"Lumayan untuk seorang pemula" begitulah komentarnya saat mencicipi kue hasil olahanku. Terus terang aku memang tidak begitu menyukai kegiatan masak-memasak. Kalau disuruh memilih kegiatan domestik apa yang paling aku minati adalah mencuci [apalagi pakai mesin cuci :p]. Sedangkan pekerjaan paling tidak diminati adalah memasak dan menyetrika.
Ketidakbisaanku memasak seperti yang pernah aku ceritakan di sini sungguh menjadi pelajaran berharga. Dari pada hasil masakan amburadul, lebih baik membeli menu jadi atau menyuruh mbak Yik memasak sesuai menu yang diharapkan.
Untunglah aku tidak hidup di jaman di mana seorang perempuan [baca: istri] memiliki kewajiban memasak. Seperti pernah aku tulis di sini, kalau memang ada anggaran berlebih, tidak ada salahnya juga perempuan mendelegasikan pekerjaannya itu. Sekarang toh sudah banyak tempat laundry dan toko kue, perempuan merasa tidak perlu membuat kue atau menyetrika pakaian sendiri.
Waktunya perempuan bisa digunakan unutuk hal-hal yang lebih berkualitas. Hal-hal yang berkualitas itu bisa berbeda-beda antar perempuan. Menurut perempuan A, mencuci baju itu pekerjaan remeh temeh tetapi menurut perempuan B, itu pekerjaan mulia, karena mengerjakan sesuatu untuk keluarga terkasih dan itu merupakan salah satu wujud cinta perempuan itu terhadap keluarganya.
Aku bisa melakukan semua pekerjaan domestik itu, tetapi terus terang tidak menguasainya. Daripada aku repot membuat kue, mending aku membeli langsung kue yang sudah jadi. Waktuku bisa digunakan untuk bermain dengan bayi-bayi misalnya, atau membaca, atau menulis, dan atau-atau yang lainnya.
Tapi bagaimanpun, perempuan punya pandangan dan pendapatnya masing-masing. Yang penting adalah semua urusan terselesaikan dengan baik. Perempuan itu senang dan keluarganyapun bahagia :)
Begitulah, aku memang tidak mengusai dengan baik pekerjaan domestik, terutama kegiatan masak-memasak. Keluarga kecil dan keluarga besarku mengetahui dan memahaminya. Disamping memang karakterku yang tidak menyukainya sejak awal, salah satu penyebabnya adalah [mungkin] karena ibu tidak pernah mengajariku sejak kecil.
Meskipun ibu memiliki dua anak perempuan, tetapi sejak dulu memang kami [aku dan mbak Is] tidak pernah dilibatkan dengan urusan dapur. Ibuku biasa melakukan kegiatan memasak seorang diri atau dibantu para asisten [Yu Rus, Lek As, Lek Sariah, dll]. Untuk kegiatan memasak harian, ibu bisa dan biasa melakukannya sendiri. Sedangkan untuk kegiatan memasak spesial [hajatan, tahlilan, arisan, lebaran dll], ibu memiliki banyak pasukan yang siap sedia membantu.
Di samping itu, ibu memiliki standar tertentu yang harus dipenuhi ketika kegiatan memasak itu berlangsung, dan semua orang yang membantunya tidak berani membantah. Demi hasil masakan yang sempurna, meski misalnya sedang tidak enak badan, ibu akan menyelesaikan masakannya dengan tangannya sendiri: menguleni, menggoreng, mengukus, dll. Ibu tidak akan puas jika mendelegasikan dan hanya memberi perintah tanpa terjun langsung menangani masakannya.
Alhasil, sejak kecil aku dan mbak Is memang jarang sekali masuk dapur. Disamping karena jarang disuruh, kami juga enggan membantu karena setiap hasil dari bantuan yang kami berikan hampir selalu dikritik oleh ibu: terlalu matang, kurang asin, terlalu manis, dll. Kritikan itu juga keluar saat kami disuruh belanja sayuran di pasar. Tidak ditawarlah, barangnya kurang baguslah, dll.
Aku dan mbak is akhirnya sedikit-sedikit bisa memasak karena terpaksa suatu keadaan. Sejak menikah, aku dan mbak Is mau tidak mau harus memasak untuk keluarga kecil kami masing-masing. Apalagi mbak Is, dengan ikut mertua, mau tidak mau harus mengusai berbagai pernak pernik permasakan.
Ibu juga sebenarnya demikian, bisa memasak karena suatu keadaan. Menurut cerita beliau, sejak kecil ibu juga tidak pernah dilibatkan kegiatan memasak oleh mbah Yi. [ibunya ibu ini master chef untuk kue dan makanan tradisional]. Ibu memulai kegiatan memasak sejak menikah dan pindah ke rumah mertuanya. Tetapi bedanya, meski awalnya terpaksa, ibu bisa menyenangi dan membuat kegiatan memasak menjadi hobi, bahkan menjadi master chef di keluarga besar.
Saat kami kumpul di rumah Temanggung, ibu akan membuat dan menyediakan banyak makanan. Makanan tradisional yang suka ngangeni: corobikan, mendut, cithak, lemper, sosis solo, karanggesing, jenang baning, dlimo, candhil, pethot, opor, oseng jipang, ndok kintel, urapan kuban ramban, perkedel jagung, dll. Tiap aku pulang atau ibu ke sini, pasti bawa gula aren Temanggung, sambal kacang, beras ketan, kecap, dan tak lupa bawang goreng sebagai pelengkap kegiatan masak-memasak di sini.
Beruntungnya diriku yang tidak ikut mertua setelah menikah [mengingat ibu dan mbak Is yang ikut mertua]. Begitu menikah, aku dan mas emen langsung pindah menempati kontrakan di Jogja. Mau masak, mau tidak masak, mau bersih-bersih, mau beli makanan jadi, mau malas-malasan tidak ada yang menegurku. Mas emen juga tidak memprotesku.
Bahkan sejak dulu, kami biasa melakukan pekerjaan domestik bersama-sama. Aku mencuci baju dan menyetrika, mas emen yang menyapu dan bersih-bersih. Makanan? kami biasa beli jadi, secara di Jogja banyak sekali menu makanan enak dan murah meriah. Terimakasih Mas, telah menjadi suami moderat :)
Aku ingat, pertamakali aku memasak adalah saat sudah menikah dan tinggal di Jogja. Saat itu aku belanja sayuran di pasar depan toko Progo [sekarang mash ada tidak ya]. Hasil dari masakan itu? gagal total. Padahal cuma masak sayur bening bayam dan tempe goreng. Entah apa komentar mas Emen saat itu [lupa, maklum sudah 8 tahun yang lalu].
Namun entah ada angin apa, tiba-tiba sekarang aku sangat berminat dan berniat untuk masak. Dengan bekal modal panci presto dan oven baru, rasanya bersemangat untuk mencoba berbagai masakan.
Dulu sangat tidak tertarik membeli atau membaca resep masakan. Saat ibu dan mbak Is tuker-tukeran resep, aku cuma jadi pendengar pasif. Namun sekarang, aku menjadi pembaca setia situs atau blog yang memuat resep dan tahapan memasak.
Tiap sore sempatkan belanja dan memasak. Kemarin membuat prol tape [cake tape kerennya], hari ini memasak rempelo ati presto cabe ijo, nanti sore membuat makaroni panggang. Besok membuat apa ya? :D

No comments:
Post a Comment