5.10.14

Random


Fisika itu menjadi momok bagiku. Aku bahkan pernah mendapatkan nilai merah untuk mata pelajaran itu. Bagaimana aku akan menyenangi atau berusaha paham dengan rumus-rumus saat guru pengampu super galak, seolah hidup kita tergantung padanya. Sejak itu, ketidaksukaan sama Fisika semakin menjadi.

Namun, Takdir berkata lain, ternyata mendapatkan jodoh orang fisika, dan seringkali orang2 dengan latar belakang itu berkumpul di rumah.

Ada hal menarik saat mereka berbincang, aku coba mensarikan sebatas kemampuan yang ada, begini:
Kadangkala hidup itu polanya bersifat random seperti lintasan partikel dalam tinjauan kuantum. Kita tidak dapat memprediksi outcome dari hasil pengukurannya. Artinya, berbuat baik tidak musti berbuah kebaikan. Namun yg pasti, peluang berbuah kebaikan akan lebih banyak dibandingkan ketika tidak berbuat baik.

Dalam fisika kuantum, besaran2 tidak lagi deterministik (entahlah, apa artinya itu). Dipikir-pikir seperti itulah Tuhan mengatur hidup, selalu memberikan peluang campur tangan-Nya. Bahkan sepemahamanku, semua terjadi atas kehendak-Nya.

Yang bisa kita lakukan hanya memperbesar peluang itu agar sesuai dengan harapan. Tapi, apakah hasilnya akan benar2 sesuai harapan...itu yang tidak diketahui secara pasti. Inti dari ikhtiar kemudia tawakal.

Seperti ketidakpastian lintasan partikel dalam sudut pandang kuantum, banyak fenomena yang membuat kita tertegun. Seperti sulap. Bahkan Richard Fynman berkata "I would safely say that nobody understand quantum physics". Ekspertis saja berkata demikian. Namun, kadangkala [banyak] orang dengan sombongnya berkata, aku tahu ini, aku paham itu, seolah tidak ada orang lain yang tahu atau paham hal yang sama. Manusiawi: hanya melihat permukaan tapi tidak pernah menengok esensi. Pilihan.

Jalan hidup atau takdir itu prosesnya cukup stokastik namun memiliki korelasi yang sangat komplek. Ada relasi antara satu dan yang lainnya: keterkaitan.

Yang kita bisa lakukan adalah ikhtiar, memperbanyak peluang kebaikan. Hasil akhirnya seperti proses dalam fisika kuantum: unpredictable. Penentu akhir dari segala ikhtiar ada di kehendak-Nya.
Sedang menghitung dan evaluasi diri: kenapa begini kenapa begitu.

Bolehkah kita bayar tunai: kebaikan dibalas kebaikan, kejahatan dibalas kejahatan? Dengan berlindung pada kata "manusiawi" agar tetap berdiri tegak dengan harga diri. Membalas kejahatan dengan kebaikan. Seyoyanya, demikian khutbah id tadi pagi. Namun susah sekali, seperti berniat vegetarian di saat kiriman daging kurban melimpah. Tapi tetap bukan hal mustahil.

Mengutip Gus Mus:
IKHLAS itu tidak sulit, tapi berat, karena menuntut melepaskan PAMRIH. Semoga Allah Swt menganugerahi kita semua kecerdasan untuk memahami firman dan ayat2-Nya, amin.

Gambar diambil dari sini

No comments: