21.1.11

Sekolah Raya

Sudah satu semester raya di kelas A. Tetapi masih saja belum mau ditinggal sendiri di kelas tanpa mbaknya. Sudah berbagai rayuan dan bujukan, namun itu seolah hanya angin lalu. Tidak ada pengaruh. Berbagai motivasi dan stimulus berbagai barang/mainan juga tidak mempan. Selalu berakhir dengan tangisan dan [kadang] mogok sekolah.

Kepala sekolah dan bunda-bundanya sudah mengerahkan segenap tenaga dan pikiran untuk kemandirian raya di kelas tanpa mbaknya. Namun saat ini hasilnya masih nol.

"Kakak, kenapa sih kalau di kelas ngga mau ditinggal bak Uci, kan sudah ada bunda Ifah dan bunda Rahma serta teman-teman yang lain" tanyaku sambil menyebutkan satu persatu teman Raya di kelas A.

"Kakak takut dimarahin bunda, Ibu..." jawabnya

"Kenapa bunda marah kalau kakak tidak salah?"

"Bundanya marah sama kakak karena mbak Uci ikut di kelas, Kakak maunya sama mbak Uci, nggak mau ditinggal" lanjut raya.

Aku mengangkat raya dan menaruhnya di pangkuan
"Bunda nggak marah kok, meski mbak Uci di kelas. Tapi setelah istirahat, mbak Uci nunggu di mushola ya" Kataku mencoba meluruskan

"Iya, besok kalau kakak kelas B, kakak maunya sendiri tanpa mbak Uci"

"Oke deh kakak, janji ya" jawabku sambil mengaitkan kelingking ke kelingking raya sebagai tanda mengikat janji.

-------
Saat yang lain

Saat sesi pengambilan raport semesteran. Aku dan raya duduk berdua depan bunda. Bunda menerangkan nilai-nilai dan kemajuan akademis serta attitude raya. Aku hanya manggut-manggut mengerti. Aku tidak terlalu kaget dengan kemajuan akademis raya, karena raya termasuk anak yang cepat mengikuti pelajaran. Namun yang lebih penting adalah attitude, bagaimana membentuk raya menjadi pribadi yang kuat, mandiri, baik dan sholehah. Yang paling penting saat ini adalah bagaimana agar raya mau sekolah tanpa ditungguin mbaknya di kelas. Terjadi percakapan berikut:

Bunda: "Nilai Kakak bagus untuk hafalan, mengenal angka, mengenal abjad dan huruf hijaiyah. Tapi kenapa Kakak tidak mau ditinggal mbak Uci kalau di kelas?"

Raya hanya diam sambil senyum-senyum nunduk menyorongkan kepalanya ke arahku.

Bunda: "Teman-teman kakak ada yang galak ya, siapa?"

Raya menggelengkan kepalanya

Bunda: "Atau bunda yang galak?"

Dengan mantap raya menganggukkan kepalanya.

Bukan, bukan aku menyalahkan bundanya atas ketidakmandirian raya. Bunda-bundanya juga sama bingungnya dengan aku untuk membujuk raya agar mandiri.

Aku tidak menyalahkan bundanya karena aku tahu metode bedanya pegajaran di Play Group [PG] dan TK A. PG hanyalah kelompok bermain, sebagian waktunya di sekolah hanyak bermain dan hanya sesekali saja belajar. Sedangkan A mulai serius belajar, karena sudah ada muatan-muatan pelajarannya, meskipun masih juga diselingi berbagai permainan. Belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar. Di kelas A juga mulai ditanamkan berbagai nilai atau etika: apa-apa saja yang boleh dan apa-apa saja yang tidak dibolehkan. Bunda di A mungkin juga mulai lebih tegas dengan menegurnya kalau anak-anak A melakukan hal-hal yang menurut etika tidak dibolehkan.

Seperti yang pernah aku tulis di sini. Mungkin inilah yang awalnya membuat raya tidak mau ditinggal mbaknya. Pola pengajaran dan bunda yang berbeda dari waktu dia di PG dan raya belum terlalu siap dengan perubahan itu.

Dengan selalu ditemani mbaknya di kelas, menyebabkan raya sampai sekarang tidak memiliki teman dekat. Bagamana temannya mau mendekat kalau raya selalu ditemani mbaknya ya. Akan berbeda halnya saat Raya memiliki teman dekat.

Bingung. Semua bingung. Kami, ortunya, dan bunda-bundanya. Sudah berbagai cara dan metoda ditempuh. Hanya doa yang selalu kami panjatkan agar kemandirian dan keberanian Raya segera muncul dan mau ditinggal mbaknya di kelas, amin...

No comments: