berdasarkan cerita ayah, dan menuliskannya:
saat sholat maghrib di suatu hari, seperti biasa masjid al muhajirin mengadakan sholat jamaah dengan imam ustad aceng. saat itu, ada beberapa anak-anak yang ikut sholat. saat rakaat pertama anak-anak masih anteng, rokaat kedua sudah mulai senggol-senggolan, belum selesai rokaat kedua mereka sudah lari-larian kesana-kemari sehingga suasana menjadi gaduh.
sesaat setelah salam dan berdoa sebentar, ada seorang bapak langsung bicara ke jamaah: "besok-besok lagi, yang mau berjamaah di masjid ini dilarang bawa anak kecil!, bikin gaduh, membuat konsentrasi terpecah sehingga tidak khusuk".
jamaah diam, tidak ada yan menyahut, semua dengan pikiran masing-masing. ada yang ingin berargumen tapi ditahan dulu, sambil menunggu suasana tenang.
dari ilustrasi cerita di atas, sebenarnya boleh ngga sih ajak anak kecil ke masjid?
menurut pendapat pribadi dan pendapat orang-orang yang berpikiran sama, justru anak kecil sangat dianjurkan diajak ke masjid agar mereka punya keterikatan dengan masjid sejak usia dini.
saat ini kita selalu mengeluh, kenapa yang jamaah ke masjid itu-itu sama. semakin hari, jamaahnya semakin sedikit. anak-anak, begitu beranjak remaja mendadak kehilangan minat ke masjid karena sibuk belajarlah, maen ps lah, fb an lah, ngeband lah, dll. alhasil, jamaah masjid isinya cuma bapak-bapak atau ibu-ibu sepuh yang sudah mendekati timingnya dan itupun dapat dihitung dengan jari.
jadi, bagaimana kita berharap output anak-anak ini kelak ketika remaja atau dewasa akan cinta masjid kalau sejak kecil dlarang ke masjid? ingatan anak-anak sangat kuat, andaikata larangan itu sampai terpatri ke sanubari mereka, alangkah bersalahnya kita orang dewasa.
hanya demi kegoisan orang dewasa, anak-anak ini dilarang ke masjid. mungkin saja mereka dulu waktu muda jarang jamaah, jadi saat waktu mendekati limit baru senang-senangnya ke masjid dan tidak mau ada gangguan.
mereka tidak berpikir, bahwa kekhusukan itu berasal dari diri mereka sendiri, entah itu di tempat sepi atau tempat rame. jadi inget, ada seorang sahabat yang terkena panah saat perang, saat panah itu akan dicabut, sahabat ini melakukan sholat untuk mengalihkan rasa sakitnya. sholat menjadi semacam obat bius. sahabat ini sangking khusuknya sholat bisa mengabaikan gangguan [rasa sakit] dari tubuhnya, dan apalagi gangguan di luar dirinya semisal lingkungan sekitar.
memang begitulah anak-anak, mereka hanya tahu bermain dan bermain. bahkan beberapa sekolah mengadopsi moto 'belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar'. saat di masjid, seyogyanya mereka bisa tertib dan teratur. sebagai orang dewasa tentu saja kita harus mengingatkanya saat mereka mulai gaduh, dengan bahasa yang bisa diterima anak-anak tentunya.
ada sebuah hadist, Abdullah bin syaddad meriwatkan dari ayahnya bahwa, "ketika datang waktu sholat isya, Rasulullah SAW datang mebawa cucunya Hasan dan Husain. Beliau maju sebagai iman dan meletakkan cucunya. Beliau takbir dan sholat. ketika sujud, ayah Abdullah ini sempat mengangkat kepalanya karena sujud Rasulullah sangat panjang, dan melihat cucu Rasulullah menaiki punggung beliau. Selesai sholat sahabat berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, tadi Engkau memanjangkan sujud dengan sangat lama, kami mengira telah terjadi suatu peristiwa besar atau telah turun wahtu kepadamu". Rasulullah menjawab, "Semua yang kalian katakan itu tidak terjadi, saat itu cucuku sedang bersenang-senang denganku dan aku tidak suka menghentikannya sampai dia menyelesaikan keinginannya". (HR. An Nasai dalam Kitab At Thathbiq, Hadist Nomor 1129).
Subhanallah..! Rasululaah, orang yang paling mulia di sisi Allah saja sangat menghargai anak-anak. Bagaimana kita akan menteladani Beliau kalau kita tidak mengikuti sunahnya, tidak menghargai keinginan anak-anak. Hadist di atas bukan satu-satunya hadist yang meriwatkan betapa Rasulullah sangat menghargai anak-anak. Masih ada beberapa hadist yang lain.
Jadi, tetap ajaklah anak-anak kita ke masjid, tanamkan kecintaan mereka terhadap masjid. saat mereka mulai gaduh peringatkanlah mereka dengan baik, jangan marahi, dan janganah sekali-kali melarang mereka datang ke rumah Allah.
saat sholat maghrib di suatu hari, seperti biasa masjid al muhajirin mengadakan sholat jamaah dengan imam ustad aceng. saat itu, ada beberapa anak-anak yang ikut sholat. saat rakaat pertama anak-anak masih anteng, rokaat kedua sudah mulai senggol-senggolan, belum selesai rokaat kedua mereka sudah lari-larian kesana-kemari sehingga suasana menjadi gaduh.
sesaat setelah salam dan berdoa sebentar, ada seorang bapak langsung bicara ke jamaah: "besok-besok lagi, yang mau berjamaah di masjid ini dilarang bawa anak kecil!, bikin gaduh, membuat konsentrasi terpecah sehingga tidak khusuk".
jamaah diam, tidak ada yan menyahut, semua dengan pikiran masing-masing. ada yang ingin berargumen tapi ditahan dulu, sambil menunggu suasana tenang.
dari ilustrasi cerita di atas, sebenarnya boleh ngga sih ajak anak kecil ke masjid?
menurut pendapat pribadi dan pendapat orang-orang yang berpikiran sama, justru anak kecil sangat dianjurkan diajak ke masjid agar mereka punya keterikatan dengan masjid sejak usia dini.
saat ini kita selalu mengeluh, kenapa yang jamaah ke masjid itu-itu sama. semakin hari, jamaahnya semakin sedikit. anak-anak, begitu beranjak remaja mendadak kehilangan minat ke masjid karena sibuk belajarlah, maen ps lah, fb an lah, ngeband lah, dll. alhasil, jamaah masjid isinya cuma bapak-bapak atau ibu-ibu sepuh yang sudah mendekati timingnya dan itupun dapat dihitung dengan jari.
jadi, bagaimana kita berharap output anak-anak ini kelak ketika remaja atau dewasa akan cinta masjid kalau sejak kecil dlarang ke masjid? ingatan anak-anak sangat kuat, andaikata larangan itu sampai terpatri ke sanubari mereka, alangkah bersalahnya kita orang dewasa.
hanya demi kegoisan orang dewasa, anak-anak ini dilarang ke masjid. mungkin saja mereka dulu waktu muda jarang jamaah, jadi saat waktu mendekati limit baru senang-senangnya ke masjid dan tidak mau ada gangguan.
mereka tidak berpikir, bahwa kekhusukan itu berasal dari diri mereka sendiri, entah itu di tempat sepi atau tempat rame. jadi inget, ada seorang sahabat yang terkena panah saat perang, saat panah itu akan dicabut, sahabat ini melakukan sholat untuk mengalihkan rasa sakitnya. sholat menjadi semacam obat bius. sahabat ini sangking khusuknya sholat bisa mengabaikan gangguan [rasa sakit] dari tubuhnya, dan apalagi gangguan di luar dirinya semisal lingkungan sekitar.
memang begitulah anak-anak, mereka hanya tahu bermain dan bermain. bahkan beberapa sekolah mengadopsi moto 'belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar'. saat di masjid, seyogyanya mereka bisa tertib dan teratur. sebagai orang dewasa tentu saja kita harus mengingatkanya saat mereka mulai gaduh, dengan bahasa yang bisa diterima anak-anak tentunya.
ada sebuah hadist, Abdullah bin syaddad meriwatkan dari ayahnya bahwa, "ketika datang waktu sholat isya, Rasulullah SAW datang mebawa cucunya Hasan dan Husain. Beliau maju sebagai iman dan meletakkan cucunya. Beliau takbir dan sholat. ketika sujud, ayah Abdullah ini sempat mengangkat kepalanya karena sujud Rasulullah sangat panjang, dan melihat cucu Rasulullah menaiki punggung beliau. Selesai sholat sahabat berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, tadi Engkau memanjangkan sujud dengan sangat lama, kami mengira telah terjadi suatu peristiwa besar atau telah turun wahtu kepadamu". Rasulullah menjawab, "Semua yang kalian katakan itu tidak terjadi, saat itu cucuku sedang bersenang-senang denganku dan aku tidak suka menghentikannya sampai dia menyelesaikan keinginannya". (HR. An Nasai dalam Kitab At Thathbiq, Hadist Nomor 1129).
Subhanallah..! Rasululaah, orang yang paling mulia di sisi Allah saja sangat menghargai anak-anak. Bagaimana kita akan menteladani Beliau kalau kita tidak mengikuti sunahnya, tidak menghargai keinginan anak-anak. Hadist di atas bukan satu-satunya hadist yang meriwatkan betapa Rasulullah sangat menghargai anak-anak. Masih ada beberapa hadist yang lain.
Jadi, tetap ajaklah anak-anak kita ke masjid, tanamkan kecintaan mereka terhadap masjid. saat mereka mulai gaduh peringatkanlah mereka dengan baik, jangan marahi, dan janganah sekali-kali melarang mereka datang ke rumah Allah.
No comments:
Post a Comment