5.7.10

mari berEYD

Sempat ditanya oleh Pak Wahyu [teman kursus dan sekarang jadi deputi di instansi sebelah] "Bagaimana tulisannya sekarang Mbak?", "Alhmadulillah, lumayanlah Pak, sekarang kalau ngajuin konsep, revisi atau coretannya makin sedikit" jawabku. hehe.....gaya bener.....!
Bukan...! Bukan karena aku makin pandai menulis, tapi [mungkin] karena sekarang lebih paham tentang substansinya. Bagaimanapun jam terbang itu mempengaruhi. Semakin lama [kalau kita terus belajar] kita akan semakin paham dan menguasai bidang kita.

Entahlah, akhir-akhir ini memang konsep2ku diterima dengan baik oleh bos, hehe.. tidak mengharapkan imbalan secara materi, tetapi rasanya lega dan puas banget saat konsep itu diterima. immaterial appreciation!!.

Hal ini mungkin saja imbas dari pembahasan juknis yang berlarut-larut dan terus-menerus di tahun kemarin: harus mantengin kata demi kata, harus menyesuaikan bahasa, harus sesuai dengan EYD dengan bolak-balik membuka KBBI, agar kalimat yang kita tulis tidak mempunyai double/triple perception. "wah..ini kalimat pasti yang bikin orang Jawa, diulang-ulang" kata Si Bos [padahal orang Jawa juga]...hihi....
Emang bener...kalau kalimat bisa sederhana dan tepat sasaran kenapa tidak. ini tulisan ilmiah, bukan tulisan populer.

Tulisan populer bisa berbunga-bunga untuk menampilkan ciri keindahannya. tetapi, tulisan ilmiah, harus sesuai dengan grammar dan tepat sasaran.

Mulai tahun ini, setiap kita menyusun suatu kajian, evaluasi, pedoman, panduan, peraturan dll, bidangku [thanks to CEO RenBang atas persetujuan ide ini] selalu melibatkan peneliti/pegawai dari Pusat Bahasa. Dengan begitu, diharapkan dapat memberikan masukan atau koreksi terhadap tulisan kita apakah sesuai dengan EYD atau tidak.

Kata Pak Giyono [Kabid Renbang Pusat Bahasa]: "Boleh saja memakai kata dari bahasa asing dalam tulisan ilmiah kita. apalagi kalau kata tersebut sudah WNI, artinya memang sudah menjadi bahasa baku di dalam EYD, kita dapat memakainya tanpa memiringkan hurufnya, misalnya: valid, editor, tshirt, dll".

Terus-terang, aku hanya inget beberapa hal dalam pelajaran Bahasa Indonesia waktu jaman sekolah dulu, dan itu aku terapkan betul-betul. ternyata pemahaman tersebut ada yang sepenuhnya tidak benar dan aku baru mengetahuinya sekarang. misalnya,

"bagaimana dengan tulisan rupiah diikuti dengan nominal Pak?", tanyaku.
"rupiah disingkat menjadi Rp diikuti dengan nominal tanpa spasi, diakhiri dengan koma dan dua angka desimal di belakangnya, misalnya Rp100.000,00", jawab Pak Giyono.
"oh, bukan diakhiri dengan koma dan des, seperti Rp100.000,- ya?" tanyaku lagi.
"bukan, koma dan des itu tidak baku....ini ada cerita dan filosofi yang melatarbelakangi, mengapa menjadi koma dan des. Jaman penjajahan dahulu, kumpeni berkata, 'ngapaian orang pribumi mikirin desimal, otaknya ngga bakalan nyampe!' makanya kumpeni langsung mencoret dua desmial di belakang koma, jadilah penulisan koma dan des tersebut"

oalah...dasar kumpeni!

lagi-lagi, ternyata banyak juga kata-kata tidak baku [aku pikir baku] yang biasa aku pakai:
misalnya:
BAKU - TIDAK BAKU
analisis - analisa
hakikat - hakekat
hierarki - hirarki
ijazah - ijasah
izin - ijin
kongres - konggres
karier - karir
napas - nafas
nasihat - nasehat
amendemen - amandemen
andal - handal
banderol - bandrol
bengkuang - bengkoang
biliar - bilyar
blokade - blokir
bolpoin - bolpen
bonafide - bonafid
budda - budha
bungalo - bungalow
cabai - cabe

dan masih banyak lagi [dapat dilihat di tabel kata baku dan tidak baku hal 41, buku Panduan EYD dan Tata Bahasa Indonesia, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional, 2010] --> ternyata, banyak juga kata tidak baku yang biasa aku pakai, duh...

Jadi benar, bahwa kesalahan penulisan kata/kalimat baku dan tidak baku serta kesalahan pengetikan merupakan indikasi bahwa kita kurang serius atau teliti dalam menulis.

Mulai sekarang, berlatihlah untuk selalu menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. semakin sering berlatih, semakin terampillah kita. kalau bukan kita-WNI- yang patuh dengan tata bahasa Indonesia yang benar, trus siapa lagi?

No comments: