22.3.11

Sweet memory at Wisma Muti'ah H-39

Gara-gara efek kopi, semalam jadi susah sekali untuk memejamkan mata. Daripada melek sendirian nonton tivi akhirnya membuka kompi di belakang dan mulailah kegiatan menulis ini.

Salah satu yang paling menyenangkan dalam episode hidup selama tinggal di Jogja adalah kos di wisma mutiah. Bagaimana tidak, hampir 75% hidupku saat itu dihabiskan di wisma mutiah. Sejak aku memulai hidup sebagai mahasiswa baru di UGM sampai saat aku menikah dan memutuskan untuk pindah ke kos suami di Karangmalang.

Baik, aku mencoba untuk mengingat kembali sisa-sisa ingatan tentang wisma mutiah, penghuninya, lingkungan sekitar dan tak lupa Bapak dan Ibu Misbah sebagai pemilik wisma.

Aku ingat, saat itu aku diantar oleh ibu untuk registrasi ke kampus biru. Untuk sementara aku numpang di kos Mbak Is yang masih menyelesaikan kuliahnya di IAIN Sunan Kalijaga. Sebenarnya menyenangkan tinggal di wisma Belima (Mereka menyebutnya demikian, karena letak wisma itu ada di komplek dosen IAIN Suka Blok B nomor 5). Tetapi karena ibu khawatir aku terlalu jauh laju dari Sapen ke Bulaksumur dan mengingat saat itu Mbak Is sudah akan menikah, maka diputuskan untuk segera mencarikan kos yang dekat dengan kampus.

Setelah menelusuri kampung Karangmalang dan hampir putus asa karena tidak mendapatkan kos yang sesuai, aku, Mbak Is dan ditemani Mbak Ita memutuskan untuk pulang ke Sapen. Saat melewati jalan buntu menuju jalan raya itulah tiba-tiba kami menemukan kos yang bagus, bersih dan sepertinya ‘sehat’ (bagaimanapun saat itu sudah banyak kos di Jogja yang menerima penghuni campuran, pria dan wanita).

Iseng-iseng, kami bertanya apakah ada kamar yang kosong untuk disewakan. Saat itu kami diterima langsung oleh Ibu Misbah pemilik wisma Mutiah. Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT, sesuai dengan doa yang selalu dipanjatkan ibu agar aku mendapatkan kos yang sesuai terwujud sudah.

Dengan penuh suka cita hari berikutnya aku pindahan dari wisma Belima ke wisma Mutiah dan membeli berbagai perlengkapan kos di toko Liman Jalan Kaliurang.

Wisma yang dimiliki oleh Bapak dan Ibu Misbah ini memiliki dua lantai dengan lima kamar di masing-masing lantainya saat itu. Di Wisma Mutiah, aku mendapatkan kamar nomor tiga di lantai dua. Kamarku berukuran 2,5 x 3 m, cukup luas untuk ditinggali seorang diri.

Yang paling aku suka adalah kamar itu sangat bersih dengan sirkulasi udara yang bagus berasal dari jendela yang meski menghadap kuburan namun tidak pernah menyeramkan.

Saat kegiatan ospek UGM dimulai, aku sangat dibantu oleh Mbak yani. Sebagai sesama penghuni wisma yang berasal dari Temanggung, mungkin Mbak yani merasa ikut bertanggungjawab terhadapku yang menuai berbagai kerepotan ospek seorang diri. Terimakasih yang banyak untuk Mbak Yani yang telah mengantarku pergi ke jalan Solo di saat hari sudah malam untuk berbelanja berbagai keperluan ospek.

Dini hari, (mbak Nana masih pakai mukena) saat mau berangkat ospek sempatin narsis dulu :D

Dengan cepat aku membaur dan beradaptasi dengan segala karakter dan kebiasaan masing-masing penghuni wisma. Saat itu di lantai dua, di kamar nomor satu, ditempati oleh Mbak Ida dan Mbak Widya; Kamar nomor dua ditempati oleh Mbak Fitri dan Lilis; Kamar nomor empat oleh Dik Sita dan kamar nomor lima oleh Mbak Tin dan Mbak Nana.

Sedangkan di lantai satu, di kamar nomor satu ada Mbak Widi dan Mbak Ery; Kamar nomor dua ada Mbak Yani; Kamar nomor tiga oleh Mbak Wiwin dan Mbak Mercy; kamar nomor empat oleh Mbak Nur dan Mbak Dewi dan kamar nomor lima ditempati oleh Mbak Bekti dan Mbak Anik.

Lantai 1


Wisuda mas Arif

Seiring waktu berjalan, penghuni dan formasi di wisma mutiah juga berubah. Ada penghuni baru yang menggantikan penghuni lama yang pindah ke wisma lain. Mereka adalah Mbak Marni, Yanti dan Yunita. Tahun berikutnya ada Mbak Wiwik, Susi, Retno dan Tirta.

