8.7.10

pengelolaan masjid

meskipun mas emen menjadi sekretaris DKM masjid di komplek, tapi aku tidak mau ikut campur ngurusin tetek bengeknya. aku ikut aja kalau disuruh misalnya shodaqoh makan, takjilan, donatur bulanan, pengajian dll. tetapi aku tidak mau tahu urusan dan permasalahan yang timbul dari pengelolaan masjid.

pada awalnya aku masih mau membantu dengan mengedarkan jadwal makan siang untuk ustad yang menjadi marbot di masjid. saat itu, banyak ibu-ibu yang komplain [baca: menggerutu] dan anehnya ditujukan ke aku, seakan-akan aku pembuat kebijakan itu. sejak saat itu, aku mutung, aku tidak mau ikut membantu hal-hal teknis pengurusan masjid. apalagi aku sudah disibukkan dengan urusan domestik rumah dan pekerjaan kantor yang menuntut perhatian lebih.

ada juga yang membuatku tidak berminat membantu. apabila bapak-bapak pengurus DKM berselisih paham, ibu-ibunya ikut-ikutan. Bapak-bapak ngeblock/ngegang, ibu-ibunyapun begitu. i see, sunatullah, bahwa manusia sebagai makhluk sosial pasti akan bergabung dengan orang-orang yang seide yang membuatnya nyaman dan pasti akan menghindari kelompok yang membuatnya tidak nyaman.

sebagai orang luar [di luar pengurusan DKM] aku melihat ada dua kubu dalam pengurusan itu. kubu yang satu lebih banyak mengalah untuk memuaskan kubu yang lain agar tercipta suatu keserasian dan pencapaian tujuan. la wong ini urusan masjid yang tujuannya mendapatkan ridlo Ilahi kok pakai berantem, nggak lucu kan...

orang punya karakter masing-masing. ada yang hobi ke masjid untuk sholat berjamaah ada juga yang hobinya renovasi masjid.
"ayo Pak, kita sholat dulu, udah masauk ashar nih!", ajak seorang bapak
"ya, monggo...sampaeyan saja yang sholat, aku yang mbangun masjidnya" jawab si bapak satunya sambil terkekeh.
kita tidak berhak menilai siapa yang mendapatkan pahala lebih. yang berhak menilai adalah Allah, Dzat Pemilik Segala.

kenapa aku tiba-tiba menulis ini? karena kemarin malam, saat masih hujan, saat aku baru saja pulang, tiba-tiba ada yang datang ke rumah mencari mas emen.
"bapak ada bu?" tanya pak Haji ketua DKM
"sudah berangkat pak, tadi pagi ke Banyumas, pulangnya jumat pagi" jawabku
"oh, saya kira ada di rumah, ini undangan pengajian dan surat serta daftar iuran bulanan ada yang direvisi, jadi mohon dirubah" kata pak Haji lagi.
"baik Pak, saya aja nanti yang edit, mohon konsep kemaren dicorat-coret saja buat panduan saya mengedit" kataku menawarkan diri.

mas emen memang pengurus yang paling muda. tugasnya mengkonsep dan mengetik undangan, surat pemberitahuan dll. tidak masalah sih, tetapi yang menjadi masalah adalah eksekusi suatu kebijakan tersebut ada di dua kubu dan kadang berubah-ubah.

aku mengalaminya sekarang. setelah kemaren malam didatengi pak Haji, semalam ada lagi yang datang meminta hal yang sama, mengedit surat. ternyata ada revisi lagi. si bapak bilang ini keputusan terkahir. trus yang mana yang harus aku ikuti? daripada bingung-bingung, aku buat dua versi aja, terserah yang mana yang akan dipakai :D

No comments: