14.2.11

Pak G. Takariawan in memoriam

Menjelang Keabadian

Betapa lebat hutan

Menjelang keabadian

Rimbanya kegelapan
Pepohonan menghadang
Sulur sulur menghisap darah
Tanah-tanah becek
Ranjau duri beracun
Bayangan demi bayangan menjebak
Suara nyanyian membawa kami ke pangasingan
Betapa berat


Wahai betapa bosan untuk terus bermusuhan
Membenar-benarkan peperangan
Mengairi sawah prasangka

Mengurusi maniak kalah menang

Kawan lawan

Sukses dan kegagalan kujaga ubun-ubun
Kunyalakan jiwa ngungu
Sunyi riuh rendah
Hari malam tanpa istirah
Perih bagai tak lagi
Pingsan dalam sadar diri

Mati berulangkali
Betapa lebat hutan


O betapa lebat hutan

Menjelang keabadian

1986 Quoted by Redaksi from "Cahaya Maha Cahaya", Emha Ainun Nadjib, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1996, Cet. 8

Perjalanan panjang manusia dimulai saat Allah SWT menciptakan manusia di alam ruh: Bukanlah Aku Tuhanmu? Ruh menjawab, betul kami bersaksi (QS: Al A'raaf 172). Selanjutnya Allah meniupkan ruh itu ke janin di dalam rahim ibu. Setelah 9 bulan, lahirlah manusia: seorang bayi, kemudian menjadi anak, tumbuh dewasa kemudian meninggal. Namun, yang meninggal hanyalah jasad manusia, karena manusia sebagai makhluk ruh tetap hidup melanjutkan perjalanannya ke alam barzakh (QS: Al Baqarah 153, Ali Imran 169). Kelak di hari kiamat akan dibangkitkan kembali ke tubuh yang baru (QS: Yasin 51-52) untuk melanjutkan perjalanan hidup di padang mahsyar dan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatan selama di dunia. Setelah dihisab, kekal abadi di surga dan atau neraka sesuai amal ibadah masing-masing (QS: Al Baqarah 39 dan 82)

Kita, manusia tidak tahu kapan ajal kan menjemput. hanya menunggu giliran kapan takdir dipanggil oleh Dzat Pemilik Takdir sembari terus berusaha mengumpulkan dan menghimpun bekal yang akan dibawa.

Warga DDN kehilangan satu lagi warga yang disayangi oleh Allah SWT, sehingga dipanggil oleh Sang Pemilik Hidup melalui malaikatnya. Beliau ini pastinya sangat istimewa, sehingga dipanggil ketika masih di usia paruh.

Setelah tahun kemarin kami kehilangan Uwak Munar, dan beberapa bulan yang lalu kehilangan bu Hardono. Tepat hari sabtu malam kemarin, kami ditinggalkan selama-lamanya oleh salah seorang tetangga terbaik, Bapak Gajah Takariawan.

Selamat Jalan Bapak, selamat menjemput kehidupan baru, kehidupan tanpa hiruk pikuk iri dengki, serakah dan caci maki. Damai selalu di kehidupan barunya Pak.

Betapa Bapak orang baik. Beberapa tahun yang lalu, saat kami kesusahan mengurus surat kepemilikan rumah, Bapaklah orang pertama yang membantu. Saat orang lain acuh, Bapaklah yang pertama menerima dan membimbing kami dalam kehidupan baru di komplek DDN.

Meskipun kami lebih muda, tapi Bapaklah yang pertama berkunjung ke rumah saat lebaran. Sungguh, kami malu saat itu. Tetapi seperti biasa, Bapak hanya tersenyum dan berujar, tiada istilah tua dan muda dalam silaturahmi.

Kami berterimaksih kepada Bapak. Melalui Bapaklah kami warga DDN belajar tentang hidup: bersyukur atas semua nikmat-NYA, bersabar dan tabah atas semua ujian-NYA, serta ikhlas dalam menjalani takdir hidup.

Saat tubuh Bapak semakin melemah dalam kesakitan, saat keluarga ikut merasakan kelelahan yang sangat, semuanya tetap terkondisikan dalam kesabaran dan keihklasan atas jalan hidup.

Tiada pernah sedikitpun keluhan keluar dari Bapak dan keluarga atas semua ujian itu. Semua menerima dengan tabah, ikhlas, sabar dan selalu berkeyakinan bahwa ini jalan terbaik yang diberikan oleh Allah.

Betapa hebat Bapak mendidik keluarga sehingga menjadi pribadi-pribadi yang kuat. Kami meneladaninya. Semoga kami juga dapat selalu bersikap sabar dan ikhlas menjalani takdir hidup masing-masing.

Sekali lagi, Selamat jalan Bapak. Selamat menempuh hidup baru yang lebih baik. Bahagia selalu di sana, amin.

Alloohummaghfir li Pak Wawan, warfa' darajatahuu fil mahdiyyiin wakhlufhu fii aqibihii fil ghaabiriin waghfir lanaa walahuu yaa rabbal aalamiin wafsah lahuu fii qabrihi wa nawwir lahuu fiihi. Amin...amin...ya Rabbal 'Alamin (HR Muslim 456)

1 comment:

Bunda'sdaily said...

Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah beliau