Mari kita mengambil hikmah dari suatu kejadian atau peristiwa meski itu hanyalah suatu hal yang sangat kecil, yang mungkin tidak berarti dan dianggap remeh bagi bagi orang lain.
Tetapi siapa yang akan menganggap remeh dari suatu kejadian yang berasal dari kata yang namanya c i n t a.
Seminggu kemarin kita ikut euphoria dengan gegap gempitanya the royal wedding, pernikahan William-Kate. Betapa kita ikut merasakan kebahagiaan yang ditampakkan oleh Will-Kate. Perasaan yang sama mungkin juga ikut dirasakan saat menyaksikan pernikahan orangtua Will. Meski sekarang kita tahu bahwa ternyata itu cinta palsu, cinta Charles terhadap Diana.
Dari video pernikahannya, kita melihat kebahagiaan mereka berdua. Tidak ada yang menduga betapa mereka berdua tersiksa. Terutama Charles, karena tidak dapat bersanding dengan pujaannya. Harus tunduk patuh dengan perjodohan demi suatu image atau pencitraan yang dibangun.
Diana juga tidak menyangka ternyata perjodohan itu hanyalah sebuah cinta palsu yang dibungkus keindahan dan kemegahan demi suatu pencitraan.
Kembali ke Will-Kate. Saat menyaksikan rekaman prosesi pemberkatan pernikahannya, betapa kita lihat kebahagiaan yang terpancar di wajah mereka berdua. Senyum cerah penuh kebahagiaan, meski kadang senyum itu tidak natural seolah terlalu dipaksakan.
Saat ini, kita percaya bahwa mereka memilih satu sama lain dan memutuskan untuk mengikrarkan cinta mereka di altar karena cinta. Mereka berdua saling cinta. Meskipun kita akan membuktikan di kemudian hari, seperti apakah cinta mereka, sejati atau palsu? Entahlah.
Ok. It’s enough tentang will-Kate. Kita kembali ke dunia nyata, dunia di sekeliling kita.
Cinta memang suatu yang unik. Perasaan yang dianugerahkan kepada manusia oleh Tuhan maha Pencipta. Cinta yang aku tulis di sini terlepas dari urusan suku, budaya, etika ataupun agama. Aku tidak akan menyautpautkan dengan itu semua. Meskipun cinta akan lebih indah ketika sesuai dengan hal-hal tersebut.
Aku cuma mau melihat cinta itu di sekeliling kehidupan kita sekarang, bisa melalui dari kisah teman, saudara, drama atau cerita di berbagai media, dll.
Ada banyak jenis cinta. Cinta berada di seluruh kebudayaan manusia. Oleh karena perbedaan kebudayaan ini, maka pendefinisian dari cinta pun sulit ditetapkan. Lihat hipotesis Sapir-Whorf.
Yup. Cinta terhadap pasangan kita, entah itu lawan jenis atau sejenis (kalau mereka menganggap itu cinta). Cinta yang bersifat romantis atau biasa disebut asmara.
Seperti yang aku pernah tulis di sini. Cinta adalah sebuah perasaan ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang.
Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.
Cinta adalah satu perkataan yang mengandungi makna perasaan yang rumit. Bisa di alami semua makhluk.
Cinta adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam. Erich Fromm dalam buku larisnya (the art of loving) menyatakan bahwa ke empat gejala: Care, Responsibility, Respect, Knowledge (CRRK), muncul semua secara seimbang dalam pribadi yang mencintai. Omong kosong jika seseorang mengatakan mencintai anak tetapi tak pernah mengasuh dan tak ada tanggungjawab pada si anak.
Dari definisi atas terlihat bahwa cinta seharusnya symbiotic mutualism. Saling mempengaruhi, saling memberi manfaat, berdampak positif serta memberi keuntungan satu sama lain. Kalau tidak, cinta itu berarti tidak seimbang. Ada salah satu pihak yang dirugikan dan harus menanggung ketidakbahagiaan.
Demi cinta, orang bisa mengorbankan diri sendiri bahkan orang-orang di sekitarnya. Ada orang yang sangat susah jatuh cinta dengan orang lain. Tetapi di lain pihak ada orang yang dengan mudahnya jatuh cinta.
Salut untuk orang-orang yang berani mengorbankan diri untuk cinta. Meski harus berkorban, merasakan ketidaknyamanan dan menanggungnya. Yes, because I love him/her, kata-kata seperti itu tenyata masih ada di zaman serba kapitalis ini. Saat orang lain lebih memilih cinta hasil hitungan: I love him/her because money, social status, dll.
Demi cinta mereka berani menolak berbagai kenyamanan yang ditawarkan: status, harta, pesona, kehidupan sosial, dll. Benarlah adanya, kalau sudah cinta, tai kucing bisa berasa coklat (huek :p)
Hhmm..seminggu ini aku belajar tentang cinta. Tentang orang-orang yang berkorban menangung ketidaknyamanan atas nama cinta, meneruskan hidup yang tersisa demi sebuah cinta.
Bersyukurlah orang yang memiliki cinta, perasaan itu. Bergembiralah karena hidup akan lebih berwarna ketika ada cinta. Namun bagaimanapun harus tetap logis, memperhitungkan segala sesuatunya ketika memilih maupun melepaskan cinta.
Kalau memang sanggup menanggung semua ketidaknyamanan yang timbul kala memilih cinta yang tidak direstui, kenapa tidak? Buktikan bahwa dengan cinta itu membuahkan kebahagiaan.
Beranilah berkata ya atau tidak sesuai hati nurani karena hati kecil tidak akan pernah berbohong.
Namun kalau memang tidak sanggup, lepaskanlah. Biarlah di hati tetap tersimpan perasaan cinta itu untuk dikenang dan diingat suatu saat [namun tidak setiap saat]. Menjalani hidup realistis sesuai dengan penghidupan yang ditawarkan sekarang.
Cinta memang indah dan akhirnya menjadi suatu komoditi yang menarik. Tak heran, cerita, lagu, drama, puisi akan lebih banyak diminati karena berkata soal cinta. Namun, Cinta yang telah ada tetap harus dijaga dan dipelihata agar dapat dipertahankan keindahannya.
Sitasi dari sini
No comments:
Post a Comment