Ada yang ingat dengan
film Philadelphia? Malam minggu kemarin menonton film ini di HBO max. Film lama
yang diputar ulang. Dulu pernah menontonnya, tapi malam itu pengen menikmati
lagi sensasi emosi yang dituai saat menontonnya.
Philadelphia adalah film
drama Amerika yang diproduksi tahun 1993. Menjadi film mainstream Hollywood pertama mengenai
HIV/AIDS, homoseksual dan homofobia. Film yang ditulis oleh Ron Nyswaner dan disutradai
oleh Jonathan Demme serta dibintangi oleh
Tom Hanks dan
Denzel Washington ini
terinspirasi sebagian oleh kisah nyata Geoffrey Bowers, seorang pengacara yang
menggungat secara hukum perusahaan
Baker & McKenzie untuk wrongful dismissal pada tahun 1987.
Awalnya keluarga Geoffrey Bowers menggungat para
penulis dan produser film ini setelah setahun kematian Bowers. Mereka menegaskan ada sekitar 54 adegan dalam
film ini yang sangat mirip dengan peristiwa dalam kehidupan Bowers. Namun
akhirnya gugatan tersebut dapat diselesaikan dan para sineas film Philadelphia
mengakui bahwa film ini memang ’sebagian terinspirasi’ dari jalan hidup Bowers.
Baik, mari mulai dengan
cerita film ini. Andrew Becket (Tom Hanks) adalah seorang pengacara ternama
dari firma hukum terkenal di Philadelphia. Dia seorang homoseksual yang tinggal
bersama dengan pasangan gaynya Miguel Álvarez (Antonio Banderas). Andy/Andrew
Beckett menyembunyikan gaya hidupnya itu dari teman-teman maupun pimpinan di
firma hukum tempat dia bekerja, pun dengan penyakit HIV/AIDS yang diperoleh
dari akibat gaya hidupnya tersebut.
Akhirnya setelah beberapa lama dengan berbagai kejadian, Andy dipecat dari firma hukum tempatnya bekerja dengan alasan tidak berkerja profesional selayaknya seorang pengacara. Andy dituduh menghilangkan berkas kasus yang sedang ditanganinya.
Andy menduga bahwa memang ada seseorang yang sengaja
menyembunyikan dokumen tersebut dan menjadikannya alasan pemecatan. Andy sepenuhnya percaya bahwa pemecatan dirinya sebenarnya disebabkan karena dia adalah seorang ODHA (orang dengan HIV/AIDS).
Andy menggugat firma hukum yang memecatnya, dan menjadi
pengacara atas dirinya sendiri karena tidak ada satupun teman yang bersedia membantu dan membelanya.
Melihat segala bentuk diskriminasi yang diterima oleh
Andy sebagai seorang ODHA membuat Joe Miller (Denzel Washington) tergugah dan akhirnya bersedia menjadi
pengacara dan menemani Andy dalam segala proses hukumnya.
Setelah melewati beberapa kali persidangan dengan berbagai saksi dan bukti, Andy
terjatuh saat testimoni Charles Wheeler (Jason Robards), pemimpin firma hukum sekaligus tergugat. Andy langsung dibawa ke rumah sakit. Selama Andy rawat inap, para juri memutuskan memenangkan gugatannya dan mewajibkan Wheeler untuk membayar ganti rugi sebesar $4.5M kepada Andy atas segala rasa sakit,
kekecewaan, diskrimasi dan penderitaan serta punitive damages yang dialami.
Andy mengatakan pada pasangan gay nya, Miguel bahwa dia siap menuju
kematian. Film kemudian diakhiri dengan resepsi kematian Andy yang dihadiri oleh
teman-temannya. Dalam resepsi diputar video rekaman Andy saat masih anak-anak. Semua
yang hadir menyaksikan video itu, dan menyimpulkan bahwa Andy –seorang yang mereka kasihi- hanyalah seorang anak yang sehat, lincah dan
pintar.
Film ini memenangkan Academy Awards untuk Best Actor in
a Leading Role (Tom
Hanks), dan Best
Original Song (Bruce Springsteen for "Streets of Philadelphia"). Tom Hanks juga
memenangkan Silver Bear for Best Actor di the 44th Berlin International Film Festival.
Film ini juga dinominasikan untuk Best Original Song award (Neil Young) for "Philadelphia", dan Best Makeup (Carl
Fullerton and Alan D'Angerio), serta Best
Original Screenplay (Ron Nyswaner).
Oke,
kita sudahi cerita tentang Philadelphia dan mari kita mengambil pelajaran
darinya. Tahun 2003-2004 aku pernah bekerja di Center of Excellent for TB-HIV,
kolaborasi antara Indonesia (UGM), Nepal, Belgia dan Belanda. Center itu
diharapkan menjadi pusat informasi tentang HIV/AIDS di Indonesia baik mengenai
virus itu sendiri maupun treatment dan
penyebarannya di Indonesia. Kegiatannya adalah penelitian, edukasi, konsultasi/counseling/pendampingan, dll.
Saat
itu, aku tidak hanya bertemu dengan para pemangku kebijakan/birokrasi di KPAD
(Komisi penanggulangan Aids Daerah), para medis, para peneliti namun juga
dengan para ODHA, para transgender, pemakai narkoba, dll.
Aku/kami
bergaul dengan para ODHA selayaknya bergaul dengan orang sehat (dan atau orang
dengan penyakit tertentu selain HIV/AIDS) lainnya. Kami biasa pergi, ngobrol, dan makan bersama dengan ODHA. Tidak ada kekhawatiran sedikitpun dari kami akan
tertular dari virus yang dibawa ODHA, karena kami tahu dan sangat paham tentang
bagaimana penularan virus ini.
Jadi, aku kadang suka heran dengan berbagai tanggapan/reaksi
dari teman-teman (teman-teman yang berpendidikan tinggi dengan lingkup
pergaulan yang luas) saat mereka tahu bahwa orang dihadapannya adalah seorang
ODHA. Mereka secara implisit dan eksplisit mencoba menghindari si ODHA, dari
mimik dan gesture sangat terlihat bahwa mereka tidak nyaman bersinggungan
dengan ODHA. Hari gene!
Padahal mainstream film Philadelphia ini diproduksi dan ditayangkan tahun 1993. Dalam rentang waktu hampir 20 tahun tenyata masih saja ada orang yang berpikir dan berlaku demikian, berpikir bahwa mereka akan tertular HIV/AIDS hanya karena ngobrol atau berjabat tangan.
Padahal mainstream film Philadelphia ini diproduksi dan ditayangkan tahun 1993. Dalam rentang waktu hampir 20 tahun tenyata masih saja ada orang yang berpikir dan berlaku demikian, berpikir bahwa mereka akan tertular HIV/AIDS hanya karena ngobrol atau berjabat tangan.
Tulisan
ini sedikitpun tidak akan berhubungan dengan SARA, aturan dan norma yang
berlaku di masyarakat. Jadi, abaikan dari mana mereka dapat virus ini (entah
karena akibat dari gaya hidupnya maupun karena kecelakaan/kesalahan prosedur
seperti ODHA karena tranfusi darah dan kesalahan medis lainnya).
Yang
aku tahu, sejak bekerja di Center itu aku jadi memiliki suatu pandangan
tertentu tentang hidup terutama untuk hidup aku saat itu dan ke depan. Saat itu
aku merasa hidupku sangat flat dan cenderung membosankan, seperti air mengalir
dengan tenangnya. Sejak bergaul dengan para ODHA dan berbagai kisah yang
melatarbelakanginya menjadi ODHA, membuatku menyimpulkan bahwa kita harus
sangat bersyukur atas segala keadaan kita, takdir kita bahwa kita dapat dan
diberi kesempatan untuk hidup normal. Hidup normal selayaknya yang berlaku dan
terjadi di masyarakat. Para ODHA itu dengan segala konsekuensi yang dimilki
(kondisi kekebalan tubuh yang semakin menurun, diskrimasi yang didapat, bahkan sampai
dikucilkan dari keluarga dan orang-orang yang dikasihinya) bangkit membangun kembali
dari awal untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.
Bahkan
ada beberapa ODHA yang merasa
mendapatkan ’berkah’ setelah terkena virus ini. Dengan adanya virus ini membuat
dia merubah segala gaya hidup hitamnya di masa lalu.
Dan
nikmat Tuhan manakah yang Engkau dustakan. Hidup kita sangat jauh lebih baik
dibanding mereka, dengan ke’normal’an hidup yang kita miliki saat ini rasanya tidak
layak bagi kita untuk mengeluhkan hal-hal kecil yang bisa teratasi hanya dengan
merubah mindsetting. You know, you feel, and you choose atas takdir hidup saat ini dan
takdir hidup yang akan datang.
*Sedang
merubah mindsetting dari gagalnya menyepi lima minggu di puncak digantikan
dengan konsekuensi hectic nya all of tasks. Semangat! :)
Cerita film diambil dari sini
2 comments:
Saya baru saja menonton keren sekali.
barusan aja kelar nonton....saluuut
Post a Comment