14.1.11

Pengemis di lampu merah

Tadi pagi, saat berhenti di perempatan lampu merah, saat hendak mengantarkan raya sekolah, terdengar teriakan.

"Woi, kerja! jangan main melulu" teriak seorang ibu dengan muka garang dari balik gerobak kepada anak lelakinya.
Si anak beranjak dari tempat mainannya di pagar PDAM. Dengan rasa enggan yang sangat, si anak mengambil gelas plastik bekas minuman soda kemudian berjalan pelan menuju angkot yang berhenti.

Deg! jantungku serasa berhenti. Terus terang aku kaget dengan teriakan si ibu. Secara jarak antara aku dengan si ibu hanya sekitar 4 meter.

Miris melihat anak itu. Umurnya kisaran raya, mungkin malah lebih kecil . Badan kurus, muka dekil, baju sobek sana sini dan badan yang berdaki seolah sudah berhari-hari tidak mandi.

Membandingkan dengan raya. Harusnya umur segitu si anak masih bersenang-senang menikmati masa kecilnya dengan bersekolah bukan bekerja di jalanan.

Entahlah... permasalahan ini menyangkut banyak hal, dari segala sisi.
Sisi pemerintah yang tidak sesuai dengan UUD 1945, pasal 34 ayah (1) anak fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Sampai saat ini, janji pemerintah untuk mengurus fakir miskin dan anak terlantar hanya cukup jadi pengisi Undang-Undang Dasar saja. Ternyata, begini saja setelah hampir 66 tahun mendeklarasikan kemerdekaannya.

Sisi si ibu yang tega menyuruh [memaksa] si anak bekerja di jalanan, menghilangkan kenangan indah masa kecil si anak, menghilangkan hak-haknya untuk bermain dan belajar selayaknya seorang anak. Padahal bisa jadi itu bukan ibu kandungnya, bisa jadi si anak itu disewakan oleh ibu kandungnya untuk bekerja di jalanan dan si ibu mendapatkan bayaran, entahlah....

Sisi si anak yang [mungkin] lari dan keluar dari keluarganya. Tidak mau tinggal di rumah singgah yang disediakan oleh pemerintah.

Sisi kita sebagai pengamat, yang kadang memberi sekedar uang koin untuk mereka yang berakibat mereka tidak juga mau beranjak dari jalanan karena menikmati hasil yang cukup tanpa susah payah, atau kita hanya sekedar sebagai pengamat tanpa bisa berbuat apa-apa.

Entahlah...

Berbagai diskusi tentang bagaimana seharusnya kita bersikap kepada mereka ada di sini, sini dan sini

No comments: