21.3.17

Collateral Beauty

Dari semua film yang diperankan oleh Will Smith sebagai aktor utamanya, aku memilih dua film favorit: The Pursuit of Happyness (2006), dan Seven Pounds (2008), drama kehidupan yang menguras airmata dan butuh sedikit kernyitan untuk memahami jalan ceritanya. 

Nah, aku baru saja menyelesaikan film Will Smith terbaru: Collateral Beauty yang tayang tahun 2016. Film yang lebih banyak bercerita dengan kiasan. Tapi alih-alih menjadi film favorit. Film yang didukung oleh aktor papan atas seperti Kate Winslet, Edward Norton, Keira Knightley dll ini seolah tidak memuaskan penonton. Alur ceritanya seperti tidak selesai, hilang di tengah dan langsung melesat di ujung seolah dipaksakan. Aktor ternama dengan jam terbang tinggi bukan jaminan jika script tidak mendukung.

Collateral Beauty ini mengisahkan tentang Howard Inlet, seorang praktisi periklanan yang kharismatik dan pintar yang mendadak berubah drastis menjadi seorang pemurung dan 'aneh' karena kematian anak perempuannya. Tiga teman kerjanya mencoba mengembalikan Howard seperti kondisi semula, dengan menyewa tiga aktor untuk berlaku sebagai "Love" "Time" dan Death", jargon yang bisa Howard pegang.Cinta, waktu dan kematian, sejatinya itulah kehidupan. Memiliki waktu yang cukup untuk  cinta dan terputus tiba-tiba melalui kematian. Waktu perantaranya.

Meski tidak menjadi salah satu film favorit tapi quotes-quotesnya menarik untuk diresapi lebih dalam, seperti:
"Love is the reason for everything, the fabric of life"
"At the end of the day, every decison we make is because we long for love, wish we had more time and we fear death"
"Death is so much more vital than time. Death gives time its values".

No comments: