pihaknya menargetkan pelebaran jalan tol ini rampung pada akhir Agustus.

Frans mengatakan penambahan lajur tol menjadi empat lajur ini diharapkan membuat kapasitas jalan bertambah 25 persen. Penambahan ini diharapkan dapat mengurangi kepadatan kendaraan yang kerap terjadi, khususnya saat akhir pecan, saat orang-orang dari Jakarta dan sekitarnya berlibur ke Puncak. Menurutnya, proyek penambahan dari tiga lajur menjadi empat lajur ini membutuhkan dana Rp 200 miliar.

Macet benar-benar membuat hidup menjadi tidak produktif. Pagi-pagi, energi sudah dihabiskan untuk menghadapi kemacetan. Bagaimana tidak, hari-hari biasa saja Jakarta sudah macet, apalagi ditambah hujan dan banjir. Di saat macet dan ditambah banjir, pengguna jalan menjadi barbar. Mereka mengambil jalur yang sebenarnya tidak diijinkan, seperti motor masuk tol, tol menjadi dua arah, pembatas jalan diambil, lewat jalan-jalan kampung yang sempit, dll. Karena kalau tidak begitu, bagaimana kemacetan akan terurai dan kapan akan sampai rumah.

Eniwe, menceritakan tentang kemacetan jakarta yang makin memburuk memang tidak ada habisnya. okelah, kita serahkan saja pada ahlinya, bagaimana dia akan mempertanggungjawabkan janji-janjinya dulu waktu kampanye.

Puji syukur ke hadirat Ilahi Rabbi, salah satu yang harus disyukuri dalam hidup ini adalah aku bekerja dan tinggal di Cibinong. Hanya sesekali saja mendatangi ibukota dan tidak setiap hari. Alhamdulillah.

Banyak teman yang bertanya, "Cibinong itu dimana sih, deket tidak dengan Cikeas?"
Wah...kalah tenar rupanya Cibinong dengan Cikeas. Maklumlah di Cikeas ada kediaman pribadi SBY, jadi sering diekspos.

Padahal Cibinong adalah ibukota kabupaten Bogor. Cibinong sebagai ibukota Kabupaten Bogor terletak 46 KM selatan Jakarta dan 14 KM Utara Bogor. Cibinong pernah disiapkan menjadi pengganti kota pemerintahan Jakarta. Pada pertengahan 1980-an pernah muncul wacana untuk memindahkan ibu kota negara ke luar Jakarta, salah satu pilihannya ke Cibinong.

Di Cibinong itulah pusat pemerintahan kabupaten Bogor berada, dan di Cibinong pulalah Cibinong Science Center itu berdiri.

"Wah, apa pula itu Cibinong Science Center [biasa disingkat CSC]?"
CSC adalah kawasan science city/complex yang mengakomodasikan peneliti, laboratorium, sarana pendukung penelitian, perumahan dan fasilitas lainnya yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan penelitian secara terintegrasi. CSC menjadi pusat kegiatan riset dibawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Waktu itu diresmikan dan pembangunannya diawali dengan peletakan batu pertama oleh Presiden RI Ir. Sukarno pada tahun 1964. (Majalah Limnotek, Vol. 3 Nomor 1 Tahun 1995).

Di kawasan CSC berlangsung kegiatan pendayagunaan sumber daya hayati dan ilmu-ilmu terkait lainnya: biologi, bioteknologi, limnologi, oseanografi, geoteknologi, teknologi kimia dan fisika, pertanian, ekologi, hidrologi, kehutanan, dokumentasi dan informasi, demografi, sosial ekonomi, sistem informasi, dsb., dengan sasaran meningkatkan kesejahteraan manusia berdasar konsep-konsep kelestarian. Luaran kegiatan yang dilaksanakan merupakan masukan iptek yang terkendali yang menghasilkan alternatif pemanfaatan sumber daya alam nasional maupun dunia secara berkesinambungan (Majalah Limnotek, Vol. 3 Nomor 1 Tahun 1995).

Kawasan CSC juga berfungsi sebagai sumber data dan informasi untuk penelitian, pendidikan, pelatihan dan penyusunan kebijaksanaan nasional. Informasi menyangkut masalah konservasi, seleksi, introduksi dan perencanaan teknologi, informasi wilayah, bioindustri, dan pengembangan lingkungan. Kawasan CSC juga berfungsi untuk pelatihan dan peningkatan kemampuan nasional di bidang keilmuan yang berkaitan. (Laporan Masterplan CSC, 2009).

Saat ini CSC telah berkembang menjadi kawasan zona hijau dengan basis sentra ilmu pengetahuan dan teknologi. Kawasan CSC ini menjadi hutan kotanya kabupaten Bogor.



Dengan fasilitas yang ada di CSC -seperti perkantoran, ecology park, situ sebagai sumber air, wisma tamu, dll- kurang nyaman apalagi CSC sebagai tempat untuk bekerja? hehe, tidak ada. Sure!, kecuali beberapa hal kecil seperti, tidak adanya traffic light di jalan utama masuk gerbang CSC.


Sumber gambar dari sini dan sini
Referensi dari sini

No comments: