21.3.17

Collateral Beauty

Dari semua film yang diperankan oleh Will Smith sebagai aktor utamanya, aku memilih dua film favorit: The Pursuit of Happyness (2006), dan Seven Pounds (2008), drama kehidupan yang menguras airmata dan butuh sedikit kernyitan untuk memahami jalan ceritanya. 

Nah, aku baru saja menyelesaikan film Will Smith terbaru: Collateral Beauty yang tayang tahun 2016. Film yang lebih banyak bercerita dengan kiasan. Tapi alih-alih menjadi film favorit. Film yang didukung oleh aktor papan atas seperti Kate Winslet, Edward Norton, Keira Knightley dll ini seolah tidak memuaskan penonton. Alur ceritanya seperti tidak selesai, hilang di tengah dan langsung melesat di ujung seolah dipaksakan. Aktor ternama dengan jam terbang tinggi bukan jaminan jika script tidak mendukung.

Collateral Beauty ini mengisahkan tentang Howard Inlet, seorang praktisi periklanan yang kharismatik dan pintar yang mendadak berubah drastis menjadi seorang pemurung dan 'aneh' karena kematian anak perempuannya. Tiga teman kerjanya mencoba mengembalikan Howard seperti kondisi semula, dengan menyewa tiga aktor untuk berlaku sebagai "Love" "Time" dan Death", jargon yang bisa Howard pegang.Cinta, waktu dan kematian, sejatinya itulah kehidupan. Memiliki waktu yang cukup untuk  cinta dan terputus tiba-tiba melalui kematian. Waktu perantaranya.

Meski tidak menjadi salah satu film favorit tapi quotes-quotesnya menarik untuk diresapi lebih dalam, seperti:
"Love is the reason for everything, the fabric of life"
"At the end of the day, every decison we make is because we long for love, wish we had more time and we fear death"
"Death is so much more vital than time. Death gives time its values".

22.11.16

On the Way to the Airport

Manis, cantik dan puitis. Love to hear every SA and DW conversation scenes, every word of them has a deep meaning: dining table, final check, wooden. Its like hear poetry in this drama, whenever rewatch those scenes I cant believe it's a drama, beautiful.

Btw, the lesson in this drama, not all people can realize, appreciate or love a good person for what's good in a person? The love-r has to be good too, not just the love-e? Well I've always believed that everyone recognized the good in a person and that we love the good. But perhaps not. A good person needs to meet a good person to be recognized or loved for the good? 

The one big positive about the show, It's reflective, contemplative, and empathetic: it draws the viewer in to think not just about the characters but about his or her own story. Like the description says, this drama reflects "thoughts about relationships." Ah...setiap Rabu dan Kamis malam tak sabar nunggu drama ini tayang, meski raw alias nonsubs. "Waiting, waiting and waiting" 

----

I'm satisfied with the ending. 
Although the drama involved something unacceptable to some (adultery or infidelity), the writer made it worth watching by not showing explicit scenes.

For some, when 'that word' is mentioned, it is expected that some not so pleasant scenes are expected. Not this drama - it was pleasantly presented/written. 
Moral of the story: "Semua orang berhak untuk bahagia" Let's live well!

10.10.16

Scent of a Woman


The best drama I've seen: excellent actors, a story well structured and interesting, simply outstanding, and memorable ost. Deserved the awards they received at SBS.

It’s one of the few melodramas that I could watch over and over again. This drama, i can definitely feel tention and desire between lead characters. Very touching.
Enticing storyline, humane and realistic character assessment, beautiful acting skills by most actors and actresses, great chemistry between SunWook.
KSA is absolutely amazing. Perfection. How does she choose every character and brings the life of each with such flair and beauty? Totally love her.

LDW? Of course, Even after having seen him in more complex roles, still enjoy his role in SoaW when I rewatch it, I appreciate how he could impress even in a simple role and, guess that's the LDW effect. Totally crazy obout him.

Overall. SOAW will forever hold a space in my heart. I realize a lot of things because of this drama, the importance of living our life and enjoying it to the fullest are just a few.

17.6.16

Jejak Kenangan


Sangat setuju dengan pernyataan Pak Anies Baswedan, Menteri Dikbud saat ini, sebagaimana berita dari laman ini, bahwa alangkah baiknya jika siswa mengejakan semua tugas di sekolah, dan tidak membebaninya dengan banyak Pekerjaan Rumah (PR).

Di laman tersebut juga disampaikan bahwa saat ini banyak sekolah yang memberikan Pekerjaan Rumah (PR) kepada siswanya. Bahkan dalam sehari, siswa harus mengerjakan sejumlah PR untuk beberapa mata pelajaran.

Diakui oleh pak Menteri bahwa tidak aturan Permendikbud yang khusus mengatur tentang seberapa banyak PR yang harus diselesaikan oleh siswa. Beliau juga mengakui bahwa banyak guru yang sangat kreatif memberikan banyak PR ke siswanya. Oleh karenanya, beliau menghimbau agar seluruh tugas dapat diselesaikan di sekolah sehingga saat siswa kembali ke rumah, dapat leluasa bermain karena tugas seorang siwa selain sekolah adalah bermain. Bermain sangat berguna bagi tumbuh kembang siswatersebut.

Alhamdulillah, mendapatkan sekolah yang sesuai dengan harapan, yang berbeda dengan sekolah lainnya namun tetap mengikuti kurikulum dari Dikbud. Pola pembelajarannya dikemas menyenangkan sehingga siswa merasa tidak sedang belajar tapi sedang bermain.

Terkait dengan PR, bapak ibu guru di sekolah Raya dan Izza, memberikannya satu kali dalam beberapa minggu (biasanya hari jumat), dan menamainya dengan "Home Challenge (HC)". Di HC ini, bapak ibu guru biasanya membuat soal cerita dengan tokoh-tokoh siswa di kelas, sehingga siswa semangat mengerjakannya karena merasa terlibat dalam kegiatan cerita di HC tersebut. Satu HC merupakan rangkaian cerita tentang tema tertentu (sesuai silabi/action plan) yang memuat beberapa mata pelajaran, misalnya sedang tema cuaca, maka HC akan memuat cerita tentang cuaca dilihat dari sisi matematika, IPA, agama, bahasa Indonesia, English, dll.