Setelah ada penambahan bangunan lagi di lantai tiga, bertambah pula penghuni wisma Mutiah, yaitu Arum, Berty, Putri, Rahma dan lain-lain (siapalagi ya, aku lupa). Oya, ada juga Harti (dimana ya sekarang?) dan Indri yang imut menggemaskan, baik hati dan suka menolong serta rajin menabung :p

Dengan misi kebersamaan, Kami penghuni wisma Mutiah memiliki berbagai peraturan yang mau tidak mau harus kami patuhi kalau mau hidup nyaman berdampingan dengan penghuni lain. Peraturan khusus untuk lantai satu, peraturan khusus untuk lantai dua dan peraturan bersama.

Yang masih aku ingat, saat itu kami di lantai dua sepakat dengan berbagai peraturan demi keteraturan hidup. Peraturan tersebut antara lain, dalam waktu seminggu sekali, tiap penghuni berkewajiban memasak air putih untuk seluruh penghuni wisma di lantai yang ditempati, mencuci piring dan gelas habis pakai serta menyapu dan mengepel lantai di area umum (selain kamar masing-masing).

Kami juga mendapatkan jadwal memasak nasi dan belanja sayur dan lauknya. Sedangkan peraturan bersama untuk seluruh penghuni wisma adalah menyapu halaman depan dan samping Wisma.

Secara geografis, Wisma Mutiah ini terletak di desa Kuningan. Berseberangan dengan masjid kampus UGM dari sisi barat, bersebelahan dengan kampus KH UGM dan FPOK UNY dari sisi selatan, bersebelahan dengan kampus seni UNY dari sisi timur dan berhadapan dengan kuburan dari sisi utara.

Meskipuni sangat dekat dengan kuburan, Alhamdulillah kami tidak pernah merasakan ketidaknyamanan, belum pernah sekalipun kami menemui hal-hal ganjil terkait dengan kedekatan lokasi dengan kuburan ini.

Saat pertama aku tinggal di wisma ini, lokasi yang sekarang berdiri megah masjid kampus UGM itu masih berupa kuburan Cina. Aku ingat betul waktu itu terjadi kerusuhan massal di bulan mei 1998 yang menewaskan Moses Gatotkaca mahasiswa USD. Kami penghuni wisma sempat menyaksikan beberapa aktivis mahasiswa yang dikejar oleh polisi bersenjata di makam cina yang masih berupa bukit dengan lapangan berpasir.

Yang membuat ngeri adalah para polisi itu menggunakan senjata api saat mengejar aktivis yang lari tunggang langgang. Kami sampai berteriak histeris mengkhawatirkan nasib para aktivis itu. Benar-benar hari yang menakutkan. Polisi menggeledah beberapa kos-kosan yang ditengarai menjadi tempat persembunyian para aktivis.

Desa kuningan menjadi lebih ramai saat Masjid Kampus UGM (biasa disingkat Maskam karena dulunya juga bekas makam) mulai dipakai untuk kegiatan keagamaan. Apalagi saat ramadhan tiba, kami penghuni wisma menjadi lebih sering ikut sholat terawih di Maskam daripada di masjid Mujahidin UNY.

Kegiatan saat ramadhan di Maskam ini sangat padat. Banyak sekali kegiatan keagamaan yang dirancang menarik untuk dihadiri. Saat pengelola Maskam (jamaah salahudin) mengundang penceramah terkenal untuk memberikan kultum (bukan kuliah tujuh menit, karena biasanya hampir 1-2 jam), jamaah di Maskam ini akan membludak, seolah seluruh penghuni Jogja dari berbagai penjuru tumpah ruah di sini.

Namun yang paling mengasyikkan adalah kami penghuni wisma Mutiah cukup berjalan kaki beberapa meter saja untuk mencapai Maskam dan menempati posisi strategis demi melihat dan mendengarkan secara live materi yang diberikan oleh penceramah terkenal yang biasa muncul di tivi itu.

Wisma mutiah ini dihuni oleh beberapa mahasiswa dengan latar belakang jurusan yang berbeda. Secara geografis, Kuningan adalah hampung yang paling dekat dengan Kampus humaniora UGM. Namun entah kenapa justru yang menjadi penghuni wisma mutiah saat itu kebanyakan berasal dari kampus Grafika dan Sekip yang notabene merupakan kelompok jurusan IPA/IPT dan berlokasi di ujung barat dan wisma Mutiah diujung timur.

Banyangkan, dari sekian penghuni wisma hanya beberapa mahasiswa IPS: aku di FE, Mbak Ery dan Mbak Nurjanah di Fisip. Yang lainnya adalah mahasiswa FT, FF, FKG dan FK.

Dulu kami sempat berseloroh, andaikan kami mendirikan sebuah rumah sakit atau minimal klinik, lengkap sudah SDM kompeten yang akan mengisinya. Bagaimana tidak, saat itu lantai satu didominasi oleh calon dokter: ada Mbak Bekti, Mbak Nur, Mbak Marni dan Mbak Mercy. Calon dokter gigi: ada Mbak Anik dan Mbak Dewi. Calon apoteker: Mbak fitri, Yanti dan Yunita.

Terus ada juga juga Mbak Wiwik sebagai calon dokter hewan. Mbak Yani sebagai mahasiswa FPOK UNY akan sangat melengkapi rumah sakit dengan berbagai treatment olahraga yang dianjurkan oleh para dokter.

Ada juga Mbak Ida dan Mbak widi mahasiswa teknik kimia sebagai unsur yang sangat mendukung. Terus ada Mbak Nana dan Mbak Tin, mahasiswa MIPA jurusan matematika yang akan mengkonsep segala alur sistem informasi dan teknologi di rumah sakit itu.

Tak lupa kami mahasiswa IPS, aku, Susi dan mas Arif, (putranya Bapak dan Ibu misbah) yang belajar manajemen akan mengelola dengan sebaik-baiknya rumah sakit itu dibantu dengan teman-teman lain: teman-teman di Fisip yang akan mengelola berbagai urusan kehumasan.

Lilis yang belajar mengenai teknologi pendidikan di UNY akan mengkonsep berbagai pembelajaran yang pas untuk kami semua sebagai pengelola sebuah rumah sakit. Aha, konsep yang keren bukan? Tetapi itu hanya sebuah konsep karena saat itu kami tidak memikirkan siapa pemodal agar rumah sakit itu dapat berdiri tegak :D Namanya juga perandaian ya.

Dari ingatan yang tersisa, ada banyak sekali kenangan indah yang dilalui di wisma Mutiah. Sesama penghuni sudah sangat dekat layaknya seorang saudara. Kami biasa melakukan hal bersama-sama. Mulai dari sholat dan ngaji bersama, nonton tivi, pengajian di masjid al Munawar, pengajian di masjid Mardliyah Sardjito, kuliah subuh dan sholat terawih di Maskam sampai ngerumpiin mas-mas yang main bulutangkis di halaman depan Wisma.

Sekarang aku mencoba mengingat berbagai makanan yang biasa kami konsumsi saat itu. Warung Mak hari dengan menu andalan Kepala ayam goreng dengan sayur sopnya. Warung mbah Harto yang meskipun tempatnya gitu deh tetapi tetap laris manis. Warung Mbak Wiwik dengan menu favorit sayur daun pepaya, gulai telor puyuh, sambal teri, bakwan jagung dan irisan papaya sebagai desert.

Warung mbah gudeg dengan pertanyaan rutin meskipun beliau sebenarnya tahu jawabannya: “pakai telor atau ayam Mbak?” Dengan serempak kami menjawab “tempe saja Mbah”. Mbah gudeg ini buka dan berjualan di pagi hari, sehingga kami merasa perut kami tidak akan cukup untuk makan terlalu banyak, sehingga kami selalu konsisten untuk hanya berlauk satu tempe (padahal dengan niatan agar lebih hemat dan ngirit, hihi).

Benar-benar kenangan yang indah. Ada banyak sekali cerita indah yang tak mungkin aku tulis di sini. Terlalu panjang, bisa berlembar-lembar halaman. Kenangan itu kini menjadi semacam Patronus (ya Yunita? Sebagai sesama pengemar Harry Potter sejak pertama kali buku itu terbit) buatku. Hati dan otak akan sangat senang ketika mengingatnya, dan berujar andai waktu bisa berulang.

Terimakasih kepada teman-teman penghuni Mutiah yang telah mewarnai episode hidup menjadi lebih indah. Terimakasih yang sangat juga dihaturkan kepada bapak dan ibu Misbah (plus mas Arif) yang telah membimbing dan mengayomi kami, menjadi orangtua pengganti selama tinggal di Jogja. Memastikan kami belajar dan lulus kuliah dengan baik sesuai dengan harapan orangtua masing-masing saat menitipkan kami kepada bapak dan ibu misbah.

Kini, Sebagian besar dari kami telah menjadi seorang istri dan ibu, sebagian merangkap menjadi perempuan bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan yang ditempuh waktu kuliah di UGM dan UNY dulu. Terimakasih atas segala budi baiknya.

Wisuda Mbak Yani

Oya, ada dua teman Mutiah yang disayang oleh Dzat Pemilik Hidup sehingga dipanggil ketika masih di usia muda. Sejenak, mari kita menundukkan kepala memohon pengharapan kepada Ilahi Rabbi untuk kebahagiaan Mbak Mercy dan Santi di alam sana.

Dengan kemajuan teknologi saat ini sebagian besar penghuni wisma mutiah sudah dapat bersilaturahmi meski hanya di dunia maya melalui grup wisma mutiah H-39 di Facebook.

Namun begitu, masih banyak pula teman yang belum diketahui dimana keberadaannya sekarang seperti,:Mbak Ery, Mbak Nurjanah, Mbak Dewi, Mbak Nurhayati, Mbak Wiwin, Mbak Fitri, Tini, dan lain sebagianya. Adakah yang mengetahui keberadaan teman-teman tersebut?

No comments: