
“What’s in a name?” begitulah sastrawan Inggris, Shakespeare, berkata. Namun bagi kami, sebagai orang tua, menamai anak dengan nama yang baik sangatlah penting. Sebuah nama ibarat doa dan harapan orangtua terhadap anak. Yang namanya doa pasti untuk hal-hal yang baik.
Seorang anak yang dinamai dengan tidak baik tentunya sangat mengganggu secara psikologis ketika anak tersebut tumbuh dewasa.
Berdasarkan riwayat, seorang datang kepada Nabi Saw dan bertanya, ”Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?” Nabi SAW menjawab, “Memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hatirnu).” (HR. Aththusi).
Secara kami muslim, nama yang bagus belum tentu harus berbahasa Arab. Nama bagus bisa berasal dari bahasa-bahasa lain seperti Sangsekerta, Jepang, Jawa, dll.
Namun harus hati-hati, nama yang bagus dari suatu bahasa ternyata bisa berarti buruk dalam bahasa yang lain, seperti contoh kata “Tai” dari Cina berarti besar. Dalam bahasa Indonesia/Jawa “Tai” berarti kotoran, bisa-bisa si anak menjadi bahan tertawaan orang.
Memberi nama juga bukan berarti menggabungkan berbagai penggalan nama yang memiliki arti bagus untuk dijejerin dengan penggalan nama yang lain. Tidak masalah asal rangkaian nama itu tetap berarti bagus. Namun kalau akhirnya secara grammar atau arti, rangkaian nama itu menjadi berarti jelek, kenapa harus dipaksakan?
Bahkan, seringkali pemberian nama menyesuaikan dengan pakem suatu suku orangtua itu berasal. Misalnya, Yana Kusdiyana dan Iroh Siti Zahroh, kita langsung tahu bahwa beliau berdua ini merupakan urang Sunda. Sutikno, Hartono, Joko Supriyanto, Eko Susanto, Nurcahyo, pokoknya berakhir dengan huruf ‘o’ dan berawalan dengan 'su' identik dengan suku Jawa. Pun penambahan nama marga atau nama keluarga dari suatu suku seperti Pontas Sinaga, Hetty Simamora, Amir Asyikin Hasibuan, dll.
Jadi, kalau mau diandaikan, Bhineka tunggal ika dalam wacana nasionalisme dan kecirikhususan NKRI ini ada juga dalam pemberian nama setiap anak bangsa. Benar-benar bangsa yang unik dan plural.
Jadi, ketika akan memberi nama anak, sebaiknya bertanya kepada orang yang ahli dalam bahasa yang akan dipakai atau cari tahu/searching tentang nama itu sebanyak-banyaknya sampai benar-benar merasa yakin bahwa nama atau rangkaian nama tersebut berarti bagus.
Karena nama anak yang kami ambil berasal dari bahasa Arab, maka setiap kali kami memberi nama anak, kami selalu berkonsultasi dengan teman yang menurut kami kompetensinya dapat dipercaya, baik tentang pengetahuan agamanya maupun penguasaan bahasa arabnya.
Setiap kali kami menyodorkan rangkaian nama, beliau akan menjelaskan arti baik secara bahasa maupun filosofis, termasuk urut-urutan yang benar secara grammar, nahwu sharafnya. Serta dilengkapi dengan pengadopsian bahasa Arab tersebut ke dalam bahasa Indonesia maupun bahasa tulisan latin.
Sebagai orang Jawa, terus terang, aku sangat ngefans sama nama SRI, ingin menamai anak perempuanku dengan nama Sri. Namun karena diputuskan nama yang akan dipakai dari bahasa Arab, maka kami harus konsisten, semua rangkaian nama berasal dari bahasa arab agar sesuai grammar, nahwu sharafnya.
Sejak jaman dahulu kala, sudah berangan-angan menamai anak dengan Aisha kalau lahir seorang perempuan, dan terwujud sudah. Aisha= عائشة di sini merupakan nama salah satu istri Nabi SAW yang paling muda dan cerdas. Di samping itu, Aisha dalam bahasa Persia berarti kehidupan. Izz berarti Kemuliaan, kekuatan, kecerdasan. Tsuraya berarti Bintang. [Arti secara bebas] Aisha Izz Tsuraya, berharap semoga menjadi anak yang cerdas dan kuat, secerdas istri baginda Nabi SAW, menjadi bintang yang menerangi/memberi banyak manfaat bagi dirinya, keluarganya dan orang-orang disekitarnya.
Abu Hurairah Ra., berkata:“Abul Qasim, Rasulullah saw. bersabda: Berikanlah nama dengan namaku, tetapi jangan memberikan julukan dengan julukanku.” (Shahih Muslim No.3981). Sebagai seorang muslim, sudah barang tentu ingin menamai anak seperti nama junjungannya, Muhammad, yang terpuji. Izz berarti Kemuliaan, kekuatan, kecerdasan. Tsaqib berarti Cerdik, Jenius, berpandangan tajam, tepat, tekun. [Arti secara bebas] Muhammad Izz Tsaqib, berharap menjadi anak yang cerdas, mulia dalam hidupnya dunia dan akhirat dengan selalu meneladani kehidupan dan perilaku junjungan Nabi besar SAW.
Wallau'alam bishowab.
No comments:
Post a Comment