Masih banyak cerita lainnya yang tak kalah mengasyikkan, seperti aqua play, home visit maupun kunjungan edukasi ke tempat-tempat tertentu sesuai tema. Salah satu kegiatan yang paling mengasyikkan buat anak-anak adalah camping atau mabit. Jika banyak ortu merasa ikut stres saat anak mau ujian, dan apalagi jika si anak tidak mau belajar. Berbeda dengan kami, kami bahkan tidak merasa jika anak-anak mau ujian karena biasanya saat beberapa hari jelang ujian, sekolah malah mengadakan kegiatan mengasyikkan di luar sekolah, salah satunya adalah camping. Saat kegiatan camping disounding sebulan sebelumnya, sebulan itu pula anak-anak semangat mempersiapkan segala sesuatunya dan menghitung hari, serta tidak sabar untuk segera mengikuti camping. Tidak ada kekhawatiran bahwa dua hari itu mereka akan menginap di tenda dan di luar rumah, yang ada mereka semangat mempersiapkan diri untuk mengikuti seluruh rangkain kegiatan yang dirancang oleh sekolah.

Semoga ikhtiar bapak ibu guru dalam merancang dan menerapkan pembelajaran yang mengasyikkan bermanfaat untuk tumbuh kembang anak-anak dan berguna untuk masa depannya. Semoga juga anak-anak memiliki kenangan yang indah di masa kecilnya, seperti patronus dalam cerita Harry Potter, ketika mengingat kenangan tersebut hati menjadi hangat.

Nah, Salah satu jejak kenangan dalam camping itu ditulis oleh Raya dan dikirimkan ke majalah Bobo. Alhamdulillah diterbitkan dalam edisi 16 Juni 2016. Selamat ya Ray....

30.3.16

Wu Xia

Wu Xia

Setelah kemarin nonton IP Man 3, hari ini menyelesaikan satu lagi film Donnie Yen yang berjudul Wu Xia, ada yang pernah menontonnya?

Wu Xia adalah sebuah film Mandarin tahun 2011 yang disutradarai Peter Chan. Film ini akan dibintangi oleh Donnie Yen, Takeshi Kaneshiro, dan Tang Wei.

Wu Xia menceritakan tentang Liu Jin Xi (Donnie Yen) seorang pembunuh yang kejam dan berusaha menyembunyikan diri dari masa lalu yang kelam ke sebuah desa kecil dan memulai hidup baru sebagai orang baik. Dia menjadi buronan dari seorang detektif bernama Xu Bai-jiu (Takeshi Kaneshiro)

Berbeda dengan konsep yang biasanya dianut film-film martial arts, Wu Xia memasukkan unsur misteri dan kisah detektif mirip Sherlock Holmes. Di bagian awal film ini memang diisi dengan adegan penyelidikan kasus perampokan yang berbuntut kematian.

Seperti biasa, kita dimanjakan dengan adegan kungfu tingkat tinggi. Di Wu Xia ini Donnie Yen berhasil mendemonstrasikan sebuah seni bela diri dengan menambahkan elemen medical dan ilmiah (seni akupuntur, logam dan petir, dll) kedalam koreografi adegan laga. Selain itu, kita juga dimanjakan dengan latar desa yang benar-benar indah: hutannya, areal pertanian, tebing, dll.

Moral storynya adalah lagi-lagi "Tidak ada yang lebih penting selain cinta dari keluarga" tentu saja jika keluarga dan anggotanya masih dalam satu track jalan kebenaran. Kebenaran tetap yang utama meskipun akhirnya harus berhadapan dengan keluarganya sendiri.

*saat raker

4.2.16

Mimpi

Di postingan sebelumnya aku pernah menceritakan tentang mimpi sebuah rumah putih. Aku memimpikannya bahkan sampai dua kali.

Nah, semalam aku memimpikan kembali rumah itu, namun bukan dari sisi luarnya namun dari dalamnya. Dan seperti biasa, aku memimpikannya dengan detail.

Rumah yang "singup", dingin, pun kehidupan penghuninya. Rumah dengan banyak kamar, yang setiap kamarnya memiliki lorong. Kamar mandinya tidak menjadi satu dengan kamar tidur, tapi terpisah dan menghadap lorong. Namun setiap kamar tidur memiliki kamar mandi sendiri-sendiri. Setiap kamar tidur dilengkapi dengan mebelier kayu jati yang dipernis halus baik itu tempat tidur, lemari baju maupun meja rias. Mebeleir yang minim ukiran tapi terlihat sangat elegan, khas priyayi. Bahkan di kamar mandipun juga terdapat lemari tempat handuk yang juga terbuat dari kayu jati halus. Dalam mimpi, sempat berpikir, bagaimana ada lemari kayu di kamar mandi, sekering-keringnya kamar mandi kering pasti akan terasa lembab yang menyebabkan lemari kayu mudah keropos.

Lantai setiap kamar tidur dilapisi dengan karpet tebal. Mungkin penghuninya berpikir bahwa dengan lantai karpet, berharap kamar tidur menjadi lebih hangat. Tapi yang aku rasakan dalam mimpi itu, justru bukan kehangatan tapi kelembaban, padahal jendela yang berwarna putih dibuka lebar-lebar saat pagi menjelang.

Sedangkan di ruang tamu, ruang keluarga dan juga lorong, lantainya berupa marmer coklat muda, masih sama seperti mimpi-mimpiku sebelumnya. Lantai yang akan terasa dingin saat kita menginjaknya. Makanya penghuni rumah itu selalu memakai alas kaki khusus dalam rumah.

Meja tamu kayu yang minim ukiran,  meja marmer bulat dan lampu kristal yang menggantung tidak terlalu tinggi, masih sama seperti mimpiku sebelumnya.

Yang paling membedakan adalah, di mimpi ini ada sekelebat kehidupan penghuninya. Seorang suami istri dengan seorang anak laki-laki, seorang ibu dengan seorang anak remaja putri, dan seorang nenek. Nenek inilah pemilik dari rumah itu. Seorang suami itu anaknya si nenek. Sedangkan seorang ibu dengan anak remaja, aku tidak terlalu jelas menangkap siapa mereka sebenarnya. Yang pasti mereka tidak ada pertalian darah dengan si nenek. 

Dingin, seolah ada tragedi di sana. Cerita tentang masa lalu yang membuat ketidakhangatan keluarga itu di masa kini. Seorang istri yang lebih banyak diam di rumah tapi lebih banyak bercengkrama dengan teman-teman sosialitanya membicarakan omong kosong tentang tas, berlian dan sebagainya.

Seorang suami yang sibuk menghabiskan waktunya di tempat kerja seolah-olah kerja itu hobi utama, padahal sebenarnya  hanya ingin melarikan diri dari rumah, meski pulang kembali ke rumahnya setiap malam.

Seorang ibu dengan anak remajanya, yang selalu merasa bersalah atas semua hal yang terjadi, tapi tidak sanggup berbuat lebih bayak selain tetap tinggal di rumah itu demi tumbuh kembang putrinya.

Seorang nenek yang lebih banyak duduk di kursi goyangnya dalam keheningan, sambil memandang jauh ke luar jendela.

.............................


3.2.16

Seperti biasa, rasanya kurang pas saat selesai menonton sebuah film dan tidak menuliskan kesan yang didapat dari film itu di blog ini.

Seberapa berpengaruhnya arti cinta bagi kehidupan seseorang? sebegitu besarkah? Pertanyaan itu muncul saat sedang dan selesai menoton sebuah film yang menceritakan tentang kisah percintaan sepasang kekasih yang akhirnya tidak bisa bersatu karena terhalang oleh banyak hal.

Sampai ada seorang ibu, yang menghancurkan kehidupannya dengan tetap terkenang pada kekasih lamanya yang tidak jua muncul. Tega mengabaikan anak satu-satunya, terutama perkembangan jiwanya.

Ada juga seorang anak yang sebegitu harsh pada ibunya. Bahkan saat ibunya sekarat, dia mampu berlaku kasar demi keinginannya tercapai.

Meski film itu memanjakan kita dengan pemandangan kota tua yang antik dan mempesona, juga para aktor yang bermain dengan apik, tapi aku masih belum bisa menerima hal-hal seperti itu, saat seorang ibu sebegitunya demi cintanya pada seorang di masa lalu sampai mengabaikan keluarganya di masa kini.

Pesan tentang imbas dari pergolakan politik di masa lalu tidak terlalu terlihat nyata dan tersampaikan, karena bumbu asmara yang lebih kental. Tapi mungkin memang itu yang dituju oleh sutradara, bahwa kisah seorang (yang dianggap) tahanan eksil hanyalah pelengkap atau bagian lain dari cerita utama: kisah asmara yang tidak bersatu.

1.2.16

Kopi Espresso

Kamu menyibakkan rambut indah yang sedari tadi tak bosan-bosannya turun menutupi kacamata berbingkai tebal itu. sejurus kemudian, entah karena bosan harus menyibakkan rambut terus-menerus, kamu mengambil sesuatu dari tas yang dilampirkan di bahu kursi yang diduduki, ternyata sebuah jepitan rambut berhiaskan dua kupu-kupu kecil. Kamu mengaitkan jepitan itu ke rambut yang sedari tadi mengganggu aktivitasmu membaca. Jepitan kupu warna emas itu sangat kontras dengan rambutmu yang hitam legam. Kamu tampak sangat cantik, semakin menawan begitu rupa.

Kembali kamu terpekur dalam netbook, yang sedari tadi menemani, selain secangkir espresso itu tentu saja. Tangan kirimu masih di atas keyboard netbook, sedangkan jemari lentik tangan kananmu pelan-pelan mengangkat cangkir espreso. Mukamu menunduk, seolah bibir dan mulutmu tak sabar ingin segera merasakan espreso itu. Oh tidak...ternyata kamu hanya mencium dan membaui harum espresso itu. Matamu memejam dan bibirmu terangkat melengkung ke atas, ada rasa puas di sana. Pelan-pelan kamu menyeruput espresso itu, meneguknya sekali kemudian berhenti, kamu tersenyum.

Kamu kembali menekuri netbook. Wajahmu nampak serius. Sebuah pemandangan indah yang aku jumpai sejak hampir seminggu ini di sini, di kedai kopi yang aku diperintahkan untuk datangi. 

Di hari yang kelima dan terakhir ini, aku masih beruntung menyaksikan pemandangan indah itu, karena tak akan ada hari keenam, ketujuh dan seterusnya. Masih dengan formasi yang sama, selang dua meja dari tempat dudukku sekarang. Masih sama, tak berbeda dari hari pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima.

Aku beranjak dari tempat duduk, bergerak pelan menuju wastafel, mencuci tangan yang tak kotor sebenarnya. Aku memang berpura-pura mencuci tangan dengan harapan menemukan wajahmu yang terpantul di cermin besar atas wastafel ini. Ternyata memang benar, noda-noda di cermin ini seolah menghilang tergantikan dengan pemandangan indah mempesona: gadis berambut hitam legam dengan jepitan kupu-kupu emas dan berkaca mata dengan bingkai tebal.

Waktuku tak lama lagi, aku harus segera kembali. apa yang harus aku lakukan demi bersua dengannya sekali saja, mendengarkan suaranya sekali saja, dan menatap mata indahnya sekali saja?

Kamu memandang jam tangan kulit yang melingkar di tangan kirimu. Seolah tak percaya, kamu melihat kembali jam tangan itu. Tiba-tiba kamu mengemasi barang-barang dengan segera, memasukkan buku dan gadgetmu dengan terburu, mengambil dompet, mengeluarkan uang kemudian menaruhnya di dekat cangkir kopi espresso yang tersisa satu tegukan itu, dan meninggalkan meja yang biasa kamu duduki selama lima hari ini dengan tergesa.

Aku terpekur, namun aku harus beranjak, sudah tidak ada waktu lagi, sudah saatnya.

---

Selang beberapa saat kedai kopi itu meledak


Foto diambil dari sini

Mimpi

Siapa sih yang tidak pernah mimpi. Mimpi dalam arti yang sebenarnya ya, yang biasa juga kita sebut bunga tidur. Aku pikir, setiap orang pasti pernah bermimpi, meskipun hanya sekali. Tapi siapa tahu karena ada gangguan kesehatan dan semacamnya, membuat seseorang tidak bisa/jarang memiliki mimpi dalam tidurnya.

Kalau aku bilang, mimpi itu bisa di-setting atau ter-setting. Saat kita memiliki pikiran tertentu biasanya pikiran itu akan terbawa mimpi. Pun, sesaat menjelang tidur, dan kita memikirkan sesuatu dengan dalam, pikiran itu bisa juga masuk dalam alam mimpi.

Kalau aku mimpi biasanya detail, dan aku bisa mengingat detail itu. Entahlah kalau orang lain. Aku belum pernah membicarakan tentang ke-detail-an per-mimpi-an dengan orang lain. Semisal ya, aku mimpi punya rumah dengan bangunan ala rumah tahun 1980/1990an, bukan minimalis, tapi juga tidak rumit seperti rumah joglo misalnya. Rumah dengan bentuk letter L, Ruang tamu di depan terus masuk ke ruang keluarga dan kamar-kamar lalu belok kanan menuju dapur, gudang dll. 

Di dalam rumah itu ada meubelair kayu kuno dan antik, dan lampu gantung kristal yang juga antik. Rumah itu dikelilingi dengan pagar putih kusam yang mulai berlumut. Ada beberapa bagian yang bisa difungsikan taman, tapi sayangnya tidak terawat dengan baik, tapi juga tidak tampak amburadul. 

Sampai sekarang, aku bahkan masih bisa membaui dapur, gudang dan sekitarnya itu, seperti bau apek, bau ruangan yang jarang dijamah oleh penghuninya (baca: manusia). Hawanya juga agak creepy meski tidak juga angker. Ada rasa yang berbeda saat memasuki ruangan dapur dan sekitarnya itu. Kadang juga muncul bau tanah yang lembab. Di sebelah dapur, ada ruangan semacam kamar mandi, tapi di situ ada kolamnya, bukan kolam renang tapi kolam saja yang airnya berwarna hijau karena lumut yang jarang dibersihkan.

Terus terang di dalam dunia nyata, aku belum pernah melihat atau menemui rumah itu. Rumah dengan bentuk Letter L dengan cat putih baik tembok maupun jendela, serta berlantai marmer coklat muda. Anehnya lagi, aku  memimpikan rumah itu -dengan detail yang sama persis- sampai dua kali. Entahlah, mungkin saja aku akan memiliki atau tinggal atau hanya sekedar berkunjung dalam rumah itu.

12.1.16

Grandmaster Ip Man

Ada yang sudah nonton Ip Man 3?

Seperti biasa, membutuhkan waktu untuk move on dari euforia sesaat setelah menonton sebuah drama atau film. IP Man 3, sebuah film ber-genre action dengan latar belakang kungfu Mandarin
 . Aku sebenarnya tidak terlalu menyukainya, genre film action kungfu dan sejenisnya, sedikit apatis. Namun, kesan yang aku dapatkan sesaat setelah menonton Ip Man ini sangat berbeda. Satu kata yang cukup mewakilinya: awesome!


Ip Man 3 adalah film Hong Kong bergenre biografis seni bela diri yang disutradarai oleh Wilson Yip, diproduksi oleh Raymond Wong dan ditulis oleh Edmond Wong ini merupakan film seri Ip Man ketiga berdasarkan kehidupan dari grandmaster Wing Chun, Yip Man. Donnie Yen sebagai Ip Man memerankannya dengan sangat apik. Film ini juga akan dibintangi oleh Mike Tyson, dan murid Yip Man, Bruce Lee, yang dibuat melalui CGI.

Sebagaimana film-film kungfu lainnya juga Ip Man 1 dan 2, film Ip Man 3 ini juga penuh dengan adegan berkelahi dengan kecepatan dan teknik tinggi. Serasa nafas turut berhenti saat menonton adegan per adegan berkelahi di film ini, kenapa begitu, karena sangking  teramat kerennya, mereka menggerakkan tubuh ke sana-kemari didukung dengan audio dan pencahayaan yang pas.


Salah satu nilai dasar yang bisa diambil dari film ini adalah, tidak perlu memperlihatkan atau menyombongkan diri tentang kemampuan yang dimiliki. Tetap rendah hati dan membela kebenaran yang diyakini, maka semesta alam-pun akan mengamini dan mendukungnya.


Seperti biasa, segarang-garangnya film action atau se-jagoannya pendekar kungfu pasti ada sisi romantisnya, pun film Ip Man 3 ini. Paling terharu saat menyaksikan adegan di mana master Ip Man menahan tangis saat menunggui istrinya yang merasakan kesakitan teramat sangat karena kanker. 

Ip Man bahkan rela tidak menghadiri pertarungan agung yang digagas oleh lawannya -Cheung, yang juga teman seperguruannya- demi menemani istrinya berlatih menari dan berdansa. Terlihat sedikit ironi memang, saat semua pendekar menunggu kedatangannya di ruang pertarungan, sementara Ip Man, seorang master Wing Chun, malah sedang asyik menari dan berdansa dengan bahagianya, tentu saja semua itu dilakukan demi istrinya yang diprediksi hanya memiliki sisa umur enam bulan lagi. 

Akhirnya dengan ditemani oleh istrinya, Ip Man datang ke tempat Cheung untuk bertarung secara private. Pertarungan antar saudara seperguruan untuk membuktikan siapa Grandmaster Wing Chun yang sebenarnya. Ini salah satu ide cerita dan adegan yang sangat keren menurutku, penonton dimanjakan dengan adegan pertarungan tingkat tinggi dengan teknik yang sama persis dan gerakan yang super cepat. Apalagi saat Ip Man menutup pertarungan yang dimenanginya itu dengan berkata “Tidak ada hal yang lebih penting selain cinta dari orang-orang yang mendampingimu” hoho, so sweet...

11.1.16

Saat (cinta) harus berkompromi

Affandi adalah salah satu pelukis besar yang dimiliki Indonesia selain pelukis besar lainnya seperti Raden Saleh, Basuki Abdullah, dll. Karena berbagai kelebihan dan keistimewaan karyanya, para pengagumnya menjulukinya Maestro. Adalah Koran International Herald Tribune yang menjulukinya sebagai Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia, sementara di Florence, Italia dia telah diberi gelar Grand Maestro.

Terlepas dari berbagai keistimewaan karyanya, ada beberapa cerita menarik –yang terus terang aku barutahu- diantaranya adalah alasan  kenapa Pak Afandi memiliki dua istri: Bu Maryati dan  Bu Rubiyem.

Pak Afandi menikah dengan bu Maryati, pada tahun 1933 di umur 26 tahun. Bu Maryati inilah yang mendampingi Afandi kemanapun Afandi mau, mulai dari keliling Indonesia sesuai mood pak Afandi sampai dengan ke India dan Eropa saat mendapatkan beasiswa.


Pada saat meniti karir sebeagi pelukis, karena tidak mampu bayar model, bu  Maryatilah yang  menjadi model (kebanyakan nude) saat pak Affandi belajar melukis anatomi.

Pak Affandi dan bu Maryati memiliki seorang putri yang bernama Kartika. Karena bu Maryati tidak dimungkinkan untuk hamil lagi, sementara Pak Affandi menginginkan seorang anak laki-laki, maka  bu Maryati mengusulkan pak Affandi untuk menikah lagi. Terang saja pak Affandi menolak mentah-mentah usul Bu Maryati tersebut. Namun, setelah dibujuk terus, akhirnya Pak Affandi bersedia menikah lagi dengan syarat bu Maryati yang mencarikan, dan calon madu tersebut tidak boleh lebih cantik dan lebih pintar dari bu Maryati.

Akhirnya pak Affandi menikah dengan bu Rubiyem pilihan bu Maryati, dan memiliki tiga anak, salah satunya adalah pak Juki yang sekarang juga menjadi pelukis ternama.

Begitulah cinta sejati saat masing-masing harus dan mau berkompromi demi kebahagiaan semuanya

14.12.15

Secret

Memang benar adanya, aku belum bisa benar-benar move on dari drama Kill Me Heal Me, pada Ji sung (JS) dan Hwang Jung Eum (HJE) terutama. Lalu mencari drama lainnya yang related dengan kedua aktor ini.

Ya, Secret. Debut pertama JS dan HJE kali pertama sebagai couple. Sebenarnya sudah sejak Oktober yang lalu berhasil menamatkan drama ini, tapi tiba-tiba diingatkan akan drama ini kembali setelah seorang teman menanyakannya. Mencoba menonton kembali drama ini dengan tiada men-skipnya sama sekali dan yang terjadi, aku benar-benar tidak sanggup untuk mengulang episode 1-9 drama ini: terlalu melow.

Melowdrama yang sangat menguras air mata sejak episode awal sampai akhir. Rasanya tidak sanggup untuk meneruskan dan mengakhiri drama ini jika saja tidak penasaran dengan jalan ceritanya. Ya, kadang kita memang menikmati kesedihan (dalam sebuah drama ya, bukan kesedihan di dunia nyata). Meluangkan waktu, bahkan sampai mengurangi jatah tidur hanya untuk menyelesaikan melowdrama yang membuat mata bengkak di pagi harinya karena terlalu banyak menangis.

Addict memang. Demi mengetahui sampai di mana batas penerimaan seseorang terhadap suatu penderitaan. Sampai di mana Director berhenti dan memberi batas akan hal itu.

Secret, sebenarnya seperti halnya K-drama lainnya, it's another Cinderella story, semacam itulah. Namun, di drama ini akan ditemui cerita yang sebenarnya bisa terjadi pada siapa saja dan di mana saja. (Semoga tidak terjadi pada diri kita ya). Cerita yang dimulai dari kejadian kecelakaan mobil, "hanya" tentang sesuatu yang berawal dari tempat yang salah di waktu yang salah yang berakibat pada keseluruhan jalan hidup yang harus dijalani.

Kolaborasi yang sangat pas diantara JS dan HJE, dengan chemistry yang kuat tentu saja, kberhasil membuat kedua karakter yang lakoninya dengan kuat dan tajam sehingga membuat drama ini mampu menguras emosi penontonnya.

In the end, I really enjoy this drama. JS and HJE out the complexity in these characters, while maintaining the exaggerated. Gothic nature of the tale. I can't lie that this drama that really addictive, sad, twisted but always in heart.

9.12.15

Romantisme (ala Izza)

Bagaimana aku tidak selalu jatuh cinta sama lekaki ini, yang selalu melimpahiku dengan kata-kata manis dan spontan.

Seperti kemarin, saat aku mengantarnya sekolah, saat sudah hampir sampai ke depan kelasnya, tiba-tiba Izza berbalik, menghampiri lalu membisikiku: "Izza cintaaa ibu banget banget sedunia".

Pun kemarin malam saat aku ijin ke anak-anak, "Ibu ngantuk banget, ibu tidur duluan ya, nanti kalau mau tidur dibacain ceritanya sama ayah".

Dengan sangat pengertiannya merekapun pindah ke kamarnya dengan sebelumnya mematikan lampu besar dan menghidupkan lampu tidur di kamarku.

Saat sudah hampir sampai ke alam mimpi, tiba-tiba, Izza masuk kamar lagi, mencium sambil berkata, "Izza cintaaa ibu, banget banget. Izza sayaaang ibu banget banget se-angkasa dan se-antariksa".

Xoxoxo...So sweet my boy.

25.8.15

Philadelphia and the Lesson

Ada yang ingat dengan film Philadelphia? Malam minggu kemarin menonton film ini di HBO max. Film lama yang diputar ulang. Dulu pernah menontonnya, tapi malam itu ingin menikmati lagi sensasi emosi yang dituai saat menontonnya.

Philadelphia adalah film drama Amerika yang diproduksi tahun 1993. Menjadi  film mainstream Hollywood pertama mengenai HIV/AIDS, homoseksual dan homofobia. Film yang ditulis oleh  Ron Nyswaner dan disutradai oleh  Jonathan Demme serta dibintangi oleh Tom Hanks dan  Denzel Washington ini terinspirasi sebagian oleh kisah nyata Geoffrey Bowers, seorang pengacara yang menggungat secara hukum perusahaan  Baker & McKenzie  untuk  wrongful dismissal pada tahun 1987.

Awalnya keluarga Geoffrey Bowers menggungat para penulis dan produser film ini setelah setahun kematian Bowers. Mereka menegaskan ada sekitar 54 adegan dalam film ini yang sangat mirip dengan peristiwa dalam kehidupan Bowers. Namun akhirnya gugatan tersebut dapat diselesaikan dan para sineas film Philadelphia mengakui bahwa film ini memang ’sebagian terinspirasi’ dari jalan hidup Bowers.

Baik, mari mulai dengan cerita film ini. Andrew Becket (Tom Hanks) adalah seorang pengacara ternama dari firma hukum terkenal di Philadelphia. Dia seorang homoseksual yang tinggal bersama dengan pasangan gaynya Miguel Álvarez (Antonio Banderas)Andy/Andrew Beckett menyembunyikan gaya hidupnya itu dari teman-teman maupun pimpinan di firma hukum tempat dia bekerja, pun dengan penyakit HIV/AIDS yang diperoleh dari akibat gaya hidupnya tersebut.

Akhirnya setelah beberapa lama dengan berbagai kejadian, Andy dipecat dari firma hukum tempatnya bekerja dengan alasan tidak berkerja profesional selayaknya seorang pengacara. Andy dituduh menghilangkan berkas kasus yang sedang ditanganinya.

Andy menduga bahwa memang ada seseorang yang sengaja menyembunyikan dokumen tersebut dan menjadikannya alasan pemecatan. Andy sepenuhnya percaya bahwa pemecatan dirinya sebenarnya disebabkan karena dia adalah seorang ODHA (orang dengan HIV/AIDS).

Andy menggugat firma hukum yang memecatnya, dan menjadi pengacara atas dirinya sendiri karena tidak ada satupun teman yang bersedia membantu dan membelanya.

Melihat segala bentuk diskriminasi yang diterima oleh Andy sebagai seorang ODHA membuat Joe Miller (Denzel Washington)  tergugah dan akhirnya bersedia menjadi pengacara dan menemani Andy dalam segala proses hukumnya.

Setelah melewati beberapa kali persidangan dengan berbagai saksi dan bukti, Andy terjatuh saat testimoni Charles Wheeler (Jason Robards), pemimpin firma hukum sekaligus tergugat. Andy langsung dibawa ke rumah sakit. Selama Andy rawat inap, para juri memutuskan memenangkan gugatannya dan mewajibkan Wheeler untuk membayar ganti rugi sebesar $4.5M kepada Andy atas segala rasa sakit, kekecewaan, diskrimasi dan penderitaan serta punitive damages yang dialami.

Andy mengatakan pada pasangan gay nya, Miguel bahwa dia siap menuju kematian. Film kemudian diakhiri dengan resepsi kematian Andy yang dihadiri oleh teman-temannya. Dalam resepsi diputar video rekaman Andy saat masih anak-anak. Semua yang hadir menyaksikan video itu, dan menyimpulkan  bahwa Andy –seorang yang mereka kasihi-  hanyalah seorang anak yang sehat, lincah dan pintar.

Film ini juga dinominasikan untuk Best Original Song award (Neil Young) for "Philadelphia", dan  Best Makeup (Carl Fullerton and Alan D'Angerio), sertaBest Original Screenplay (Ron Nyswaner).
Oke, kita sudahi cerita tentang Philadelphia dan mari kita mengambil pelajaran darinya. Tahun 2003-2004 aku pernah bekerja di Center of Excellent for TB-HIV, kolaborasi antara Indonesia, Nepal, Belgia dan Belanda. Center itu diharapkan menjadi pusat informasi tentang HIV/AIDS di Indonesia baik mengenai virus itu sendiri maupun treatment  dan penyebarannya di Indonesia. Kegiatannya adalah penelitian, edukasi, konsultasi/counseling/pendampingan, dll.
Saat itu, aku tidak hanya bertemu dengan para pemangku kebijakan/birokrasi di KPAD (Komisi penanggulangan Aids Daerah), para medis, para peneliti namun juga dengan para ODHA, para transgender, pemakai narkoba, dll.
Aku/kami bergaul dengan para ODHA selayaknya bergaul dengan orang sehat (dan atau orang dengan penyakit tertentu selain HIV/AIDS) lainnya. Kami biasa pergi, ngobrol, dan makan bersama dengan ODHA. Tidak ada kekhawatiran sedikitpun dari kami akan tertular dari virus yang dibawa ODHA, karena kami tahu dan sangat paham tentang bagaimana penularan virus ini. 
Jadi, aku kadang suka heran dengan berbagai tanggapan/reaksi dari teman-teman (teman-teman yang berpendidikan tinggi dengan lingkup pergaulan yang luas) saat mereka tahu bahwa orang dihadapannya adalah seorang ODHA. Mereka secara implisit (dan eksplisit) mencoba menghindari si ODHA, dari mimik dan gesture sangat terlihat bahwa mereka tidak nyaman bersinggungan dengan ODHA. Hari gene! 

Padahal mainstream film Philadelphia ini diproduksi dan ditayangkan tahun 1993. Dalam rentang waktu hampir 22 tahun tenyata masih saja ada orang yang berpikir dan berlaku demikian, berpikir bahwa mereka akan tertular HIV/AIDS hanya karena ngobrol atau berjabat tangan.
Tulisan ini sedikitpun tidak akan berhubungan dengan SARA, aturan dan norma yang berlaku di masyarakat. Jadi, abaikan dari mana mereka dapat virus ini (entah karena akibat dari gaya hidupnya maupun karena kecelakaan/kesalahan prosedur seperti ODHA karena tranfusi darah dan kesalahan medis lainnya).
Yang aku tahu, sejak bekerja di Center itu aku jadi memiliki suatu pandangan tertentu tentang hidup terutama untuk hidup aku saat itu dan ke depan. Saat itu aku merasa hidupku sangat flat dan cenderung membosankan, seperti air mengalir dengan tenangnya. Sejak bergaul dengan para ODHA dan berbagai kisah yang melatarbelakanginya menjadi ODHA, membuatku menyimpulkan bahwa kita harus sangat bersyukur atas segala keadaan kita, takdir kita bahwa kita dapat dan diberi kesempatan untuk hidup normal. Hidup normal selayaknya yang berlaku dan terjadi di masyarakat. Para ODHA itu dengan segala konsekuensi yang dimilki (kondisi kekebalan tubuh yang semakin menurun, diskrimasi yang didapat, bahkan sampai dikucilkan dari keluarga dan orang-orang yang dikasihinya) bangkit membangun kembali dari awal untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.
Bahkan ada beberapa ODHA yang merasa mendapatkan ’berkah’. Dengan adanya virus itu membuat mereka mengubah segala gaya hidup hitamnya di masa lalu. Berkah lain adalah mereka bisa berbagi kepada khayalak agar orang lain terhindar dari virus HIV, menjadi relawan atau bekerja di NGO bidang edukasi HIV-AIDS.
Dan nikmat Tuhan manakah yang Engkau dustakan. Hidup kita sangat jauh lebih baik dibanding mereka, dengan ke’normal’an hidup yang kita miliki saat ini rasanya tidak layak bagi kita untuk mengeluhkan hal-hal kecil yang bisa teratasi hanya dengan merubah mindsettingYou know, you feel, and  you choose atas takdir hidup saat ini dan takdir hidup yang akan datang.

Cerita film disitasi dari sini

24.6.15

Ratu Kuis

Sepertinya, seumur-umur baru satu kali aku mendapatkan doorprize, yaitu April yang lalu saat staff gathering di Pulau Pari. Tidak tanggung-tanggung, aku mendapatkan hadiah utama sebuah powerbank Ch*nel ciamik sumbangan dari mbak Erra Wulandari. Suwun yo mbak.

Rasanya dulu aku juga sering coba-coba ikut kuis atau undian, berharap dapat hadiah yang dijanjikan. Namun, karena lebih sering atau bahkan tidak pernah menang, membuatku membuang jauh-jauh niatan untuk mengikuti kuis dan semacamnya. Apalagi jika harus menyertakan alamat rumah dan nomor handphone. Alih-alih dapat hadiah, yang ada malah sering ditelp atau dikirim sms promo atau apapun yang annoying.

Nah, jika aku jarang menang saat mengikuti kuis atau mendapatkan doorprize, lain halnya dengan teman-temanku ini. Jika saja ada award bagi orang yang paling sering mendapatkan hadiah entah itu dari kuis atau doorprize, sepertinya award itu akan terberikan kepada Peni dan Melly. Keduanya seringkali mendapatkan hadiah dari kuis atau doorprize yang diikuti seolah ada dewi hoki yang selalu menyertainya. 

Mengikuti linimasa Melly, sepertinya barang yang dia miliki sebagian besar berasal dari hadiah, hehehe...piss!!. (CMIIW).  Melly ini juga tidak pelit informasi. Saat ada suatu kompetisi, undian atau kuis yang diikutinya, dia juga membagikannya ke publik melalui linimasanya, mungkin berharap siapa tahu ada teman lain yang berminat mengikuti kuis atau undian yang sama.

Selanjutnya Peni. Karena kami berada dalam grup WA yang sama, seringkali kami menerima cerita mengenai hal ini. Seperti tadi malam, Peni bercerita kalau baru saja memenangkan kuis U*tima II. Di grup Wa tersebut, kami menjuluki Peni "Ratu Kuis". Entah berapa banyak hadiah yang sudah didapatkannya. Bahkan tak jarang hadiah yang didapatkan itu tidak dibutuhkan oleh Peni, atau tidak cocok jika dipakai oleh Peni sendiri. Tak terhitung berapa banyak kabar tentang hadiah yang didapatkan Peni itu dan disampaikan ke grup WA. Saat berita itu terkabarkan, kami turut bergembira seolah turut memenangkan hadiah itu, ya.... tentunya dengan kadar kebahagiaan yang lebih rendahlah dibandingkan Peni :D

Oya, satu lagi. Ratu Kuis juga sangat layak disematkan ke mbak rien. Saat itu, saat masih bekerja di FF UGM (sebelum pindah ke Qatar) mba Rien ini sering sekali dapat hadiah dari kuis yang diikutinya dia radio. Entahlah kalau sekarang, lama sekali kita tidak bersua dan ngobrol ya mbak rien. Waktu berjalan dengan sangat cepat, dari jaman radio sampai sekarang jaman serba online. Jadi, kapan kita reunian? :D

Pepatah "Kalau rejeki tidak akan kemana" itu memang  benar adanya. Setiap orang sudah digariskan rejekinya masing-masing. Selamat ya Melly, Penni dan mba Rien. Turut berharap semoga memenangkan hadiah di kuis-kuis atau acara pemberian doorprize berikutnya. Jangan lupa infak dan shodaqohnya ya Kakak-kakak :D

Teman-teman yang lain, ada yang memiliki pengalaman serupa?


26.4.15

Saat senja

Aku jatuh cinta dengan sepotong senja sejak dulu, sejak aku bisa memahami betapa indah ciptaan-NYA itu. 

Senja itu mendamaikan, penanda garis waktu: mengakhiri siang dan menjemput malam.

Menemukan senja: merasakan angin dan cahayanya, ketentraman dan ketenangannya menyapa.

Menemukan senja dalam deretan kata di sini, seolah menemukan harta karun, pelan-pelan menikmati kata demi kata, kalimat demi kalimat dan merangkainya menjadi sesuatu yang bermakna, tiada mau berhenti atau menjadi bosan. Seperti aku dengan kopi, Raya dengan buku atau Izza dengan mobilan.

Senja adalah semacam perpisahan yang mengesankan. Cahaya emas berkilatan pada kaca jendela gedung-gedung bertingkat, bagai disapu kuas keindahan raksasa. Awan gemawan menyisih, seperti digerakkan tangan-tangan dewa.

Cahaya kuning matahari melesat-lesat. Membias pada gerakan ombak yang mendadak berubah bagai tarian. Membias diantara keunguan mega-mega, jingga yang mempesona.

Maka langit bagaikan lukisan sang waktu, bagaikan gerak sang ruang, yang segera hilang. Cahaya kuning senja yang makin lama makin jingga menyiram lautan dan seantero. Menyiram segenap perasaaan diri. Mengapa tak berhenti sejenak dari upacara kehidupan?

Terinspirasi dari cerpen "Senja untuk Pacarku" (Seno Gumira Ajidarma, 1993)

#justwriting #sorryannoying

20.4.15

Feeling blue



Begini rasanya, saat hari tidak berjalan sesuai dengan rencana dan harapan, seolah semesta tidak mendukung.

Yang diinginkan hanya satu: sementara menyingkir. Menyingkir saja, dan merasakan apa yang menjadi beban itu...rasakan saja, tidak perlu terburu mencari solusi. Kadangkala waktu justru yang akan menyelesaiakannya

"Dream (When You're Feeling Blue)"
Get in touch with that sundown fellow

As he tiptoes across the sand
He's got a million kinds of stardust
Pick your fav'rite brand, and
Dream, when you're feeling blue
Dream, that's the thing to do
Just watch the smoke rings rise in the air
You'll find your share of memories there
So dream when the day is through
Dream, and they might come true
Things never are as bad as they seem
So dream, dream, dream

Dream when the day is through

Dream, and they might come true
Things never are as bad as they seem
So dream, dream, dream
Dream
So dream, dream, dream 

17.3.15

Post Power Syndrome

Gara-gara sedang mencari info tentang RPP turunan ASN yang sedang digodok, aku jadi menemukan artikel ini, penjelasan tentang hak pensiun di website Menpan dan RB. 

Seiring berkurangnya umur dan bertambahnya jumlah masa kerja, mau tidak mau akan tiba saatnya menemui pensiun. Bagaimana kita mensikapinya, tergantung dengan cara pandang dan pilihan hidup yang akan dijalani nanti. Menilik dari berbagai sisi: ekonomi, sosial budaya, dan sebagainya.

Pensiun identik dengan kata post power syndrome (PPS). Seolah semua yang pensiun akan mengalaminya. Menurut Monty Satiadarma, psikolog dari Universitas Tarumanegara, PPS timbul akibat adanya ketidakmampuan seseorang untuk melepaskan diri dari belenggu masa lalu, khususnya yang membanggakan egonya dengan kehilangan berbagai privelege yang dimilikinya. 

Padahal menurutku, PPS itu bisa menemui siapa saja dan kapan saja saat suatu kesenangan dan kenyamanan yang biasa didapatkan mendadak hilang, bisa karena keadaan, masalah kesehatan dan sebagainya.

Sebagai contoh, akudibesarkan dalam keluarga dengan pola asuh authorian. Menurut Baumrind (1994) dalam pola asuh authorian, orang tua bersifat dominan, membuat aturan dan menerapkan serta memberlakukan kontrol yang ketat terhadap aturan tersebut. Hikmah yang diambil adalah, jika saja orang tua tidak menerapkan pola seperti itu bisa saja, jalan cerita yang aku miliki sekarang berbeda.

Nah, saat aku mulai menikah dan pindah merantau ke Jakarta (baca: Cibinong) aku merasakan dengan sangat yang namanya "kebebasan", bahkan akhirnya aku bisa naik motor sendiri setelah aku di luar jangkauan orang tua.

Nah, saat pulang kampung atau orang tua bertandang, kadang kebebasan tersebut agak terbatasi, mengingat nilai dan norma yang berlaku terhadap orangtua sebagaimana umumnya. Hal-hal yang biasa bisa dilakukan menjadi tidak semaksimalnya, dan akibat yang lainnya. Meski hanya sesaat ini PPS versi saya.

PPS versi yang lain dan terbesar adalah justru PPS orang tua. Bagaimana ortu melepasakan anaknya untuk berpisah secara geografis, nun jauh di sana. Apalagi sebagai orang Jawa, sangat kental dengan falsafah "mangan oran mangan seng penting kumpul". 

Anak-anak yang selama ini dalam dekapan, kemudia saat tiba waktunya akan menjalani kehidupannya sendiri, apa yang perlu dipersiapkan? tentu saja mental bahwa mereka harus lebih mandiri menjemput kehidupannya yang lebih baik sesuai dengan takdir hidup yang diberikan.