Ada yang ingat dengan film Philadelphia? Malam minggu kemarin menonton film ini di HBO max. Film lama yang diputar ulang. Dulu pernah menontonnya, tapi malam itu ingin menikmati lagi sensasi emosi yang dituai saat menontonnya.
Awalnya keluarga Geoffrey Bowers menggungat para penulis dan produser film ini setelah setahun kematian Bowers. Mereka menegaskan ada sekitar 54 adegan dalam film ini yang sangat mirip dengan peristiwa dalam kehidupan Bowers. Namun akhirnya gugatan tersebut dapat diselesaikan dan para sineas film Philadelphia mengakui bahwa film ini memang ’sebagian terinspirasi’ dari jalan hidup Bowers.
Baik, mari mulai dengan cerita film ini. Andrew Becket (Tom Hanks) adalah seorang pengacara ternama dari firma hukum terkenal di Philadelphia. Dia seorang homoseksual yang tinggal bersama dengan pasangan gaynya Miguel Álvarez (Antonio Banderas). Andy/Andrew Beckett menyembunyikan gaya hidupnya itu dari teman-teman maupun pimpinan di firma hukum tempat dia bekerja, pun dengan penyakit HIV/AIDS yang diperoleh dari akibat gaya hidupnya tersebut.
Akhirnya setelah beberapa lama dengan berbagai kejadian, Andy dipecat dari firma hukum tempatnya bekerja dengan alasan tidak berkerja profesional selayaknya seorang pengacara. Andy dituduh menghilangkan berkas kasus yang sedang ditanganinya.
Andy menduga bahwa memang ada seseorang yang sengaja menyembunyikan dokumen tersebut dan menjadikannya alasan pemecatan. Andy sepenuhnya percaya bahwa pemecatan dirinya sebenarnya disebabkan karena dia adalah seorang ODHA (orang dengan HIV/AIDS).
Andy menggugat firma hukum yang memecatnya, dan menjadi pengacara atas dirinya sendiri karena tidak ada satupun teman yang bersedia membantu dan membelanya.
Melihat segala bentuk diskriminasi yang diterima oleh Andy sebagai seorang ODHA membuat Joe Miller (Denzel Washington) tergugah dan akhirnya bersedia menjadi pengacara dan menemani Andy dalam segala proses hukumnya.
Setelah melewati beberapa kali persidangan dengan berbagai saksi dan bukti, Andy terjatuh saat testimoni Charles Wheeler (Jason Robards), pemimpin firma hukum sekaligus tergugat. Andy langsung dibawa ke rumah sakit. Selama Andy rawat inap, para juri memutuskan memenangkan gugatannya dan mewajibkan Wheeler untuk membayar ganti rugi sebesar $4.5M kepada Andy atas segala rasa sakit, kekecewaan, diskrimasi dan penderitaan serta punitive damages yang dialami.
Andy mengatakan pada pasangan gay nya, Miguel bahwa dia siap menuju kematian. Film kemudian diakhiri dengan resepsi kematian Andy yang dihadiri oleh teman-temannya. Dalam resepsi diputar video rekaman Andy saat masih anak-anak. Semua yang hadir menyaksikan video itu, dan menyimpulkan bahwa Andy –seorang yang mereka kasihi- hanyalah seorang anak yang sehat, lincah dan pintar.
Oke, kita sudahi cerita tentang Philadelphia dan mari kita mengambil pelajaran darinya. Tahun 2003-2004 aku pernah bekerja di Center of Excellent for TB-HIV, kolaborasi antara Indonesia, Nepal, Belgia dan Belanda. Center itu diharapkan menjadi pusat informasi tentang HIV/AIDS di Indonesia baik mengenai virus itu sendiri maupun treatment dan penyebarannya di Indonesia. Kegiatannya adalah penelitian, edukasi, konsultasi/counseling/pendampingan, dll.
Saat itu, aku tidak hanya bertemu dengan para pemangku kebijakan/birokrasi di KPAD (Komisi penanggulangan Aids Daerah), para medis, para peneliti namun juga dengan para ODHA, para transgender, pemakai narkoba, dll.
Aku/kami bergaul dengan para ODHA selayaknya bergaul dengan orang sehat (dan atau orang dengan penyakit tertentu selain HIV/AIDS) lainnya. Kami biasa pergi, ngobrol, dan makan bersama dengan ODHA. Tidak ada kekhawatiran sedikitpun dari kami akan tertular dari virus yang dibawa ODHA, karena kami tahu dan sangat paham tentang bagaimana penularan virus ini.
Jadi, aku kadang suka heran dengan berbagai tanggapan/reaksi dari teman-teman (teman-teman yang berpendidikan tinggi dengan lingkup pergaulan yang luas) saat mereka tahu bahwa orang dihadapannya adalah seorang ODHA. Mereka secara implisit (dan eksplisit) mencoba menghindari si ODHA, dari mimik dan gesture sangat terlihat bahwa mereka tidak nyaman bersinggungan dengan ODHA. Hari gene!
Padahal mainstream film Philadelphia ini diproduksi dan ditayangkan tahun 1993. Dalam rentang waktu hampir 22 tahun tenyata masih saja ada orang yang berpikir dan berlaku demikian, berpikir bahwa mereka akan tertular HIV/AIDS hanya karena ngobrol atau berjabat tangan.
Tulisan ini sedikitpun tidak akan berhubungan dengan SARA, aturan dan norma yang berlaku di masyarakat. Jadi, abaikan dari mana mereka dapat virus ini (entah karena akibat dari gaya hidupnya maupun karena kecelakaan/kesalahan prosedur seperti ODHA karena tranfusi darah dan kesalahan medis lainnya).
Yang aku tahu, sejak bekerja di Center itu aku jadi memiliki suatu pandangan tertentu tentang hidup terutama untuk hidup aku saat itu dan ke depan. Saat itu aku merasa hidupku sangat flat dan cenderung membosankan, seperti air mengalir dengan tenangnya. Sejak bergaul dengan para ODHA dan berbagai kisah yang melatarbelakanginya menjadi ODHA, membuatku menyimpulkan bahwa kita harus sangat bersyukur atas segala keadaan kita, takdir kita bahwa kita dapat dan diberi kesempatan untuk hidup normal. Hidup normal selayaknya yang berlaku dan terjadi di masyarakat. Para ODHA itu dengan segala konsekuensi yang dimilki (kondisi kekebalan tubuh yang semakin menurun, diskrimasi yang didapat, bahkan sampai dikucilkan dari keluarga dan orang-orang yang dikasihinya) bangkit membangun kembali dari awal untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.
Bahkan ada beberapa ODHA yang merasa mendapatkan ’berkah’. Dengan adanya virus itu membuat mereka mengubah segala gaya hidup hitamnya di masa lalu. Berkah lain adalah mereka bisa berbagi kepada khayalak agar orang lain terhindar dari virus HIV, menjadi relawan atau bekerja di NGO bidang edukasi HIV-AIDS.
Dan nikmat Tuhan manakah yang Engkau dustakan. Hidup kita sangat jauh lebih baik dibanding mereka, dengan ke’normal’an hidup yang kita miliki saat ini rasanya tidak layak bagi kita untuk mengeluhkan hal-hal kecil yang bisa teratasi hanya dengan merubah mindsetting. You know, you feel, and you choose atas takdir hidup saat ini dan takdir hidup yang akan datang.
Cerita film disitasi dari sini