Awalnya bapak itu hanya tersenyum ketika tidak sengaja bertatapan denganku. Saat itu aku sedang mengandeng raya mau menyeberang jalan. Dan akupun balas tersenyum demi asas kesopanan.
Sejak saat itu, setiap kali bertemu dan berpapasan kami selalu menyapa dengan senyuman. Benar-benar bapak penjual susu segar yang ramah. Bapak berusia sekitar 70an tahun itu mengendarai sepeda onthel untuk mengantarkan pesanan susu segar ke pelanggannya.
Kemarin sore menjelang senja, saat aku pulang dari kantor. Tiba-tiba aku melihatnya. Seperti biasa, dengan sepeda tuanya dan keranjang tempat susu segar di sadel belakang, Bapak itu mengendarainya dengan pelan, seolah sedang menikmati hari dan rasa bersyukur karena pekerjaaanya mengantar susu segar telah usai.
Aku mempercepat motorku dan mendekatinya, bertanya seolah kepada seorang teman yang yang biasa ditemui,
"Sudah habis Pak?"
Terperanjat bapak itu menoleh dan tersenyum kepadaku, sejenak lebih pelan mengendarai sepedanya,
"Ya Mbak..alhamdulillah sudah habis, tinggal pulang. Oya, rumah Mbak dimana? Mungkin bisa dianterin besok"
"Syukurlah...Tidak Pak, terimakasih. Kapan-kapan aja saya pesannya. Saya duluan ya Pak" Ujarku sambil tersenyum dan berlalu.
Dari kaca spion aku masih melihatnya tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahku. Aku melambaikan tangan membalasnya.
Sepanjang jalan, aku berpikir, orang yang hebat. Aku meneladani kerja keras, komitmen dan etos kerja Bapak penjual susu itu. Di umur senjanya, beliau masih bersusah payah mencari penghasilan. Tapi tidak ada raut sedih karena harus berjalan mengendarai sepedanya berkilo-kilo. Bahkan wajahnya selalu ramah dan tersenyum menikmati pekerjaannya.
----------------------------------
Tiap pagi, saat aku mengendarai motorku pelan-pelan menikmati suasana pagi di jalan pemda, aku selalu berpapasan dengan mbak penjual kue berjalan berlawanan arah denganku.
Selalu sama. Baju dan dan bawaan yang sama: celana bahan jeans hitam, baju putih hijau berkrah lengan pendek dengan manset warna putih serta topi golf warna hitam. Selalu membawa kotak kue warna hijau kekuningan dan tangan kanan menjinjing termos air.
Entah darimana mbak itu memulai perjalanannya, karena aku selalu bertemu di pertengahan jalan pemda dari arah berlawanan.
Suatu saat aku bertemu dengan mbak itu di kantor samsat Pemda. Namun di saat lain aku juga pernah bertemu mbak itu di dekat Mal Warung Jambu, tetap masih dengan baju dan bawaan yang sama. Sampai sebegitu jauhkan perjalannya menjual kue?
Lagi-lagi, aku meneladani mbak itu, meneladani kegigihan dan kesabarannya mengukur jalan untuk mencari dan menjemput penghidupannya.
Sejak saat itu, setiap kali bertemu dan berpapasan kami selalu menyapa dengan senyuman. Benar-benar bapak penjual susu segar yang ramah. Bapak berusia sekitar 70an tahun itu mengendarai sepeda onthel untuk mengantarkan pesanan susu segar ke pelanggannya.
Kemarin sore menjelang senja, saat aku pulang dari kantor. Tiba-tiba aku melihatnya. Seperti biasa, dengan sepeda tuanya dan keranjang tempat susu segar di sadel belakang, Bapak itu mengendarainya dengan pelan, seolah sedang menikmati hari dan rasa bersyukur karena pekerjaaanya mengantar susu segar telah usai.
Aku mempercepat motorku dan mendekatinya, bertanya seolah kepada seorang teman yang yang biasa ditemui,
"Sudah habis Pak?"
Terperanjat bapak itu menoleh dan tersenyum kepadaku, sejenak lebih pelan mengendarai sepedanya,
"Ya Mbak..alhamdulillah sudah habis, tinggal pulang. Oya, rumah Mbak dimana? Mungkin bisa dianterin besok"
"Syukurlah...Tidak Pak, terimakasih. Kapan-kapan aja saya pesannya. Saya duluan ya Pak" Ujarku sambil tersenyum dan berlalu.
Dari kaca spion aku masih melihatnya tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahku. Aku melambaikan tangan membalasnya.
Sepanjang jalan, aku berpikir, orang yang hebat. Aku meneladani kerja keras, komitmen dan etos kerja Bapak penjual susu itu. Di umur senjanya, beliau masih bersusah payah mencari penghasilan. Tapi tidak ada raut sedih karena harus berjalan mengendarai sepedanya berkilo-kilo. Bahkan wajahnya selalu ramah dan tersenyum menikmati pekerjaannya.
----------------------------------
Tiap pagi, saat aku mengendarai motorku pelan-pelan menikmati suasana pagi di jalan pemda, aku selalu berpapasan dengan mbak penjual kue berjalan berlawanan arah denganku.
Selalu sama. Baju dan dan bawaan yang sama: celana bahan jeans hitam, baju putih hijau berkrah lengan pendek dengan manset warna putih serta topi golf warna hitam. Selalu membawa kotak kue warna hijau kekuningan dan tangan kanan menjinjing termos air.
Entah darimana mbak itu memulai perjalanannya, karena aku selalu bertemu di pertengahan jalan pemda dari arah berlawanan.
Suatu saat aku bertemu dengan mbak itu di kantor samsat Pemda. Namun di saat lain aku juga pernah bertemu mbak itu di dekat Mal Warung Jambu, tetap masih dengan baju dan bawaan yang sama. Sampai sebegitu jauhkan perjalannya menjual kue?
Lagi-lagi, aku meneladani mbak itu, meneladani kegigihan dan kesabarannya mengukur jalan untuk mencari dan menjemput penghidupannya.
No comments:
Post a Comment